<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4783875443562043141</id><updated>2011-12-24T05:35:26.782+07:00</updated><category term='business'/><category term='Info Seks'/><category term='pesan untuk pembaca'/><category term='KEPERAWATAN'/><category term='kesehatan'/><category term='Daftar Isi'/><category term='TIPS'/><category term='biologi'/><category term='ASKEP KESEHATAN'/><category term='Gastroenteritis'/><category term='FARMASI'/><category term='FRAKTUR'/><category term='NEWS'/><category term='PENGOBATAN'/><category term='ASKEP'/><category term='CANCER'/><category term='info sehat'/><category term='TERAPI PENGOBATAN'/><category term='HERNIA NUKLEUS PULPOSUS'/><category term='syndrom'/><category term='NURSING'/><category term='NUTRITION'/><category term='SISTEMMUSKULOSKELETAL'/><category term='penyakit'/><category term='FISIOLOGI'/><category term='Gizi'/><category term='informasi'/><category term='health'/><category term='CANCER THERAPY'/><category term='Cephalgia'/><title type='text'>Askep $ Tips Kesehatan</title><subtitle type='html'>Asuhan Keperawatan $ Tips seputar Kesehatan</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://askep-kesehatan.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-kesehatan.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>elly</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_nt1knDXPQbQ/SBXu2-Vx8SI/AAAAAAAAACc/sHjT5rmXyC8/S220/frudo.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>327</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4783875443562043141.post-6630350064874194360</id><published>2009-12-10T18:15:00.000+07:00</published><updated>2009-12-10T18:16:07.253+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='penyakit'/><title type='text'>Penyakit Jantung Bisa Diprediksi Dari Ukuran Pinggang</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Amsterdam, Kelebihan berat badan sudah lama diketahui sebagai salah satu pemicu penyakit kardiovaskular (pembuluh darah). Namun peneliti di Belanda menemukan yang lebih rinci mengenai ukuran lingkar pinggang dan indeks massa tubuh yang bisa memprediksi penyakit jantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama 10 tahun sebuah studi tersebut menemukan bahwa separuh dari kasus serangan jantung fatal dan seperempat dari kasus tidak fatal ternyata terkait dengan masalah kelebihan berat badan dan tingginya indeks massa tubuh (BMI/body mass index) atau pinggang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian ini menunjukkan adanya efek yang substansial dari kelebihan berat badan dan obesitas pada penyakit jantung berupa risiko fatal atau tidak fatal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dalam waktu dekat akan bisa diketahui dampak obesitas pada beban penyakit jantung yang semakin besar," kata Ineke van Dis, peneliti dari Netherlands Heart Foundation yang memimpin penelitian seperti dilansir dari Reuters, Selasa (8/12/2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dis dan rekannya di proyek pemantauan faktor risiko penyakit kronis di Dutch National Institute for Public Health and the Environment, mengukur BMI dan lingkar pinggang terhadap 20.500 laki-laki dan perempuan dalam kurun tahun 1993 dan 1997.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika usia disesuaikan dengan BMI dan ukuran pinggang dengan catatan rumah sakit dan penyebab kematian selama 10 tahun, didapat bahwa lebih dari setengah (53 persen) semua kasus penyakit jantung adalah fatal. Sekitar seperempat (25-30 persen) beruapa kasus tidak fatal. Kasus fatal dan tidak fatal itu terjadi pada orang yang didefinisikan sebagai kelebihan berat badan dan obesitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut data WHO, orang yang kelebihan berat memiliki BMI antara 25 dan 30, sedangkan orang obesitas memiliki BMI 30 atau lebih. BMI dihitung dengan membagi berat badan dalam kilogram dengan tinggi badan dalam meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lingkar pinggang pria berukuran 94 dan 101,9 cm didefinisikan sebagai kelebihan berat badan, sedangkan kategori obesitas jika ukuran pinggang lebih dari 102 cm. Pada wanita ukuran pinggang 80-87,9 cm masuk kategori kelebihan berat badan dan obesitas jika lebih dari 88 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus obesitas terus meningkat di seluruh dunia dan sekarang diakui sebagai masalah kesehatan masyarakat global.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Temuan ini menggarisbawahi perlunya kebijakan dan kegiatan untuk mencegah kelebihan berat badan pada masyarakat dunia," kata Dis dalam studi yang dipublikasikan dalam European Journal of Cardiovascular Prevention and Rehabilitation.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Via : detikHealth.com&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4783875443562043141-6630350064874194360?l=askep-kesehatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/6630350064874194360'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/6630350064874194360'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-kesehatan.blogspot.com/2009/12/penyakit-jantung-bisa-diprediksi-dari.html' title='Penyakit Jantung Bisa Diprediksi Dari Ukuran Pinggang'/><author><name>elly</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_nt1knDXPQbQ/SBXu2-Vx8SI/AAAAAAAAACc/sHjT5rmXyC8/S220/frudo.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4783875443562043141.post-1215314758040084641</id><published>2009-12-10T18:13:00.000+07:00</published><updated>2009-12-10T18:14:23.854+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PENGOBATAN'/><title type='text'>Obat Kuat Verbal Mengandung Viagra</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jakarta, Banyak sekali tawaran obat herbal untuk mengatasi gangguan seksual laki-laki. Tapi sebaiknya jangan terkecoh, karena ternyata dalam obat herbal tersebut juga mengandung senyawa sildenafil sitrat atau dikenal dengan viagra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang banyak laki-laki yang merasa malu datang ke dokter dan melakukan konsultasi mengenai permasalahan gangguan seksual seperti disfungsi ereksi ini. Sehingga tidak sedikit orang yang tergoda oleh iklan-iklan obat herbal yang mengklaim tanpa bahan kimia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak ada satupun obat herbal untuk mengatasi disfungsi ereksi yang efektif dan benar-benar herbal, karena sepanjang saya melakukan uji klinis semuanya mengandung zat kimia viagra," ujar Prof Dr dr Wimpie Pangkahila, Sp.And, FAACS dalam acara Maximizing You: 10 years of MagniVicent Satisfaction, di Hotel Akmani, Jakarta, Selasa (8/12/2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Profesor yang memiliki banyak pengalaman dan pernah meneliti mengenai obat kuat herbal ini menuturkan banyak dokter dan masyarakat yang tidak tahu mengenai hal ini. Jika obat herbal tersebut benar-benar efektif mengatasi disfungsi ereksi, maka sudah dapat dipastikan obat tersebut tidak murni herbal atau sudah dicampur dengan viagra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjamurnya obat herbal untuk mengatasi disfungsi ereksi ini tidak akan terjadi jika tidak ada konsumen yang membeli. Namun, terkadang lelaki merasa malu pergi ke dokter sehingga berusaha untuk mengobati dirinya sendiri dengan membeli obat-obatan yang dijual bebas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami pernah melakukan survei kenapa lelaki lebih banyak beli obat di pinggir jalan daripada ke dokter. Ternyata mereka merasa tidak perlu malu kalau beli obat disitu, karena mereka tidak harus kembali lagi untuk bertatap muka atau cukup melalui kaca mobil saja," ujar dr Andini Suhardi, Marketing Manager Pfizer Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini sangat disayangkan, karena orang-orang yang sebenarnya membutuhkan bantuan untuk mengatasi masalah seksualnya justru malah salah pilih obat yang bisa saja berakibat buruk nantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dicampurnya viagra ke dalam obat herbal tentu saja berbahaya. Pertama ini merupakan bentuk penipuan, kedua bisa saja menimbulkan bahaya atau risiko karena orang cenderung menganggap obat herbal adalah obat bebas yang tidak memiliki efek samping sehingga masyarakat cenderung akan mengonsumsinya sesuka hati tanpa anjuran yang tepat," ujar Prof Wimpie yang merupakan Guru Besar FK Universitas Udayana, Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya seorang pasien melakukan pemeriksaan dan konsultasi terlebih dahulu untuk mengetahui penyebabnya. Jika disfungsi ereksi terjadi karena penyakit tertentu, maka sakitnya harus diobati terlebih dahulu baru melakukan pengobatan untuk gangguan ereksinya. Karena viagra merupakan salah satu obat yang harus menggunakan rekomendasi atau resep dokter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prof Wimpie menambahkan ada dua cara dalam mengonsumsi obat viagra yang memang direkomendasikan oleh dokter, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1. Diminum 0,5-1 jam sebelum melakukan hubungan seksual. Cara ini sudah direkomendasikan oleh para dokter.&lt;br /&gt;  2. Mengonsumsinya setiap hari, jadi kalau tiba-tiba mau melakukan hubungan seksual langsung bisa. Cara ini belum direkomendasikan karena masih dalam tahap penelitian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Efek samping dari penggunaan viagra ini adalah sakit kepala, hidung tersumbat, wajah merah dan jantung berdebar. Tapi yang harus diwaspadai adalah jangan mengonsumsi viagra bersamaan dengan obat penyakit jantung yang mengandung nitrat, karena efeknya saling menguatkan sehingga bisa menyebabkan kematian. Jadi, jika seseorang tidak tahu bahwa obat herbalnya mengandung viagra hal ini akan sangat membahayakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diingatkannya agar masyarakat tidak tertipu oleh berbagai iklan yang menjual obat herbal untuk mengatasi gangguan ereksi. Karena tidak ada obat herbal yang memang benar-benar alami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Via: detikhealth.com&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4783875443562043141-1215314758040084641?l=askep-kesehatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/1215314758040084641'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/1215314758040084641'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-kesehatan.blogspot.com/2009/12/obat-kuat-verbal-mengandung-viagra.html' title='Obat Kuat Verbal Mengandung Viagra'/><author><name>elly</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_nt1knDXPQbQ/SBXu2-Vx8SI/AAAAAAAAACc/sHjT5rmXyC8/S220/frudo.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4783875443562043141.post-5751765588819330571</id><published>2009-12-10T18:12:00.001+07:00</published><updated>2009-12-10T18:12:54.373+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TIPS'/><title type='text'>Kotoran Burung Untuk Cantik dan Awet Muda??</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;New York, Cantik dengan suntik kolagen atau botoks itu sudah biasa. Kini perempuan-perempuan di kota-kota besar dunia sedang keranjingan melakukan perawatan wajah dengan kotoran burung yang membuat kulit cantik dan awet muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Facial dengan kotoran burung atau dikenal dengan Geisha Facial, adalah rahasia tua kecantikan perempuan Jepang yang kini menjadi populer di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti dilansir FoxNews, Kamis (10/12/2009), wanita Jepang telah lama menggunakan kotoran burung Bulbul sebagai masker pembersih untuk menghapus riasan (make up) yang sering dilakukan oleh para Geisha setiap malam. Hasilnya kulit menjadi lebih cerah dan kencang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kotoran burung mengandung guanin (basa organik) yang dipercaya bagus untuk regenerasi kulit agar selalu mengkilap. Kotoran burung tersebut diolah dan dibersihkan dengan sinar ultraviolet untuk membunuh bakteri dan menghilangkan baunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salon-salon di New York dan Kanada telah banyak yang menyediakan fasilitas facial dengan kotoran burung ini (Geisha Facial).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa wanita yang sudah melakukan facial tersebut mengaku kulit wajahnya menjadi sehalus pantat bayi dan tentu saja lebih cerah. Dengan biaya US$ 100 sampai US$ 180 perempuan-perempuan itu rela wajahnya 'dijatuhi' kotoran burung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Jepang, bubuk kotoran burung ini dikenal dengan nama Uguisu yang sudah dicampur dengan sabun dan biasa digunakan untuk mencuci wajah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senyawa guanin di dalam kotoran burung dipercaya menghilangkan polutan di kulit wajah, membuka pori-pori dan membuat warna kulit lebih cerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berani mencoba?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;detikheath.com&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4783875443562043141-5751765588819330571?l=askep-kesehatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/5751765588819330571'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/5751765588819330571'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-kesehatan.blogspot.com/2009/12/kotoran-burung-untuk-cantik-dan-awet.html' title='Kotoran Burung Untuk Cantik dan Awet Muda??'/><author><name>elly</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_nt1knDXPQbQ/SBXu2-Vx8SI/AAAAAAAAACc/sHjT5rmXyC8/S220/frudo.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4783875443562043141.post-2349997286507894211</id><published>2009-12-10T18:10:00.001+07:00</published><updated>2009-12-10T18:12:00.413+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Info Seks'/><title type='text'>Kecanduan Seks Saat Tidur Nyenyak</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Almelo, Bella Floor, seorang perempuan berusia 32 tahun menderita penyakit aneh kecanduan seks saat sedang tidur nyenyak. Bella selalu melakukan hubungan seksual ketika sedang tidur dan tidak mampu mengingat kejadiannya saat terbangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perilakunya membuat takut kekasihnya yang merasa selalu dipermalukan ketika tidur malam bersamanya. Kekasihnya, Justin (47 tahun) adalah seorang pekerja konstruksi, yang tidak dapat menerima perlakuan seks Bella, tanpa Bella sendiri tahu apa yang telah dilakukannya. Justin pun akhirnya putus hubungan dengan Bella.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bella perempuan asal Almelo, Belanda ini menuliskan pengalamannya dalam situsnya yang menceritakan bagaimana 6 tahun lalu tak ada satu pun dokter yang mampu mendiagnosa perilakunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan Bella ternyata divonis mengidap seksomnia atau Sexual Behaviour in Sleep (SBS) yaitu melakukan seks dalam kondisi tertidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa orang yang menderita SBS bahkan sudah masuk dalam tahap kecanduan. Dan bagi pasangannya, hal itu sangat mengganggu, memalukan dan bisa memicu masalah yang serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti dilansir FoxNews, Kamis (10/12/2009), awalnya Bella menduga dirinya tidak dapat mengontrol perilakunya, namun kejadian itu hampir tiap malam dilakukannya yang membuat kekasihnya sangat marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bella telah pergi berobat ke banyak dokter dan psikolog yang umumnya mereka pun tidak bisa melakukan apa-apa karena belum pernah mendengar ada kasus seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dokter hanya menawarkan obat-obatan, selain melakukan hipnoterapi, konsultasi seks dan melakukan scan otak untuk menghentikan penyakit seksomnia itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Bella, obat-obat yang diberikan hanya membantu sementara namun dia mengaku tidak mau sepanjang hidupnya bergantung pada obat-obat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam International Classification of Sleep Disorders (ICSD-2), SBS dikategorikan sebagai penyakit tidur terbaru oleh para praktisi obat-obatan tidur dan membutuhkan diagnosa khusus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang yang menderita SBS biasanya mengetahui kebiasaannya itu dari pasangan tidurnya. Terkadang banyak diantara mereka yang tidak percaya bahwa kebiasaan itu bisa terjadi pada dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang biasanya menjadi pangkal konflik pada pasangan karena si penderita tidak terima dan merasa malu mengakui atau menerima kenyataan tersebut. Hingga kini belum ada obat ampuh yang bisa menyembuhkan penyakit ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DetikHealth.com&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4783875443562043141-2349997286507894211?l=askep-kesehatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/2349997286507894211'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/2349997286507894211'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-kesehatan.blogspot.com/2009/12/kecanduan-seks-saat-tidur-nyenyak.html' title='Kecanduan Seks Saat Tidur Nyenyak'/><author><name>elly</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_nt1knDXPQbQ/SBXu2-Vx8SI/AAAAAAAAACc/sHjT5rmXyC8/S220/frudo.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4783875443562043141.post-1888458767445233848</id><published>2009-12-10T18:09:00.000+07:00</published><updated>2009-12-10T18:10:13.095+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='penyakit'/><title type='text'>Cara Mengobati Penyakit Diabetes</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jakarta, Diabetes adalah salah satu penyakit yang paling ditakuti karena sekali terkena diabetes akan menanggungnya seumur hidup. Penderita diabetes harus selalu tergantung dengan obatnya. Tapi benarkah diabetes tak bisa disembuhkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini orang selalu menganggap penyakit diabetes tidak bisa disembuhkan. Tapi ternyata seorang penderita diabetes bisa tidak mengonsumsi obat, asalkan pola makannya benar, rajin olahraga dan memeriksakan kadar gula darahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diabetes bisa dibilang sebagai penyakit silent killer. Penyakit ini memang tidak mematikan, tapi komplikasi yang ditimbulkan dari diabetes bisa membuat seseorang menjadi meninggal. Karena komplikasi yang ditimbulkan bisa ke semua organ, seperti kaki, otak, mata, saraf dan organ lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Satu juta orang di seluruh dunia menjalani operasi amputasi karena diabetes, 5 persen kebutaan akibat diabetes, sebagian besar pasien cuci darah akibat diabetes dan juga komplikasi lain seperti katarak atau jantung," ujar dr. Sandra Utami Widiastuti, SpPD dalam acara forum media online dengan Siloam Hospital di Plaza Senayan, Jakarta, Kamis (10/12/2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diabetes itu sendiri terbagi menjadi 4 tipe yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1. Tipe 1: bisa menyerang anak kecil atau anak muda. Ini diakibatkan tubuh tidak bisa memproduksi insulin sama sekali atau jumlahnya sedikit.&lt;br /&gt;  2. Tipe 2: biasanya menyerang orang yang lebih dewasa. Dalam tubuhnya insulin bisa diproduksi tapi cara kerjanya tidak efektif.&lt;br /&gt;  3. Tipe gestasional: tekanan gula darah tinggi yang terjadi saat ibu sedang hamil, tapi akan normal kembali ketika sudah melahirkan.&lt;br /&gt;  4. Tipe lainnya: terjadi akibat infeksi di pankreas, ada tumor atau zat kimia yang bisa menghancurkan insulin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, yang paling umum didengar masyarakat adalah tipe 1 dan tipe 2. Untuk tipe 1 pengobatannya harus dengan menyuntikkan insulin, sedangkan untuk tipe 2 biasanya melalui obat oral yang dikombinasikan dengan pola makan sehat serta olahraga. "Sebenarnya 60 persen dari penderita diabetes tipe 2 ini bisa dicegah," ujar dokter yang berpraktek di Siloam Hospital Kebon Jeruk Jakarta ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai saat ini diabetes memang belum bisa disembuhkan, tapi penderita diabetes bisa tidak mengonsumsi obat asalkan memiliki pola makan yang benar dan sehat, rajin melakukan olahraga seperti jogging, sepeda atau berenang serta hal yang paling penting adalah gula darahnya terkontrol dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Karena pola makan yang benar dan rajin olahraga sudah jadi satu paket dalam perawatan untuk diabetes," ujar dokter cantik berkacamata ini. Selain itu, harus rajin melakukan tes gula darah. Karenanya bagi penderita diabetes sebaiknya memiliki alat tes gula darah pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan melakukan perawatan yang baik dan benar, maka kemungkinan terjadinya komplikasi dari penyakit diabetes ini menjadi sangat kecil. Edukasi mengenai berbagai hal yang berhubungan dengan diabetes seperti berapa kalori yang dibutuhkan dalam sehari atau bagaimana memotong kuku yang benar agar tidak menimbulkan luka, bisa membuat penderita diabetes beraktivitas seperti biasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang yang tidak menyadari apabila dirinya mengidap penyakit diabetes, tapi ada gejala penting yang bisa menjadi petunjuk awal dari penyakit diabetes yaitu, sering buang air kecil, banyak minum, banyak makan tapi berat badan justru menurun. Sedangkan gejala lainnya yang bisa diperhatikan adalah gampang infeksi atau terkena jamur, gampang capek, keputihan serta sering kesemutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu sebaiknya periksakan kadar gula darah jika berusia 40 tahun ke atas, saat hamil pernah mengalami tekanan gula darah tinggi, ada anggota keluarga seperti orangtua atau saudara kandung yang terkena diabetes, mengalami obesitas, kadar kolesterol baik (HDL) rendah atau dalam pemeriksaan sebelumnya didapati kadar gula darah agak tinggi.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4783875443562043141-1888458767445233848?l=askep-kesehatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/1888458767445233848'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/1888458767445233848'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-kesehatan.blogspot.com/2009/12/cara-mengobati-penyakit-diabetes.html' title='Cara Mengobati Penyakit Diabetes'/><author><name>elly</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_nt1knDXPQbQ/SBXu2-Vx8SI/AAAAAAAAACc/sHjT5rmXyC8/S220/frudo.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4783875443562043141.post-5513473568926809922</id><published>2009-12-10T18:06:00.000+07:00</published><updated>2009-12-10T18:08:24.720+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PENGOBATAN'/><title type='text'>Mencegah Stroke dengan Mengatur Kadar Kolesterol</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jakarta, Stroke merupakan penyakit neurologi yang utama. Stroke merupakan penyebab kematian nomor tiga (setelah penyakit jantung dan kanker), namun merupakan penyebab kecacatan nomor satu. Stroke terjadi akibat gangguan pembuluh darah di otak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian di Amerika Serikat menunjukkan bahwa ada 3 juta warga Amerika yang terkena penyakit penbuluh darah (penyakit jantung, stroke, dan pembuluh darah tepi) dan 150.000 diantaranya meninggal setiap tahunnya. Kejadian stroke berulang umum pula dijumpai, 33% pasien stroke yang selamat akan mengalami stroke ulang dalam waktu 5 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stroke dapat terjadi karena seseorang individu yang sehat memiliki faktor risiko stroke. Faktor risiko stroke ada yang dapat dikendalikan dan ada pula yang tidak dapat dikendalikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor risiko stroke yang tidak dapat dikendalikan adalah usia, jenis kelamin, ras, riwayat keluarga, dan riwayat stroke sebelumnya. Kelompok usia lanjut dan laki-laki lebih mudah terkena stroke, demikian pula seseorang dengan riwayat keluarga stroke.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor risiko stroke yang dapat dikendalikan adalah hipertensi, diabetes, merokok, kolesterol darah yang tinggi, trigliserida darah yang tinggi, obesitas dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman akan faktor risiko stroke yang dapat dikendalikan ini penting. Pengendalian faktor risiko stroke ini akan menurunkan risiko seseorang untuk terkena stroke. Tekanan darah yang terkendali di bawah 130/80 mmHg akan menurunkan risiko seseorang untuk terkena stroke. Berhenti merokok akan menurunkan pula risiko terkena stroke.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kolesterol yang tinggi juga merupakan faktor risiko untuk terkena stroke. Pertanyaan kritis yang muncul adalah 'Bagaimana hubungan antara kolesterol darah yang tinggi dan stroke?' dan 'Bagaimana upaya pengendalian kolesterol untuk mencegah stroke?'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenal kolesterol&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kolesterol merupakan substansi lemak, yang secara normal dibentuk di dalam tubuh. Kolesterol dibentuk di hati dari lemak makanan. Kolesterol memainkan banyak peran penting dalam fungsi sel tubuh (antara lain produksi hormon).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kolesterol darah dapat dibagi menjadi 2 bagian utama: kolesterol LDL (Low Density Lipoprotein) yang dikenal sebagai 'kolesterol jahat' dan kolesterol HDL (High Density Lipoprotein) yang dikenal sebagai 'kolesterol baik'. LDL membawa kolesterol dari hati ke sel, dan HDL berperan membawa kolesterol dari sel ke hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadar kolesterol LDL yang tinggi akan memicu penimbunan kolesterol di sel, yang menyebabkan munculnya atherosclerosis (pengerasan dinding pembuluh darah arteri) dan penimbunan plak di dinding pembuluh darah. Hal ini dihubungkan dengan penngkatan risiko penyakit akibat gangguan pembuluh darah (misalnya: penyakit jantung koroner, stroke, gangguan pembuluh darah terpi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadar kolesterol darah yang tinggi dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Faktor-faktor penyebab kadar kolesterol yang tinggi adalah genetik, diet tinggi lemak, kelebihan berat badan, kurangnya aktivitas fisik, dan merokok. Merokok meningkatkan kadar kolesterol LDL dan menurunkan kadar kolesterol HDL. Kadar kolesterol LDL yang tinggi dapat pula disebabkan oleh konsumsi alkohol atau obat-obatan (misalnya: steroid atau pil kontrasepsi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan kolesterol dan stroke&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kolesterol merupakan faktor risiko stroke yang secara konsisten dilaporkan dari berbagai hasil penelitian. Kolesterol LDL yang tinggi, kolesterol HDL yang rendah, dan rasio kolesterol LDL dan HDL yang tinggi dihubungkan dengan peningkatan risiko terkena stroke. Hal ini akan diperkuat bila ada faktor risiko stroke yang lain (misalnya: hipertensi, merokok, obesitas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan antara kolesterol dan stroke tergambarkan pula dalam berbagai penelitian terapi kolesterol. Keberhasilan terapi penurunan kadar kolesterol darah akan menurunkan risiko stroke dan penyakit jantung sebesar 60%. Penurunan kadar koleserol darah akan menghambat proses atherosclerosis (pengerasan diniding pembuluh darah arteri).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan atherosclerosis dapat dihambat pada sebagian besar pasien yang menjalani terapi selama 2 tahun. Kadar kolesterol darah yang tidak terkendali akan meningkatkan risiko stroke. Pasien berusia 40 tahun-an yang memiliki kadar kolesterol LDL tinggi akan memiliki risiko sebesar 52% untuk mengalami serangan jantung dan stroke pada usia diatas 50 tahun (Lang, 2005).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadar kolesterol darah yang tinggi tidak memberikan gejla yang spesifik. Hal ini menyebabkan kadar kolesterol darah yang tinggi juga dijuluki sebagai 'the silent killer'. Pasien datang berobat ketika telah muncul komplikasi pembuluh darah. Proses atherosclerosis tetap berjalan tanpa ada keluhan pasien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengendalian kadar kolesterol&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengendalian kadar kolesterol menuju angka yang normal akan sangat bermanfaat untuk menurunkan risiko stroke dan penyakit jantung. Target penurunan kadar kolesterol adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kadar kolesterol darah total dibawah 200 mg/dl&lt;br /&gt;2. Kadar kolesterol darah LDL dibawah 130 mg/dl (pada individu tanpa riwayat penyakit jantung koroner), atau dibawah 100 mg/dl (bila pernah terkena penyakit jantung, merokok, menderita hipertensi, diabetes).&lt;br /&gt;3. Kadar kolesterol HDL diatas 35 mg/dl&lt;br /&gt;4. Kadar trigliserida dibawah 250 mg/dl.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengendalian kadar kolesterol darah sesuai target dicapai dengan perubahan pola hidup dan terapi obat. Perubahan pola hidup yang dianjurkan meliputi penurunan berat badan, banyak makan serat, konsumsi buah dan sayuran, berhenti merokok, olah raga, dan pembatasan konsumsi lemak berlebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila target penurunan kolesterol darah belum juga tercapai, pasien dapat berkonsultasi ke dokter untuk memperoleh terapi obat.Terapi obat yang direkomendasikan untuk menurunkan kadar kolesterol daah adalah statin. Obat ini memiliki banyak golongan (misalnya: Pravastatin, Simvastatin, Lovastatin, Atorvastatin, Cerevastatin, Fluvastatin), dan sebagian besar telah tersedia di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberhasilan terapi statin untuk menurunkan risiko stroke telah dibuktikan dari berbagai penelitian. Penurunan kadar kolesterol darah sesuai target (dibawah 200 mg/dl) akan menurunkan risiko stroke ebesar 27%. Bagi pasien yang sudah pernah mengalami penyakit jantung, maka penurunan kadar kolesterol darah akan menurunkan risiko stroke sebesar 32%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak diantara kita yang belum tahu kadar kolesterol darahnya. Kadar kolesterol darah yang tinggi sering tidak bergejala. Pertanyaan yang muncul adalah 'Sudahkah Anda tahu kadar kolesterol darah Anda?'. Pengendalian kadar kolesterol merupakan upaya pencegahan stroke yang efektif. Ingatlah selalu bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;dr Rizaldy Pinzon, MKes, SpS&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tim Stroke RS Bethesda Yogyakarta&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4783875443562043141-5513473568926809922?l=askep-kesehatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/5513473568926809922'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/5513473568926809922'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-kesehatan.blogspot.com/2009/12/mencegah-stroke-dengan-mengatur-kadar.html' title='Mencegah Stroke dengan Mengatur Kadar Kolesterol'/><author><name>elly</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_nt1knDXPQbQ/SBXu2-Vx8SI/AAAAAAAAACc/sHjT5rmXyC8/S220/frudo.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4783875443562043141.post-3671826527702624824</id><published>2009-12-10T17:57:00.000+07:00</published><updated>2009-12-10T18:06:32.619+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='penyakit'/><title type='text'>Penyakit yang Bisa Memicu Impotensi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jakarta, Gangguan seksual seperti impotensi atau disfungsi ereksi merupakan salah satu penyakit yang paling ditakuti oleh kaum pria. Ini karena gangguan tersebut bisa menurunkan kualitas hidupnya. Impotensi juga bisa dipicu karena seorang pria mengidap penyakit. Apa saja penyakitnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Impotensi bisa menurunkan kualitas hidup seseorang karena dirinya tidak mampu untuk mencapai atau mempertahankan ereksinya saat berhubungan seksual dengan pasangan. Akibatnya pasangannya tidak akan mendapatkan kepuasan seutuhnya dalam melakukan hubungan intim dan bisa menurunkan kepercayaan dan harga diri laki-laki tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Impotensi bisa disebabkan oleh dua hal yaitu faktor fisik dan psikis. Di Indonesia penyebab paling banyak seorang laki-laki terkena impotensi adalah akibat faktor fisik, seperti karena usia, beberapa penyakit tertentu, konsumsi alkohol, merokok, pernah melakukan operasi panggul serta berat badan yang turun atau naik secara drastis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Penis itu sebuah pembuluh darah bukan otot, karenanya jika aliran darah ke penis terganggu akibat penyakit tertentu maka orang tersebut kemungkinan mengalami gangguan ereksi atau impotensi," ujar Prof Dr dr Wimpie Pangkahila, Sp.And, FAACS dalam acara Maximizing You: 10 years of MagniVicent Satisfaction, di Hotel Akmani, Jakarta, Selasa (8/12/2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa penyakit yang bisa memicu seorang laki-laki mengalami impotensi adalah penyakit diabetes, jantung koroner, tekanan darah tinggi, kolesterol, pembuluh darah tepi serta akibat dari merokok. Karena penis adalah sebuah pembuluh darah, maka biasanya penyakit yang bisa memicu berkaitan dengan adanya gangguan pada pembuluh darah orang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dituturkan oleh Prof Wimpie didapatkan sekitar 60 persen penderita penyakit jantung koroner mengalami disfungsi ereksi, laki-laki yang merokok sebesar 50 persen, penderita tekanan darah tinggi sebesar 52 persen, penderita penyakit pembuluh darah tepi sebesar 80 persen, kolesterol tinggi sebesar 40 persen dan laki-laki yang depresi sebesar 90 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika penyebab gangguan ereksi adalah adanya penyakit tertentu yang diderita oleh laki-laki tersebut, maka penyakitnya harus diobati terlebih dahulu baru melakukan pengobatan untuk gangguan ereksinya," ujar Kepala bagian Andrologi dan Seksologi FK Universitas Udayana, Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rata-rata penyebab timbulnya penyakit ini adalah akibat perubahan gaya hidup seperti merokok. Sepertinya hampir semua orang tahu bahwa merokok bisa menyebabkan impotensi. Hal ini dikarenakan rokok melepaskan zat nikotin dan zat lainnya yang bisa menjadi penghambat pembuluh darah. Jika pembuluh darah dalam tubuh terhambat, sudah pasti aliran ke penis pun akan terganggu yang bisa menyebabkan orang mengalami impotensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga dengan penyakit jantung yang biasanya diakibatkan oleh adanya pembuluh darah yang tersumbat, sedangkan kolesterol yang berlebih dalam tubuh akan membentuk timbunan-timbunan lemak di dalam pembuluh darah yang membuatnya terhambat. Karenanya pengobatan untuk impotensi dimulai dari penyembuhan terhadap penyakit pemicunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dulu pengobatan untuk gangguan ereksi berupa operasi atau melakukan suntikan di daerah penis, tapi kini dilakukan pengobatan melalui obat yang diminum dengan harapan bisa bekerja setiap saat dan tidak butuh waktu lama," ujar Prof Wimpie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan utama dari pengobatan impotensi ini adalah untuk meningkatkan ereksi agar lebih maksimal sehingga bisa memberikan kepuasan seksual bagi laki-laki tersebut dan juga pasangannya. Tingkat kekerasan ereksi yang optimal adalah jika penis keras dan tegang secara sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obat yang paling banyak digunakan untuk pengobatan impotensi ini dikenal dengan nama viagra yang ditemukan pada tahun 1998. Penemuan obat ini dianggap sebagai revolusi seks kedua setelah sebelumnya terjadi revolusi seks pertama pada tahun 1960. Ditahun tersebut ditemukannya alat kontrasepsi untuk perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, penggunaan obat viagra ini harus berdasarkan resep dokter dan tidak termasuk obat yang bebas di jual. Meskipun kenyataanya banyak toko yang menjual obat ini tanpa diketahui dengan pasti apakah obat tersebut asli atau palsu. Viagra bisa menimbulkan bahaya jika dikonsumsi bersamaan dengan obat penyakit jantung yang mengandung nitrat, karena efek yang dihasilkan bisa saling menguatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka jika Anda ingin terhindar dari penyakit impotensi ini, sebaiknya hindari berbagai macam penyakit yang bisa memicunya. Selain itu, lakukan pola hidup sehat dengan rajin berolahraga, mengonsumsi makanan yang benar dan jauhkan rokok serta alkohol.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4783875443562043141-3671826527702624824?l=askep-kesehatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/3671826527702624824'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/3671826527702624824'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-kesehatan.blogspot.com/2009/12/penyakit-yang-bisa-memicu-impotensi.html' title='Penyakit yang Bisa Memicu Impotensi'/><author><name>elly</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_nt1knDXPQbQ/SBXu2-Vx8SI/AAAAAAAAACc/sHjT5rmXyC8/S220/frudo.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4783875443562043141.post-4379471326079848718</id><published>2009-11-20T01:22:00.000+07:00</published><updated>2009-11-20T01:24:57.517+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TIPS'/><title type='text'>Tips Tidur Supaya Berkualitas</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;img alt="http://media.vivanews.com/images/2008/10/14/55545_tidur_lelap_agar_awet_muda.jpg" src="http://media.vivanews.com/images/2008/10/14/55545_tidur_lelap_agar_awet_muda.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TERIMALAH kenyataan bahwa kita hidup dalam dunia serba cepat; pekerjaan padat dengan deadline ketat, konsumsi makanan cepat saji, dan sebagainya. Sampai akhirnya juga jam tidur yang supersingkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;National Sleep Foundation (NSF) menemukan fakta bahwa 74 persen orang dewasa Amerika hanya tidur beberapa malam dalam sepekan, 39 persen di antaranya tidur kurang dari 7 jam tiap malam, dan lebih dari 37 persen mengantuk sepanjang hari hingga akhirnya mengganggu aktivitas seharian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikanlah jawaban benar atau salah untuk beberapa pertanyaan berikut:&lt;br /&gt;1. Tidur lima jam semalam sudah cukup.&lt;br /&gt;2. Tak masalah jika kita menghemat tidur untuk seminggu bekerja asalkan kita bisa menggantinya di akhir pekan.&lt;br /&gt;3. Efek kurang tidur hanya sementara waktu, seperti lingkar bawah mata menghitam dan kulit tidak segar. Tidak ada efek buruk dalam jangka panjang.&lt;br /&gt;4. Mengonsumsi minuman berkafein pada sore hari tidak akan memengaruhi tidur malam.&lt;br /&gt;5. Menempatkan televisi ataupun komputer di kamar tidur tidak akan berefek pada kualitas tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Anda menjawab "benar" pada dua atau lebih pertanyaan-pertanyaan tersebut, berarti Anda harus melakukan perubahan untuk meningkatkan kualitas tidur dan kesehatan diri secara optimal. Kenyataannya, kurang tidur berefek buruk pada ketajaman daya ingat, proses belajar, dan logika berpikir sehingga berpotensi menurunkan kualitas siswa di sekolah ataupun pekerja di kantornya. Dari segi kesehatan, tubuh dalam jangka panjang bisa mengalami gangguan, seperti diabetes, tekanan darah tinggi, kegemukan, depresi, penyakit jantung, dan banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ahli menyarankan, tidurlah 7-9 jam untuk setiap malam, tapi mungkin akan lebih banyak untuk orang yang sangat aktif ataupun sedang sakit. Bagaimana agar waktu tidur yang tersedia dapat Anda maksimalkan? Berikut tipnya, seperti dikutip dari Sheknows:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan menonton televisi sebelum tidur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesalahan terbanyak mereka yang memiliki masalah tidur adalah menempatkan televisi di kamar tidur. Anda akan terus terjaga jika mengandalkan televisi sebagai pengantar tidur karena mata terus memelototi acara televisi. Kamar tidur hanya untuk dua hal, yakni tidur dan bercinta, bukan untuk sinetron ataupun tayangan bola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba bantal atau alas tidur baru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah bertanya, sudah berapa tahun Anda menggunakan bantal dan alas tidur yang sama? Apakah Anda sering bangun dengan punggung nyeri? Apakah tempat yang ada cukup lega untuk tidur Anda dan pasangan? Jika semua jawabannya "iya", mungkin Anda perlu mengganti bantal dan alas tidur dengan kualitas yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan mengonsumsi kafein menjelang tidur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah Anda, sedikit saja mengonsumsi minuman berkafein, dapat menyebabkan masalah tidur. Bahkan 10-12 jam sebelum tidur. Karenanya, cobalah hindari mengonsumsi minuman teh, soda, dan cokelat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengarkan alunan musik lembut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matikan lampu kamar dan dengarkanlah alunan musik lembut sebagai pengantar tidur. Musik ini akan menenangkan tubuh dan pikiran hingga Anda akan memperoleh tidur nyenyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknik menenangkan tubuh dan pikiran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berjam-jam diajak bekerja, otak dan tubuh Anda butuh ditenangkan. Lakukan sebuah ritual sebelum tidur, seperti berendam air hangat, meditasi, ataupun yoga. Lakukan ritual tersebut dengan cara, tempat, dan jam yang sama setiap malam. Pengulangan ritual ini akan "mengingatkan" tubuh dan pikiran, bahwa inilah waktunya untuk santai dan tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minum racikan herbal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk banyak orang, tip di atas mungkin tidak efektif. Jika Anda tetap tak bisa tidur, Anda bisa minum racikan herbal. Obat-obat tidur berbahan kimia memiliki efek samping bagi kesehatan. Risiko tersebut tidak akan terjadi jika Anda menggunakan herbal. Caranya, cuci bersih dua genggam kangkung, dua genggam seledri, dan pala secukupnya. Rebus ketiga bahan dalam tiga gelas air sampai mendidih dan tunggu sampai airnya tinggal satu gelas. Bisa ditambahkan satu sendok teh madu bila suka. Minum ramuan ini setelah makan malam atau sebelum tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://lifestyle.okezone.com/index.php/ReadStory/2009/03/20/196/203298/6-tip-tidur-berkualitas" target="_blank" style="color: rgb(34, 34, 156);"&gt;&lt;b&gt;sumber&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4783875443562043141-4379471326079848718?l=askep-kesehatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/4379471326079848718'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/4379471326079848718'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-kesehatan.blogspot.com/2009/11/tips-tidur-supaya-berkualitas.html' title='Tips Tidur Supaya Berkualitas'/><author><name>elly</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_nt1knDXPQbQ/SBXu2-Vx8SI/AAAAAAAAACc/sHjT5rmXyC8/S220/frudo.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4783875443562043141.post-4875433692233567077</id><published>2009-11-20T01:15:00.002+07:00</published><updated>2009-11-20T01:18:07.595+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='penyakit'/><title type='text'>Susu Penyebab Penyakit Osteoporosis</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(0, 0, 0); font-family: 'Times New Roman'; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px; font-size: medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana,geneva,lucida,'lucida grande',arial,helvetica,sans-serif; font-size: 13px;"&gt;&lt;img style="width: 444px; height: 265px;" src="http://farm3.static.flickr.com/2041/2419774652_077afa3b9e_o.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Hari Osteoporosis Nasional 2009 diperingati ribuan warga di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, tanggal 25 Oktober lalu. Sebagai sebuah event, acara itu cukup berhasil menarik perhatian, yang tentu tidak lepas dari peran sebuah perusahaan swasta yang memasarkan produk susu, terutama untuk orang dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara itu juga seolah-olah merupakan antitesis atau sanggahan terhadap pendapat bahwa minum susu terlalu banyak justru menyebabkan osteoporosis. Pendapat yang terakhir ini tercantum dalam buku best seller karya Prof dr Hiromi Shinya, The Miracle of Enzyme-Self-Healing Program, yang tahun 2008 telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia dan diterbitkan Qanita, anak perusahaan Mizan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga tahun ini, buku itu telah mengalami cetak ulang beberapa kali. Tak kurang dari pengusaha Ciputra amat memercayai isi buku itu, sampai pernah mengadakan seminar untuk warga usia lanjut di rumahnya dengan pembicara seorang dokter yang menguraikan pokok-pokok isi buku Shinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bukunya itu, Shinya yang guru besar kedokteran Fakultas Kedokteran Albert Einstein di Amerika Serikat menulis demikian: ”Satu miskonsepsi umum yang terbesar mengenai susu adalah bahwa susu membantu mencegah osteoporosis. Oleh karena jumlah kalsium dalam tubuh kita berkurang seiring dengan usia, kita diberi tahu untuk minum susu yang banyak untuk mencegah osteoporosis. Namun, ini adalah sebuah kesalahan besar. Minum susu terlalu banyak sebenarnya menyebabkan osteoporosis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa argumen Shinya terhadap pendapatnya yang ”melawan” pendapat umum ini, termasuk sebagian dokter ahli gizi klinik? Menurut Shinya, kadar kalsium dalam darah manusia biasanya terpatok pada 9-10 mg. ”Namun, saat minum susu, konsentrasi kalsium dalam darah Anda tiba-tiba meningkat. Walaupun sepintas lalu hal ini mungkin terlihat seperti banyak kalsium telah terserap, peningkatan jumlah kalsium dalam darah ini memiliki sisi buruk. Ketika konsentrasi kalsium dalam darah tiba-tiba meningkat, tubuh berusaha untuk mengembalikan keadaan abnormal ini menjadi normal kembali dengan membuang kalsium dari ginjal melalui urine,” demikian pendapat Shinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menambahkan, ”Jika Anda mencoba minum susu dengan harapan mendapatkan kalsium, hasilnya sungguh ironis, yaitu menurunnya jumlah kalsium dalam tubuh Anda secara keseluruhan. Dari empat negara susu besar—Amerika, Swedia, Denmark, dan Finlandia—yang banyak sekali mengonsumsi susu setiap hari, ditemukan banyak kasus retak tulang panggul dan osteoporosis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masuk akal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menanggapi pendapat Shinya ini, pakar gizi klinik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof Dr Waloejo Soerjodibroto, ketika dihubungi menyatakan bahwa pendapat tersebut masuk akal. Waloejo mengaku belum membaca buku Shinya, tetapi ia belum yakin bahwa kadar kalsium yang berlebih akibat asupan minum susu justru akan mendorong pembuangan kalsium dari ginjal melalui urine, termasuk kalsium dari massa tulang. ”Betapapun susu adalah sumber protein sehingga dalam konteks yang benar, susu tetap berguna untuk tubuh,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun demikian, Waloejo setuju dengan sebagian pendapat Shinya bahwa susu sapi memang paling cocok untuk anak sapi, bukan untuk anak manusia, apalagi manusia dewasa. ”Dalam perkembangan masyarakat modern, air susu ibu diganti oleh susu formula atau pengganti air susu ibu supaya kaum ibu bisa aktif bekerja. Manusia punya otak untuk merekayasa, termasuk menciptakan pengganti air susu ibu yang mendekati atau mirip air susu ibu, walaupun tak bisa sama persis,” tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tentu ingat slogan gizi ”Empat Sehat, Lima Sempurna” yang diciptakan tokoh gizi nasional, almarhum Prof dr Poorwosoedarmo, sekitar empat dekade lalu, yang menyebutkan bahwa konsumsi susu ”menyempurnakan” empat komponen makanan lainnya (karbohidrat, protein dan lemak nabati/hewani, sayur, dan buah-buahan). Menurut Waloejo, slogan itu bagus dan amat berguna pada masa tahun 1960-an ketika kondisi gizi masyarakat Indonesia masih kurang baik karena memberikan panduan yang mudah diingat masyarakat awam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Namun, kini kita dapat mempertanyakan, apakah benar tanpa susu asupan gizi kita kurang sempurna. Panduan ini kemudian diganti dengan istilah ’menu seimbang’ (balanced diet), yang sebenarnya juga tidak pas. Yang benar untuk konteks Indonesia adalah giza atau gizi lengkap (wholesome diet). Semua komponen ada, tidak kelebihan, tidak kekurangan,” tutur Waloejo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsumsi ikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Prof Errol Untung Hutagalung, Ketua Perhimpunan Osteoporosis Indonesia (Perosi), puncak massa tulang (peak bone mass) manusia terjadi pada usia 20 hingga 30-an tahun. Jumlah penderita osteoporosis terus meningkat dan dikhawatirkan menjadi beban masalah kesehatan di Indonesia 40 tahun lagi. Salah satu upaya pencegahannya adalah dengan memaksimalkan mengonsumsi kalsium ketika usia 20-30 tahun. Pengurangan kalsium mulai terjadi pada usia 40 tahun dan makin meningkat setelah usia 50 tahun, katanya (Kompas, 26/10). Ketika dihubungi semalam, Hutagalung menyatakan belum membaca buku Shinya sehingga belum bisa berkomentar bahwa konsumsi susu malah dapat meningkatkan laju osteoporosis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prof Waloejo sebaliknya setuju dengan pendapat Prof Shinya bahwa asupan kalsium tidak melulu harus dari susu. Ikan-ikan kecil dan rumput laut, yang selama berabad-abad dimakan oleh bangsa Jepang, ternyata mengandung kalsium yang tidak terlalu cepat diserap (slow release) yang justru dapat meningkatkan jumlah kalsium dalam darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waloejo menekankan, yang penting untuk mencegah berkurangnya massa kalsium pada jaringan tulang bukan hanya asupan kalsium, tetapi juga tersedianya vitamin D3, yang dibuat dari inti kolesterol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awal evolusi, manusia purba tidak gampang mencari lemak. Dalam perkembangannya, lingkungan dan pola hidup manusia berubah, tetapi mekanisme usus dan enzim-enzim manusia purba masih tidak berbeda dengan manusia modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Itulah sebabnya kita sekarang menjumpai banyak kasus obesitas, kelebihan kolesterol dan trigliserida. Kritik Prof Shinya ada benarnya,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FAKTA TENTANG SUSU :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Tidak ada makanan lain yang sulit dicerna daripada susu.&lt;br /&gt;• Kasein, yang membentuk kira-kira 80% dari protein yang terdapat dalam susu, langsung menggumpal menjadi satu begitu memasuki lambung sehingga menjadi sangat sulit dicerna.&lt;br /&gt;• Komponen susu yang dijual di toko telah dihomogenisasi dan menghasilkan radikal bebas.&lt;br /&gt;• Susu yang dipasteurisasi tidak mengandung enzim-enzim yang berharga, lemaknya telah teroksidasi dan kualitas proteinnya berubah akibat suhu yang tinggi.&lt;br /&gt;• Susu yang mengandung banyak zat lemak teroksidasi mengacaukan lingkungan dalam usus, meningkatkan jumlah bakteri jahat, dan menghancurkan flora bakteri dalam usus.&lt;br /&gt;• Jika wanita hamil minum susu, anak-anak mereka cenderung lebih mudah terjangkit dermatitik atopik.&lt;br /&gt;• Minum susu terlalu banyak sebenarnya MENYEBABKAN osteoporosis.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4783875443562043141-4875433692233567077?l=askep-kesehatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/4875433692233567077'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/4875433692233567077'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-kesehatan.blogspot.com/2009/11/susu-penyebab-penyakit-osteoporosis.html' title='Susu Penyebab Penyakit Osteoporosis'/><author><name>elly</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_nt1knDXPQbQ/SBXu2-Vx8SI/AAAAAAAAACc/sHjT5rmXyC8/S220/frudo.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4783875443562043141.post-9150742303568791860</id><published>2009-11-19T03:44:00.003+07:00</published><updated>2009-11-19T03:49:10.773+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gizi'/><title type='text'>7 Makanan Penunda Ketuaan</title><content type='html'>7. BlueBerry&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://www.kompas.com/data/photo/2008/09/08/122137p.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam sebuah riset yang dipublikasikan pada 1999, peneliti dari Jean Mayer Human Nutrition Research Center memberikan ekstrak blueberry pada tikus. Pemberian ekstrak ini diberikan selama periode kehidupan tikus yang setara dengan 10 tahun kehidupan manusia. Tikus yang diberi ekstrak ini menunjukkan keunggulannya ketimbang tikus biasa saat uji keseimbangan dan koordinasi ketika mereka mencapai usia lanjut. Kandungan dalam blueberry (dan berry lainnya) diduga dapat mengurangi peradangan (inflamasi) dan kerusahan bersifat oksidatif, yang mana ini berhubungan dengan penurunan daya ingat dan kemampuan motorik saat lanjut usia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Anggur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(0, 0, 0); font-family: 'Times New Roman'; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px; font-size: medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana,geneva,lucida,'lucida grande',arial,helvetica,sans-serif; font-size: 13px;"&gt;&lt;img src="http://www.kompas.com/data/photo/2008/03/27/154220p.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(0, 0, 0); font-family: 'Times New Roman'; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px; font-size: medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana,geneva,lucida,'lucida grande',arial,helvetica,sans-serif; font-size: 13px;"&gt;Minum alkohol dalam jumlah moderat diklaim dapat melindungi dari penyakit jantung, diabetes dan kepikunan. Banyak jenis minuman beralkohol yang bisa mendatangkan manfaat tersebut, tetapi banyak penelitian yang memfokuskanya pada anggur merah. Anggur merah mengandung resveratrol, zat yang diperkirakan mendatangkan berbagai manfaat tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Kacang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(0, 0, 0); font-family: 'Times New Roman'; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px; font-size: medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana,geneva,lucida,'lucida grande',arial,helvetica,sans-serif; font-size: 13px;"&gt;&lt;img src="http://www.kompas.com/data/photo/2009/09/19/1009058p.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riset yang dilakukan kelompok Seventh-Day Adventists (aliran Kristiani yang menerapkan hidup sehat dan diet vegetarian) menunjukkan bahwa seseorang yang makan kacang rata-rata memiliki umur panjang dua setengah tahun. Kacang dikenal kaya akan lemak tidak jenuh, sehingga makanan ini menawarkan manfaat serupa dengan minyak zaitun. Kacang juga mengandung beragam vitamin, mineral dan zat phytochemical termasuk antioksidan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Cokelat Kokoa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(0, 0, 0); font-family: 'Times New Roman'; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px; font-size: medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana,geneva,lucida,'lucida grande',arial,helvetica,sans-serif; font-size: 13px;"&gt;&lt;img src="http://i574.photobucket.com/albums/ss190/bithink/schokinag_cocoa_chocolate.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Kuna di Kepulauan San Blas, Panama, tercatat memiliki risiko penyakit jantung lebih rendah hingga sembilan kali lipat di banding penduduk lainnya yang tinggal di Panama. Alasannya? Warga Kuna rajin sekali meminum kokoa yang kaya flavanols, antioksidan yang dapat membantu memperlancar peredaran darah. Menjaga kesehatan pembuluh darah berarti menekan risiko tekanan darah tinggi, diabetes tipe 2, penyakit ginjal dan demensia.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Ikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(0, 0, 0); font-family: 'Times New Roman'; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px; font-size: medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana,geneva,lucida,'lucida grande',arial,helvetica,sans-serif; font-size: 13px;"&gt;&lt;img src="http://i574.photobucket.com/albums/ss190/bithink/freshfish.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga puluh tahun lalu, para ahli mulai meneliti mengapa penduduk asli Alaska (inuit) bisa terbebas dari penyakit jantung. Alasannya, menurut perkiraan para ahli, adalah tingkat konsumsi ikan yang luar biasa. Ikan memang mengandung banyak lemak omega-3, yang bisa membantu menurunkan kolesterol dan penyumbatan dalam pembuluh darah serta mencegah ritme jantung abnormal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Yogurt&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(0, 0, 0); font-family: 'Times New Roman'; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px; font-size: medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana,geneva,lucida,'lucida grande',arial,helvetica,sans-serif; font-size: 13px;"&gt;&lt;img src="http://www.kompas.com/data/photo/2008/07/25/160411p.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada era 1970an, wilayah Georgia dikabarkan memiliki jumlah penduduk yang berusia rata-rata di atas 100 tahun yang lebih banyak ketimbang negara lain. Laporan pada saat itu mengklaim bahwa rahasia dari umur yang panjang tersebut adalah yogurt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun kekuatan yogurt dalam memperpanjang usia belum pernah terbukti secara langsung, yogurt adalah makanan yang kaya kalsium yang dapat mencegah osteoporosis. Selain itu, yogurt juga mengandung bakter baik yang mempertahankan kesehatan pencernaan serta mengurangi risiko mengidap penyakit usus yang berkaitan dengan usia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Minyak Zaitun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(0, 0, 0); font-family: 'Times New Roman'; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px; font-size: medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana,geneva,lucida,'lucida grande',arial,helvetica,sans-serif; font-size: 13px;"&gt;&lt;img src="http://www.karawanginfo.com/wp-content/uploads/2009/10/minyak-zaitun.png" alt="" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat dekade lalu, para peneliti dari Seven Coutries Study menyimpulkan bahwa lemak tak jenuh dengan rantai tunggal (monounsaturated) dalam minyak zaitun secara luas bermanfaat untuk menekan risiko penyakit jantung dan kanker di Kepulauan Crete di Yunani. Kini masyarakat juga sudah banyak yahu bahwa minyak zaitun mengandung folifenol, antioksidan kuat yang bisa mencegah jenis penyakit akibat penuaan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4783875443562043141-9150742303568791860?l=askep-kesehatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/9150742303568791860'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/9150742303568791860'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-kesehatan.blogspot.com/2009/11/7-makanan-penunda-ketuaan.html' title='7 Makanan Penunda Ketuaan'/><author><name>elly</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_nt1knDXPQbQ/SBXu2-Vx8SI/AAAAAAAAACc/sHjT5rmXyC8/S220/frudo.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4783875443562043141.post-4643250142199840977</id><published>2009-11-07T04:48:00.001+07:00</published><updated>2009-11-07T04:48:52.540+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ASKEP'/><title type='text'>ASKEP FRAKTUR</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;FRAKTUR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. PENGERTIAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fraktur adalah putusnya hubungan normal suatu tulang atau tulang rawan yang disebabkan oleh kekerasan. (E. Oerswari, 1989 : 144).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Mansjoer, 2000 : 347).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fraktur tertutup adalah bila tidak ada hubungan patah tulang dengan dunia luar. Fraktur terbuka adalah fragmen tulang meluas melewati otot dan kulit, dimana potensial untuk terjadi infeksi (Sjamsuhidajat, 1999 : 1138).&lt;br /&gt;Fraktur femur adalah terputusnya kontinuitas batang femur yang bisa terjadi akibat trauma langsung (kecelakaan lalu lintas, jatuh dari ketinggian), dan biasanya lebih banyak dialami oleh laki-laki dewasa. Patah pada daerah ini dapat menimbulkan perdarahan yang cukup banyak, mengakibatkan pendertia jatuh dalam syok (FKUI, 1995:543)&lt;br /&gt;Fraktur olecranon adalah fraktur yang terjadi pada siku yang disebabkan oleh kekerasan langsung, biasanya kominuta dan disertai oleh fraktur lain atau dislokasi anterior dari sendi tersebut (FKUI, 1995:553).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. ETIOLOGI&lt;br /&gt;Menurut Sachdeva (1996), penyebab fraktur dapat dibagi menjadi tiga yaitu :&lt;br /&gt;a. Cedera traumatik&lt;br /&gt;Cedera traumatik pada tulang dapat disebabkan oleh :&lt;br /&gt;1) Cedera langsung berarti pukulan langsung terhadap tulang sehingga tulang pata secara spontan. Pemukulan biasanya menyebabkan fraktur melintang dan kerusakan pada kulit diatasnya.&lt;br /&gt;2) Cedera tidak langsung berarti pukulan langsung berada jauh dari lokasi benturan, misalnya jatuh dengan tangan berjulur dan menyebabkan fraktur klavikula.&lt;br /&gt;3) Fraktur yang disebabkan kontraksi keras yang mendadak dari otot yang kuat.&lt;br /&gt;b. Fraktur Patologik&lt;br /&gt;Dalam hal ini kerusakan tulang akibat proses penyakit dimana dengan trauma minor dapat mengakibatkan fraktur dapat juga terjadi pada berbagai keadaan berikut :&lt;br /&gt;1) Tumor tulang (jinak atau ganas) : pertumbuhan jaringan baru yang tidak terkendali dan progresif.&lt;br /&gt;2) Infeksi seperti osteomielitis : dapat terjadi sebagai akibat infeksi akut atau dapat timbul sebagai salah satu proses yang progresif, lambat dan sakit nyeri.&lt;br /&gt;3) Rakhitis : suatu penyakit tulang yang disebabkan oleh defisiensi Vitamin D yang mempengaruhi semua jaringan skelet lain, biasanya disebabkan oleh defisiensi diet, tetapi kadang-kadang dapat disebabkan kegagalan absorbsi Vitamin D atau oleh karena asupan kalsium atau fosfat yang rendah.&lt;br /&gt;c. Secara spontan : disebabkan oleh stress tulang yang terus menerus misalnya pada penyakit polio dan orang yang bertugas dikemiliteran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. KLASIFIKASI FRAKTUR FEMUR&lt;br /&gt;a. Fraktur tertutup (closed), bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar.&lt;br /&gt;b. Fraktur terbuka (open/compound), bila terdapat hubungan antara fragemen tulang dengan dunia luar karena adanya perlukan di kulit, fraktur terbuka dibagi menjadi tiga derajat, yaitu :&lt;br /&gt;1) Derajat I&lt;br /&gt;- luka kurang dari 1 cm&lt;br /&gt;- kerusakan jaringan lunak sedikit tidak ada tanda luka remuk.&lt;br /&gt;- fraktur sederhana, tranversal, obliq atau kumulatif ringan.&lt;br /&gt;- Kontaminasi ringan.&lt;br /&gt;2) Derajat II&lt;br /&gt;- Laserasi lebih dari 1 cm&lt;br /&gt;- Kerusakan jaringan lunak, tidak luas, avulse&lt;br /&gt;- Fraktur komuniti sedang.&lt;br /&gt;3) Derajat III&lt;br /&gt;Terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas meliputi struktur kulit, otot dan neurovaskuler serta kontaminasi derajat tinggi.&lt;br /&gt;c. Fraktur complete&lt;br /&gt;• Patah pada seluruh garis tengah tulang dan biasanya mengalami pergerseran (bergeser dari posisi normal).&lt;br /&gt;d. Fraktur incomplete&lt;br /&gt;• Patah hanya terjadi pada sebagian dari garis tengah tulang.&lt;br /&gt;e. Jenis khusus fraktur&lt;br /&gt;a) Bentuk garis patah&lt;br /&gt;1) Garis patah melintang&lt;br /&gt;2) Garis pata obliq&lt;br /&gt;3) Garis patah spiral&lt;br /&gt;4) Fraktur kompresi&lt;br /&gt;5) Fraktur avulsi&lt;br /&gt;b) Jumlah garis patah&lt;br /&gt;1) Fraktur komunitif garis patah lebih dari satu dan saling berhubungan.&lt;br /&gt;2) Fraktur segmental garis patah lebih dari satu tetapi saling berhubungan&lt;br /&gt;3) Fraktur multiple garis patah lebih dari satu tetapi pada tulang yang berlainan.&lt;br /&gt;c) Bergeser-tidak bergeser&lt;br /&gt; Fraktur tidak bergeser garis patali kompli tetapi kedua fragmen tidak bergeser.&lt;br /&gt; Fraktur bergeser, terjadi pergeseran fragmen-fragmen fraktur yang juga disebut di lokasi fragmen (Smeltzer, 2001:2357).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV. PATOFISIOLOGI&lt;br /&gt;Proses penyembuhan luka terdiri dari beberapa fase yaitu :&lt;br /&gt;1. Fase hematum&lt;br /&gt;• Dalam waktu 24 jam timbul perdarahan, edema, hematume disekitar fraktur&lt;br /&gt;• Setelah 24 jam suplai darah di sekitar fraktur meningkat&lt;br /&gt;2. Fase granulasi jaringan&lt;br /&gt;• Terjadi 1 – 5 hari setelah injury&lt;br /&gt;• Pada tahap phagositosis aktif produk neorosis&lt;br /&gt;• Itematome berubah menjadi granulasi jaringan yang berisi pembuluh darah baru fogoblast dan osteoblast.&lt;br /&gt;3. Fase formasi callus&lt;br /&gt;• Terjadi 6 – 10 harisetelah injuri&lt;br /&gt;• Granulasi terjadi perubahan berbentuk callus&lt;br /&gt;4. Fase ossificasi&lt;br /&gt;• Mulai pada 2 – 3 minggu setelah fraktur sampai dengan sembuh&lt;br /&gt;• Callus permanent akhirnya terbentuk tulang kaku dengan endapan garam kalsium yang menyatukan tulang yang patah&lt;br /&gt;5. Fase consolidasi dan remadelling&lt;br /&gt;• Dalam waktu lebih 10 minggu yang tepat berbentuk callus terbentuk dengan oksifitas osteoblast dan osteuctas (Black, 1993 : 19 ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;V. TANDA DAN GEJALA&lt;br /&gt;1. Deformitas&lt;br /&gt;Daya terik kekuatan otot menyebabkan fragmen tulang berpindah dari tempatnya perubahan keseimbangan dan contur terjadi seperti :&lt;br /&gt;a. Rotasi pemendekan tulang&lt;br /&gt;b. Penekanan tulang&lt;br /&gt;2. Bengkak : edema muncul secara cepat dari lokasi dan ekstravaksasi darah dalam jaringan yang berdekatan dengan fraktur&lt;br /&gt;3. Echumosis dari Perdarahan Subculaneous&lt;br /&gt;4. Spasme otot spasme involunters dekat fraktur&lt;br /&gt;5. Tenderness/keempukan&lt;br /&gt;6. Nyeri mungkin disebabkan oleh spasme otot berpindah tulang dari tempatnya dan kerusakan struktur di daerah yang berdekatan.&lt;br /&gt;7. Kehilangan sensasi (mati rasa, mungkin terjadi dari rusaknya saraf/perdarahan)&lt;br /&gt;8. Pergerakan abnormal&lt;br /&gt;9. Shock hipovolemik hasil dari hilangnya darah&lt;br /&gt;10. Krepitasi (Black, 1993 : 199).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VI. PEMERIKSAAN PENUNJANG&lt;br /&gt;1. Foto Rontgen&lt;br /&gt; Untuk mengetahui lokasi fraktur dan garis fraktur secara langsung&lt;br /&gt; Mengetahui tempat dan type fraktur&lt;br /&gt;Biasanya diambil sebelum dan sesudah dilakukan operasi dan selama proses penyembuhan secara periodik&lt;br /&gt;2. Skor tulang tomography, skor C1, Mr1 : dapat digunakan mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak.&lt;br /&gt;3. Artelogram dicurigai bila ada kerusakan vaskuler&lt;br /&gt;4. Hitung darah lengkap HT mungkin meningkat ( hemokonsentrasi ) atau menrurun ( perdarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh pada trauma multiple)&lt;br /&gt;Peningkatan jumlah SDP adalah respon stres normal setelah trauma&lt;br /&gt;5. Profil koagulasi perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah transfusi multiple atau cedera hati (Doenges, 1999 : 76 ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VII. PENATALAKSANAAN&lt;br /&gt;1. Fraktur Reduction&lt;br /&gt; Manipulasi atau penurunan tertutup, manipulasi non bedah penyusunan kembali secara manual dari fragmen-fragmen tulang terhadap posisi otonomi sebelumnya.&lt;br /&gt; Penurunan terbuka merupakan perbaikan tulang terusan penjajaran insisi pembedahan, seringkali memasukkan internal viksasi terhadap fraktur dengan kawat, sekrup peniti plates batang intramedulasi, dan paku. Type lokasi fraktur tergantung umur klien.&lt;br /&gt;Peralatan traksi :&lt;br /&gt;o Traksi kulit biasanya untuk pengobatan jangka pendek&lt;br /&gt;o Traksi otot atau pembedahan biasanya untuk periode jangka panjang.&lt;br /&gt;2. Fraktur Immobilisasi&lt;br /&gt; Pembalutan (gips)&lt;br /&gt; Eksternal Fiksasi&lt;br /&gt; Internal Fiksasi&lt;br /&gt; Pemilihan Fraksi&lt;br /&gt;3. Fraksi terbuka&lt;br /&gt; Pembedahan debridement dan irigrasi&lt;br /&gt; Imunisasi tetanus&lt;br /&gt; Terapi antibiotic prophylactic&lt;br /&gt; Immobilisasi (Smeltzer, 2001).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MANAJEMEN KEPERAWATAN&lt;br /&gt;I. PENGKAJIAN&lt;br /&gt;Pengkajian adalah langkah awal dan dasar dalam proses keperawatan secara menyeluruh (Boedihartono, 1994 : 10).&lt;br /&gt;Pengkajian pasien Post op frakture Olecranon (Doenges, 1999) meliputi :&lt;br /&gt;a. Sirkulasi&lt;br /&gt;Gejala : riwayat masalah jantung, GJK, edema pulmonal, penyakit vascular perifer, atau stasis vascular (peningkatan risiko pembentukan trombus).&lt;br /&gt;b. Integritas ego&lt;br /&gt;Gejala : perasaan cemas, takut, marah, apatis ; factor-faktor stress multiple, misalnya financial, hubungan, gaya hidup.&lt;br /&gt;Tanda : tidak dapat istirahat, peningkatan ketegangan/peka rangsang ; stimulasi simpatis.&lt;br /&gt;c. Makanan / cairan&lt;br /&gt;Gejala : insufisiensi pancreas/DM, (predisposisi untuk hipoglikemia/ketoasidosis) ; malnutrisi (termasuk obesitas) ; membrane mukosa yang kering (pembatasan pemasukkan / periode puasa pra operasi).&lt;br /&gt;d. Pernapasan&lt;br /&gt;Gejala : infeksi, kondisi yang kronis/batuk, merokok.&lt;br /&gt;e. Keamanan&lt;br /&gt;Gejala : alergi/sensitive terhadap obat, makanan, plester, dan larutan ; Defisiensi immune (peningkaan risiko infeksi sitemik dan penundaan penyembuhan) ; Munculnya kanker / terapi kanker terbaru ; Riwayat keluarga tentang hipertermia malignant/reaksi anestesi ; Riwayat penyakit hepatic (efek dari detoksifikasi obat-obatan dan dapat mengubah koagulasi) ; Riwayat transfuse darah / reaksi transfuse.&lt;br /&gt;Tanda : menculnya proses infeksi yang melelahkan ; demam.&lt;br /&gt;f. Penyuluhan / Pembelajaran&lt;br /&gt;Gejala : pengguanaan antikoagulasi, steroid, antibiotic, antihipertensi, kardiotonik glokosid, antidisritmia, bronchodilator, diuretic, dekongestan, analgesic, antiinflamasi, antikonvulsan atau tranquilizer dan juga obat yang dijual bebas, atau obat-obatan rekreasional. Penggunaan alcohol (risiko akan kerusakan ginjal, yang mempengaruhi koagulasi dan pilihan anastesia, dan juga potensial bagi penarikan diri pasca operasi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. DIAGNOSA KEPERAWATAN&lt;br /&gt;Diagnosa keperawatan adalah suatu penyatuan dari masalah pasien yang nyata maupun potensial berdasarkan data yang telah dikumpulkan (Boedihartono, 1994 : 17).&lt;br /&gt;Diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien dengan post op fraktur (Wilkinson, 2006) meliputi :&lt;br /&gt;1. Nyeri berhubungan dengan terputusnya jaringan tulang, gerakan fragmen tulang, edema dan cedera pada jaringan, alat traksi/immobilisasi, stress, ansietas&lt;br /&gt;2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan dispnea, kelemahan/keletihan, ketidak edekuatan oksigenasi, ansietas, dan gangguan pola tidur.&lt;br /&gt;3. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tekanan, perubahan status metabolik, kerusakan sirkulasi dan penurunan sensasi dibuktikan oleh terdapat luka / ulserasi, kelemahan, penurunan berat badan, turgor kulit buruk, terdapat jaringan nekrotik.&lt;br /&gt;4. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri/ketidak nyamanan, kerusakan muskuloskletal, terapi pembatasan aktivitas, dan penurunan kekuatan/tahanan.&lt;br /&gt;5. Risiko infeksi berhubungan dengan stasis cairan tubuh, respons inflamasi tertekan, prosedur invasif dan jalur penusukkan, luka/kerusakan kulit, insisi pembedahan.&lt;br /&gt;6. Kurang pengetahuan tantang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan keterbatasan kognitif, kurang terpajan/mengingat, salah interpretasi informasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. INTERVENSI DAN IMPLEMENTASI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intervensi adalah penyusunan rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan untuk menanggulangi masalah sesuai dengan diagnosa keperawatan (Boedihartono, 1994:20)&lt;br /&gt;Implementasi adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan (Effendi, 1995:40).&lt;br /&gt;Intervensi dan implementasi keperawatan yang muncul pada pasien dengan post op frakture Olecranon (Wilkinson, 2006) meliputi :&lt;br /&gt;1. Nyeri adalah pengalaman sensori serta emosi yang tidak menyenangkan dan meningkat akibat adanya kerusakan jaringan aktual atau potensial, digambarkan dalam istilah seperti kerusakan ; awitan yang tiba-tiba atau perlahan dari intensitas ringan samapai berat dengan akhir yang dapat di antisipasi atau dapat diramalkan dan durasinya kurang dari enam bulan.&lt;br /&gt;Tujuan : nyeri dapat berkurang atau hilang.&lt;br /&gt;Kriteria Hasil : - Nyeri berkurang atau hilang&lt;br /&gt;- Klien tampak tenang.&lt;br /&gt;Intervensi dan Implementasi :&lt;br /&gt;a. Lakukan pendekatan pada klien dan keluarga&lt;br /&gt;R/ hubungan yang baik membuat klien dan keluarga kooperatif&lt;br /&gt;b. Kaji tingkat intensitas dan frekwensi nyeri&lt;br /&gt;R/ tingkat intensitas nyeri dan frekwensi menunjukkan skala nyeri&lt;br /&gt;c. Jelaskan pada klien penyebab dari nyeri&lt;br /&gt;R/ memberikan penjelasan akan menambah pengetahuan klien tentang nyeri.&lt;br /&gt;d. Observasi tanda-tanda vital.&lt;br /&gt;R/ untuk mengetahui perkembangan klien&lt;br /&gt;e. Melakukan kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian analgesik&lt;br /&gt;R/ merupakan tindakan dependent perawat, dimana analgesik berfungsi untuk memblok stimulasi nyeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Intoleransi aktivitas adalah suatu keadaaan seorang individu yang tidak cukup mempunyai energi fisiologis atau psikologis untuk bertahan atau memenuhi kebutuhan atau aktivitas sehari-hari yang diinginkan.&lt;br /&gt;Tujuan : pasien memiliki cukup energi untuk beraktivitas.&lt;br /&gt;Kriteria hasil : - perilaku menampakan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan diri.&lt;br /&gt;- pasien mengungkapkan mampu untuk melakukan beberapa aktivitas tanpa dibantu.&lt;br /&gt;- Koordinasi otot, tulang dan anggota gerak lainya baik.&lt;br /&gt;Intervensi dan Implementasi :&lt;br /&gt;a. Rencanakan periode istirahat yang cukup.&lt;br /&gt;R/ mengurangi aktivitas yang tidak diperlukan, dan energi terkumpul dapat digunakan untuk aktivitas seperlunya secar optimal.&lt;br /&gt;b. Berikan latihan aktivitas secara bertahap.&lt;br /&gt;R/ tahapan-tahapan yang diberikan membantu proses aktivitas secara perlahan dengan menghemat tenaga namun tujuan yang tepat, mobilisasi dini.&lt;br /&gt;c. Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhan sesuai kebutuhan.&lt;br /&gt;R/ mengurangi pemakaian energi sampai kekuatan pasien pulih kembali.&lt;br /&gt;d. Setelah latihan dan aktivitas kaji respons pasien.&lt;br /&gt;R/ menjaga kemungkinan adanya respons abnormal dari tubuh sebagai akibat dari latihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kerusakan integritas kulit adalah keadaan kulit seseorang yang mengalami perubahan secara tidak diinginkan.&lt;br /&gt;Tujuan : Mencapai penyembuhan luka pada waktu yang sesuai.&lt;br /&gt;Kriteria Hasil : - tidak ada tanda-tanda infeksi seperti pus.&lt;br /&gt;- luka bersih tidak lembab dan tidak kotor.&lt;br /&gt;- Tanda-tanda vital dalam batas normal atau dapat ditoleransi.&lt;br /&gt;Intervensi dan Implementasi :&lt;br /&gt;a. Kaji kulit dan identifikasi pada tahap perkembangan luka.&lt;br /&gt;R/ mengetahui sejauh mana perkembangan luka mempermudah dalam melakukan tindakan yang tepat.&lt;br /&gt;b. Kaji lokasi, ukuran, warna, bau, serta jumlah dan tipe cairan luka.&lt;br /&gt;R/ mengidentifikasi tingkat keparahan luka akan mempermudah intervensi.&lt;br /&gt;c. Pantau peningkatan suhu tubuh.&lt;br /&gt;R/ suhu tubuh yang meningkat dapat diidentifikasikan sebagai adanya proses peradangan.&lt;br /&gt;d. Berikan perawatan luka dengan tehnik aseptik. Balut luka dengan kasa kering dan steril, gunakan plester kertas.&lt;br /&gt;R/ tehnik aseptik membantu mempercepat penyembuhan luka dan mencegah terjadinya infeksi.&lt;br /&gt;e. Jika pemulihan tidak terjadi kolaborasi tindakan lanjutan, misalnya debridement.&lt;br /&gt;R/ agar benda asing atau jaringan yang terinfeksi tidak menyebar luas pada area kulit normal lainnya.&lt;br /&gt;f. Setelah debridement, ganti balutan sesuai kebutuhan.&lt;br /&gt;R/ balutan dapat diganti satu atau dua kali sehari tergantung kondisi parah/ tidak nya luka, agar tidak terjadi infeksi.&lt;br /&gt;g. Kolaborasi pemberian antibiotik sesuai indikasi.&lt;br /&gt;R / antibiotik berguna untuk mematikan mikroorganisme pathogen pada daerah yang berisiko terjadi infeksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Hambatan mobilitas fisik adalah suatu keterbatasan dalam kemandirian, pergerakkan fisik yang bermanfaat dari tubuh atau satu ekstremitas atau lebih.&lt;br /&gt;Tujuan : pasien akan menunjukkan tingkat mobilitas optimal.&lt;br /&gt;Kriteria hasil : - penampilan yang seimbang..&lt;br /&gt;- melakukan pergerakkan dan perpindahan.&lt;br /&gt;- mempertahankan mobilitas optimal yang dapat di toleransi, dengan karakteristik :&lt;br /&gt;   0 = mandiri penuh&lt;br /&gt;   1 = memerlukan alat Bantu.&lt;br /&gt;   2 = memerlukan bantuan dari orang lain untuk bantuan, pengawasan, dan pengajaran.&lt;br /&gt;   3 = membutuhkan bantuan dari orang lain dan alat Bantu.&lt;br /&gt;   4 = ketergantungan; tidak berpartisipasi dalam aktivitas.&lt;br /&gt;Intervensi dan Implementasi :&lt;br /&gt;g. Kaji kebutuhan akan pelayanan kesehatan dan kebutuhan akan peralatan.&lt;br /&gt;R/ mengidentifikasi masalah, memudahkan intervensi.&lt;br /&gt;h. Tentukan tingkat motivasi pasien dalam melakukan aktivitas.&lt;br /&gt;R/ mempengaruhi penilaian terhadap kemampuan aktivitas apakah karena ketidakmampuan ataukah ketidakmauan.&lt;br /&gt;i. Ajarkan dan pantau pasien dalam hal penggunaan alat bantu.&lt;br /&gt;R/ menilai batasan kemampuan aktivitas optimal.&lt;br /&gt;j. Ajarkan dan dukung pasien dalam latihan ROM aktif dan pasif.&lt;br /&gt;R/ mempertahankan /meningkatkan kekuatan dan ketahanan otot.&lt;br /&gt;k. Kolaborasi dengan ahli terapi fisik atau okupasi.&lt;br /&gt;R/ sebagai suaatu sumber untuk mengembangkan perencanaan dan mempertahankan/meningkatkan mobilitas pasien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Risiko infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan perifer, perubahan sirkulasi, kadar gula darah yang tinggi, prosedur invasif dan kerusakan kulit.&lt;br /&gt;Tujuan : infeksi tidak terjadi / terkontrol.&lt;br /&gt;Kriteria hasil : - tidak ada tanda-tanda infeksi seperti pus.&lt;br /&gt;- luka bersih tidak lembab dan tidak kotor.&lt;br /&gt;- Tanda-tanda vital dalam batas normal atau dapat ditoleransi.&lt;br /&gt;Intervensi dan Implementasi :&lt;br /&gt;a. Pantau tanda-tanda vital.&lt;br /&gt;R/ mengidentifikasi tanda-tanda peradangan terutama bila suhu tubuh meningkat.&lt;br /&gt;b. Lakukan perawatan luka dengan teknik aseptik.&lt;br /&gt;R/ mengendalikan penyebaran mikroorganisme patogen.&lt;br /&gt;c. Lakukan perawatan terhadap prosedur inpasif seperti infus, kateter, drainase luka, dll.&lt;br /&gt;R/ untuk mengurangi risiko infeksi nosokomial.&lt;br /&gt;d. Jika ditemukan tanda infeksi kolaborasi untuk pemeriksaan darah, seperti Hb dan leukosit.&lt;br /&gt;R/ penurunan Hb dan peningkatan jumlah leukosit dari normal bisa terjadi akibat terjadinya proses infeksi.&lt;br /&gt;e. Kolaborasi untuk pemberian antibiotik.&lt;br /&gt;R/ antibiotik mencegah perkembangan mikroorganisme patogen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan keterbatasan kognitif, kurang terpajan/mengingat, salah interpretasi informasi.&lt;br /&gt;Tujuan : pasien mengutarakan pemahaman tentang kondisi, efek prosedur dan proses pengobatan.&lt;br /&gt;Kriteria Hasil : - melakukan prosedur yang diperlukan dan menjelaskan alasan dari suatu tindakan.&lt;br /&gt;- memulai perubahan gaya hidup yang diperlukan dan ikut serta dalam regimen perawatan.&lt;br /&gt;Intervensi dan Implementasi:&lt;br /&gt;a. Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya.&lt;br /&gt;R/ mengetahui seberapa jauh pengalaman dan pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya.&lt;br /&gt;b. Berikan penjelasan pada klien tentang penyakitnya dan kondisinya sekarang.&lt;br /&gt;R/ dengan mengetahui penyakit dan kondisinya sekarang, klien dan keluarganya akan merasa tenang dan mengurangi rasa cemas.&lt;br /&gt;c. Anjurkan klien dan keluarga untuk memperhatikan diet makanan nya.&lt;br /&gt;R/ diet dan pola makan yang tepat membantu proses penyembuhan.&lt;br /&gt;d. Minta klien dan keluarga mengulangi kembali tentang materi yang telah diberikan.&lt;br /&gt;R/ mengetahui seberapa jauh pemahaman klien dan keluarga serta menilai keberhasilan dari tindakan yang dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV. EVALUASI&lt;br /&gt;Evaluasi addalah stadium pada proses keperawatan dimana taraf keberhasilan dalam pencapaian tujuan keperawatan dinilai dan kebutuhan untuk memodifikasi tujuan atau intervensi keperawatan ditetapkan (Brooker, 2001).&lt;br /&gt;Evaluasi yang diharapkan pada pasien dengan post operasi fraktur adalah :&lt;br /&gt;1. Nyeri dapat berkurang atau hilang setelah dilakukan tindakan keperawatan.&lt;br /&gt;2. Pasien memiliki cukup energi untuk beraktivitas.&lt;br /&gt;3. Mencapai penyembuhan luka pada waktu yang sesuai&lt;br /&gt;4. Pasien akan menunjukkan tingkat mobilitas optimal.&lt;br /&gt;5. Infeksi tidak terjadi / terkontrol&lt;br /&gt;6. Pasien mengutarakan pemahaman tentang kondisi, efek prosedur dan proses pengobatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;Black, Joyce M. 1993. Medical Surgical Nursing. W.B Sainders Company : Philadelpia&lt;br /&gt;Boedihartono, 1994, Proses Keperawatan di Rumah Sakit. EGC : Jakarta.&lt;br /&gt;Brooker, Christine. 2001. Kamus Saku Keperawatan. EGC : Jakarta.&lt;br /&gt;Brunner dan Suddarth, 2002, Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 3, EGC, Jakarta&lt;br /&gt;Doenges, Marilyn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3. EGC : Jakarta.&lt;br /&gt;E. Oerswari 1989, Bedah dan Perawatannya, PT Gramedia. Jakarta&lt;br /&gt;Nasrul, Effendi. 1995. Pengantar Proses Keperawatan. EGC. Jakarta.&lt;br /&gt;Sjamsuhidajat, R. dan Wim de Jong. 1998. Buku Ajar Imu Bedah, Edisi revisi. EGC : Jakarta&lt;br /&gt;Wilkinson, Judith M. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan, edisi 7. EGC : Jakarta.&lt;br /&gt;Smeltzer, Suzanne C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah dari Brunner &amp;amp; Suddarth, Edisi 8. EGC : Jakarta.&lt;br /&gt;FKUI. 1995. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Binarupa Aksara : Jakarta&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4783875443562043141-4643250142199840977?l=askep-kesehatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/4643250142199840977'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/4643250142199840977'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-kesehatan.blogspot.com/2009/11/askep-fraktur.html' title='ASKEP FRAKTUR'/><author><name>elly</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_nt1knDXPQbQ/SBXu2-Vx8SI/AAAAAAAAACc/sHjT5rmXyC8/S220/frudo.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4783875443562043141.post-1443750258027598732</id><published>2009-11-07T04:45:00.000+07:00</published><updated>2009-11-07T04:46:12.385+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ASKEP'/><title type='text'>Asuhan Keperawatan Anak dengan Diare</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: trebuchet ms; font-size: 130%;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Diare&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.  Pengertian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan jumlah tinja yang lebih banyak dari biasanya (normal 100-200 cc/jam tinja). Dengan tinja berbentuk cair /setengah padat, dapat disertai frekuensi yang meningkat. Menurut WHO (1980), diare adalah buang air besar encer lebih dari 3 x sehari. Diare terbagi 2 berdasarkan mula dan lamanya, yaitu diare akut dan kronis (Mansjoer, A.1999, 501).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;B.  Penyebab&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Menurut Ngastiyah (1997), penyebab diare dapat dibagi dalam beberapa faktor yaitu:&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Faktor infeksi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;li&gt;        Infeksi enteral&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Merupakan penyebab utama diare pada anak, yang meliputi: infeksi bakteri, infeksi virus (enteovirus, polimyelitis, virus echo coxsackie). Adeno virus, rota virus, astrovirus, dll) dan infeksi parasit : cacing (ascaris, trichuris, oxyuris, strongxloides) protozoa (entamoeba histolytica, giardia lamblia, trichomonas homunis) jamur (canida albicous).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Infeksi parenteral&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;adalah infeksi diluar alat pencernaan makanan seperti otitis media akut (OMA) tonsilitis/tonsilofaringits, bronkopeneumonia, ensefalitis dan sebagainya. Keadaan ini terutama terdapat pada bayi dan anak berumur dibawah dua (2) tahun.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;   Faktor malabsorbsi&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;        Malabsorbsi karbohidrat, lemak dan protein.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;   &lt;li&gt;Faktor makanan&lt;/li&gt;Makanan basi, beracun, terlalu banyak lemak, sayuran dimasak kurang matang.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;   &lt;li&gt;Faktor psikologis&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Rasa takut, cemas&lt;/ol&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Menurut Haroen N.S, Suraatmaja dan P.O Asnil (1998), ditinjau dari sudut patofisiologi, penyebab diare akut dapat dibagi dalam dua golongan yaitu:&lt;/span&gt;&lt;ol&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;    &lt;li&gt; Diare sekresi (secretory diarrhoe), disebabkan oleh:&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;ul&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;        &lt;li&gt;Infeksi virus, kuman-kuman patogen dan apatogen seperti shigella, salmonela, E. Coli, golongan vibrio, B. Cereus, clostridium perfarings, stapylococus aureus, comperastaltik usus halus yang disebabkan bahan-bahan kimia makanan (misalnya keracunan makanan, makanan yang pedas, terlalau asam), gangguan psikis (ketakutan, gugup), gangguan saraf, hawa dingin, alergi dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;       &lt;li&gt; Defisiensi imum terutama SIGA (secretory imonol bulin A) yang mengakibatkan terjadinya berlipat gandanya bakteri/flata usus dan jamur terutama canalida.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;    &lt;li&gt; Diare osmotik (osmotik diarrhoea), disebabkan oleh:&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;ul&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;       &lt;li&gt; Malabsorpsi makanan: karbohidrat, lemak (LCT), protein, vitamin dan mineral.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;        &lt;li&gt; Kurang kalori protein.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;        &lt;li&gt; Bayi berat badan lahir rendah dan bayi baru lahir.&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/ol&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;C.  Patofisiologi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Penyebab diare yang utama adalah gangguan osmotik, akibat adanya makanan atau zat yang tidak dapat diserap oleh usus akan menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meninggi, sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus, isi rongga usus yang berlebihan ini akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul diare.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Diare juga terjadi akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinding usus akan terjadi peningkatan air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan kemudian diare timbul karena terdapat peningkatan isi rongga usus.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Diare dapat juga terjadi akibat masuknya mikroorganisme hidup ke dalam usus setelah berhasil melewati rintangan asam lambung, mikroorganisme tersebut berkembang biak, kemudian mengeluarkan toksin dan akibat toksin tersebut terjadi hipersekresi yang selanjutnya akan menimbulkan diare.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Gangguan motalitas usus juga mengakibatkan diare, terjadinya hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan sehingga timbul diare sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri timbul berlebihan yang selanjutnya dapat menimbulkan diare pula.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;D.  Tanda dan Gejala&lt;/span&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;  Anak sering buang air besar dengan konsistensi tinja cair atau encer.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Anak cengeng, gelisah, suhu tubuh mungkin meningkat, nafsu makan berkurang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Warna tinja berubah menjadi kehijau-hijauan karena bercampur empedu.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Daerah sekitar anus kemerahan dan lecet karena seringnya difekasi dan tinja menjadi lebih asam akibat banyaknya asam laktat.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Ada tanda dan gejala dehidrasi, turgor kulit jelas (elistitas kulit menurun), ubun-ubun dan mata cekung membran mukosa kering dan disertai penurunan berat badan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Perubahan tanda-tanda vital, nadi dan respirasi cepat tekan darah turun, denyut jantung cepat, pasien sangat lemas hingga menyebabkan kesadaran menurun.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Diuresis berkurang (oliguria sampai anuria).&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;E.  Pemeriksaan Penunjang&lt;/span&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Pemeriksaan tinja&lt;/span&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Makroskopis dan mikroskopis&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;PH dan kadar gula dalam tinja&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Bila perlu diadakan uji bakteri &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah, dengan menentukan PH dan cadangan alkali dan analisa gas darah.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin untuk mengetahui faal ginjal.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Pemeriksaan elektrolit terutama kadar Na, K, Kalsium dan Posfat.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: trebuchet ms;"&gt;F.  Penatalaksanaan&lt;/span&gt;&lt;ol&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;li&gt;Pemberian cairan, jenis cairan, cara memberikan cairan, jumlah pemberiannya.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;ul&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;      &lt;li&gt;  Cairan per oral&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Pada klien dengan dehidrasi ringan dan sedang diberikan peroral berupa cairan yang bersifat NaCl dan NaHCO3 dan glukosa. Untuk diare akut dan kolera pada anak diatas 6 bulan kadar Natrium 90 mEg/l. Pada anak dibawah umur 6 bulan dengan dehidrasi ringan-sedang kadar natrium 50-60 mEg/l. Formula lengkap disebut oralit, sedangkan larutan gula garam dan tajin disebut formula yang tidak lengkap karena banyak mengandung NaCl dan sukrosa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;      &lt;li&gt;   Cairan parentral&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Diberikan pada klien yang mengalami dehidrasi berat, dengan rincian sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;ul&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;        &lt;li&gt; Untuk anak umur 1 bl-2 tahun berat badan 3-10 kg&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;ul&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;           &lt;li&gt; 1 jam pertama : 40 ml/kgBB/menit= 3 tts/kgBB/mnt (infus set berukuran 1 ml=15 tts atau 13 tts/kgBB/menit (set infus 1 ml=20 tetes).&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;          &lt;li&gt; 7 jam berikutnya : 12 ml/kgBB/menit= 3 tts/kgBB/mnt (infusset berukuran 1 ml=15 tts atau 4 tts/kgBB/menit (set infus 1 ml=20 tetes).&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;          &lt;li&gt;  16 jam berikutnya : 125 ml/kgBB/ oralit&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;        &lt;li&gt;  Untuk anak lebih dari 2-5 tahun dengan berat badan 10-15 kg&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;ul&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;           &lt;li&gt;  1 jam pertama : 30 ml/kgBB/jam atau 8 tts/kgBB/mnt (1 ml=15 tts atau 10 tts/kgBB/menit (1 ml=20 tetes).&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;        &lt;li&gt;  Untuk anak lebih dari 5-10 tahun dengan berat badan 15-25 kg&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;ul&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;           &lt;li&gt;  1 jam pertama : 20 ml/kgBB/jam atau 5 tts/kgBB/mnt (1 ml=15 tts atau 7 tts/kgBB/menit (1 ml=20 tetes).&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;           &lt;li&gt;  7 jam berikut : 10 ml/kgBB/jam atau 2,5 tts/kgBB/mnt (1 ml=15 tts atau 3 tts/kgBB/menit (1 ml=20 tetes).&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;           &lt;li&gt;  16 jam berikut : 105 ml/kgBB oralit per oral.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;        &lt;li&gt;  Untuk bayi baru lahir dengan berat badan 2-3 kg&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;ul&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;         &lt;li&gt; Kebutuhan cairan: 125 ml + 100 ml + 25 ml = 250 ml/kg/BB/24 jam, jenis cairan 4:1 (4 bagian glukosa 5% + 1 bagian NaHCO3 1½ %.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Kecepatan : 4 jam pertama : 25 ml/kgBB/jam atau 6 tts/kgBB/menit (1 ml = 15 tts) 8 tts/kg/BB/mt (1mt=20 tts).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;          &lt;li&gt;  Untuk bayi berat badan lahir rendah&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Kebutuhan cairan: 250 ml/kg/BB/24 jam, jenis cairan 4:1 (4 bagian  glukosa 10% + 1 bagian NaHCO3 1½ %).&lt;/span&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;   &lt;li&gt; Pengobatan dietetik&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;        Untuk anak dibawah 1 tahun dan anak diatas 1 tahun dengan berat badan kurang dari 7 kg, jenis makanan:&lt;/span&gt;&lt;ul&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;      &lt;li&gt;Susu (ASI, susu formula yang mengandung laktosa rendah dan lemak tak jenuh.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;      &lt;li&gt; Makanan setengah padat (bubur atau makanan padat (nasi tim).&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;      &lt;li&gt; Susu khusus yang disesuaikan dengan kelainan yang ditemukan misalnya susu yang tidak mengandung laktosa dan asam lemak yang berantai sedang atau tak jenuh.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;    &lt;li&gt; Obat-obatan&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Prinsip pengobatan menggantikan cairan yang hilang dengan cairan yang mengandung elektrolit dan glukosa atau karbohidrat lain.&lt;/span&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 130%;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;center&gt;Asuhan Keperawatan Anak dengan Diare&lt;/center&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt; Pengkajian&lt;/span&gt;&lt;ol&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;   &lt;li&gt; Identitas&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Perlu diperhatikan adalah usia. Episode diare terjadi pada 2 tahun pertama kehidupan. Insiden paling tinggi adalah golongan umur 6-11 bulan. Kebanyakan kuman usus merangsang kekebalan terhadap infeksi, hal ini membantu menjelaskan penurunan insidence penyakit pada anak yang lebih besar. Pada umur 2 tahun atau lebih imunitas aktif mulai terbentuk. Kebanyakan kasus karena infeksi usus asimptomatik dan kuman enteric menyebar terutama klien tidak menyadari adanya infeksi. Status ekonomi juga berpengaruh terutama dilihat dari pola makan dan perawatannya .&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;    &lt;li&gt; Keluhan Utama&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;BAB lebih dari 3 x&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;    &lt;li&gt; Riwayat Penyakit Sekarang&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;BAB warna kuning kehijauan, bercamour lendir dan darah atau lendir saja. Konsistensi encer, frekuensi lebih dari 3 kali, waktu pengeluaran : 3-5 hari (diare akut), lebih dari 7 hari ( diare berkepanjangan), lebih dari 14 hari (diare kronis).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;    &lt;li&gt; Riwayat Penyakit Dahulu&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Pernah mengalami diare sebelumnya, pemakian antibiotik atau kortikosteroid jangka panjang (perubahan candida albicans dari saprofit menjadi parasit), alergi makanan, ISPA, ISK, OMA campak. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;    &lt;li&gt; Riwayat Nutrisi&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Pada anak usia toddler makanan yang diberikan seperti pada orang dewasa, porsi yang diberikan 3 kali setiap hari dengan tambahan buah dan susu. kekurangan gizi pada anak usia toddler sangat rentan,. Cara pengelolahan makanan yang baik, menjaga kebersihan dan sanitasi makanan, kebiasan cuci tangan, &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;    &lt;li&gt; Riwayat Kesehatan Keluarga&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Ada salah satu keluarga yang mengalami diare.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;    &lt;li&gt; Riwayat Kesehatan Lingkungan&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Penyimpanan  makanan pada suhu kamar, kurang menjaga kebersihan, lingkungan tempat tinggal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;   &lt;li&gt; Riwayat Pertumbuhan dan perkembangan&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;ul&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;        &lt;li&gt; Pertumbuhan&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;ul&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;          &lt;li&gt; Kenaikan BB karena umur 1 –3 tahun berkisar antara 1,5-2,5 kg (rata-rata 2 kg),  PB 6-10 cm (rata-rata 8 cm) pertahun.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;          &lt;li&gt; Kenaikan linkar kepala : 12cm ditahun pertama dan 2 cm ditahun kedua dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;           &lt;li&gt;Tumbuh gigi 8 buah : tambahan gigi susu; geraham pertama dan gigi taring, seluruhnya berjumlah 14 – 16 buah.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;           &lt;li&gt; Erupsi gigi : geraham perama menusul gigi taring.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;      &lt;li&gt; Perkembangan&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;ul&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;           &lt;li&gt; Tahap perkembangan Psikoseksual menurut Sigmund Freud.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;           Fase anal : &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Pengeluaran tinja menjadi sumber kepuasan libido, meulai menunjukan keakuannya, cinta diri sendiri/ egoistic, mulai kenal dengan tubuhnya, tugas utamanyan adalah latihan kebersihan, perkembangan bicra dan bahasa (meniru dan mengulang kata sederhana, hubungna interpersonal, bermain).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;           &lt;li&gt; Tahap perkembangan psikososial menurut Erik Erikson.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Autonomy vs Shame and doundt&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Perkembangn ketrampilan motorik dan bahasa dipelajari anak toddler dari lingkungan dan keuntungan yang ia peroleh Dario kemam puannya untuk mandiri (tak tergantug). Melalui dorongan orang tua untuk makan, berpakaian, BAB sendiri, jika orang tua terlalu over protektif menuntut harapan yanag terlalu tinggi maka anak akan merasa malu dan ragu-ragu seperti juga halnya perasaan tidak mampu yang dapat berkembang pada diri anak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;          &lt;li&gt;Gerakan kasar dan halus, bacara, bahasa dan kecerdasan, bergaul dan mandiri : Umur 2-3 tahun :&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;ol&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;          &lt;li&gt; Berdiri  dengan satu kaki tanpa berpegangan sedikitpun  2 hitungan (GK).&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;         &lt;li&gt; Meniru membuat garis lurus (GH).&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;          &lt;li&gt; Menyatakan keinginan   sedikitnya dengan dua kata (BBK).&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;          &lt;li&gt; Melepasa pakaian sendiri (BM).&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;   &lt;li&gt; Pemeriksaan Fisik&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;ul&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;       &lt;li&gt; Pengukuran panjang badan, berat badan menurun, lingkar lengan mengecil, lingkar kepala, lingkar abdomen membesar.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;       &lt;li&gt; Keadaan umum : klien lemah, gelisah, rewel, lesu, kesadaran menurun.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;        &lt;li&gt; Kepala : ubun-ubun tak teraba cekung karena sudah menutup pada anak umur 1 tahun lebih.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;        &lt;li&gt;Mata : cekung, kering, sangat cekung.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;        &lt;li&gt;Sistem pencernaan : mukosa mulut kering, distensi abdomen, peristaltic meningkat &gt; 35 x/mnt, nafsu makan menurun, mual muntah, minum normal atau tidak haus, minum lahap dan kelihatan haus, minum sedikit atau kelihatan bisa minum.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;        &lt;li&gt;Sistem Pernafasan : dispnea, pernafasan cepat &gt; 40 x/mnt karena asidosis metabolic (kontraksi otot pernafasan).&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;       &lt;li&gt; Sistem kardiovaskuler : nadi cepat &gt; 120 x/mnt dan lemah, tensi menurun pada diare sedang .&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;       &lt;li&gt; Sistem integumen : warna kulit pucat, turgor menurun &gt; 2 dt, suhu meningkat &gt; 375 0 c, akral hangat, akral dingin (waspada syok), capillary refill time memajang &gt; 2 dt, kemerahan pada daerah perianal.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;       &lt;li&gt; Sistem perkemihan : urin produksi oliguria sampai anuria (200-400 ml/ 24 jam ), frekuensi berkurang dari sebelum sakit.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;        &lt;li&gt;Dampak hospitalisasi : semua anak sakit yang MRS bisa mengalami stress yang berupa perpisahan, kehilangan waktu bermain, terhadap tindakan invasive respon yang ditunjukan adalah protes, putus asa, dan kemudian menerima.&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: trebuchet ms;"&gt;Diagnosa Keperawatan&lt;/span&gt;&lt;ol&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;    &lt;li&gt; Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan diare atau output berlebihan dan intake yang kurang.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;    &lt;li&gt; Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan kehilangan cairan skunder terhadap diare.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;    &lt;li&gt; Resiko peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi skunder terhadap diare.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;    &lt;li&gt; Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan peningkatan frekwensi diare.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;    &lt;li&gt; Resiko tinggi gangguan tumbuh kembang berhubungan dengan BB menurun terus menerus.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;    &lt;li&gt; Kecemasan anak berhubungan dengan tindakan invasive.&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: trebuchet ms;"&gt;Intervensi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;   Diagnosa 1.:&lt;br /&gt;Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan kehilangan cairan skunder terhadap diare &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;   Tujuan :&lt;br /&gt;Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam keseimbangan dan elektrolit dipertahankan secara maksimal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;   Kriteria hasil :&lt;ul&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;   &lt;li&gt;  Tanda vital dalam batas normal (N: 120-60 x/mnt, S; 36-37,50  c, RR : &lt; 40 x/mnt)&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;li&gt;  Turgor elastik , membran mukosa bibir basah, mata tidak cowong, UUB tidak cekung.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;   &lt;li&gt;  Konsistensi BAB lembek, frekwensi 1 kali perhari.&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Intervensi :&lt;ul&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;   &lt;li&gt; Pantau tanda dan gejala kekurangan cairan dan elektrolit&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; R/ Penurunan sisrkulasi volume cairan menyebabkan kekeringan mukosa dan pemekataj urin. Deteksi dini memungkinkan terapi pergantian cairan segera untuk memperbaiki defisit&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;   &lt;li&gt; Pantau intake dan output&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; R/ Dehidrasi dapat meningkatkan laju filtrasi glomerulus membuat keluaran tak aadekuat untuk membersihkan sisa metabolisme.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;   &lt;li&gt; Timbang berat badan setiap hari&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;      R/ Mendeteksi kehilangan cairan , penurunan 1 kg BB sama dengan kehilangan cairan 1 lt&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;   &lt;li&gt; Anjurkan keluarga untuk memberi minum banyak pada kien, 2-3 lt/hr&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;      R/ Mengganti cairan dan elektrolit yang hilang secara oral&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;   &lt;li&gt; Kolaborasi :&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;ul&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;     &lt;li&gt; Pemeriksaan laboratorium serum elektrolit (Na, K,Ca, BUN)&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;      R/ koreksi keseimbang cairan dan elektrolit, BUN untuk mengetahui faal ginjal (kompensasi).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;     &lt;li&gt; Cairan parenteral ( IV line ) sesuai dengan umur&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;      R/ Mengganti cairan dan elektrolit secara adekuat dan cepat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;     &lt;li&gt;Obat-obatan : (antisekresin, antispasmolitik, antibiotik)&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; R/ anti sekresi untuk menurunkan sekresi cairan dan elektrolit agar simbang, antispasmolitik untuk proses absorbsi normal, antibiotik sebagai anti bakteri berspektrum luas untuk menghambat endotoksin.&lt;/span&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Diagnosa 2.:&lt;br /&gt;Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak adekuatnya intake dan out put&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;   Tujuan  :&lt;br /&gt;Setelah dilakukan  tindakan perawatan selama dirumah di RS kebutuhan nutrisi terpenuhi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;   Kriteria hasil  :&lt;ul&gt;&lt;li&gt;  Nafsu makan meningkat&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;                     &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt; BB meningkat atau normal sesuai umur&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Intervensi :&lt;/span&gt;&lt;ul&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;   &lt;li&gt;  Diskusikan dan jelaskan tentang pembatasan diet (makanan berserat tinggi, berlemak dan air terlalu panas atau dingin).&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;     R/ Serat tinggi, lemak,air terlalu panas / dingin dapat merangsang mengiritasi lambung dan sluran usus.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;   &lt;li&gt;  Ciptakan lingkungan yang bersih, jauh dari bau  yang tak sedap atau sampah, sajikan makanan dalam keadaan hangat.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;     R/ situasi yang nyaman, rileks akan merangsang nafsu makan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;   &lt;li&gt;  Berikan jam istirahat (tidur) serta kurangi kegiatan yang berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;     R/ Mengurangi pemakaian energi yang berlebihan &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;   &lt;li&gt;  Monitor  intake dan out put dalam 24 jam.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;     R/ Mengetahui jumlah output dapat merencenakan jumlah makanan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;   &lt;li&gt;  Kolaborasi dengan tim kesehtaan lain :&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;ul&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;     &lt;li&gt; terapi gizi : Diet TKTP rendah serat, susu.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;     &lt;li&gt;obat-obatan atau vitamin ( A)&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;     R/ Mengandung zat yang diperlukan , untuk proses pertumbuhan&lt;/span&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Diagnosa 3. :&lt;br /&gt;Resiko peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi dampak sekunder dari diare&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;   Tujuan        :&lt;br /&gt;Setelah dilakukan tindakan perawatan selama 3x 24 jam tidak terjadi peningkatan suhu tubuh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;   Kriteria hasil : &lt;ul&gt;&lt;li&gt;  Suhu tubuh dalam batas normal ( 36-37,5 C)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;  Tidak terdapat tanda infeksi (rubur, dolor, kalor, tumor, fungtio leasa)&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Intervensi :&lt;/span&gt;&lt;ul&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;   &lt;li&gt; Monitor suhu tubuh setiap 2 jam&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;      R/ Deteksi dini terjadinya perubahan abnormal fungsi tubuh ( adanya infeksi)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;   &lt;li&gt; Berikan kompres hangat&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;      R/ merangsang pusat pengatur panas untuk menurunkan produksi panas tubuh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;   &lt;li&gt; Kolaborasi pemberian antipirektik&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;      R/ Merangsang pusat pengatur panas di otak &lt;/span&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Diagnosa 4.:&lt;br /&gt;Resiko gangguan integritas kulit perianal berhubungan dengan   peningkatan frekwensi BAB (diare)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;   Tujuan      :&lt;br /&gt;Setelah dilakukan tindaka keperawtan selama di rumah sakit integritas kulit tidak terganggu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;   Kriteria hasil :&lt;ul&gt;&lt;li&gt; Tidak terjadi iritasi : kemerahan, lecet, kebersihan terjaga&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;                    &lt;li&gt; Keluarga mampu mendemontrasikan perawatan perianal dengan baik dan benar&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Intervensi &lt;ul&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;   &lt;li&gt;  Diskusikan dan jelaskan pentingnya menjaga tempat tidur&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;     R/ Kebersihan mencegah perkembang biakan kuman&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;   &lt;li&gt;  Demontrasikan serta libatkan keluarga dalam merawat perianal (bila basah dan mengganti pakaian bawah serta alasnya)&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;     R/ Mencegah terjadinya iritassi kulit yang tak diharapkan oleh karena kelebaban dan keasaman feces&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;   &lt;li&gt;  Atur posisi tidur atau duduk dengan selang waktu 2-3 jam&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;     R/ Melancarkan vaskulerisasi, mengurangi penekanan yang lama sehingga tak terjadi iskemi dan iritasi .&lt;/span&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Diagnosa 5.:&lt;br /&gt;Kecemasan anak berhubungan dengan tindakan invasive &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;   Tujuan      :&lt;br /&gt;Setelah dilakukan tindakan perawatan selama 3 x 24 jam, klien mampu beradaptasi &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;   Kriteria hasil :&lt;ul&gt;&lt;li&gt;  Mau menerima  tindakan perawatan, klien tampak tenang dan tidak rewel&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Intervensi : &lt;/span&gt;&lt;ul&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;   &lt;li&gt; Libatkan keluarga dalam melakukan  tindakan perawatan&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;     R/ Pendekatan awal pada anak melalui ibu atau keluarga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;   &lt;li&gt;   Hindari persepsi yang salah pada perawat dan RS&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;     R/ mengurangi rasa takut anak terhadap perawat dan lingkungan RS&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;   &lt;li&gt; Berikan pujian jika klien mau diberikan tindakan perawatan dan pengobatan&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;     R/ menambah rasa percaya diri anak akan keberanian dan kemampuannya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;   &lt;li&gt; Lakukan kontak sesering mungkin dan lakukan komunikasi baik verbal maupun non verbal (sentuhan, belaian dll)&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;     R/ Kasih saying serta pengenalan diri perawat akan menunbuhkan rasa aman pada klien.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;   &lt;li&gt; Berikan mainan sebagai rangsang sensori anak&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: trebuchet ms;"&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Bates. B, 1995. Pemeriksaan Fisik &amp;amp; Riwayat Kesehatan.  Ed 2. EGC. Jakarta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Carpenitto.LJ. 2000. Diagnosa Keperawatan Aplikasi Pada Praktek Klinis. Ed 6. EGC. Jakarta.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Lab/ UPF IKA, 1994.  Pedoman Diagnosa dan Terapi .  RSUD Dr. Soetomo. Surabaya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Markum.AH. 1999. Ilmu Kesehatan Anak. Balai Penerbit FKUI. Jakarta.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Ngastiyah. 1997.  Perawatan Anak sakit. EGC. Jakarta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Soetjiningsih, 1995.  Tumbuh Kembang Anak. EGC. Jakarta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Suryanah,2000.  Keperawatan Anak.  EGC. Jakarta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Doengoes,2000. Asuhan Keperawatan Maternal/ Bayi. EGC. Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4783875443562043141-1443750258027598732?l=askep-kesehatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/1443750258027598732'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/1443750258027598732'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-kesehatan.blogspot.com/2009/11/asuhan-keperawatan-anak-dengan-diare.html' title='Asuhan Keperawatan Anak dengan Diare'/><author><name>elly</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_nt1knDXPQbQ/SBXu2-Vx8SI/AAAAAAAAACc/sHjT5rmXyC8/S220/frudo.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4783875443562043141.post-2627216232759523030</id><published>2009-11-07T04:41:00.000+07:00</published><updated>2009-11-07T04:44:40.950+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ASKEP'/><title type='text'>Askep DENGUE HAEMORAGIC FEVER (DHF)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;A. Pengertian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypty (Christantie Efendy,1995 ).&lt;br /&gt;Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang terdapat pada anak dan orang dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot dan nyeri sendi yang disertai ruam atau tanpa ruam. DHF sejenis virus yang tergolong arbo virus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypty (betina) (Seoparman, 1990).&lt;br /&gt;DHF adalah demam khusus yang dibawa oleh aedes aegypty dan beberapa nyamuk lain yang menyebabkan terjadinya demam. Biasanya dengan cepat menyebar secara efidemik. (Sir, Patrick manson, 2001).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;B. Etiologi&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Virus dengue sejenis arbovirus.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Virus dengue tergolong dalam family Flavividae dan dikenal ada 4 serotif, Dengue 1 dan 2 ditemukan di Irian ketika berlangsungnya perang dunia ke II, sedangkan dengue 3 dan 4 ditemukan pada saat wabah di Filipina tahun 1953-1954. Virus dengue berbentuk batang, bersifat termoragil, sensitif terhadap in aktivitas oleh diatiter dan natrium diaksikolat, stabil pada suhu 70 oC.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Keempat serotif tersebut telah di temukan pula di Indonesia dengan serotif ke 3 merupakan serotif yang paling banyak.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;C. Patofisiologi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Virus akan masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk aedes aegypty dan kemudian akan bereaksi dengan antibody dan terbentuklah kompleks virus-antibody. Dalam sirkulasi akan mengaktivasi system komplemen. Akibat aktivasi C3 dan C5 akan dilepas C3a dan C5a,dua peptida yang berdaya untuk melepaskan histamine dan merupakan mediator kuat sebagai factor&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;meningkatnya permeabilitas dinding pembuluh darah dan menghilangkan plasma melalui endotel dinding itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Terjadinya trobositopenia, menurunnya fungsi trombosit dan menurunnya faktor koagulasi (protombin dan fibrinogen) merupakan factor penyebab terjadinya perdarahan hebat , terutama perdarahan saluran gastrointestinal pada DHF.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Yang menentukan beratnya penyakit adalah meningginya permeabilitas dinding pembuluh darah, menurunnya volume plasma, terjadinya hipotensi, trombositopenia dan diathesis hemorrhagic, renjatan terjadi secara akut.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Nilai hematokrit meningkat bersamaan dengan hilangnya plasma melalui endotel dinding pembuluh darah. Dan dengan hilangnya plasma klien mengalami hipovolemik. Apabila tidak diatasi bisa terjadi anoxia jaringan, acidosis metabolic dan kematian.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;D. Tanda dan gejala&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Demam tinggi selama 5 – 7 hari.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mual, muntah, tidak ada nafsu makan, diare, konstipasi.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Perdarahan terutama perdarahan bawah kulit, ptechie, echymosis, hematoma.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Epistaksis, hematemisis, melena, hematuri.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Nyeri otot, tulang sendi, abdoment, dan ulu hati.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sakit kepala.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pembengkakan sekitar mata.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pembesaran hati, limpa, dan kelenjar getah bening.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tanda-tanda renjatan (sianosis, kulit lembab dan dingin, tekanan darah menurun, gelisah, capillary refill lebih dari dua detik, nadi cepat dan lemah).&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;E. Pemeriksaan penunjang&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Darah&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Trombosit menurun.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;HB meningkat lebih 20 %&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;HT meningkat lebih 20 %&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Leukosit menurun pada hari ke 2 dan ke 3&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Protein darah rendah&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ureum PH bisa meningkat&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;NA dan CL rendah&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Serology : HI (hemaglutination inhibition test).&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Rontgen thorax : Efusi pleura.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Uji test tourniket (+)&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;F. Penatalaksanaan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Tirah baring&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pemberian makanan lunak&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pemberian cairan melalui infus&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pemberian obat-obatan : antibiotic, antipiretik&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Anti konvulsi jika terjadi kejang&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Monitor tanda-tanda vital (Tekanan Darah, Suhu, Nadi, RR).&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Monitor adanya tanda-tanda renjatan&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Monitor tanda-tanda perdarahan lebih lanjut&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Periksa HB,HT, dan Trombosit setiap hari.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;G. Tumbuh kembang pada anak usia 6-12 tahun&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Pertumbuhan merupakan proses bertambahnya ukuran berbagai organ fisik berkaitan dengan masalah perubahan dalam jumlah, besar, ukuran atau dimensi tingkat sel. Pertambahan berat badan 2 – 4 Kg / tahun dan pada anak wanita sudah mulai mengembangkan cirri sex sekundernya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Perkembangan menitikberatkan pada aspek diferensiasi bentuk dan fungsi termasuk perubahan sosial dan emosi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Motorik kasar&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Loncat tali&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Memukul&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Badminton&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Motorik kasar di bawah kendali kognitif dan berdasarkan secara bertahap meningkatkan irama dan kehalusan.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Motorik halus&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Menunjukan keseimbangan dan koordinasi mata dan tangan&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dapat meningkatkan kemampuan menjahit, membuat model dan bermain alat musik.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Kognitif&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Dapat berfokus pada lebih dan satu aspek dan situasi&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dapat mempertimbangkan sejumlah alternatif dalam pemecahan masalah&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dapat membelikan cara kerja dan melacak urutan kejadian kembali sejak awal&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dapat memahami konsep dahulu, sekarang dan yang akan datang.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Bahasa&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Mengerti kebanyakan kata-kata abstrak&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Memakai semua bagian pembicaraan termasuk kata sifat, kata keterangan, kata penghubung dan kata depan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menggunakan bahasa sebagai alat pertukaran verbal&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dapat memakai kalimat majemuk dan gabungan.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;a href="http://www.komisigratis.com/?id=Krisjhoxer"&gt;http://www.komisiGRATIS.com&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;a href="http://klubpulsa.com/?id=krisjhoxer"&gt;http://KlubPulsa.com&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;a href="http://www.mlmku.com/?id=Krisjhoxer"&gt;http://www.mlmku.com&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;a href="http://www.galesus.com/index.php?id=Krisjhoxer"&gt;http://www.galesus.com&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;a href="http://5fcc.com/?ref=11130"&gt;http://5fcc.com/?ref=11130&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;a href="http://www.reviews16.com/?id=Krisjhoxer"&gt;http://www.reviews16.com&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;a href="http://cbclickbank.com/affiliate/?r=Krisjhoxer"&gt;http://cbclickbank.com&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DHF&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Pengkajian&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Pengkajian merupakan tahap awal yang dilakukan perawat untuk mendapatkan data yang dibutuhkan sebelum melakukan asuhan keperawatan . pengkajian pada pasien dengan “DHF” dapat dilakukan dengan teknik wawancara, pengukuran, dan pemeriksaan fisik. Adapun tahapan-tahapannya meliputi :&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Mengidentifikasi sumber-sumber yang potensial dan tersedia untuk memenuhi kebutuhan pasien.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kaji riwayat keperawatan.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kaji adanya peningkatan suhu tubuh ,tanda-tanda perdarahan, mual, muntah, tidak nafsu makan, nyeri ulu hati, nyeri otot dan sendi, tanda-tanda syok (denyut nadi cepat dan lemah, hipotensi, kulit dingin dan lembab terutama pada ekstrimitas, sianosis, gelisah, penurunan kesadaran).&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Diagnosa keperawatan yang Muncul&lt;/span&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi virus dengue.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah, tidak ada nafsu makan.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Intervensi&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Diagnosa 1. :&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Gangguan volume cairan tubuh kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan permeabilitas kapiler, perdarahan , muntah dan demam.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Tujuan : Gangguan volume cairan tubuh dapat teratasi&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Kriteria hasil : &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Volume cairan tubuh kembali normal&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Intervensi :&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Kaji KU dan kondisi pasien&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Observasi tanda-tanda vital ( S,N,RR )&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Observasi tanda-tanda dehidrasi&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Observasi tetesan infus dan lokasi penusukan jarum infus&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Balance cairan (input dan out put cairan)&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Beri pasien dan anjurkan keluarga pasien untuk memberi minum banyak&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Anjurkan keluarga pasien untuk mengganti pakaian pasien yang basah oleh&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;keringat.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Diagnosa 2. :&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi virus dengue.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Tujuan : Hipertermi dapat teratasi&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Kriteria hasil : &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Suhu tubuh kembali normal&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Intervensi :&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Observasi tanda-tanda vital terutama suhu tubuh&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berikan kompres dingin (air biasa) pada daerah dahi dan ketiak&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ganti pakaian yang telah basah oleh keringat&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Anjurkan keluarga untuk memakaikan pakaian yang dapat menyerap keringat seperti terbuat dari katun.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Anjurkan keluarga untuk memberikan minum banyak kurang lebih 1500 – 2000 cc per hari&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;kolaborasi dengan dokter dalam pemberian Therapi, obat penurun panas.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Diagnosa 3. :&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual,&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;muntah, tidak ada nafsu makan.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Tujuan : Gangguan pemenuhan nutrisi teratasi&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Kriteria hasil :&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Intake nutrisi klien meningkat&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Intervensi :&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Kaji intake nutrisi klien dan perubahan yang terjadi&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Timbang berat badan klien tiap hari&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berikan klien makan dalam keadaan hangat dan dengan porsi sedikit tapi&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;sering&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Beri minum air hangat bila klien mengeluh mual&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Lakukan pemeriksaan fisik Abdomen (auskultasi, perkusi, dan palpasi).&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian Therapi anti emetik.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kolaborasi dengan tim gizi dalam penentuan diet.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4783875443562043141-2627216232759523030?l=askep-kesehatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/2627216232759523030'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/2627216232759523030'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-kesehatan.blogspot.com/2009/11/askep-dengue-haemoragic-fever-dhf.html' title='Askep DENGUE HAEMORAGIC FEVER (DHF)'/><author><name>elly</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_nt1knDXPQbQ/SBXu2-Vx8SI/AAAAAAAAACc/sHjT5rmXyC8/S220/frudo.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4783875443562043141.post-3994512947920033992</id><published>2009-11-07T04:39:00.001+07:00</published><updated>2009-11-07T04:39:33.139+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ASKEP'/><title type='text'>Asep Gastroenteritis</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;1.  Pengertian&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Gastroentritis ( GE ) adalah peradangan yang terjadi pada lambung dan usus yang memberikan gejala diare dengan atau tanpa disertai muntah (Sowden,et all.1996).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gastroenteritis diartikan sebagai buang air besar yang tidak normal atau bentuk tinja yang encer dengan frekwensi yang lebih banyak dari biasanya (FKUI,1965).&lt;br /&gt;Gastroenteritis adalah inflamasi pada daerah lambung dan intestinal yang disebabkan oleh bakteri yang bermacam-macam,virus dan parasit yang patogen (Whaley &amp;amp; Wong’s,1995).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gastroenteritis adalah kondisis dengan karakteristik adanya muntah dan diare yang disebabkan oleh infeksi,alergi atau keracunan zat makanan ( Marlenan Mayers,1995 ).&lt;br /&gt;Dari keempat pengertian diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa Gstroentritis adalah peradangan yang terjadi pada lambung dan usus yang memberikan gejala diare dengan frekwensi lebih banyak dari biasanya yang disebabkan oleh bakteri,virus dan parasit yang patogen.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;2.  Etiologi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebab dari diare akut antara lain :&lt;/div&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Faktor Infeksi&lt;ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Infeksi Virus&lt;ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Retavirus&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Penyebab tersering diare akut pada bayi, sering didahulu atau disertai dengan muntah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Timbul sepanjang tahun, tetapi biasanya pada musim dingin.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dapat ditemukan demam atau muntah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Di dapatkan penurunan HCC.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Enterovirus&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Biasanya timbul pada musim panas.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Adenovirus&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Timbul sepanjang tahun.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menyebabkan gejala pada saluran pencernaan/pernafasan.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Norwalk&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Epidemik&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dapat sembuh sendiri (dalam 24-48 jam).&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bakteri&lt;ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Stigella&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Semusim, puncaknya pada bulan Juli-September&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Insiden paling tinggi pada umur 1-5 tahun&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dapat dihubungkan dengan kejang demam.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Muntah yang tidak menonjol&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sel polos dalam feses&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sel batang dalam darah&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Salmonella&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Semua umur tetapi lebih tinggi di bawah umur 1 tahun.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menembus dinding usus, feses berdarah, mukoid.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mungkin ada peningkatan temperatur&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Muntah tidak menonjol&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sel polos dalam feses&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Masa inkubasi 6-40 jam, lamanya 2-5 hari.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Organisme dapat ditemukan pada feses selama berbulan-bulan.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Escherichia coli&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Baik yang menembus mukosa (feses berdarah) atau yang menghasilkan entenoksin.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pasien (biasanya bayi) dapat terlihat sangat sakit.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Campylobacter&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Sifatnya invasis (feses yang berdarah dan bercampur mukus) pada bayi dapat menyebabkan diare berdarah tanpa manifestasi klinik yang lain.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kram abdomen yang hebat.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Muntah/dehidrasi jarang terjadi&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Yersinia Enterecolitica&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Feses mukosa&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sering didapatkan sel polos pada feses.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mungkin ada nyeri abdomen yang berat&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Diare selama 1-2 minggu.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sering menyerupai apendicitis.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Faktor Non Infeksiosus&lt;ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Malabsorbsi&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Malabsorbsi karbohidrat disakarida (intoleransi, lactosa, maltosa, dan sukrosa), non sakarida (intoleransi glukosa, fruktusa dan galaktosa). Pada bayi dan anak yang terpenting dan tersering ialah intoleransi laktosa.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Malabsorbsi lemak : long chain triglyceride.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Malabsorbsi protein : asam amino, B-laktoglobulin.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Faktor makanan&lt;br /&gt;Makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan (milk alergy, food alergy, dow’n milk protein senditive enteropathy/CMPSE).&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Faktor Psikologis&lt;br /&gt;Rasa takut,cemas.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;3.  Patofisiologi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Penyebab gastroenteritis akut adalah masuknya virus (Rotravirus, Adenovirus enteris, Virus Norwalk), Bakteri atau toksin (Compylobacter, Salmonella, Escherihia Coli, Yersinia dan lainnya), parasit (Biardia Lambia, Cryptosporidium). Beberapa mikroorganisme patogen ini menyebabkan infeksi pada sel-sel, memproduksi enterotoksin atau Cytotoksin dimana merusak sel-sel, atau melekat pada dinding usus pada Gastroenteritis akut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penularan Gastroenteritis bias melalui fekal-oral dari satu penderita ke yang lainnya. Beberapa kasus ditemui penyebaran patogen dikarenakan makanan dan minuman yang terkontaminasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mekanisme dasar penyebab timbulnya diare adalah gangguan osmotic (makanan yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotic dalam rongga usus meningkat sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus,isi rongga usus berlebihan sehingga timbul diare ). Selain itu menimbulkan gangguan sekresi akibat toksin di dinding usus, sehingga sekresi air dan elektrolit meningkat kemudian terjadi diare. Gangguan multilitas usus yang mengakibatkan hiperperistaltik dan hipoperistaltik. Akibat dari diare itu sendiri adalah kehilangan air dan elektrolit (Dehidrasi) yang mengakibatkan gangguan asam basa (Asidosis Metabolik dan Hipokalemia), gangguan gizi (intake kurang, output berlebih), hipoglikemia dan gangguan sirkulasi darah.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;4.  Manifestasi KLinis&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Nyeri perut (abdominal discomfort)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Rasa perih di ulu hati&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mual, kadang-kadang sampai muntah&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Nafsu makan berkurang&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Rasa lekas kenyang&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Perut kembung&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Rasa panas di dada dan perut&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Regurgitasi (keluar cairan dari lambung secara tiba-tiba).&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;5.  Komplikasi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Dehidrasi&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Renjatan hipovolemik&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kejang&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bakterimia&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mal nutrisi&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hipoglikemia&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Intoleransi sekunder akibat kerusakan mukosa usus.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;6. Tingkat derajat Dehidrasi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%; color: blue;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Dehidrasi ringan&lt;br /&gt;Kehilangan cairan 2 – 5 % dari berat badan dengan gambaran klinik turgor kulit kurang elastis, suara serak, penderita belum jatuh pada keadaan syok.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dehidrasi Sedang&lt;br /&gt;Kehilangan cairan 5 – 8 % dari berat badan dengan gambaran klinik turgor kulit jelek, suara serak, penderita jatuh pre syok nadi cepat dan dalam.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dehidrasi Berat&lt;br /&gt;Kehilangan cairan 8 - 10 % dari bedrat badan dengan gambaran klinik seperti tanda-tanda dehidrasi sedang ditambah dengan kesadaran menurun, apatis sampai koma, otot-otot kaku sampai sianosis.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color:red;"&gt;7.  Pemeriksaan Penunjang&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemeriksaan laboratorium yang meliputi :&lt;/div&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Pemeriksaan Tinja&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Makroskopis dan mikroskopis.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;pH dan kadar gula dalam tinja dengan kertas lakmus dan tablet dinistest, bila diduga terdapat intoleransi gula.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bila diperlukan, lakukan pemeriksaan biakan dan uji resistensi.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pemeriksaan Darah&lt;ul&gt;&lt;li&gt;pH darah dan cadangan dikali dan elektrolit (Natrium, Kalium, Kalsium dan Fosfor) dalam serum untuk menentukan keseimbangan asama basa.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kadar ureum dan kreatmin untuk mengetahui faal ginjal.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Doudenal Intubation&lt;br /&gt;Untuk mengatahui jasad renik atau parasit secara kualitatif dan kuantitatif, terutama dilakukan pada penderita diare kronik.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color:red;"&gt;8.  Penatalaksanaan Medis&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Pemberian cairan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Diatetik : pemberian makanan dan minuman khusus pada penderita dengan tujuan penyembuhan dan menjaga kesehatan adapun hal yang perlu diperhatikan : Memberikan bahan makanan yang mengandung kalori, protein, vitamin, mineral dan makanan yang bersih.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Obat-obatan.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Diare&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;A.  Pengkajian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pengkajian yang sistematis meliputi pengumpulan data,analisa data dan penentuan masalah. Pengumpulan data diperoleh dengan cara intervensi, observasi, psikal assessment.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pengkajian data menurut Cyndi Smith Greenberg, 1992 adalah :&lt;/div&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Identitas klien.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Riwayat keperawatan.&lt;ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Awalan serangan : Awalnya anak cengeng,gelisah,suhu tubuh meningkat,anoreksia kemudian timbul diare.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Keluhan utama : Faeces semakin cair,muntah,bila kehilangan banyak air dan elektrolit terjadi gejala dehidrasi,berat badan menurun. Pada bayi ubun-ubun besar cekung,tonus dan turgor kulit berkurang,selaput lendir mulut dan bibir kering,frekwensi BAB lebih dari 4 kali dengan konsistensi encer.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Riwayat kesehatan masa lalu.&lt;br /&gt;Riwayat penyakit yang diderita,riwayat pemberian imunisasi.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Riwayat psikososial keluarga.&lt;br /&gt;Dirawat akan menjadi stressor bagi anak itu sendiri maupun bagi keluarga,kecemasan meningkat jika orang tua tidak mengetahui prosedur dan pengobatan anak,setelah menyadari penyakit anaknya,mereka akan bereaksi dengan marah dan merasa bersalah.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Kebutuhan dasar.&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Pola eliminasi : akan mengalami perubahan yaitu BAB lebih dari 4 kali sehari,BAK sedikit atau jarang.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Pola nutrisi : diawali dengan mual, muntah, anopreksia, menyebabkan penurunan berat badan pasien.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Pola tidur dan istirahat akan terganggu karena adanya distensi abdomen yang akan menimbulkan rasa tidak nyaman.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Pola hygiene : kebiasaan mandi setiap harinya.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Aktivitas : akan terganggu karena kondisi tubuh yang lamah dan adanya nyeri akibat distensi abdomen.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Pemerikasaan fisik.&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Pemeriksaan psikologis : keadaan umum tampak lemah,kesadran composmentis sampai koma,suhu tubuh tinggi,nadi cepat dan lemah,pernapasan agak cepat.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Pemeriksaan sistematik :&lt;ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Inspeksi : mata cekung,ubun-ubun besar,selaput lendir,mulut dan bibir kering,berat badan menurun,anus kemerahan.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Perkusi : adanya distensi abdomen.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Palpasi : Turgor kulit kurang elastis.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Auskultasi : terdengarnya bising usus.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Pemeriksaan tinglkat tumbuh kembang.&lt;br /&gt;Pada anak diare akan mengalami gangguan karena anak dehidrasi sehingga berat badan menurun.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Pemeriksaan penunjang.&lt;br /&gt;Pemeriksaan tinja,darah lengkap dan doodenum intubation yaitu untuk mengetahui penyebab secara kuantitatip dan kualitatif.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;B  Diagnosa Keperawatan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Defisit volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan output cairan yang berlebihan.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubuingan dengan mual dan muntah.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Gangguan integritas kulit berhubungan dengan iritasi,frekwensi BAB yang berlebihan.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi abdomen.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakit,prognosis dan pengobatan.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Cemas berhubungan dengan perpisahan dengan orang tua,prosedur yang menakutkan.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;C.  Intervensi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Diagnosa 1.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Defisit volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan output cairan yang berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;u&gt;Tujuan :&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;Devisit cairan dan elektrolit teratasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;u&gt;Kriteria hasil :&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;Tanda-tanda dehidrasi tidak ada, mukosa mulut dan bibir lembab, balan cairan seimbang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;u&gt;Intervensi&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;Observasi tanda-tanda vital. Observasi tanda-tanda dehidrasi. Ukur infut dan output cairan (balanc ccairan). Berikan dan anjurkan keluarga untuk memberikan minum yang banyak kurang lebih 2000 – 2500 cc per hari. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therafi cairan, pemeriksaan lab elektrolit. Kolaborasi dengan tim gizi dalam pemberian cairan rendah sodium.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Diagnosa 2.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubuingan dengan mual dan muntah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;u&gt;Tujuan :&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi teratasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;u&gt;Kriteria hasil :&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;Intake nutrisi klien meningkat, diet habis 1 porsi yang disediakan, mual,muntah tidak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;u&gt;Intervensi :&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;Kaji pola nutrisi klien dan perubahan yang terjadi. Timbang berat badan klien. Kaji factor penyebab gangguan pemenuhan nutrisi. Lakukan pemerikasaan fisik abdomen (palpasi,perkusi,dan auskultasi). Berikan diet dalam kondisi hangat dan porsi kecil tapi sering. Kolaborasi dengan tim gizi dalam penentuan diet klien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Diagnosa 3.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Gangguan integritas kulit berhubungan dengan iritasi,frekwensi BAB yang berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;u&gt;Tujuan :&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;Gangguan integritas kulit teratasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;u&gt;Kriteria hasil :&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;Integritas kulit kembali normal, iritasi tidak ada, tanda-tanda infeksi tidak ada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;u&gt;Intervensi :&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;Ganti popok anak jika basah. Bersihkan bokong perlahan sabun non alcohol. Beri zalp seperti zinc oxsida bila terjadi iritasi pada kulit. Observasi bokong dan perineum dari infeksi. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therafi antipungi sesuai indikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Diagnosa 4.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi abdomen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;u&gt;Tujuan :&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;Nyeri dapat teratasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;u&gt;Kriteria hasil :&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;Nyeri dapat berkurang / hiilang, ekspresi wajah tenang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;u&gt;Intervensi :&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;Observasi tanda-tanda vital. Kaji tingkat rasa nyeri. Atur posisi yang nyaman bagi klien. Beri kompres hangat pada daerah abdoment. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therafi analgetik sesuai indikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Diagnosa 5. &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakit,prognosis dan pengobatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;u&gt;Tujuan :&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;Pengetahuan keluarga meningkat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;u&gt;Kriteria hasil :&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;Keluarga klien mengeri dengan proses penyakit klien, ekspresi wajah tenang, keluarga tidak banyak bertanya lagi tentang proses penyakit klien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;u&gt;Intervensi :&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;Kaji tingkat pendidikan keluarga klien. Kaji tingkat pengetahuan keluarga tentang proses penyakit klien. Jelaskan tentang proses penyakit klien dengan melalui penkes. Berikan kesempatan pada keluarga bila ada yang belum dimengertinya. Libatkan keluarga dalam pemberian tindakan pada klien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Diagnosa 6.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Cemas berhubungan dengan perpisahan dengan orang tua,prosedur yang menakutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;u&gt;Tujuan :&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;Klien akan memperlihatkan penurunan tingkat kecemasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;u&gt;Intervensi :&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;Kaji tingkat kecemasan klien. Kaji faktor pencetus cemas. Buat jadwal kontak dengan klien. Kaji hal yang disukai klien. Berikan mainan sesuai kesukaan klien. Libatkan keluarga dalam setiap tindakan. Anjurkan pada keluarga unrtuk selalu mendampingi klien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;D.  Evaluasi&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Volume cairan dan elektrolit kembali normal sesuai kebutuhan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kebutuhan nutrisi terpenuhi sesuai kebutuhantubuh.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Integritas kulit kembali noprmal.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Rasa nyaman terpenuhi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pengetahuan kelurga meningkat.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Cemas pada klien teratasi.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4783875443562043141-3994512947920033992?l=askep-kesehatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/3994512947920033992'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/3994512947920033992'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-kesehatan.blogspot.com/2009/11/asep-gastroenteritis.html' title='Asep Gastroenteritis'/><author><name>elly</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_nt1knDXPQbQ/SBXu2-Vx8SI/AAAAAAAAACc/sHjT5rmXyC8/S220/frudo.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4783875443562043141.post-5466561294148862405</id><published>2009-11-07T04:37:00.000+07:00</published><updated>2009-11-07T04:38:24.308+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ASKEP'/><title type='text'>Askep Benigna Prostat Hipertropi (BPH)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;A. Pengertian&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Hipertropi Prostat adalah hiperplasia dari kelenjar periurethral yang kemudian mendesak jaringan prostat yang asli ke perifer dan menjadi simpai bedah. (Jong, Wim de, 1998).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benigna Prostat Hiperplasi ( BPH ) adalah pembesaran jinak kelenjar prostat, disebabkan oleh karena hiperplasi beberapa atau semua komponen prostat meliputi jaringan kelenjar / jaringan fibromuskuler yang menyebabkan penyumbatan uretra pars prostatika (Lab / UPF Ilmu Bedah RSUD dr. Sutomo, 1994 : 193).&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;B. Etiologi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Penyebab terjadinya Benigna Prostat Hipertropi belum diketahui secara pasti. Tetapi hanya 2 faktor yang mempengaruhi terjadinya Benigne Prostat Hypertropi yaitu testis dan usia lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa teori mengemukakan mengapa kelenjar periurethral dapat mengalami hiperplasia, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori Sel Stem (Isaacs 1984)&lt;br /&gt;Berdasarkan teori ini jaringan prostat pada orang dewasa berada pada keseimbangan antara pertumbuhan sel dan sel mati, keadaan ini disebut steady state. Pada jaringan prostat terdapat sel stem yang dapat berproliferasi lebih cepat, sehingga terjadi hiperplasia kelenjar periurethral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori MC Neal (1978)&lt;br /&gt;Menurut MC. Neal, pembesaran prostat jinak dimulai dari zona transisi yang letaknya sebelah proksimal dari spincter eksterna pada kedua sisi veromontatum di zona periurethral.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;C. Anatomi Fisiologi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kelenjar proatat adalah suatu jaringan fibromuskular dan kelenjar grandular yang melingkari urethra bagian proksimal yang terdiri dari kelnjar majemuk, saluran-saluran dan otot polos terletak di bawah kandung kemih dan melekat pada dinding kandung kemih dengan ukuran panjang : 3-4 cm dan lebar : 4,4 cm, tebal : 2,6 cm dan sebesar biji kenari, pembesaran pada prostat akan membendung uretra dan dapat menyebabkan retensi urine, kelenjar prostat terdiri dari lobus posterior lateral, anterior dan lobus medial, kelenjar prostat berguna untuk melindungi spermatozoa terhadap tekanan yang ada uretra dan vagina. Serta menambah cairan alkalis pada cairan seminalis.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;D. Patofisiologi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Menurut Mansjoer Arif tahun 2000 pembesaran prostat terjadi secara perlahan-lahan pada traktus urinarius. Pada tahap awal terjadi pembesaran prostat sehingga terjadi perubahan fisiologis yang mengakibatkan resistensi uretra daerah prostat, leher vesika kemudian detrusor mengatasi dengan kontraksi lebih kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai akibatnya serat detrusor akan menjadi lebih tebal dan penonjolan serat detrusor ke dalam mukosa buli-buli akan terlihat sebagai balok-balok yang tampai (trabekulasi). Jika dilihat dari dalam vesika dengan sitoskopi, mukosa vesika dapat menerobos keluar di antara serat detrusor sehingga terbentuk tonjolan mukosa yang apabila kecil dinamakan sakula dan apabila besar disebut diverkel. Fase penebalan detrusor adalah fase kompensasi yang apabila berlanjut detrusor akan menjadi lelah dan akhirnya akan mengalami dekompensasi dan tidak mampu lagi untuk kontraksi, sehingga terjadi retensi urin total yang berlanjut pada hidronefrosis dan disfungsi saluran kemih atas.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;E. Tanda dan Gejala&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Hilangnya kekuatan pancaran saat miksi (bak tidak lampias)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kesulitan dalam mengosongkan kandung kemih.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Rasa nyeri saat memulai miksi/&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Adanya urine yang bercampur darah (hematuri).&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;F. Komplikasi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Aterosclerosis&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Infark jantung&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Impoten&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Haemoragik post operasi&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Fistula&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Striktur pasca operasi &amp;amp; inconentia urine&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;G. Pemeriksaan Diagnosis&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Laboratorium&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meliputi ureum (BUN), kreatinin, elekrolit, tes sensitivitas dan biakan urin.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Radiologis&lt;p&gt;Intravena pylografi, BNO, sistogram, retrograd, USG, Ct Scanning, cystoscopy, foto polos abdomen. Indikasi sistogram retrogras dilakukan apabila fungsi ginjal buruk, ultrasonografi dapat dilakukan secara trans abdominal atau trans rectal (TRUS = Trans Rectal Ultra Sonografi), selain untuk mengetahui pembesaran prostat ultra sonografi dapat pula menentukan volume buli-buli, mengukut sisa urine dan keadaan patologi lain seperti difertikel, tumor dan batu (Syamsuhidayat dan Wim De Jong, 1997).&lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Prostatektomi Retro Pubis&lt;p&gt;Pembuatan insisi pada abdomen bawah, tetapi kandung kemih tidak dibuka, hanya ditarik dan jaringan adematous prostat diangkat melalui insisi pada anterior kapsula prostat.&lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Prostatektomi Parineal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu pembedahan dengan kelenjar prostat dibuang melalui perineum.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;H. Penatalaksanaan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Non Operatif&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Pembesaran hormon estrogen &amp;amp; progesteron&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Massase prostat, anjurkan sering masturbasi&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Anjurkan tidak minum banyak pada waktu yang pendek&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Cegah minum obat antikolinergik, antihistamin &amp;amp; dengostan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pemasangan kateter.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Operatif&lt;br /&gt;Indikasi : terjadi pelebaran kandung kemih dan urine sisa 750 ml&lt;ul&gt;&lt;li&gt;TUR (Trans Uretral Resection)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;STP (Suprobic Transersal Prostatectomy)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Retropubic Extravesical Prostatectomy)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Prostatectomy Perineal&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Benigna Prostat Hipertropi (BPH)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;A. Pengkajian&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Data subyektif :&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Pasien mengeluh sakit pada luka insisi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pasien mengatakan tidak bisa melakukan hubungan seksual.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pasien selalu menanyakan tindakan yang dilakukan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pasien mengatakan buang air kecil tidak terasa.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Data Obyektif :&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Terdapat luka insisi&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Takikardi&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Gelisah&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tekanan darah meningkat&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ekspresi w ajah ketakutan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Terpasang kateter&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;B. Diagnosa Keperawatan yang Mungkin Muncul&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan spasme otot spincter&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Kurang pengetahuan : tentang TUR-P berhubungan dengan kurang informasi&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri / efek pembedahan&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;C. Intervensi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;Diagnosa Keperawatan 1. :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan spasme otot spincter&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tujuan :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Setelah dilakukan perawatan selama 3-5 hari pasien mampu mempertahankan derajat kenyamanan secara adekuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kriteria hasil :&lt;/b&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Secara verbal pasien mengungkapkan nyeri berkurang atau hilang.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pasien dapat beristirahat dengan tenang.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Intervensi :&lt;/b&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Kaji nyeri, perhatikan lokasi, intensitas (skala 0 - 10)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Monitor dan catat adanya rasa nyeri, lokasi, durasi dan faktor pencetus serta penghilang nyeri.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Observasi tanda-tanda non verbal nyeri (gelisah, kening mengkerut, peningkatan tekanan darah dan denyut nadi)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Beri ompres hangat pada abdomen terutama perut bagian bawah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Anjurkan pasien untuk menghindari stimulan (kopi, teh, merokok, abdomen tegang)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Atur posisi pasien senyaman mungkin, ajarkan teknik relaksasi&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Lakukan perawatan aseptik terapeutik&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Laporkan pada dokter jika nyeri meningkat.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;Diagnosa Keperawatan 2. :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kurang pengetahuan: tentang TUR-P berhubungan dengan kurang informasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tujuan :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Klien dapat menguraikan pantangan kegiatan serta kebutuhan berobat lanjutan .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kriteria hasil :&lt;/b&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Klien akan melakukan perubahan perilaku.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Klien berpartisipasi dalam program pengobatan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Klien akan mengatakan pemahaman pada pantangan kegiatan dan kebutuhan berobat lanjutan.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Intervensi :&lt;/b&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Beri penjelasan untuk mencegah aktifitas berat selama 3-4 minggu.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Beri penjelasan untuk mencegah mengedan waktu BAB selama 4-6 minggu; dan memakai pelumas tinja untuk laksatif sesuai kebutuhan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pemasukan cairan sekurang–kurangnya 2500-3000 ml/hari.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Anjurkan untuk berobat lanjutan pada dokter.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kosongkan kandung kemih apabila kandung kemih sudah penuh.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;Diagnosa Keperawatan 3. :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri / efek pembedahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tujuan :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kebutuhan tidur dan istirahat terpenuhi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kriteria hasil :&lt;/b&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Klien mampu beristirahat / tidur dalam waktu yang cukup.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Klien mengungkapan sudah bisa tidur.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Klien mampu menjelaskan faktor penghambat tidur.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Intervensi :&lt;/b&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Jelaskan pada klien dan keluarga penyebab gangguan tidur dan kemungkinan cara untuk menghindari.&lt;/li&gt;Ciptakan suasana yang mendukung, suasana tenang dengan mengurangi kebisingan.&lt;li&gt;Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan penyebab gangguan tidur.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat yang dapat mengurangi nyeri (analgesik).&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Daftar Pustaka&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doenges, M.E., Marry, F..M and Alice, C.G., 2000. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perencanaan Dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Long, B.C., 1996. Perawatan Medikal Bedah : Suatu Pendekatan Proses Keperawatan. Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lab / UPF Ilmu Bedah, 1994. Pedoman Diagnosis Dan Terapi. Surabaya, Fakultas Kedokteran Airlangga / RSUD. dr. Soetomo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hardjowidjoto S. (1999).Benigna Prostat Hiperplasia. Airlangga University Press. Surabaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soeparman. (1990). Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. FKUI. Jakarta.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4783875443562043141-5466561294148862405?l=askep-kesehatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/5466561294148862405'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/5466561294148862405'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-kesehatan.blogspot.com/2009/11/askep-benigna-prostat-hipertropi-bph.html' title='Askep Benigna Prostat Hipertropi (BPH)'/><author><name>elly</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_nt1knDXPQbQ/SBXu2-Vx8SI/AAAAAAAAACc/sHjT5rmXyC8/S220/frudo.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4783875443562043141.post-3080150821255423554</id><published>2009-11-07T04:34:00.000+07:00</published><updated>2009-11-07T04:37:25.753+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ASKEP'/><title type='text'>Askep Appendiksitis</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;1.  Pengertian&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Apendisitis akut adalah penyebab paling umum inflamasi akut pada kuadran bawah kanan rongga abdomen, penyebab paling umum untuk bedah abdomen darurat (Smeltzer, 2001).&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Apendisitis adalah kondisi di mana infeksi terjadi di umbai cacing. Dalam kasus ringan dapat sembuh tanpa perawatan, tetapi banyak kasus memerlukan laparotomi dengan penyingkiran umbai cacing yang terinfeksi. Bila tidak terawat, angka kematian cukup tinggi, dikarenakan oleh peritonitis dan shock ketika umbai cacing yang terinfeksi hancur. (Anonim, Apendisitis, 2007)&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Apendisitis adalah peradangan akibat infeksi pada usus buntu atau umbai cacing (apendiks). Infeksi ini bisa mengakibatkan pernanahan. Bila infeksi bertambah parah, usus buntu itu bisa pecah. Usus buntu merupakan saluran usus yang ujungnya buntu dan menonjol dari bagian awal usus besar atau sekum (cecum). Usus buntu besarnya sekitar kelingking tangan dan terletak di perut kanan bawah. Strukturnya seperti bagian usus lainnya. Namun, lendirnya banyak mengandung kelenjar yang senantiasa mengeluarkan lendir. (Anonim, Apendisitis, 2007)&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Apendisitis merupakan peradangan pada usus buntu/apendiks (Anonim, Apendisitis, 2007).&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;2.  Klasifikasi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klasifikasi apendisitis terbagi atas 2 yakni :&lt;/div&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;p&gt;Apendisitis akut, dibagi atas: Apendisitis akut fokalis atau segmentalis, yaitu setelah sembuh akan timbul striktur lokal. Appendisitis purulenta difusi, yaitu sudah bertumpuk nanah.&lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p&gt;Apendisitis kronis, dibagi atas: Apendisitis kronis fokalis atau parsial, setelah sembuh akan timbul striktur lokal. Apendisitis kronis obliteritiva yaitu appendiks miring, biasanya ditemukan pada usia tua.&lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;3.  Etiologi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Appendiksitis merupakan infeksi bakteri yang disebabkan oleh obstruksi atau penyumbatan akibat :&lt;/p&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Hiperplasia dari folikel limfoid.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Adanya fekalit dalam lumen appendiks.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tumor appendiks.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Adanya benda asing seperti cacing askariasis.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Erosi mukosa appendiks karena parasit seperti E. Histilitica.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Menurut penelitian, epidemiologi menunjukkan kebiasaan makan makanan rendah serat akan mengakibatkan konstipasi yang dapat menimbulkan appendiksitis. Hal tersebut akan meningkatkan tekanan intra sekal, sehingga timbul sumbatan fungsional appendiks dan meningkatkan pertumbuhan kuman flora pada kolon.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;4.  Tanda dan gejala&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Nyeri terasa pada abdomen kuadran bawah dan biasanya disertai oleh demam ringan, mual, muntah dan hilangnya nafsu makan. Nyeri tekan lokal pada titik Mc. Burney bila dilakukan tekanan. Nyeri tekan lepas mungkin akan dijumpai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Derajat nyeri tekan, spasme otot, dan apakah terdapat konstipasi atau diare tidak tergantung pada beratnya infeksi dan lokasi appendiks. Bila appendiks melingkar di belakang sekum, nyeri dan nyeri tekan dapat terasa di daerah lumbal ; bila ujungnya ada pada pelvis, tanda-tanda ini hanya dapat diketahuipada pemeriksaan rektal. Nyeri pada defekasi menunjukkan bahwa ujung appendiks dekat dengan kandung kemih atau ureter. Adanya kekeakuan pada bagian bawah otot rektum kanan dapat terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tand Rovsing dapat timbul dengan melakukan palpasi kuadran bawah kiri, yang secara paradoksial menyebabkan nyeri yang terasa pada kuadran bawah kanan. Apabila appendiks telah ruptur, nyeri dan dapat lebih menyebar ; distensi abdomen terjadi akibat ileus paralitik dan kondisi klien memburuk.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;5.  Patofisiologi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Penyebab utama appendiksitis adalah obstuksi penyumbatan yang dapat disebabkan oleh hiperplasia dari polikel lympoid merupakan penyebab terbanyak adanya fekalit dalam lumen appendik.Adanya benda asing seperti : cacing,striktur karenan fibrosis akibat adanya peradangan sebelunnya.Sebab lain misalnya : keganasan (Karsinoma Karsinoid).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obsrtuksi apendiks itu menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa terbendung, makin lama mukus yang terbendung makin banyak dan menekan dinding appendiks oedem serta merangsang tunika serosa dan peritonium viseral. Oleh karena itu persarafan appendiks sama dengan usus yaitu torakal X maka rangsangan itu dirasakan sebagai rasa sakit disekitar umblikus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mukus yang terkumpul itu lalu terinfeksi oleh bakteri menjadi nanah, kemudian timbul gangguan aliran vena, sedangkan arteri belum terganggu, peradangan yang timbul meluas dan mengenai peritomium parietal setempat, sehingga menimbulkan rasa sakit dikanan bawah, keadaan ini disebut dengan appendisitis supuratif akut.&lt;br /&gt;Bila kemudian aliran arteri terganggu maka timbul alergen dan ini disebut dengan appendisitis gangrenosa. Bila dinding apendiks yang telah akut itu pecah, dinamakan appendisitis perforasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila omentum usus yang berdekatan dapat mengelilingi apendiks yang meradang atau perforasi akan timbul suatu masa lokal, keadaan ini disebut sebagai appendisitis abses. Pada anak – anak karena omentum masih pendek dan tipis, apendiks yang relatif lebih panjang , dinding apendiks yang lebih tipis dan daya tahan tubuh yang masih kurang, demikian juga pada orang tua karena telah ada gangguan pembuluh darah, maka perforasi terjadi lebih cepat. Bila appendisitis infiltrat ini menyembuh dan kemudian gejalanya hilang timbul dikemudian hari maka terjadi appendisitis kronis (Junaidi ; 1982).&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;6.  Komplikasi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Perforasi dengan pembentukan abses&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Peritonitis generalisata.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pieloflebitis dan abses hati, tapi jarang.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;7.  Pencegahan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pencegahan pada appendiksitis yaitu dengan menurunkan resiko obstuksi dan peradangan pada lumen appendiks. Pola eliminasi klien harus dikaji,sebab obstruksi oleh fekalit dapat terjadi karena tidak ada kuatnya diit tinggi serat.Perawatan dan pengobatan penyakit cacing juga menimbulkan resiko. Pengenalan yang cepat terhadap gejala dan tanda appendiksitis menurunkan resiko terjadinya gangren,perforasi dan peritonitis.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;8.  Penatalaksanaan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pada appendiksitis akut, pengobatan yang paling baik adalah operasi appendiks. Dalam waktu 48 jam harus dilakukan. Penderita di obsevarsi, istirahat dalam posisi fowler, diberikan antibiotik dan diberikan makanan yang tidak merangsang persitaltik, jika terjadi perforasi diberikan drain di perut kanan bawah.&lt;/p&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Tindakan pre operatif, meliputi penderita di rawat, diberikan antibiotik dan kompres untuk menurunkan suhu penderita, pasien diminta untuk tirabaring dan dipuasakan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tindakan operatif ; appendiktomi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tindakan post operatif, satu hari pasca bedah klien dianjurkan untuk duduk tegak di tempat tidur selama 2 x 30 menit, hari berikutnya makanan lunak dan berdiri tegak di luar kamar, hari ketujuh luka jahitan diangkat, klien pulang.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color:red;"&gt;Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Appendiksitis&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;A.  Pengkajian&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Identitas Pasien&lt;br /&gt;Identitas klien Nama, umur, jenis kelamin, status perkawinan, agama, suku/bangsa, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, alamat, dan nomor register.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Riwayat Keperawatan&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Riwayat Kesehatan saat ini : keluhan nyeri pada luka post operasi apendektomi, mual muntah, peningkatan suhu tubuh, peningkatan leukosit.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Riwayat Kesehatan masa lalu&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pemeriksaan Fisik&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Sistem kardiovaskuler : Untuk mengetahui tanda-tanda vital, ada tidaknya distensi vena jugularis, pucat, edema, dan kelainan bunyi jantung.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Sistem hematologi : Untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan leukosit yang merupakan tanda adanya infeksi dan pendarahan, mimisan splenomegali.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Sistem urogenital : Ada tidaknya ketegangan kandung kemih dan keluhan sakit pinggang.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Sistem muskuloskeletal : Untuk mengetahui ada tidaknya kesulitan dalam pergerakkan, sakit pada tulang, sendi dan terdapat fraktur atau tidak.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Sistem kekebalan tubuh : Untuk mengetahui ada tidaknya pembesaran kelenjar getah bening.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pemeriksaan Penunjang&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Pemeriksaan darah rutin : untuk mengetahui adanya peningkatan leukosit yang merupakan tanda adanya infeksi.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Pemeriksaan foto abdomen : untuk mengetahui adanya komplikasi pasca pembedahan.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;Diagnosa Keperawatan yang Mungkin Muncul&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Nyeri berhubungan dengan luka insisi pada abdomen kuadran kanan bawah post operasi appenditomi.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Intoleransi aktivitas berhubungan dengan pembatasan gerak skunder terhadap nyeri.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur invasive appendiktomi.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Resiko kekurangan volume cairan sehubungan dengan pembatasan pemasukan cairan secara oral.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;Intervensi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;Diagnosa Keperawatan 1. :&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Nyeri berhubungan dengan luka insisi pada daerah mesial abdomen post operasi appendiktomi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tujuan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Nyeri berkurang / hilang dengan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kriteria Hasil :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tampak rilek dan dapat tidur dengan tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Intervensi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Kaji skala nyeri lokasi, karakteristik dan laporkan perubahan nyeri dengan tepat.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pertahankan istirahat dengan posisi semi powler.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dorong ambulasi dini.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berikan aktivitas hiburan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kolborasi tim dokter dalam pemberian analgetika.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Rasional&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Berguna dalam pengawasan dan keefesien obat, kemajuan penyembuhan,perubahan dan karakteristik nyeri.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menghilangkan tegangan abdomen yang bertambah dengan posisi terlentang.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Meningkatkan kormolisasi fungsi organ.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;meningkatkan relaksasi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menghilangkan nyeri.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;Diagnosa Keperawatan 2. :&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Intoleransi aktivitas berhubungan dengan pembatasan gerak skunder terhadap nyeri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tujuan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Toleransi aktivitas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kriteria Hasil :&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Klien dapat bergerak tanpa pembatasan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tidak berhati-hati dalam bergerak.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Intervensi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;catat respon emosi terhadap mobilitas.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berikan aktivitas sesuai dengan keadaan klien.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berikan klien untuk latihan gerakan gerak pasif dan aktif.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bantu klien dalam melakukan aktivitas yang memberatkan.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Rasional&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Immobilisasi yang dipaksakan akan memperbesar kegelisahan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Meningkatkan kormolitas organ sesuiai dengan yang diharapkan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Memperbaiki mekanika tubuh.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menghindari hal yang dapat memperparah keadaan.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;Diagnosa Keperawatan 3. :&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur invasive appendiktomi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tujuan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Infeksi tidak terjadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kriteria Hasil :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tidak terdapat tanda-tanda infeksi dan peradangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Intervensi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Ukur tanda-tanda vital&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Observasi tanda-tanda infeksi&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Lakukan perawatan luka dengan menggunakan teknik septik dan aseptik&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Observasi luka insisi&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Rasional&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Untuk mendeteksi secara dini gejala awal terjadinya infeksi&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Deteksi dini terhadap infeksi akan mudah&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menurunkan terjadinya resiko infeksi dan penyebaran bakteri.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Memberikan deteksi dini terhadap infeksi dan perkembangan luka.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;Diagnosa Keperawatan 4. :&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Resiko kekurangan volume cairan berhubungna dengan pembatasan pemasuka n cairan secara oral&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tujuan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kekurangan volume cairan tidak terjadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Intervensi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Ukur dan catat intake dan output cairan tubuh&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Awasi vital sign: Evaluasi nadi, pengisian kapiler, turgor kulit dan membran mukosa&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kolaborasi dengan tim dokter untuk pemberian cairan intra vena&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Rasional&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Dokumentasi yang akurat akan membantu dalam mengidentifikasi pengeluaran cairan atau kebutuhan pengganti.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Indikator hidrasi volume cairan sirkulasi dan kebutuhan intervensi&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mempertahankan volume sirkulasi bila pemasukan oral tidak cukup dan meningkatkan fungsi ginjal&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Daftar Pustaka&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Barbara Engram, Askep Medikal Bedah, Volume 2, EGC, Jakarta.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Carpenito, Linda Jual, Diagnosa Keperawatan, Edisi 8, EGC, 2000, Jakarta.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Doenges, Marlynn, E, Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi III, EGC, 2000, Jakarta.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Elizabeth, J, Corwin, Biku saku Fatofisiologi, EGC, Jakarta.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ester, Monica, SKp, Keperawatan Medikal Bedah (Pendekatan Gastrointestinal), EGC, Jakarta.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Peter, M, Nowschhenson, Segi Praktis Ilmu Bedah untuk Pemula. Bina Aksara Jakarta&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4783875443562043141-3080150821255423554?l=askep-kesehatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/3080150821255423554'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/3080150821255423554'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-kesehatan.blogspot.com/2009/11/askep-appendiksitis.html' title='Askep Appendiksitis'/><author><name>elly</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_nt1knDXPQbQ/SBXu2-Vx8SI/AAAAAAAAACc/sHjT5rmXyC8/S220/frudo.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4783875443562043141.post-5710102940021071131</id><published>2009-11-01T03:21:00.001+07:00</published><updated>2009-11-01T03:21:45.644+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KEPERAWATAN'/><title type='text'>Dasar Keperawatan Kardiovaskuler</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;anatomi jantung, Lapisan - lapisan jantung&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;- &lt;/span&gt;perikardium&lt;br /&gt;- endokardium&lt;br /&gt;- miokardium&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;sistem peredaran darah sistemik:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;darah dipompakan oleh ventrikel kiri melalui aorta dibawa ke arteri memasuki percabangan arteri yang disebut arteriol menuju ke sekat pemisah arteri dengan vena yang disebut kapiler dibawa ke venula menuju ke vena kava inferior kemudian menuju vena kava superior terakhir masuk atrium kanan&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;sistem peredaran darah pulmonal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;ventrikel kanan=&gt;aorta pulmonal=&gt;arteri pulmonal=&gt;paru - paru=&gt;vena pulmonal=&gt;atrium kiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sistem peredaran darah koroner&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;arteri koroner kanan&lt;br /&gt;arteri koroner kiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;COP : jumlah volume darah yang dipompakan oleh jantung dalam waktu 1 menit&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;sistem konduksi jantung&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;- SA Node&lt;br /&gt;- Traktus Antar Nodes&lt;br /&gt;- AV Node&lt;br /&gt;- Bundle Branch&lt;br /&gt;- Serabut Purkinje&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;kelainan - kelainan jantung&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;- angina pectoris&lt;br /&gt;- infark miokard akut&lt;br /&gt;- hipertensi&lt;br /&gt;- gagal jantung&lt;br /&gt;- peradangan jantung&lt;br /&gt;- old miokard infark&lt;br /&gt;- penyakit jantung bawaan&lt;br /&gt;- insufisiensi katup&lt;br /&gt;- cardiac tamponade&lt;br /&gt;- regurgitasi katup&lt;br /&gt;- penyakit jantung koroner&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;pemeriksaan - pemeriksaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;- echocardiography&lt;br /&gt;- electrocardiography&lt;br /&gt;- pengukuran tekanan darah&lt;br /&gt;- pengukuran enzym jantung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;obat - obat jantung&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;- nitrogliserin&lt;br /&gt;- diuresis&lt;br /&gt;- ACE inhibitor&lt;br /&gt;- beta blocker&lt;br /&gt;- trombolitik&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4783875443562043141-5710102940021071131?l=askep-kesehatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/5710102940021071131'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/5710102940021071131'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-kesehatan.blogspot.com/2009/11/dasar-keperawatan-kardiovaskuler.html' title='Dasar Keperawatan Kardiovaskuler'/><author><name>elly</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_nt1knDXPQbQ/SBXu2-Vx8SI/AAAAAAAAACc/sHjT5rmXyC8/S220/frudo.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4783875443562043141.post-4742387818595139297</id><published>2009-11-01T03:19:00.002+07:00</published><updated>2009-11-01T03:20:15.909+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ASKEP'/><title type='text'>ASKEP ERITRODERMA</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;" class="entrytext"&gt;    &lt;div class="snap_preview"&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;A. DEFINISI&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Eritroderma ( dermatitis eksfoliativa ) adalah kelainan kulit yang ditandai dengan adanya eritema seluruh / hampir seluruh tubuh , biasanya disertai skuama ( Arief Mansjoer , 2000 : 121 ).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Eritroderma merupakan inflamasi kulit yang berupa eritema yang terdapat hampir atau di seluruh tubuh ( www. medicastore . com ).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dermatitis eksfoliata generalisata adalah suatu kelainan peradangan yang ditandai dengan eritema dan skuam yang hampir mengenai seluruh tubuh ( Marwali Harahap , 2000 : 28 )&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dermatitis eksfoliata merupakan keadaan serius yang ditandai oleh inflamasi yang progesif dimana eritema dan pembentukan skuam terjadi dengan distribusi yang kurang lebih menyeluruh ( Brunner &amp;amp; Suddarth vol 3 , 2002 : 1878 ).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;B. ETIOLOGI&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Berdasarkan penyebabnya , penyakit ini dapat dibagikan dalam 2 kelompok :&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Eritrodarma eksfoliativa primer&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;Penyebabnya tidak diketahui. Termasuk dalam golongan ini eritroderma iksioformis konginetalis dan eritroderma eksfoliativa neonatorum(5–0 % ).&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Eritroderma eksfoliativa sekunder &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Akibat penggunaan obat secara sistemik yaitu penicillin dan derivatnya , sulfonamide , analgetik / antipiretik dan ttetrasiklin.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Meluasnya dermatosis ke seluruh tubuh , dapat terjadi pada liken planus , psoriasis , pitiriasis rubra pilaris , pemflagus foliaseus , dermatitis seboroik dan dermatitis atopik.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penyakit sistemik seperti Limfoblastoma.&lt;br /&gt;( Arief Mansjoer , 2000 : 121 : Rusepno Hasan 2005 : 239 )&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;C. ANATOMI FISIOLOGI KULIT&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kulit mepunyai tiga lapisan utama : Epidermis , Dermis dan Jaringan sub kutis. Epidermis ( lapisan luar ) tersusun dari beberapa lapisan tipis yang mengalami tahap diferensiasi pematangan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kulit ini melapisi dan melindungi organ di bawahnya terhadap kehilangan air , cedera mekanik atau kimia dan mencegah masuknya mikroorganisme penyebab penyakit. Lapisan paling dalam epidermis membentuk sel – sel baru yang bermigrasi kearah permukaan luar kulit. Epidermis terdalam juga menutup luka dan mengembalikan integritas kulit sel – sel khusus yang disebut melanosit dapat ditemukan dalam epidermis. Mereka memproduksi melanin , pigmen gelap kulit. Orang berkulit lebih gelap mempunyai lebih banyak melanosit aktif.&lt;br /&gt;Epidermis terdiri dari 5 lapisan yaitu :&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Stratum Korneum&lt;br /&gt;Selnya sudah mati , tidak mempunyai intisel , intiselnya sudah mati dan mengandung zat keratin.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Stratum lusidum&lt;br /&gt;Selnya pipih , bedanya dengan stratum granulosum ialah sel – sel sudah banyak yang kehilangan inti dan butir – butir sel telah menjadi jernih sekali dan tembus sinar. Lapisan ini hanya terdapat pada telapak tangan dan telapak kaki.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Stratum Granulosum&lt;br /&gt;Stratum ini terdiri dari sel – sel pipih. Dalam sitoplasma terdapat butir–butir yang disebut keratohialin yang merupakan fase dalam pembentukan keratin.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Stratum Spinosum / Stratum Akantosum&lt;br /&gt;Lapisan yang paling tebal.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Stratum Basal / Germinativum&lt;br /&gt;Stratum germinativum menggantikan sel – sel yang diatasnya dan merupakan sel- sel induk.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;Dermis terdiri dari 2 lapisan :&lt;br /&gt;a. Bagian atas , papilaris ( stratum papilaris )&lt;br /&gt;b. Bagian bawah , retikularis ( stratum retikularis )&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kedua jaringan tersebut terdiri dari jaringan ikat lonngar yang tersusun dari serabut – serabut kolagen , serabut elastis dan serabut retikulus&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Serabut kolagen untuk memberikan kekuatan pada kulit. Serabut elastis memberikan kelenturan pada kulit.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Retikulus terdapat terutama di sekitar kelenjar dan folikel rambut dan memberikan kekuatan pada alat tersebut.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Subkutis&lt;br /&gt;Terdiri dari kumpulan – kumpulan sel – sel lemak dan diantara gerombolan ini berjalan serabut – serabut jaringan ikat dermis.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Fungsi kulit adalah&lt;/p&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Proteksi – Pengatur suhu&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Absorbsi – Pembentukan pigmen&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Eksresi – Keratinisasi&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sensasi – Pembentukan vit D&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p&gt;( Syaifuddin , 1997 : 141 – 142 )&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;D. PATOFISIOLOGI&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pada dermatitis eksfoliatif terjadi pelepasan stratum korneum ( lapisan kulit yang paling luar ) yang mencolok yang menyebabkan kebocoran kapiler , hipoproteinemia dan keseimbangan nitrogen yang negatif . Karena dilatasi pembuluh darah kulit yang luas , sejumlah besar panas akan hilang jadi dermatitis eksfoliatifa memberikan efek yang nyata pada keseluruh tubuh.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pada eritroderma terjadi eritema dan skuama ( pelepasan lapisan tanduk dari permukaan kult sel – sel dalam lapisan basal kulit membagi diri terlalu cepat dan sel – sel yang baru terbentuk bergerak lebih cepat ke permukaan kulit sehingga tampak sebagai sisik / plak jaringan epidermis yang profus.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mekanisme terjadinya alergi obat seperti terjadi secara non imunologik dan imunologik (alergik) , tetapi sebagian besar merupakan reaksi imunologik. Pada mekanismee imunologik, alergi obat terjadi pada pemberian obat kepada pasien yang sudah tersensitasi dengan obat tersebut. Obat dengan berat molekul yang rendah awalnya berperan sebagai antigen yang tidak lengkap ( hapten ). Obat / metaboliknya yang berupa hapten ini harus berkojugasi dahulu dengan protein misalnya jaringan , serum / protein dari membran sel untuk membentuk antigen obat dengan berat molekul yang tinggi dapat berfungsi langsung sebagai antigen lengkap.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;( Brunner &amp;amp; Suddarth vol 3 , 2002 : 1878 )&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;E. MANIFESTASSI KLINIS &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;v  Eritroderma akibat alergi obat , biasanya secara sistemik. Biasanya timbul secara akut dalam waktu 10 hari. Lesi awal berupa eritema menyeluruh , sedangkan skuama baru muncul saat penyembuhan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;v  Eritroderma akibat perluasan penyakit kulit yang tersering addalah psoriasis dan dermatitis seboroik pada bayi ( Penyakit Leiner ).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;– Eritroderma karena psoriasis&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ditemukan eritema yang tidak merata. Pada tempat predileksi psoriasis dapat ditemukan kelainan yang lebih eritematosa dan agak meninngi daripada sekitarnya dengan skuama yang lebih kebal. Dapat ditemukan pitting nail.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;– Penyakit leiner ( eritroderma deskuamativum )&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Usia pasien antara 4 -20 minggu keadaan umum baik biasanya tanpa keluhan. Kelainan kulit berupa eritama seluruh tubuh disertai skuama kasar.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;– Eritroderma akibat penyakit sistemik , termasuk keganasan. Dapat ditemukan adanya penyakit pada alat dalam , infeksi dalam dan infeksi fokal.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;( Arif Masjoor , 2000 : 121 )&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;F. KOMPLIKASI&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Komplikasi eritroderma eksfoliativa sekunder :&lt;br /&gt;- Abses&lt;/p&gt; &lt;p&gt;- Limfadenopati&lt;br /&gt;- Furunkulosis&lt;/p&gt; &lt;p&gt;- Hepatomegali&lt;br /&gt;- Konjungtivitis&lt;/p&gt; &lt;p&gt;- Rinitis&lt;br /&gt;- Stomatitis&lt;/p&gt; &lt;p&gt;- Kolitis&lt;br /&gt;- Bronkitis&lt;br /&gt;( Ruseppo Hasan , 2005 : 239 : Marwali Harhap , 2000 , 28 )&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;H. PENGKAJIAN FOKUS&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pengkajian keperawatan yang berkelanjutan dilaksanakan untuk mendeteksi infeksi. Kulit yang mengalami disrupsi , eritamatosus serta basah amat rentan terhadap infeksi dan dapat menjadi tempat kolonisasi mikroorganisme pathogen yang akan memperberat inflamasi antibiotik , yang diresepkan dokter jika terdapat infeksi , dipilih berdasarkan hasil kultur dan sensitivitas.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;BIODATA &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Jenis Kelamin&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;Biasnya laki – lak 2 -3 kali lebih banyak dari perempuan.&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Riwayat Kesehatan&lt;br /&gt;– Riwayat penyakit dahulu ( RPM )&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;Meluasnya dermatosis keseluruh tubuh dapat terjadi pada klien planus , psoriasis , pitiasis rubra pilaris , pemfigus foliaseus , dermatitis. Seboroik dan dermatosiss atopik , limfoblastoma.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;– Riwayat Penyakit Sekarang&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mengigil panas , lemah , toksisitas berat dan pembentukan skuama kulit.&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Pola Fungsi Gordon &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Pola Nutrisi dan metabolisme&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;Terjadinya kebocoran kapiler , hipoproteinemia dan keseimbangan nitrogen yang negative mempengaruhi keseimbangan cairan tubuh pasien (dehidrasi ).&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Pola persepsi dan konsep diri&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;– Konsep diri&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Adanya eritema ,pengelupasan kulit , sisik halus berupa kepingan / lembaran zat tanduk yang besar – besar seperti keras selafon , pembentukan skuama sehingga mengganggu harga diri.&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Pemeriksaan fisik&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;a)      KU : lemah&lt;/p&gt; &lt;p&gt;b)      TTV : suhu naik atau turun.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;c)      Kepala&lt;br /&gt;Bila kulit kepala sudah terkena dapat terjadi alopesia.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;d)     Mulut&lt;br /&gt;Dapat juga mengenai membrane mukosa terutama yang disebabkan oleh obat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;e)      Abdomen&lt;br /&gt;Adanya limfadenopati dan hepatomegali.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;f)       Ekstremitas&lt;br /&gt;Perubahan kuku dan kuku dapat lepas.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;g)      Kulit&lt;br /&gt;Kulit periorbital mengalami inflamasi dan edema sehingga terjadi ekstropion pada keadaan kronis dapat terjadi gangguan pigmentasi. Adanya eritema , pengelupasan kulit , sisik halus dan skuama.&lt;br /&gt;( Marwali Harahap , 2000 : 28 – 29 : Rusepno Hasan , 2005 : 239 , Brunner &amp;amp; Suddarth , 2002 : 1878 ).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN FOKUS INTERVENSI&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;1. &lt;/em&gt;Gangguan integritas kulit bd lesi dan respon peradangan &lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Tujuan :&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;Setelah dilakukan asuhan keperawatan diharapkan integritas kuit kembali seperti semula  (normal)&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Kriteria hasil : &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;- menunjukkan peningkatan integritas kulit&lt;br /&gt;- menghindari cidera kulit&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;a. kaji keadaaan kulit secara umum&lt;br /&gt;b. anjurkan pasien untuk tidak mencubit atau menggaruk daerah kulit&lt;br /&gt;c. pertahankan kelembaban kulit&lt;br /&gt;d. kurangi pembentukan sisik dengan pemberian bath oil&lt;br /&gt;e. motivasi pasien untuk memakan nutrisi TKTP&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Gangguan rasa nyaman : gatal bd adanya bakteri / virus di kulit&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Tujuan :&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; Setelah dilakuakn asuhan keperawatan diharapkan tidak terjadi luka pada kulit karena gatal&lt;br /&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Kriteria hasil :&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;- tidak terjadi lecet di kulit&lt;br /&gt;- pasien berkurang gatalnya&lt;br /&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Intervensi &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;a. beritahu pasien untuk tidak meggaruk saat gatal&lt;br /&gt;b. mandikan seluruh badan pasien ddengan Nacl&lt;br /&gt;c. oleskan badan pasien dengan minyak dan salep setelah pakai Nacl&lt;br /&gt;d. jaga kebersihan kulit pasien&lt;br /&gt;e. kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat pengurang rasa gatal&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;3. &lt;/em&gt;Resiko tinggi infeksi bd hipoproteinemia&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Tujuan :&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; Setalah dilakukan asuhan keperawatan diharapkan tidak terjadi infeksi&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Kriteria hasil : &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;- tidak ada tanda&lt;/p&gt; &lt;p&gt;- tanda infeksi( rubor , kalor , dolor , fungsio laesa )&lt;br /&gt;- tidak timbul luka baru&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Intervensi&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;a. monitor TTV&lt;br /&gt;b. kaji tanda – tanda infeksi&lt;br /&gt;c. motivasi pasien untuk meningkatkan nutrisi TKTP&lt;br /&gt;d. jaga kebersihan luka&lt;br /&gt;e. kolaborasi pemberian antibiotik&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Brunner 7 Suddarth vol 3 , 2002. KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH, Jakarta : EGG&lt;br /&gt;Doenges M E. 1999. Rencana asuhan Keperawatan untuk perencanaan dan dokumentasi perawatan pasien edisi 3 , Jakarta : EGC&lt;br /&gt;Harahap Marwali 2000 , Ilmu Penyakit Kulit , Jakarta : Hipokrates&lt;br /&gt;Hasan Rusepno 2005 , Ilmu Keperawatan Anak , Jakarta : FKUI&lt;br /&gt;Mansjoer , Arief , 2000 , Kapita Selekta Kedokteran , Jakarta : EGC&lt;br /&gt;Syaifudin , 1997 , anatomi Fisiologi , Jakarta : EGC&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4783875443562043141-4742387818595139297?l=askep-kesehatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/4742387818595139297'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/4742387818595139297'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-kesehatan.blogspot.com/2009/11/askep-eritroderma.html' title='ASKEP ERITRODERMA'/><author><name>elly</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_nt1knDXPQbQ/SBXu2-Vx8SI/AAAAAAAAACc/sHjT5rmXyC8/S220/frudo.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4783875443562043141.post-6700140281705723573</id><published>2009-11-01T03:19:00.001+07:00</published><updated>2009-11-01T03:19:38.074+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ASKEP'/><title type='text'>Askep Lupus</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;TINJAUAN TEORI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Pengertian&lt;br /&gt;SLE (Sistemisc lupus erythematosus) adalah penyakti radang multisistem yang sebabnya belum diketahui, dengan perjalanan penyakit yang mungkin akut dan fulminan atau kronik remisi dan eksaserbasi disertai oleh terdapatnya berbagai macam autoantibodi dalam tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Patofisiologi&lt;br /&gt;Penyakit SLE terjadi akibat terganggunya regulasi kekebalan yang menyebabkan peningkatan autoantibodi yang berlebihan. Gangguan imunoregulasi ini ditimbulkan oleh kombinasi antara faktor-faktor genetik, hormonal ( sebagaimana terbukti oleh awitan penyakit yang biasanya terjadi selama usia reproduktif) dan lingkungan (cahaya matahari, luka bakar termal). Obat-obat tertentu seperti hidralazin, prokainamid, isoniazid, klorpromazin dan beberapa preparat antikonvulsan di samping makanan seperti kecambah alfalfa turut terlibat dalam penyakit SLE- akibat senyawa kimia atau obat-obatan.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pada SLE, peningkatan produksi autoantibodi diperkirakan terjadi akibat fungsi sel T-supresor yang abnormal sehingga timbul penumpukan kompleks imun dan kerusakan jaringan. Inflamasi akan menstimulasi antigen yang selanjutnya serangsang antibodi tambahan dan siklus tersebut berulang kembali.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;C. Manifestasi Klinis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;1. Sistem Muskuloskeletal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Artralgia, artritis (sinovitis), pembengkakan sendi, nyeri tekan dan rasa nyeri ketika bergerak, rasa kaku pada pagi hari.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Selengkapnya &lt;a href="http://www.ziddu.com/download/5163109/ASKEPSLE.doc.html"&gt;klik disini... &lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4783875443562043141-6700140281705723573?l=askep-kesehatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/6700140281705723573'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/6700140281705723573'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-kesehatan.blogspot.com/2009/11/askep-lupus.html' title='Askep Lupus'/><author><name>elly</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_nt1knDXPQbQ/SBXu2-Vx8SI/AAAAAAAAACc/sHjT5rmXyC8/S220/frudo.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4783875443562043141.post-2491861475349704821</id><published>2009-11-01T03:18:00.001+07:00</published><updated>2009-11-01T03:18:50.955+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ASKEP'/><title type='text'>ASKEP PADA KLIEN DENGAN ERITRODERMA</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;   &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;A. Definisi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Eritroderma adalah kelainan kulit yang ditandai dengan adanya eritema di seluruh tubuh atau hamper seluruh tubuh, biasanya disertai skuama.&lt;br /&gt;Eritroderma adalah kemerahan yang abnormal pada kulit yang menyebar luas ke daerah-daerah tubuh (kamus saku kedokteran, Dorland).&lt;br /&gt;Eritroderma, dimana seluruh badan kalihatan kemerahan (eritema), berasa kasekitan, kegatalan dan bersisik halus (&lt;a href="http://aslimtaslim.com/"&gt;http://aslimtaslim.com&lt;/a&gt;).&lt;br /&gt;Eritroderma ditandai dengan warna kulit yang kemerahan dan bias mengakibatkan pasien menggigil kedinginan karena banyak kehilangan kalori yang dilepaskan lewat lesi. Eritroderma dan dermatitis exfoliative biasanya dipakai untuk menjelaskan penyakityang sama dalam literature. Eritroderma dijelaskan sebagai dilatasi yang menyebar dari pembuluh darah kutaneus. Apabila proses inflamasi disertai dengan eritroderma secara subtansial akan meningkatkan proliferasi sel epidermal dan mengurangi waktu transit sel melalui epidermis yang bisa menimbulkan sisik bertanda (&lt;a href="http://www.emedicine.com/"&gt;http://www.emedicine.com&lt;/a&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;B. Etiologi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penyebab yang umum adalah faktor-faktor genetik, akibat pengobatan dengan medikamentosa tertentu dan infeksi. Penyakit ini bisa juga merupakan akibat lanjut (sekunder) dari psoriasis, eksema, dermatitis seboroik, dermatitis kontak, dermatitis atopik, pitiriasis rubra pilaris, dan limfoma maligna. (FK UGM, Yogyakarta).Eritroderma bisa muncul akibat berbagai penyebab, yang paling sering lanjutan dari tahap dini suatu gangguan kulit. Eritroderma juga bisa disebabkan oleh suatu efek samping dari reaksi obat-obatan. Walau bagaimanapun, sebanyak 30% dari semua kasus eritroderma yang dilaporkan, tidak ada penyebab yang jelas ditemukan. Ini yang dinamakan eritroderma idiopatik.&lt;br /&gt;penyebab-penyebab yang paling sering ditemukan pada tahap awal suatu gangguan kulit yang menyebabkan eritroderma ialah :&lt;br /&gt;Dermatitis terutama dermatitis atopik, dermatitis kontak (alergi atau iritan) dan dermatitis stasis (gravitational eczema) dan pada bayi, dermatitis seborrhoiec. Psoriasis ,Pityriasis rubra pilaris, Penyakit-penyakit blister termasuk pemphigug dan pemphigoid bullosa, Limfoma sel-T kutaneus (Sezary syndrome)Eritroderma juga bisa merupakan simtom atau gejala dari penyakit sistemik seperti : Keganasan interna seperti karsinoma rectum, paru-paru, tuba fallopi, dan kolon. Keganasan hematology seperti limfomabdan leukaemia Penyakit Graf Vs Host Infeksi HIV&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;C. Manifestasi klinis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Keadaan ini mulai terjadi secara akut sebagai erupsi terjadi bercak-bercak atau eritematous yang menyeluruh disertai gejala panas, rasa tidak enak badan dan kadang-kadang gejala gastrointestinal. Warna kulit berubah dari merah muda menjadi merah gelap. Sesudah satu minggu dimulai gejala eksfoliasi (pembentukan skuama) yang khas dan biasanya dalam bentuk serpihan kulit yang halus yang meninggalkan kulit yang licin serta berwarna merah dibawahnya : gejala ini disertai dengan pembentukan sisik yang baru ketika sisik yang lama terlepas. Kerontokan rambut dapat menyertai kelainan ini eksaserbasi sering terjadi. Efek sistemiknya mencakup gagal jantung kongestif high-output, gangguan intestinal, pembesaran payudara, kenaikan kadar asam urat dalam darah (hiperurisemia) dan gangguan temperature.Peningkatan perfusi darah kulit muncul pada eritroderma yang menyebabkan disregulasi temperature (menyebabkan kehilangan pabas dan hipotermia) dan kegagalan output jantung. Kadar metabolic basal meningkat sebagai kompensasi dari kehilangan suhu tubuh.Epidermis yang matur secara cepat kegagalan kulit untuk menghasilkan barier permeabilitas efektif di stratum korneum. Ini akan menyebabkan kehilangan cairan transepidermal yang berlebihan. Normalnya kehilangan cairan dari kulit diperkirakan 400 ml setiap hari dengan dua pertiga dari hilangnya cairan ini dari proses transpirasi epidermis manakala sepertiga lagi dari perspirasi basal. Kekurangan barier pada eritroderma ini menyebabkan peningkatan kehilangan cairan ekstrarenal. Kehilangan cairan transepidermal sangat tinggi ketika proses pembentukan sisik (scaling) memuncak dan menurun 5-6 hari sebelum sisik menghancur.Hilangnya sisik eksfoliatif yang bias mencapai 20-30 gr/hari memicu kapada timbul kaedaan hipoalbuminemia yang biasa dijumpai pada dermatitis exfoliatifa. Hipoalbiminemia muncul akibat menurunnya sintesis atau meningkatnya metabolisme albumin. Edema biasanya paling sering ditemukan, biasanya akibat peralihan cairan ke ekstrasel. Respon imun mungkin bias berubah, sering adanya peningkatan gammaglobulin, peningkatan serum IgE pada beberapa kasus, dan CD4+ sel-T limfositopenia pada infeksi HIV.Penyakit eritroderma dapat disertai dengan / tanpa rasa gatal. Kulit dapat membaik seperti kuli normal lainnya setelah warna kemerahan, putih atau kehitaman bekas psoriasis bernanah (psoriasis postulosa) dan seluruh kulit akan menjadi merah disertai badan menggigil. Penyakit-penyakit yang diduga menyebabkan timbulnya eritroderma yaitu : PsoriasisMerupakan penyakit kronik, residif yang ditandai dengan adanya plak eritematous, berbatas tegas dengan skuama berlapis-lapis berwarna putih keperakan dan biasanya idiopatik. Penyakit ini bias mengenai siku, lutut, kulit kepala, dan region lumbosakral. Fenomena Koebner (yakni munculnya lesi-lesi baru akibat trauma fisis disekitar lesi lama) biasanya positif, tanda Auspitz (adanya bercak kemerahan akibat terkelupasnya skuama yang ada) juga positif, fenomena tetesan lilin (bila ada skuama digaruk, maka timbul warna putih keruh seperti tetesan lilin) positif. Bila tidak ada tanda-tanda tersebut, kausa psoriasis bias disingkirkan. Pitiriasis rubra pilarisMerupakan penyakit eritroskuamosa yang menyerupai psoriasis dan dermatitis seboroik, dengan penyebab idiopatik. Perbedaannya terutama pada orientasi lesi yang folikuler, dengan erupsi yang relative lebih coklat disbanding psoriasis dan dermatitis seboroik. Pitiriasis seboroik jarang atau tak pernah mengenai kulit kepala. Dermatitis seboroik merupakan dermatitis yang terjadi pada daerah seboroik (daerah yang banyak mengandung kelenjar sebasea / lemak), seperti batok kepala, alis, kelopak mata, lekukan nasolabial, dengan kelainan kulit berupa lesi dengan batas tak teratur, dasar kemerahan, tertutup skuama agak kuning dan berminyak.&lt;br /&gt;Dermatitis kontak alergiMerupakan dermatitis yang terjadisetelah adanya kontak dengan suatu bahan, secara imunologis. Reaksi ini termasuk reaksi hipersensitivitas lambat tipe IV. Wujud kelainan kulit bias berupa eritem/edema/vesikel yang bergerombol atau vesikel yang membasah, disertai rasa gatal. Bila kontak berjalan terus, maka dermatitis ini dapat menjalar ke daerah sekitarnya dan keseluruh tubuh.&lt;br /&gt;Dermatitis fotokontak alergiMerupakan dermatitis yang terjadi setelah adanya kontak dengan suatu bahan, secara imunologis. Reaksi ini termasuk reaksi hipersensitivitas lambat tipe IV. Wujud kelainan kulit bias berupa eritem/edema/vesikel yang bergerombol atau vesikel yang membasah, disertai rasa gatal. Bila kontak berjalan terus, maka dermatitis ini dapat menjalar ke daerah sekitarnya dan keseluruh tubuh.&lt;br /&gt;Dermatitis atopikWujud kelainan berupa papula&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;D. Patofisioligi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Gambaran histologisBerdasarkan penyebabnya eritroderma dibagi menjadi 4 bagian :&lt;br /&gt;a. Eritroderma akibat alergi obat secara sistemikBanyak obat yang bisa menyebabkan alergi, tetapi yang sering ialah : penisilin dan derivatnya (ampisilin, amoxilin, kloksasilin), sulfonamid, golongan analgesic antipiretik (misalnya asam salisilat, metamisol, parasetamol, fenibutason, piramidon) dan tetrasiklin, termasuk jamu.Alergi obat-obatan bias memaparkan eosinofil diantara infiltrate eosinofil, Mikosis fungoides/sezary syndrome bisa membentuk gambaran infiltrate seperti monotonous band yang terdiri dari sel mononuclear-cerebriform yang besar, sepanjang dermoepidermal junction atau sekitar pembuluh darah di dalam dermis papillary, epidermitropism tanpa spongiosis dan mikroabses pautrier tanpa epidermis&lt;br /&gt;b. Eritroderma akibat perluasan penyakit kulitPenyakit kulit yang bisa meluas menjadi eritroderma misalnya psoriasis, pemfigus follasius, dermatitis atopik, pitiriasis rubra pilaris, liken planus, dermatitis seboroik pada bayi.&lt;br /&gt;c. Eritroderma akibat penyakit sistemik termasuk keganasan Berbagai penyakit atau kelainan alat dalam termasuk keganasan dan infeksi fokal alat dalamd. IdiopatikSpecimen histologik tidak spesifik walau bagaimanapun, ulangan biopsy bisa menunjukan bukti dari mikosis fungiodes .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Gambaran klinika. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;eritroderma akibat alergi obat secara sistemikYang dimaksud masuknya obat secara sistemik yaitu masuknya obat kedalam badan melalui beberapa jalan antara lain :melalui mulut, hidung, suntikan/infus, rektum, vagina, sebagai obat mata, obat kumur, tapal gigi atau obat luar kulit.Umumnya alergi timbul secara akut dalam waktu 10 hari. Mula-mula kulit berwarna kemerahan yang menyeluruh tanpa disertai skuama. Pada waktu penyembuhan baru timbul skuama.b. Eritoderma akibat peluasan penyakit kulit.Yang sering terjadi adalah akibat psoriosis dan dermatitis seboreik pada bayi (penyakit leiner) .&lt;br /&gt;1) Eritroderma akibat psoriasis Pada anamnesis hendaknya ditanyakan apakah pernah menderita psoriasis, penyakit bersifat menahun dan residif dengan skuama yang berlapis-lapis dan kasar diatas kulit yang eritematosa dengan batas yang tegas&lt;br /&gt;2) Penyakit linear = Erirtoderma deskuamativum Kelainan ini hamper selalu memperlihatkan skuama yang banyak dan kekuning-kuningan di kepala.&lt;br /&gt;Usia penderita sekitar 4 minggu s/d 20 minggu.&lt;br /&gt;Keadaan umum baik, biasanya tanpa keluhan. K&lt;br /&gt;kelainan kulit berupa eritemadiseluruh tubuh penderita disertai skuama kasar.&lt;br /&gt;c. Eritroderma akibat penyakit sistemik termasuk keganasanYang sering yaitu sindroma sezary.Penyakit ini termasuk limfoma, ada yang mengatakan sadium dini mikosis fungoides, terdapat pada orang dewasa pada laki-laki usia 64 tahun dan pada wanita usia 53 tahun. Ditandai dengan eritema yang menyeluruh disertai skuama yang kasar dan berlapis-lapis dan rasa gatal yang hebat. Juga terdapat infiltrasi pada kulit yang edema. Sebagian penderita terdapat splenomegali, limpadenopati superficial, alopesia, hiperpigmentasi, hyperkeratosis palmaris dan plantaris, serta kuku yang disropi. Adanya sel sezary pada darah perifer dan infiltrasi pada dermis bagian atas adalah agak khas pada biopsy sindroma ini.Eritroderma biasanya muncul pada mereka yang berusia diatas 40 tahun. Biasanya lebih bayak mengenai lak-laki dibandingkan dengan wanita. Gejala dan syndrome eritroderma : Kemerahan kulit general (eritema) dan pembengkakan yang meliputi 90 % atau lebih dari seluruh permukaan kulit. Serous ooze’, hasil dari pakaian yang melekat di kulit dan bau yang tidak menyenangkan. Penyisikan 2-6 hari selepas onset eritema, seperti empingan yang besar. Berbagai derajat kegatalan yang kadang kala tidak bisa ditoleransi Penebalan sisik pada kepala dengan berbagai derajat keguguran rambut termasuk kebotakan total Penebalan telapak tangan dan kaki (keratoderma) Pembengkakan kelopak mata isa menyebabkan ectropion (permukaan dalam kelopak mata terpapar keluar) Kuku menjadi pecah dan menebal bahkan sampai tercabut Eriroderma yang lama bias menyebabkan perubahan pigmen (bercak coklat dan/atau putih pada kulit) Infeksi sekunder bisa menyebabkan munculnya pustule dan krusta Pembesaran kelenjar limfe (limfadenopati) Kontrol temepratur yang abnormal yang mengakibatkan demam dan menggigil atau hipotermia Meninkatkan denyut jantungsebagai akibat dari gagal jantung yang tidak ditangani atau kasus-kasus berat yang biasanya terjadi pada orang tua Kadar elektrolit yang abnormal serta dehidrasi akibat kehilangan cairan lewat kulit Kadar serum albumin yang rendah akibat kehilangan protein dan peningkatan kadar metabolik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;E. Komplikasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Komplikasi yang sering terjadi, yaitu : Infeksi sekunder oleh bakteri Septikemia Diare Pneumoni Gangguan metabolic melibatkan suatu resiko hipotemia, dekompensasi kordis, kegagalan sirkulasi perifer, dan tromboplebitis. Bila pengobatan kurang baik akan terjadi degenerasi visceral yang menyebabkan kematian.(FK UGM, Yogyakarta)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;F. Penatalaksanaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tujuan penatalaksanaan adalah untuk mempertahankan keseimbangan cairan serta elektrolit dan mencegah infeksi tetapi bersifat individual serta suportif dan harus segera dimulai begitu diagnosisnya ditegakan.Pasien harus dirawat di rumah sakit dan harus tirah baring. Semua obat yang terlibat harus dihantikan pemakaiannya, suhu kamar yang nyaman harus dipertahankan karena pasien tidak memiliki kontrol termolegulasi yang normal sebagai akibat dari fluktuasi suhu karena vasodilatasi dan kehilangan cairan lewat evaporasi. Keseimbangan cairan dan elektrolit harus dipertahankan karena terjadinya kehilangan air dan protein yang cukup besar dari permukaan kulit. Preparat expander mungkin diperlukan. (Brunner &amp;amp; suddart)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pemeriksaan laboratorium&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan eusinofilia pada dermatitis exfoliativa oleh karena dermatitis atopik. Gambaran lainnya adalah sedimen yang meningkat, turunnya albumin serum dan globulin serum yang relatif meningkat, serta tanda disfungsi kegagalan jantung dan intestinal (tidak spesifik).(Cermin Dunia Kedokteran No. 74, 1992)TerapiPerawatan di rumah sakit sangat dianjurkan untuk memperoleh perawatan medis dan pemeriksaan laboratorium yang baik. Pengobatan topikal pelembut (untuk mandi berupa emulsi dan mungkin juga bentuk-bentuk lain) sangat membentu. Kortikosteroid (prednisone 40 mg setiap hari dalam dosis pemeliharaan) juga diberikan. Obat-obat tersebut mengurangi kekakuan dari gejala yang ada. Antibiotik diperlukan juga bila diduga ada infeksi sekunder.Perawatan di rumah sakit tidak diperlukan bila pasien dianggap kooperatif dengan dokter yang merawat, para pasien/penderita dermatitis exfoliativa menunjukan adanya perbaikan , hanya dengan sistem rawat jalan saja. (FK UGM, Yogyakarta)&lt;br /&gt;Pengobatan  Sistemik Diet tinggi protein pada eritroderma yang sudah lama Kortikosteroid oral : prednisonGolongan&lt;br /&gt;1 : dosis prednison 3 x 10 mg – 4 x 10 mg/hari  Obat yang dicurigai sebagai penyebab dihentikanGolongan&lt;br /&gt;2 : dosis permulaan 4 x 10 mg Jika tak tampak perbaiakan dalam beberapa hari dosis dinaikan. Bila tampak perbaikan dosis diturunkan perlahan. Kalau akibat penyakit linear, dosis prednison 3 x (1-2) mg/hari. Kalau akibat terapi lokal pada psoriasis maka dihentikanGolongan&lt;br /&gt;3 : syndrome sezary : selain kortikosteroid, juga sistostatika (klorambusil 2-6 mg sehari) Lokal : Diolesi emoliea, misalnya salep lanolin 10 %(&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cermin Dunia Kedokteran No. 32, 1984)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;PrognosisDermatitis exfoliativa memiliki prognosis yang kurang baik sementara banyak penulis lain yang mengatakan bahwa prognosis dermatitis exfoliativa pada umumnya baik; tentu saja tidak terlepas dari faktor penyakit yang mendasari dan kondisi penderita itu sendiri. (FK UGM, Yogyakarta)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;G. Asuhan keperawatan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. PengkajianPengkajian keperawatan berkelanjutan dilaksanakan untuk mendeteksi infeksi. Kulit yang mengalami desrupsi eritematosa basah amat rentan terhadap infeksi dan dapat menjadi tempat kolonisasi organisasi pathogen yang amat memperberat inflamasi. Anti biotic yang diresepkan dokter jika terdapat infeksi dipilih berdasarkan hasil kultur dan tes sensitifitas. “Pasien diobservasi untuk memantau tanda-tanda dan gejala gagal jantung kongestif karena hiperenia serta peningkatan aliran darah kulit dapat menimbulkan gagal jantung yang dapat menyebabkan high-output.”Hipotermia dapat pula terjadi karena peningkatan aliran darah dalam kulit yang ditambah lagi dengan kehilangan air lewat kulit sehingga terjadi kehilangan panas lewat radiasi, konduksi dan evaporasi. Perubahan pada tanda-tanda vital harus dipantau dengan ketat dan dilaporkan.Sebagaimana setiap dermatitis yang akut, terapi topikal digunakan untuk meredakan gejala (terapi simtomatik). Rendaman yang meringankan gejala kompres dan pelemasan kulit dengn preparat emolien dipakai untuk mengobati dermatitis yang kuat. Pasien cenderung menjadi sangat mudah tersinggung karena rasa gatalnya yang hebat. Preparat kortikosterid oral atau parenteral dapat diresepkan kalau penyakit tersebut tidak terkendali oleh terapi yang lebih konservatif. Setelah penyebabnya yang spesifik, terapi yang diberikan dapat lebih spesifik. Pasien dinasehati untuk menghindari semua iritan demasa mendatang, khususnya obat-obatan (Brunner &amp;amp; Suddart).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Diagnosa Keperawatana) Gangguan keseimbangan cairan berhubungan dengan kehilangan cairan berlebihan transdermal dan edema.&lt;br /&gt;b) Gangguan integritas kulit berhubungan dengan kulit kering bersisik.&lt;br /&gt;c) Gangguan body image berhubungan dengan perubahan pigmen kulit.&lt;br /&gt;d) Resti infeksi berhubungan dengan postula dan krusta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Daftar Pustaka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. &lt;a href="http://aslimtaslim.com/"&gt;http://aslimtaslim.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. &lt;a href="http://www.emedicine.com/"&gt;http://www.emedicine.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Dermatitis Exfoliativa Imtikhananik.Yogyakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Brunner and Suddarth. 2001. Keperawatan Medikal-Bedah Edisi 8, Volume 3. EGC : Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Siregar, dkk. 1990. Ekzema Dermatitis, dalam : Harahap, M. (ed) : Penyakit Kulit. Gramedia : Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Utama Wahyudhy, Harry. S.Ked dan Kurniawan, Dedy. S.Ked. 2007. Erupsi Alergi Obat. Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya : Palembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. &lt;a href="http://journal.lib.unair.ac.id/index.php/bipkk/article/view/146"&gt;http://journal.lib.unair.ac.id/index.php/bipkk/article/view/146&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. &lt;a href="http://www.gatra.com/"&gt;http://www.Gatra.com&lt;/a&gt;. 2004-04.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.&lt;a href="http://journal.lib.unair.ac.id/index.php/bipkk/article/view/928"&gt;http://journal.lib.unair.ac.id/index.php/bipkk/article/view/928&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. &lt;a href="http://www.portalkalbe.com/"&gt;http://www.portalkalbe.com&lt;/a&gt;. Oleh : Adhi, Djuanda. Dr. Pengobatan Dengan Kortikosteroid Sistemik dalam Dermatolog. Bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RSCM : Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Doenges,Marlynn E.1999. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien.EGC : Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Nanda.Panduan Diagnosa Keperawatan : definisi dan klasifikasi 2005-2006. Prima medika : Jakarta.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4783875443562043141-2491861475349704821?l=askep-kesehatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/2491861475349704821'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/2491861475349704821'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-kesehatan.blogspot.com/2009/11/askep-pada-klien-dengan-eritroderma.html' title='ASKEP PADA KLIEN DENGAN ERITRODERMA'/><author><name>elly</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_nt1knDXPQbQ/SBXu2-Vx8SI/AAAAAAAAACc/sHjT5rmXyC8/S220/frudo.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4783875443562043141.post-1931793203524832789</id><published>2009-11-01T03:14:00.000+07:00</published><updated>2009-11-01T03:17:23.168+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ASKEP'/><title type='text'>ASKEP PEMFIGUS</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;A. DEFINISI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pemfigus vulgaris adalah dermatitis vesikulobulosa reuren yang merupakan kelainan herediter paling sering pada aksila, lipat paha, dan leher disertai lesi berkelompok yang mengadakan regresi sesudah beberapa minggu atau beberapa bulan (Dorland, 1998)&lt;br /&gt;Pemfigus vulgaris merupakan penyakit serius pada kulit yang ditandai dengan timbulnya bulla (lepuh) dengn berbagai ukuran (misalnya 1-10 cm) pada kulit yang tampak normal dan membrane ukosa (misalnya mulut dan vagina) (Brunner, 2002)&lt;br /&gt;Pemfigus vulgaris adalah salah satu penyakit autoimun yang menyerang kulit dan membrane mukosa yag menyebabkan timbulnya bula atau lepuh biasanya terjadi di mulut, idung, tenggorokan, dan genital (&lt;a href="http://www.pemfigus.org.com/"&gt;www.pemfigus.org.com&lt;/a&gt;) Pada penyakit pemfigus vulgaris timbul bulla di lapisan terluar dari epidermis klit dan membrane mukosa. Pemfigus vulgaris adalah “autoimmune disorder” yaitu system imun memproduksi antibody yang menyerang spesifik pada protein kulit dan membrane mukosa. Antibodi ini menghasilkan reaks yang menimbulkan pemisahan pada lapisan sel epidermis (akantolisis) satu sama lain karena kerusakan atau abnormalitas substansi intrasel. Tepatnya perkembangan antibody menyerang jaringan tubuh (autoantibody) belum diketahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;B. ETIOLOGI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penyebab dari pemfigus vulgaris dan factor potensial yang dapat didefinisikan antara lain:1. Faktor genetic&lt;br /&gt;2. UmurInsiden terjadinya pemfigus vulgaris ini meningkat pada usia 50-60 tahun. Pada neonatal yang mengidap pemfigus vulgaris karena terinfeksi dari antibody sang ibu.3. Disease associationPemfigus terjadi pada pasien dengan penyakit autoimun yang lain, biasanya myasthenia gravis dan thymoma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;C. MANIFESTASI KLINIS&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar pasien pada mulanya ditemukan dengan lesi oral yang tampak sebagai erosi yang bentuk ireguler terasa nyeri, mudah berdarah dan sembuhnya lambat. Bulla pada kulit akan membesar, pecah dan meninggalkan daerah-daerah erosi yang lebar serta nyeri yang disertai dengan pembentukan kusta dan perembesan cairan. Bau yang menusuk dan khas akan memancar dari bulla dan serum yang merembes keluar. Kalau dilakukan penekanan yang minimal akan terjadi pembentukan lepuh atau pengelupasan kulit yang normal (tanda Nicolsky) kulit yang erosi sembuh dengan lambat sehingga akhirnya daerah tubuh yang terkena sangat luas , superinfeksi bakteri sering yang terjadi. Komplikasi yang sering pada pemfigus vulgaris terjadi ketika proses penyakit tersebut menyebar luas. Sebelum ditemukannya kortikosteroid dan terapi imunosupresif, pasien sangat rentan terhadap infeksi sekunder. Bakteri kulit mudah mencapai bula karena bula mengalami perembesan cairan, pacah dan meninggalkan daerah terkelupas yang terbuka terhadap lingkungan. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit karena kehilangan cairan serta protein ketika bula mengalami rupture. Hipoalbuminemia lazim dijumpai kalu proses mencapai kulit tubuh dan membrane mukosa yang luas (Brunner, 2002).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;D. KOMPLIKASI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Secondary infection Salah satunya mungkin disebabkan oleh sistemik atau local pada kulit. Mungkin terjadi karena penggunaan immunosupresant dan adanya multiple erosion. Infeksi cutaneus memperlambat penyembuhan luka dan meningkatkan resiko timbulnya scar.&lt;br /&gt;2. Malignansi dari penggunaan imunosupresifBiasanya ditemukan pada pasien yang mendapat terapi immunosupresif.&lt;br /&gt;3. Growth retardationDitemukan pada anak yang menggunakan immunosupresan dan kortikosteroid.&lt;br /&gt;4. Supresi sumsum tulang Dilaporkan pada pasien yang menerima imunosupresant. Insiden leukemia dan lymphoma meningkat pada penggunaan imunosupresif jangka lama.&lt;br /&gt;5. OsteoporosisTerjadi dengan penggunaan kortikosteroid sistemik&lt;br /&gt;6. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolitErosi kulit yang luas, kehilangan cairan serta protein ketika bulla mengalami rupture akan menyebabkan gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit. Kehilangan cairan dan natrium klorida ini merupakan penyebab terbanyak gejala sistemik yang berkaitan dengan penyakit dan harus diatasi dengan pemberian infuse larutan salin. Hipoalbuminemia lazim dijumpai kalau proses mencapai kulit tubuh dan membrane mukosa yang luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;EVALUASI DIAGNOSTIK&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Pemeriksaan visual oleh dermatologis&lt;br /&gt;2. Biopsi lesi, dengan cara memecahkan bulla dan membuat apusan untuk diperiksa di bawah mikroskop atau pemeriksaan immunofluoresent.&lt;br /&gt;3. Tzank test, apusan dari dasar bulla yang menunjukkan akantolisis&lt;br /&gt;4. Nikolsky’s sign positif bila dilakukan penekanan minimal akan terjadi pembentukan lepuh dan pengelupasan kulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PENATALAKSANAAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tujuan terapi adalah untuk mengendalikan penyakit secepat mungkin, mencegah infeksi sekunder dan meningkatkan pembentukan tulang epitel kulit (pembaharuan jaringan epitel). Kortikosteroid diberikan dengan dosis tinggi untuk mengendalikan penyakit dan menjaga kulit dari bulla. Kadar dosis yang tinggi dipertahankan sampai kesembuhan terlihat jelas. Pada sebagian kasus, terapi kortikosteroid harus dipertahankankan seumur hidup penderitanya.Kortikosteroid diberikan bersama makanan atau segera sesudah makan dan dapat disertai dengan pemberian antacid sebagai profilaksis untuk mencegah komplikasi lambung. Yang penting pada penatalaksanaan terapeutik adalah evaluasi berat badan, tekanan darah, kadar glukosa darah dan keseimbangan darah setiap hari . Preparat imunosupresif (azatioprin, ziklofosfamid, emas) dapat diresepkan dokter untuk mengendalikan penyakit dan mengurangi takaran ktikosteroid. Plasmaferesis (pertukaran plasma). Secara temporer akan menurunkan kadar antibody serum dan pernah dihasilkan keberhasilan yang bervariasi sekalipun tindaka ini dilakukan untuk kasus yang mengancam jiwa pasien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;G. PROSES KEPERAWATAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pengkajian&lt;br /&gt;1. Identitas pasien dan keluarga (penanggung jawab)Nama, umur, jenis kelamin, alamat, golongan darah, penghasilan, hubungan pasien dengan penanggung jawab, dll.&lt;br /&gt;2. Riwayat pasien sekarangPada umumnya penderita pemfigus vulgaris biasanya dirawat di rumah sakit pada suatu saat sewaktu terjadi pada suatu saat sewaktu terjadi eksaserbasi, perawat segera mendapatkan bahwa pemfigus vulgaris bisa menjadi penyebab ketidakmampuan bermakna. Gangguan kenyamanan yang konstan dan stress yang dialami pasien serta bau lesi yang amis.&lt;br /&gt;3. Riwayat penyakit terdahuluHaruslah diketahui baik yang berhubungan dengan system integument maupun penyakit sistemik lainnya. Demikian pula riwayat penyakit keluarga, terutama yang mempunyai penyakit menular, herediter.&lt;br /&gt;4. Pemeriksaan fisik Pengkajian kulit melibatkan seluruh area kulit, termasuk membrane mukosa, kulit kepala dan kuku. Kulit merupakan cermin dari kesehatan seseorang secara menyeluruh dan perubahan yang terjadi pada kulit umumnya berhubungan dengan penyakit pada system organ lain. Inspeksi dan palpasi merupakan prosedur utama yang digunakan dalam memeriksa kulit. Lesi kulit merupakan karakteristik yang paling menonjol pada kelainan dermatologic. Pada pasien pemfigus vulgaris muncul bulla yaitu suatu lesi yang berbatas jelas, mengandung cairan, biasanya lebih dari 5 mm dalam diameter, dengan struktur anatomis bulat. Inspeksi keadaan dan penyebaran bulla atau lepuhan pada kulit. Sebagian besar pasien dengan pemfigus vulgaris ditemukan lesi oral yang tampak tererosi yang bentuknya ireguler dan terasa sangat nyeri, mudah berdarah, dan sembuhnya lambat. Daerah-daerah tempat kesembuhan sudah terjadi dapat memperlihatkan tanda-tanda hiperpigmentasi. Vaskularitas, elastisitas, kelembapan kulit, dan hidrasi harus benar-benar diperhatikan. Perhatian khusus diberikan untuk mengkaji tanda-tanda infeksi.&lt;br /&gt;5. Pengkajian psikologisDimana pasien dengan tingkat kesadaran menurun, maka untuk data psikologisnya tidak dapat di dinilai, sedangkan pada pasien yang tingkat kesadarannya agak normal akan terlihat adanya gangguan emosi, perubahan tingkah laku emosi yang labil, iritabel, apatis, kebingungan keluarga pasien karena mengalami kecemasan sehubungan dengan penyakitnya. Data social yang diperlukan adalah bagaimana pasien berhubungan dengan orang terdekat dan lainnya, kemampuan berkomunikasi dan perannya dalam keluarga. Serta pandangan pasien terhadap dirinya setelah mengalami penyakit pemfigus vulgaris.&lt;br /&gt;6. Data/pangkajian spiritualDiperlukan adalah ketaatan terhadap agamanya, semangat dan falsafah hidup pasien serta ketuhanan yang diyakininya.&lt;br /&gt;7. Pemeriksaan diagnostico Nikolsky’s signo Skin lesion biopsy (Tzank test)o Biopsy dengan immunofluorescene&lt;br /&gt;8. Penatalaksanaan umumo Kortikosteroido Preparat imunosupres (azatioprin, siklofosfamid, emas)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagnosa KeperawatanBerdasarkan data-data hasil pengkajian keperawatan, diagnosa keperawatan pasien mencakup:&lt;br /&gt;1. Nyeri pada rongga mulut berhubungan dengan rangsangan ujung-ujung saraf karena pembentukan bulla dan erosi.&lt;br /&gt;2. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan rupture bulla dan daerah kulit yang terbuka (terkelupas)&lt;br /&gt;3. Ansietas dan kemampuan koping tidak efektif berhubungan dengan penampilan kulit dan tidak ada harapan untuk kesembuhan.&lt;br /&gt;4. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan keadaan dan penampilan kulit.&lt;br /&gt;5. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan kehilan cairan dan protein akibat bulla ruptur&lt;br /&gt;6. Resiko infeksi dan sepsis berhubungan dengan kerusakan permukaan kulit&lt;br /&gt;Masalah Kolaborasi&lt;br /&gt;Berdasarkan data-data hasil pengkajian, komplikasi yang potensial mencakup:&lt;br /&gt;1. Infeksi dan sepsis yang berhubungan dengan hilangnya barier protektif kulit dan membrane mukosa&lt;br /&gt;2. Kurang volume cairan dan yang berhubungan dengan hilangnya cairan jaringan.&lt;br /&gt;Perencanaan dan implementasi Sasaran utama bagi pasien pemfigus vulgaris dapat mencakup peredaan gangguan rasa nyaman akibat lesi, kesembuhan kulit, berkurangnya ansietas atau kecemasan serta perbaikan kemampuan koping dan tidak terdapatnya komplikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Brunner &amp;amp; Suddarth. 2002. Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8. Volume 3.EGC : Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doenges, E., Marilyn. 2002. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3.EGC : Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Phipps &amp;amp; Woods. 1991. Medical Surgical Nursing concepts and Clinical Practice. Fourth Edition.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahayu, Sri. Course Book. Medikal Surgical Nursing. Unit 1. Intergument System.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sylvia, A. Price. 2002. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. EGC : Jakarta. &lt;a href="http://www.pemfigus.org.com/"&gt;www.pemfigus.org.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adhi, Djuanda Dr. Pengobatan dengan Kortikosteroid Sistemik dalam Dermatologi.http://www.portalkalbe.com. &lt;a href="http://www.medicalholistik.com/"&gt;www.medicalholistik.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4783875443562043141-1931793203524832789?l=askep-kesehatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/1931793203524832789'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/1931793203524832789'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-kesehatan.blogspot.com/2009/11/askep-pemfigus.html' title='ASKEP PEMFIGUS'/><author><name>elly</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_nt1knDXPQbQ/SBXu2-Vx8SI/AAAAAAAAACc/sHjT5rmXyC8/S220/frudo.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4783875443562043141.post-4388420646477705010</id><published>2009-10-19T23:54:00.002+07:00</published><updated>2009-10-19T23:57:10.983+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TIPS'/><title type='text'>Tips Diet Secara Sehat</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_nt1knDXPQbQ/StyaU6WbQsI/AAAAAAAAB4U/ZXZmTszXv94/s1600-h/free-diet-programs.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 266px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_nt1knDXPQbQ/StyaU6WbQsI/AAAAAAAAB4U/ZXZmTszXv94/s400/free-diet-programs.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5394356137734390466" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Diet masih menjadi kata 'mujarab' untuk membuat stabil berat badan. Berikut tips diet yang layak menjadi perhatian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Makanlah sebelum menghadiri undangan makan. Santaplah telur rebus, apel dan minumlah teh atau diet soda sebelum pergi ke tempat resepsi. Ini akan membantu mengerem nafsu makan Anda di pesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Jangan "membuat" diri Anda gemuk dengan selalu "memenuhi" permintaan perut. Anda bisa dengan mudah menyantap 600 kalori kue kering dan sereal tanpa Anda sadari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Bawalah rantang makan siang ke kantor. Kalau bisa jangan makan siang di luar. Ini akan membantu mencegah Anda makan siang berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Santap lebih banyak sup. Sup tanpa krim biasanya rendah kalori dan lumayan membuat kenyang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Usahakan menyantap menu rendah kalori dulu sebelum menyantap menu lain. Mulailah dengan salad, sayuran, dan sup kaldu, baru kemudian daging di urutan terakhir. Pada saat giliran sampai ke daging, perut sudah cukup penuh untuk menu tinggi kalori.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Jangan gunakan piring dinner. Gunakan piring salad setiap kali Anda makan siang atau makan malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Yakinkan bahwa setengah porsi makan siang dan makan malam Anda adalah sayur dan buah-buahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Mulailah hari dengan menu dan porsi sarapan yang cukup. Ini akan membantu mengurangi asupan kalori di sepanjang sisa hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Jadikan makan sebagai aktivitas yang memiliki tujuan, yakni hidup sehat. Nikmati saat makanan masuk ke mulut, masuk ke pencernaan. Yakinkan bahwa makanan itu akan memberikan nutrisi bagi tubuh Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Tambahkan satu porsi buah-buahan atau sayuran pada menu Anda. Jika sudah terbiasa, tambahkan lagi satu porsi hingga 8 porsi sehari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Berolahragalah. Jadikan itu sebagai kegiatan yang tidak bisa dikompromikan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Berarobik dengan musik kesukaan bisa menjadi aktivitas yang menyenangkan. Ajak keluarga untuk ikut bergerak. Awalnya mungkin agak aneh mendengarnya. Tapi begitu Anda mulai, bisa-bisa Anda lupa berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. Cobalah 2 minggu tanpa gula. Rasanya luar biasa mengetahui napsu makan Anda yang biasanya tak bisa dipendam berangsur-angsur menghilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14. Makan pagilah, juga makan siang dan makan malam. Sebagian besar mereka yang berjuang untuk menghindari hobi makan di tengah malam adalah mereka yang makan tidak teratur atau makan tidak seimbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15. Ubahlah jadwal kegiatan malam hari Anda. Kalau biasanya Anda hobi begadang, cobalah kurangi sedikit demi sedikit. Tak gampang memang, tapi lama kelamaan ini akan membuat tangan dan pikiran Anda lupa pada cemilan malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16. Jika Anda terbiasa ngemil ketika stres, kini saatnya untuk berubah. Anda harus fokus mencari cara lain yang lebih sehat. Cari metode mengatasi stres yang tanpa melibatkan makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17. Tulis di atas secarik kertas label, "Tutup setelah makan malam." Tempelkan di pintu kulkas Anda dan kuncilah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18. Gosok gigi segera setelah makan malam untuk mengingatkan diri Anda bahwa waktu makan sudah habis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19. Makanlah pada saatnya. Dan jangan melakukan hal-hal lain pada waktu makan, seperti membaca, nonton TV, atau browsing internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20. Berjalanlah 3 kali keliling lantai mal sebelum Anda shopping.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Nova)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4783875443562043141-4388420646477705010?l=askep-kesehatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/4388420646477705010'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/4388420646477705010'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-kesehatan.blogspot.com/2009/10/tips-diet-secara-sehat.html' title='Tips Diet Secara Sehat'/><author><name>elly</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_nt1knDXPQbQ/SBXu2-Vx8SI/AAAAAAAAACc/sHjT5rmXyC8/S220/frudo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_nt1knDXPQbQ/StyaU6WbQsI/AAAAAAAAB4U/ZXZmTszXv94/s72-c/free-diet-programs.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4783875443562043141.post-7959901765220764048</id><published>2009-10-19T23:53:00.000+07:00</published><updated>2009-10-19T23:54:52.300+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='info sehat'/><title type='text'>Gahaya Minuman Soft Drink Bagi Tubuh</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(0, 0, 0); font-family: 'times new roman'; font-size: 16px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana; font-size: 13px;"&gt;Tahukah Anda 10 alasan untuk tak minum soft drink, berikut alasannya :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(0, 0, 0); font-family: 'times new roman'; font-size: 16px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana; font-size: 13px;"&gt;&lt;img src="http://i397.photobucket.com/albums/pp57/promediaku/soft-drink.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(0, 0, 0); font-family: 'times new roman'; font-size: 16px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana; font-size: 13px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(0, 0, 0); font-family: 'times new roman'; font-size: 16px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana; font-size: 13px;"&gt;1. Soft drinks menguras air dalam tubuh kita. Seperti halnya diuretik yang bukannya memberikan air untuk tubuh kita, tapi malah menghabiskannya. Pemrosesan gula tingkat tinggi dalam soft drinks memerlukan sejumlah besar air dalam tubuh kita.Untuk mengganti air ini, anda harus minum 8-12 gelas air untuk setiap gelas yang anda minum !&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(0, 0, 0); font-family: 'times new roman'; font-size: 16px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana; font-size: 13px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(0, 0, 0); font-family: 'times new roman'; font-size: 16px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana; font-size: 13px;"&gt;2. Soft drinks tidak pernah menghilangkan rasa haus anda, karena soft drinks bukanlah air yang diperlukan tubuh anda. Dengan tetap tidak memasok air ke dalam tubuh kita terus menerus akan menyebabkan dehidrasi Seluler Kronis, sebuah kondisi yang melemahkan tubuh pada tingkat sel. Pada gilirannya akan menyebabkan melemahnya sistem kekebalan dan menimbulkan berbagai penyakit.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(0, 0, 0); font-family: 'times new roman'; font-size: 16px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana; font-size: 13px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(0, 0, 0); font-family: 'times new roman'; font-size: 16px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana; font-size: 13px;"&gt;3. Tingkat kandungan fosfat yang tinggi dalam soft drinks dapat menghancurkan mineral penting dalam tubuh. Soft drinks terbuat dari air murni yang juga dapat menghancurkan mineral penting dalam tubuh. Kekurangan mineral yang serius dapat menyebabkan Penyakit Jantung (kekurangan magnesium), Osteoporosis (kekurangan kalsium) dan banyak lagi. Sebagian besar vitamin tidak berfungsi di dalam tubuh tanpa adanya mineral.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(0, 0, 0); font-family: 'times new roman'; font-size: 16px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana; font-size: 13px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(0, 0, 0); font-family: 'times new roman'; font-size: 16px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana; font-size: 13px;"&gt;4. Soft drinks dapat membersihkan karat pada bumper mobil atau benda logam lainnya. Bayangkan apa yang akan terjadi pada fungsi pencernaan dan organ tubuh lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(0, 0, 0); font-family: 'times new roman'; font-size: 16px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana; font-size: 13px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(0, 0, 0); font-family: 'times new roman'; font-size: 16px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana; font-size: 13px;"&gt;5. Jumlah gula yang tinggi dalam soft drinks menyebabkan pankreas memproduksi insulin dalam jumlah besar, yang mengakibatkan “benturan gula”. Kelebihan dan kekurangan gula dan insulin dapat menyebabkan diabetes dan penyakit yang terkait dengan ketidak seimbangan dalam tubuh. Keadaan ini dapat mengganggu pertumbuhan anak yang dapat menyebabkan masalah kesehatan seumur hidup.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(0, 0, 0); font-family: 'times new roman'; font-size: 16px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana; font-size: 13px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(0, 0, 0); font-family: 'times new roman'; font-size: 16px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana; font-size: 13px;"&gt;6. Soft drinks sangat mempengaruhi pencernaan. Kafein dan jumlah gula yang tinggi dapat menghentikan proses pencernaan. Ini artinya tubuh tidak menyerap gizi sama sekali dari makanan yang baru dimakan, bahkan yang sudah dimakan beberapa jam sebelumnya. Bila dimakan bersamaan dengan kentang goreng akan memakan waktu berminggu-minggu untuk dicerna. Jadi tidak ada yang lebih buruk dari pada soft drinks yang bisa kita simpan di dalam tubuh.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(0, 0, 0); font-family: 'times new roman'; font-size: 16px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana; font-size: 13px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(0, 0, 0); font-family: 'times new roman'; font-size: 16px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana; font-size: 13px;"&gt;7. Soft drinks diet mengandung aspartame, yang dihubungkan dengan depresi, insomnia, penyakit saraf dan banyak penyakit lainnya. FDA telah menerima lebih dari 10.000 keluhan konsumen terhadap aspartame, 80% diantaranya mengeluhkan zat aditif pada makanan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(0, 0, 0); font-family: 'times new roman'; font-size: 16px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana; font-size: 13px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(0, 0, 0); font-family: 'times new roman'; font-size: 16px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana; font-size: 13px;"&gt;8. Soft drinks bersifat sangat asam, sehingga dapat menembus garis sambung pada kaleng aluminium dan dapat melumerkan kaleng tersebut bila disimpan terlalu lama. Pasien penderita alzheimer yang telah diotopsi semuanya memiliki kadar aluminium yang sangat tinggi dalam otaknya. Logam berat dalam tubuh dapat menyebabkan gangguan syaraf dan penyakit lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(0, 0, 0); font-family: 'times new roman'; font-size: 16px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana; font-size: 13px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(0, 0, 0); font-family: 'times new roman'; font-size: 16px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana; font-size: 13px;"&gt;9. Soft drinks bersifat sangat asam : Tubuh manusia secara alamiah memliki pH 7,0. Soft drinks memiliki pH 2,5 artinya anda memasukkan sesuatu yang ratusan ribu kali lebih asam ke dalam tubuh anda ! Penyakit berkembang dalam lingkungan asam. Soft drinks dan makanan asam lainnya mengendapkan limbah asam dalam tubuh yang menumpuk dalam sendi dan disekitar organ tubuh. Contohnya, pH tubuh penderita kanker atau radang sendi selalu rendah. Semakin parah penyakit seseorang semakin rendah pH tubuhnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(0, 0, 0); font-family: 'times new roman'; font-size: 16px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana; font-size: 13px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(0, 0, 0); font-family: 'times new roman'; font-size: 16px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana; font-size: 13px;"&gt;10. Jangan pernah berfikir untuk meneguk soft drinks ketika anda demam, flu atau lainnya. Soft drinks akan mempersulit tubuh melawan penyakit tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4783875443562043141-7959901765220764048?l=askep-kesehatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/7959901765220764048'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/7959901765220764048'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-kesehatan.blogspot.com/2009/10/gahaya-minuman-soft-drink-bagi-tubuh.html' title='Gahaya Minuman Soft Drink Bagi Tubuh'/><author><name>elly</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_nt1knDXPQbQ/SBXu2-Vx8SI/AAAAAAAAACc/sHjT5rmXyC8/S220/frudo.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4783875443562043141.post-2672298298420019398</id><published>2009-08-09T19:38:00.000+07:00</published><updated>2009-08-09T19:40:38.779+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kesehatan'/><title type='text'>Porsi Otak Pria: Setengahnya Sex!!</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sering merasa sulit memahami jalan pikiran pria? Anda tidak sendiri. Tampaknya, masalah ini memang menjadi problem banyak wanita. Menurut Allan dan Barbara Pease dalam buku Why Men Don’t Listen &amp;amp; Women Can’t Read Maps, hal ini disebabkan jalan pikir wanita dan pria yang bisa bertolak belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(0, 0, 0); font-family: 'times new roman'; font-size: 16px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana; font-size: 13px;"&gt;&lt;img src="http://i163.photobucket.com/albums/t301/soekoco/74785_otak_pria_thumb_300_225.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Uniknya, dalam buku tersebut kita bisa mempelajari pikiran pria dengan cara memahami tiap bagian otak kaum Adam. Penasaran, ingin tahu apa saja isi otak pria? Ini penjelasannya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah Anda, bahwa bagian terbesar dari otak pria adalah dorongan seks. Hal ini juga menjelaskan mengapa pria tampak sangat beminat pada urusan seks. Jadi, kalau Anda mendapati kalender bergambar wanita berbikini atau memergoki rekan kerja pria mencuri waktu mengakses situs porno di internet, tak usah kaget. Habis, rupanya areal untuk seks memang menempati porsi yang paling besar di otaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Porsi terbesar kedua menandakan keinginan untuk berpetualang atau mengejar sesuatu yang berbahaya, keinginan berolahraga, dan keinginan mengganti-ganti remote control televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara, bagian terkecilnya menunjukkan kemampuan mencari barang di lemari es atau pakaian, kemampuan mendengarkan, kemampuan mengerjakan tugas-tugas domestik, keinginan untuk meletakkan penutup kloset pada tempatnya, dan kemampuan untuk tidur dengan nyenyak ketika anak menangis pada malam hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Allan dan Barbara Pease dalam buku Why Men Don’t Listen &amp;amp; Women Can’t Read Maps, ‘tata letak’ otak pria itu bisa menjelaskan mengapa kaum wanita sering mengeluhkan hal-hal yang menjadi kebiasaan buruk pria, yaitu sukar mencari barang (ataupun meletakkan barang) di tempatnya, tidak suka membantu pekerjaan rumah tangga, maupun menolong menggantikan popok ketika bayi Anda menangis malam-malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, ikut balapan mobil atau motor, atau menghabiskan waktu di pusat kebugaran dan di depan TV, prialah ‘raja’nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, dengan memahami bagan otak pria, barangkali kini Anda dapat menjadi lebih ‘pengertian’ terhadap jalan pikirannya. Dan tak akan terlampau kesal dan jengkel bila pasangan Anda melakukan hal-hal yang tidak menyenangkan tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4783875443562043141-2672298298420019398?l=askep-kesehatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/2672298298420019398'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/2672298298420019398'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-kesehatan.blogspot.com/2009/08/porsi-otak-pria-setengahnya-sex.html' title='Porsi Otak Pria: Setengahnya Sex!!'/><author><name>elly</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_nt1knDXPQbQ/SBXu2-Vx8SI/AAAAAAAAACc/sHjT5rmXyC8/S220/frudo.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4783875443562043141.post-6051400242349667816</id><published>2009-07-16T17:00:00.000+07:00</published><updated>2009-07-16T17:01:16.153+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='penyakit'/><title type='text'>Bahaya Minum Minuman Energi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Minuman energi kini bertebaran dimana-mana. Padahal, kuat dugaan, minuman semacam itu bisa menghadirkan bahaya, bahkan hingga mengancam kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir di seluruh dunia, produk minuman energi kini menjamur. Di Inggris, misalnya, kebutuhan terhadap minuman ini terus meningkat. Setiap tahun, tak kurang 330 juta liter minuman energi membasahi tenggorokan warganya. Nilainya diestimasi mencapai 1 miliar pound.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan, meluncur pula produk baru Red Bull dengan kandungan kafein dua kali lipat. Produk ini, kabarnya, diperkirakan akan menjadi pemain penting di pasar minuman energi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalannya adalah, keamanan dan pemasaran produk-produk semacam ini masih menghadirkan tanda anya. Ini terkait pula dengan rencana peluncuran minuman terbaru bernama Cocaine dalam waktu dekat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minuman tersebut masih menunggu izin dan pengesahan dari Dewan Standar Makanan dan Standar Perdagangan di Inggris. Kecuali namanya yang kontroversial, minuman dingin nonalkohol beraroma lemon itu juga dipenuhi dengan kafein.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun lalu, peluncuran produk yang hampir sama, dibatalkan di Inggris. Namanya, Cocaine Energy Drink. Di Amerika Serikat pun, minuman dengan nama yang sama, juga dilarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini lebih dari sekadar niat mengejutkan pasar dengan cara provokatif dan sinis. Kebanyakan anak muda akan melihatnya melalui branding. Tapi, mengabaikan obat-obatan terlarang secara ilegal yang bisa menyebabkan kerusakan, tidaklah membantu, tidak pula cara yang cerdas,” kata Martin Barnes, kepala DrugScope, sebuah yayasan tentang narkoba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kekhawatiran, anak-anak muda yang tergila-gila dengan minuman baru itu, bisa mempertaruhkan kesehatan mereka. Minuman dengan kafein yang tinggi kini laku keras karena anak-anak muda yang gemar clubbing menginginkannya untuk meningkatkan energi. Padahal, di negara-negara seperti Norwegia, Uruguay, dan Denmark, Red Bull dilarang karena alasan kekhawatiran terhadap kesehatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minuman kaleng Red Bull berisi 250 ml itu hanya mengandung 80 mg kafein. Artinya, hanya sedikit di atas secangkir kopi instan. Tapi, faktanya menunjukkan banyak anak-anak muda mendapat pengaruh buruk, bahkan sampai meregang nyawa, setelah meminumnya berkaleng-kaleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betul, semuanya juga tergantung pada reaksi tubuh masing-masing orang terhadap kafein. Sebagian ada yang sensitif terhadap stimulan itu. Artinya, meskipun minum sedikit saja, masih bisa memicu debaran jantung dan meningkatkan tekanan darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah studi juga meningkatkan peringatan terhadap penggunaan minuman energi yang terlalu banyak sebelum menjalani latihan kebugaran. Awal tahun ini, seorang pembalap motor di Australia mengalami serangan jantung setelah mengkonsumsi tujuh kaleng Red Bull sebelum balapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun lalu, sejumlah ahli di Rumah Sakit Henry Ford, Detroit, meminta pasien masalah jantung untuk menghindari minuman energi. Pasalnya, hal tersebut bisa memacu debar jantung dan tekanan darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian lainnya di Pusat Riset Cardiovascular di Adelaide, Australia, memunculkan kekhawatiran lain. Menurut penelitian itu, sekaleng Red Bull bebas gula, bisa menyebabkan efek terhadap jantung dalam 60 menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka memberikan 30 orang minuman dan mengujinya sejam kemudian. Hasilnya, mereka menemukan mengentalnya darah, sama seperti yang mereka temukan pada pasien dengan masalah jantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toh, juru bicara Red Bull Australia, memicingkan mata terhadap penelitian itu. “Studi itu tak menunjukkan efek yang lebih jauh daripada meminum secangkir kopi,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minuman energi dengan kadar yang tinggi juga dipersalahkan atas sikap buruk para pelajar. Sejumlah sekolah di Inggris, belum lama ini, melarang minuman semacam Red Bull dan 925 Energy Shot yang mengandung konten kafein tinggi.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4783875443562043141-6051400242349667816?l=askep-kesehatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/6051400242349667816'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/6051400242349667816'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-kesehatan.blogspot.com/2009/07/bahaya-minum-minuman-energi.html' title='Bahaya Minum Minuman Energi'/><author><name>elly</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_nt1knDXPQbQ/SBXu2-Vx8SI/AAAAAAAAACc/sHjT5rmXyC8/S220/frudo.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4783875443562043141.post-361076572475263861</id><published>2009-07-16T16:59:00.000+07:00</published><updated>2009-07-16T17:00:12.928+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PENGOBATAN'/><title type='text'>Obat Alternatif Radang Gusi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(0, 0, 0); font-family: 'times new roman'; font-size: 16px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana; font-size: 13px;"&gt;&lt;div class="smallfont" style="font-family: verdana,geneva,lucida,'lucida grande',arial,helvetica,sans-serif; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 11px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;&lt;strong&gt;Obat Alternatif Radang Gusi&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;hr style="color: rgb(209, 209, 225); background-color: rgb(209, 209, 225);" size="1"&gt;&lt;div id="post_message_102276296"&gt;&lt;img src="http://img138.imageshack.us/img138/2273/1023henna2zz1.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(0, 0, 0); font-family: 'times new roman'; font-size: 16px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana; font-size: 13px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(0, 0, 0); font-family: 'times new roman'; font-size: 16px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana; font-size: 13px;"&gt;&lt;div id="post_message_102276296"&gt;Peneliti dari Fakultas Kedokteran gigi, Universitas Indonesia (FKG-UI), Lies Zubardiah M. Qosim, menemukan obat alternatif baru yang berasal dari daun "Lawsonia inermis Linnaeus" atau dikenal sebagai daun inai atau henna sebagai obat alternatif untuk radang gusi.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(0, 0, 0); font-family: 'times new roman'; font-size: 16px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana; font-size: 13px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(0, 0, 0); font-family: 'times new roman'; font-size: 16px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana; font-size: 13px;"&gt;&lt;div id="post_message_102276296"&gt;Lies Zubardiah, dalam keterangan persnya mengatakan, penelitian ini membuktikan peranan daun Lawsonia inermis Linnaeus atau dikenal sebagai daun inai atau henna yang oleh masyarakat pedesaan tertentu di Indonesia sering digunakan sebagai obat penyembuh luka kulit di badan.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(0, 0, 0); font-family: 'times new roman'; font-size: 16px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana; font-size: 13px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(0, 0, 0); font-family: 'times new roman'; font-size: 16px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana; font-size: 13px;"&gt;&lt;div id="post_message_102276296"&gt;Ia menjelaskan penelitian obat mulut alternatif ini menggunakan berbagai macam pengujian, seperti uji fitokimia, uji antibakteri terhadap "Streptococcus sanguinis", uji toksisitas akut, uji sitotoksisitas, uji penyembuhan gingivitis pada hewan coba dan manusia, serta uji penyerapan warna pada gigi.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(0, 0, 0); font-family: 'times new roman'; font-size: 16px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana; font-size: 13px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(0, 0, 0); font-family: 'times new roman'; font-size: 16px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana; font-size: 13px;"&gt;&lt;div id="post_message_102276296"&gt;Hasil penelitian itu ditemukan bahwa daun hena yang mengandung golongan senyawa antibakteri, seperti flavonoid, minyak atsiri, saponin, steroid, triterpen, dan tanin, yang terbukti ampuh melawan bakteri S. sanguinis, dapat menurunkan konsentrasi plak, tidak bersifat toksit pada manusia, dan menyembuhkan gingivitis.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(0, 0, 0); font-family: 'times new roman'; font-size: 16px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana; font-size: 13px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(0, 0, 0); font-family: 'times new roman'; font-size: 16px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana; font-size: 13px;"&gt;&lt;div id="post_message_102276296"&gt;Hasil penelitian yang sedang dalam proses Hak atas Kekayaaan atas Intelektual (HAKI) ini, merupakan salah satu bentuk obat alternatif yang lebih aman untuk pengobatan radang gusi pada anak- anak dan dewasa.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(0, 0, 0); font-family: 'times new roman'; font-size: 16px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana; font-size: 13px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(0, 0, 0); font-family: 'times new roman'; font-size: 16px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana; font-size: 13px;"&gt;&lt;div id="post_message_102276296"&gt;Seperti diketahui, salah satu jenis gangguan kesehatan pada gigi dan mulut adalah gingivitis (radang gusi). Gingivitis adalah jenis penyakit periodontal yang paling sering ditemukan pada 80 persen anak usia 11-13 tahun di negara-negara berkembang dan bersifat kronis.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(0, 0, 0); font-family: 'times new roman'; font-size: 16px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana; font-size: 13px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(0, 0, 0); font-family: 'times new roman'; font-size: 16px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana; font-size: 13px;"&gt;&lt;div id="post_message_102276296"&gt;Jika dibiarkan berlanjut, gingivitis dapat menjadi periodontitis (peradangan jaringan penyangga gigi), sehingga gigi menjadi goyang dan mudah lepas. Faktor etiologi utama gingivitis adalah plak bakteri, yang mampu merusak jaringan penyangga gigi dimulai dengan kerusakan pada gingiva (gusi).&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(0, 0, 0); font-family: 'times new roman'; font-size: 16px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana; font-size: 13px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(0, 0, 0); font-family: 'times new roman'; font-size: 16px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana; font-size: 13px;"&gt;&lt;div id="post_message_102276296"&gt;"Streptococcus sanguinis" merupakan salah satu bakteri yang paling banyak dijumpai di dalam plak. Plak melekat erat pada gigi dan hanya dapat dihilangkan melalui pembersihan dengan sikat gigi dan alat pembersih interdental. Senyawa yang bersifat antibakteri dibutuhkan untuk membantu menghilangkan peradangan.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(0, 0, 0); font-family: 'times new roman'; font-size: 16px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana; font-size: 13px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(0, 0, 0); font-family: 'times new roman'; font-size: 16px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana; font-size: 13px;"&gt;&lt;div id="post_message_102276296"&gt;Sumber :&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.tribun-timur.com/read/artikel/38885" target="_blank" style="color: rgb(34, 34, 156);"&gt;http://www.tribun-timur.com/read/artikel/38885&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4783875443562043141-361076572475263861?l=askep-kesehatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/361076572475263861'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/361076572475263861'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-kesehatan.blogspot.com/2009/07/obat-alternatif-radang-gusi.html' title='Obat Alternatif Radang Gusi'/><author><name>elly</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_nt1knDXPQbQ/SBXu2-Vx8SI/AAAAAAAAACc/sHjT5rmXyC8/S220/frudo.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4783875443562043141.post-5860386058048180151</id><published>2009-07-16T16:30:00.003+07:00</published><updated>2009-07-16T16:47:58.027+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='penyakit'/><title type='text'>Penyakit Berbahaya Yang Ditularkan Hewan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Flu babi hanya salah satu dari banyak penyakit mematikan yang berasal dari hewan yang kemudian ditularkan kepada manusia.&lt;br /&gt;Penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia disebut dengan zoonoses dan menurut para ilmuwan perkembangan penyakit tersebut tengah menanjak. Berikut adalah lima penyakit berbahaya yang ditularkan dari hewan, dikutip dari Live Science:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pandemi Influenza&lt;br /&gt;Influenza berbahaya bisa menyebar dari burung, babi dan binatang lain. Pada 1918 pandemi influenza memakan banyak korban hanya dalam hitungan bulan. Membunuh hampir 50 juta orang. Seperlima dari populasi dunia terinfeksi virus tersebut, dan membunuh lebih dari 25 persen penduduk Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Wabah Bubonic&lt;br /&gt;Bubonic disebabkan oleh infeksi bakteri Yersinia pestis yang dibawa oleh hewan pengerat dan juga kucing. Jika terinfeksi, seseorang akan mengalami pembengkakan kelenjar getah bening. Wabah ini menggemparkan dunia pada abad ke 14 dan pada masa itu dikenal juga dengan sebutan Black Death. Saat itu bubonic mewabah dari Eropa, Mesir hingga seluruh kawasan Asia. Sebanyak 75 juta orang tewas dan hanya 360 orang yang sempat terobati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. HIV/AIDS&lt;br /&gt;Virus HIV yang menyebabkan penyakit AIDS aslinya berasal dari simpanse dan hewan primata lainnya. Diyakini virus ini pertama kali menginfeksi manusia pada abad lalu. Menurut data kesehatan dunia pada akhir 2007 diperkirakan sebanyak 33 juta orang mengidap HIV, termasuk 2,7 juta kasus baru setiap tahunnya. Sebanyak 2 juta orang meninggal dunia termasuk 270.000 anak-anak. Dua pertiga infeksi HIV terjadi di Sub Sahara Afrika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Parasit Gila&lt;br /&gt;Parasit aneh bernama Toxoplasma gondii menginfeksi otak manusia. Lebih dari setengah populasi manusia terjangkit virus tersebut, termasuk 50 juta warga Amerika. Konon virus ini meningkatkan resiko terkena neuroticism dan berkembang menjadi schizophrenia. Tempat tinggal utama virus ini adalah pada tubuh kucing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. ‘Crabs’ ditularkan oleh Gorilla&lt;br /&gt;Sekira tiga juta tahun lalu manusia menemukan sejenis kutu berbahaya pada tubuh gorilla. Kutu tersebut ternyata menginfeksi penyakit bernama “crabs”.Awal penyebarannya adalah jika manusia tidur di sarang gorilla atau memakan dagingnya, demikian kesimpulan yang diperoleh para ilmuwan pada 2007.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4783875443562043141-5860386058048180151?l=askep-kesehatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/5860386058048180151'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/5860386058048180151'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-kesehatan.blogspot.com/2009/07/penyakit-berbahaya-yang-ditularkan.html' title='Penyakit Berbahaya Yang Ditularkan Hewan'/><author><name>elly</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_nt1knDXPQbQ/SBXu2-Vx8SI/AAAAAAAAACc/sHjT5rmXyC8/S220/frudo.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4783875443562043141.post-2229792190408145768</id><published>2009-07-16T16:29:00.002+07:00</published><updated>2009-07-16T16:30:17.954+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ASKEP'/><title type='text'>Askep Post Partum Fisiologis</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;DEFINISI PUERPERIUM / NIFAS&lt;br /&gt;Adalah masa sesudah persalinan dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhirnya ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil, masa nifas berlangsung selama  6 minggu.&lt;br /&gt;(Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2002)&lt;br /&gt;adalah masa sesudah persalinan yang diperlukan untuk pulihnya kembali alat kandungan yang lamanya 6 minggu. (Obstetri Fisiologi, 1983)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;II.PERIODE&lt;br /&gt;Masa nifas dibagi dalam 3 periode:&lt;br /&gt;1.Early post partum&lt;br /&gt;Dalam 24 jam pertama.&lt;br /&gt;2.Immediate post partum&lt;br /&gt;Minggu pertama post partum.&lt;br /&gt;3.Late post partum&lt;br /&gt;Minggu kedua sampai dengan minggu keenam.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;III.TUJUAN ASUHAN KEPERAWATAN&lt;br /&gt;1.Menjaga kesehatan Ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologiknya.&lt;br /&gt;2.Melaksanakan skrining yang komprehensif, mendeteksi masalah, mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayinya.&lt;br /&gt;3.Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, keluarga berencana, menyusui, pemberian imunisasi kepada bayinya dan perawatan bayi sehat.&lt;br /&gt;4.Memberikan pelayanan keluarga berencana.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4783875443562043141-2229792190408145768?l=askep-kesehatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/2229792190408145768'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/2229792190408145768'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-kesehatan.blogspot.com/2009/07/askep-post-partum-fisiologis.html' title='Askep Post Partum Fisiologis'/><author><name>elly</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_nt1knDXPQbQ/SBXu2-Vx8SI/AAAAAAAAACc/sHjT5rmXyC8/S220/frudo.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4783875443562043141.post-5291478492937257730</id><published>2009-07-16T16:29:00.001+07:00</published><updated>2009-07-16T16:29:37.111+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ASKEP'/><title type='text'>Askep Partus macet</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;A.DEFINISI&lt;br /&gt;Partus macet adalah suatu keadaan dari suatu persalinan yang mengalami kemacetan dan berlangsung lama sehingga timbul komplikasi ibu maupun janin (anak).&lt;br /&gt;Partus macet merupakan persalinan yang berjalan lebih dari 24 jam untuk primigravida dan atau 18 jam untuk multi gravida.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;B.ETIOLOGI&lt;br /&gt;Penyebab persalinan lama diantaranya adalah kelainan letak janin, kelainan panggul, kelainan keluaran his dan mengejan, terjadi ketidakseimbangan sefalopelfik, pimpinan persalinan yang salah dan primi tua primer atau sekunder.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;C.DIAGNOSIS&lt;br /&gt;1.Keadaan Umum ibu&lt;br /&gt;Dehidrasi, panas&lt;br /&gt;Meteorismus, shock&lt;br /&gt;Anemia, oliguri&lt;br /&gt;2.Palpasi&lt;br /&gt;His lemah&lt;br /&gt;Gerak janin tidak ada&lt;br /&gt;Janin mudah diraba&lt;br /&gt;3.Auskultasi&lt;br /&gt;Denyut jantung janin, takikardia, irreguler, negatif (jika janin sudah mati)&lt;br /&gt;4.Pemeriksaan dalam&lt;br /&gt;Keluar air ketuban yang keruh dan berbau bercamput dengan mekonium&lt;br /&gt;Bagian terendah anak sukar digerakkan, mudah didorong jika sudah terjadi rupture uteri&lt;br /&gt;Suhu rectal lebih tinggi 37,50 c&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;DIAGNOSA BANDING&lt;br /&gt;Kehamilan / persalinan dengan infeksi ektra genital, disini suhu aksila lebih tinggi dari rectal dan ketuban biasanya masih utuh&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;D.KOMPLIKASI&lt;br /&gt;Ibu&lt;br /&gt;1.Infeksi sampai sepsis&lt;br /&gt;2.asidosis dengan gangguan elektrolit&lt;br /&gt;3.dehidrasi, syock, kegagalan fungsi organ-organ&lt;br /&gt;4.robekan jalan lahir&lt;br /&gt;5.fistula buli-buli, vagina, rahim dan rectum&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;janin&lt;br /&gt;1.Gawat  janin dalam rahim sampai meninggal&lt;br /&gt;2.lahir dalam asfiksia berat sehingga dapat menimbulkan cacat otak menetap&lt;br /&gt;3.trauma persalinan, fraktur clavicula, humerus, femur&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4783875443562043141-5291478492937257730?l=askep-kesehatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/5291478492937257730'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/5291478492937257730'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-kesehatan.blogspot.com/2009/07/askep-partus-macet.html' title='Askep Partus macet'/><author><name>elly</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_nt1knDXPQbQ/SBXu2-Vx8SI/AAAAAAAAACc/sHjT5rmXyC8/S220/frudo.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4783875443562043141.post-7086959227149076675</id><published>2009-07-16T16:28:00.002+07:00</published><updated>2009-07-16T16:28:43.204+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ASKEP'/><title type='text'>Askep Sectio Caesarea</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;A.PENGERTIAN&lt;br /&gt;Operasi caesarea adalah kelahiran janin cukup bulan hidup melalui insisi sayatan) pada dinding perut dan rahim bagian depan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;B.ETIOLOGI&lt;br /&gt;Infeksi ekstrakranial , misalnya OMA dan infeksi respiratorius bagian atas&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;C.PATOFISIOLOGI&lt;br /&gt;Peningkatan suhu tubuh dapat mengubah keseimbangan dari membran sel neuron dan dalam waktu singkat terjadi difusi ion kalium dan natrium melalui membran tersebut dengan akibat teerjadinya lepas muatan listrik. Lepas muatan listrik ini demikian besarnya sehingga dapat meluas keseluruh sel maupun membran sel sekitarnya dengan bantuan bahan yang disebut neurotransmiter dan terjadi kejang. Kejang demam yang terjadi singkat pada umumnya tidak berbahaya dan tidak meninggalkan gejala sisa. Tetapi kejang yang berlangsung lama ( lebih dari 15 menit ) biasanya disertai apnea, meningkatnya kebutuhan oksigen dan energi untuk kontraksi otot skelet yang akhirnya terjadi hipoksemia, hiperkapnia, asidosis laktat yang disebabkan oleh metabolisme anaerobik, hipotensi arterial disertai denyut jantung yang tidak teratur dan suhu tubuh makin meningkat yang disebabkan oleh makin meningkatnya aktivitas otot, dan selanjutnya menyebabkan metabolisme otak meningkat. Faktor terpenting adalah gangguan peredaran darah yang mengakibatkan hipoksia sehingga meningkatkan permeabilitas kapiler dan timbul edema otak yang mngakibatkan kerusakan sel neuron otak. Kerusakan pada daerah medial lobus temporalis setelah mendapat serangan kejang yang berlangsung lama dapat menjadi matang dikemudian hari sehingga terjadi serangan epilepsi spontan, karena itu kejang demam yang berlangsung lama dapat menyebabkan kelainan anatomis diotak hingga terjadi epilepsi.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4783875443562043141-7086959227149076675?l=askep-kesehatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/7086959227149076675'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/7086959227149076675'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-kesehatan.blogspot.com/2009/07/askep-sectio-caesarea.html' title='Askep Sectio Caesarea'/><author><name>elly</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_nt1knDXPQbQ/SBXu2-Vx8SI/AAAAAAAAACc/sHjT5rmXyC8/S220/frudo.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4783875443562043141.post-5739773733316281307</id><published>2009-07-16T16:26:00.002+07:00</published><updated>2009-07-16T16:28:06.249+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ASKEP'/><title type='text'>Askep Hydramnion</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Definisi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Hydramnion adalah suatu keadaan di mana jumlah air ketuban jauh lebih banyak dari normal. Biasanya kalau lebih dari 2 liter.&lt;br /&gt;Beberapa ahli ada yang mendapat 4-5 liter, sedangkan Kustner bahkan menjumpai sampai 15 liter pada kehamilan baru 5 bulan (Rustam Mochtar, 1989).&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Jalannya Penyakit :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;1)secara kronik :&lt;br /&gt;Kita dapati pertambahan air ketuban secara perlshsn-lahandalam beberapa minggu/bulan.&lt;br /&gt;Biasanya terjadi pada kehamilan yang lanjut.&lt;br /&gt;Kronik hidramnion sangat banyak dijumpai.&lt;br /&gt;2). Secara Akut :&lt;br /&gt;Bila pertambahan air ketuban sangat tiba-tiba dan cepat dalam beberapa hari saja&lt;br /&gt;Biasanya pada kehamilan yang agak mda bulan ke 5 dan ke 6.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Insiden :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;1)dari kongenitalanomali lebih sering kita dapati yaitu 17,7-29 %&lt;br /&gt;2)Hidramnion sering dijumpai bersamaan dengan gemelli atau hamil ganda (12,5 %), Hidrops foetalis, diabetes mellitus, Toksemia gravidarum&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4783875443562043141-5739773733316281307?l=askep-kesehatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/5739773733316281307'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/5739773733316281307'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-kesehatan.blogspot.com/2009/07/askep-hydramnion.html' title='Askep Hydramnion'/><author><name>elly</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_nt1knDXPQbQ/SBXu2-Vx8SI/AAAAAAAAACc/sHjT5rmXyC8/S220/frudo.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4783875443562043141.post-74953059721896270</id><published>2009-07-16T16:26:00.001+07:00</published><updated>2009-07-16T16:26:53.351+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ASKEP'/><title type='text'>Askep Haemoragi Post Partum</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Pengertian&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Perdarahan yang terjadi setelah melahirkan anak dalama 24 jam yang jumlahnya lebih dari 500-600 cc.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Insiden&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pada negara berkembang kasus ini mencapai 5-15 % dari seluruh jumlah persalinan yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Etiologi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;1.Atonia uteri (50-60 %).&lt;br /&gt;2.Retensio placenta (16-17%).&lt;br /&gt;3.Sisa placenta (23-24 %).&lt;br /&gt;4.Laserasi jalan lahir (4-5 %).&lt;br /&gt;5.Kelainan darah (0,5-0,8 %).&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Predisposisi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Umur (yang terlalu tua atau terlalu muda pada saat melahirkan), paritas (Multi para atau grandemulti), partus lama, obstetri oprastif dan narkose, uterus terlalu tegang dan besar, kelainan pada uterus (myoma uteri), Sosek yang kurang yang dapat menyebabkan malnutrisi.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Diagnosis&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;1.Palpasi: kontraksi uterus dan TFU.&lt;br /&gt;2.Inspeksi: Uri, ketuban (lengkap atau tidak), aapakah ada robekan di vagina atau adanya varises.&lt;br /&gt;3.Eksplorasi cavum uteri: sisa uri dan ketuban, robekan rahim, placenta suksenturiata.&lt;br /&gt;4.Pemeriksaan laboratoris: DL (Hb), Faal hemostasis, Clot observastion test (COT).&lt;br /&gt;5.Pemeriksaan USG jika diperlukan.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Gejala&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Perdarahan yang lebih dari 500-600 cc, kontraksi uterus lemah, uterus lembek (boggy), Sub involusi (fundus uteri naik), muka pucat/ anemis.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Prognosis&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Angka kematian ibu mencapai 7,9 % (Mochtar. R), dan menurut Wignyosastro angka kematian ibu mencapai 1,8-4,5% dari kasus yang ada.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4783875443562043141-74953059721896270?l=askep-kesehatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/74953059721896270'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/74953059721896270'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-kesehatan.blogspot.com/2009/07/askep-haemoragi-post-partum.html' title='Askep Haemoragi Post Partum'/><author><name>elly</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_nt1knDXPQbQ/SBXu2-Vx8SI/AAAAAAAAACc/sHjT5rmXyC8/S220/frudo.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4783875443562043141.post-2446474711273565095</id><published>2009-07-16T16:24:00.002+07:00</published><updated>2009-07-16T16:26:27.934+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ASKEP'/><title type='text'>Askep Endometriosis</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Definisi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Endometriosis merupakan suatu kondisi yang dicerminkan dengan keberadaan dan pertumbuhan jaringan endometrium di luar uterus. Jaringan endometrium itu bisa tumbuh di ovarium, tuba falopii, ligamen pembentuk uterus, atau bisa juga tumbuh di apendiks, colon, ureter dan pelvis.&lt;br /&gt;( Scott, R James, dkk. 2002. Buku Saku Obstetri dan Gynekologi. Widya Medica: Jakarta&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Etiologi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa faktor resiko penyebab terjadinya endometriosis, antara lain:&lt;br /&gt;1 Wanita usia produktif ( 15 – 44 tahun )&lt;br /&gt;2 Wanita yang memiliki siklus menstruasi yang pendek (&lt;27 hari)&lt;br /&gt;3 Menstruasi yang lama (&gt;7 hari)&lt;br /&gt;4 Spotting sebelum menstruasi&lt;br /&gt;5 Peningkatan jumlah estrogen dalam darah&lt;br /&gt;6 Keturunan : memiliki ibu yang menderita penyakit yang sama.&lt;br /&gt;7 Memiliki saudara kembar yang menderita endometriosis&lt;br /&gt;8 Terpapar Toksin dari lingkungan&lt;br /&gt;Biasanya toksin yang berasal dari pestisida, pengolahan kayu dan produk kertas, pembakaran sampah medis dan sampah-sampah perkotaan.&lt;br /&gt;(Scott, R James, dkk. 2002. Buku Saku Obstetri dan Gynekologi. Widya Medica:Jakarta.)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Manifestasi Klinis&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tanda dan gejala endometriosis antara lain :&lt;br /&gt;1. Nyeri :&lt;br /&gt;• Dismenore sekunder&lt;br /&gt;• Dismenore primer yang buruk&lt;br /&gt;• Dispareunia&lt;br /&gt;• Nyeri ovulasi&lt;br /&gt;• Nyeri pelvis terasa berat dan nyeri menyebar ke dalam paha, dan nyeri pada bagian abdomen bawah selama siklus menstruasi.&lt;br /&gt;• Nyeri akibat latihan fisik atau selama dan setelah hubungan seksual&lt;br /&gt;• Nyeri pada saat pemeriksaan dalam oleh dokter&lt;br /&gt;2. Perdarahan abnormal&lt;br /&gt;• Hipermenorea&lt;br /&gt;• Menoragia&lt;br /&gt;• Spotting sebelum menstruasi&lt;br /&gt;• Darah menstruasi yang bewarna gelap yang keluar sebelum menstruasi atau di akhir menstruasi&lt;br /&gt;3. Keluhan buang air besar dan buang air kecil&lt;br /&gt;• Nyeri sebelum, pada saat dan sesudah buang air besar&lt;br /&gt;• Darah pada feces&lt;br /&gt;• Diare, konstipasi dan kolik&lt;br /&gt;(Scott, R James, dkk. 2002. Buku Saku Obstetri dan Gynekologi. Widya Medica: Jakarta.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4783875443562043141-2446474711273565095?l=askep-kesehatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/2446474711273565095'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/2446474711273565095'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-kesehatan.blogspot.com/2009/07/askep-endometriosis.html' title='Askep Endometriosis'/><author><name>elly</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_nt1knDXPQbQ/SBXu2-Vx8SI/AAAAAAAAACc/sHjT5rmXyC8/S220/frudo.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4783875443562043141.post-5357618972599160473</id><published>2009-07-16T16:24:00.001+07:00</published><updated>2009-07-16T16:24:31.170+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kesehatan'/><title type='text'>Masturbasi Dapat Menyebabkan Kanker</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pria muda yang melakukan masturbasi akan mempunyai resiko yang lebih besar terkena kanker prostat pada saat mereka tua nantinya, tetapi sebaliknya memuaskan diri sendiri pada umur pertengahan malah akan melindungi dari timbulnya tumor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan ini ditemukan oleh para peneliti dari Nottingham University di mana meneliti kehidupan seksual dari 800 pria. Separuh mereka terdiagnosa menderita kanker dan sisanya bebas dari penyakit tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka ditanyai seberapa sering melakukan seks dan masturbasi, serta berapa jumlah pasangan yang mereka punya selama masa umur 20 tahunan, 30 tahunan, 40 tahunan dan 50 tahunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para peneliti tersebut menemukan 40% dari pria yang menderita kanker prostat, laporannya menunjukkan kalau aktivitas seksual mereka paling tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari sepertiganya mengatakan mereka melakukan masturbasi sebanyak 2 sampai tujuh kali dalam seminggu ketika mereka masih berusia 20 tahunan. Pola yang sama berlanjut pada usia 30 tahunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi pada usia pertengahan, fakta itu berbalik. Pria yang melakukan masturbasi punya kemungkinan paling kecil terkena tumor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini sudah diketahui kalau kanker prostat berhubungan dengan tingkatan dari hormon testosteron pria yang mana mengatur dorongan seks pada pria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr Polyxeni Dimitropoulou, yang mengepalai penelitian itu, mengatakan: "Dorongan seks pada pria juga diatur oleh tingkatan dari hormon mereka, jadi penelitian ini ingin membuktikan kebenaran dari teori yang mengatakan bahwa mempunyai dorongan seks yang tinggi akan berakibat pada resiko terkena kanker prostat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami menemukan hubungan yang sangat erat antara kanker prostat dengan aktivitas seksual pada pria usia 20 tahunan, dan antara masturbasi dengan kanker prostat pada usia 20 serta 30 tahunan mereka," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr Dimitropoulou menambahkan: "Penjelasan yang paling mungkin kenapa masturbasi pada pria usia 50 tahunan justru menimbulkan efek perlindungan adalah terjadinya pelepasan racun yang terkumpul selama melakukan aktivitas seksual itu. Hal itu tentunya akan mengurangi resiko berkembangnya kanker di bagian prostat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap tahunnya banyak terjadi kasus kanker prostat, tetapi kebanyakan terjadi pria berusia lanjut, terutama pada pria yang berumur 70 tahun ke atas.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4783875443562043141-5357618972599160473?l=askep-kesehatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/5357618972599160473'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/5357618972599160473'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-kesehatan.blogspot.com/2009/07/masturbasi-dapat-menyebabkan-kanker.html' title='Masturbasi Dapat Menyebabkan Kanker'/><author><name>elly</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_nt1knDXPQbQ/SBXu2-Vx8SI/AAAAAAAAACc/sHjT5rmXyC8/S220/frudo.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4783875443562043141.post-7040442062195217428</id><published>2009-07-16T16:20:00.001+07:00</published><updated>2009-07-16T16:23:24.774+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kesehatan'/><title type='text'>7 Larangan Setelah Makan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;* Don't smoke- Experiment from experts proves that smoking a cigarette after meal is comparable to smoking 10 cigarettes(chances of cancer is higher).&lt;br /&gt;Jangan Merokok - Penelitian dari para ahli membuktikan bahwa merokok sebatang rokok setelah makan sama dengan merokok 10 rokok (kemungkinan terserang kanker lebih besar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Don't eat fruits immediately - Immediately eating fruits after meals will cause stomach to be bloated with air.. Therefore take fruit 1-2 hr after meal or 1hr beforemeal.&lt;br /&gt;Jangan langsung makan buah-buahan - Langsung makan buah-buahan setelah makan akan menyebabkan perut dipenuhi dengan udara. Untuk itu makanlah buah-buahan 1-2 jam setelah makan atau 1 jam sebelum makan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Don't drink tea - Because tea leaves contain a high content of acid.This substance will cause the Protein content in the food we consume to be hardened thus difficult todigest.&lt;br /&gt;Jangan minum The - karena daun the mengandung kandungan asam yang tinggi. Kandungan ini akan menyebabkan kandungan protein pada makanan yang telah Kita konsumsi sulit untuk dicerna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Don't loosen your belt - Loosening the belt after a meal will easily cause the intestine to be twisted &amp;amp; blocked.&lt;br /&gt;Jangan mengendorkan ikat pinggangmu - Mengendorkan ikat pinggang setelah makan akan menyebabkan usus terbelit Dan terblokir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Don't bathe - Bathing will cause the increase of blood flow to the hands, legs &amp;amp; body thus the amount of blood around the stomach will therefore decrease. This will weaken the digestive system in our stomach.&lt;br /&gt;Jangan Mandi - Mandi akan menaikan aliran darah ke tangan, kaki Dan badan yang menyebabkan jumlah darah sekitar perut akan terus berkurang. Hal ini akan melemahkan system pencernaan di dalam perut Kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Don't walk about - People always say that after a meal walk a hundred steps and you will live till 99. In actual fact this is not true. Walking will cause the digestive system to be unable to absorb the nutrition from the food we intake.&lt;br /&gt;Jangan Berjalan-jalan - Orang-orang sering mengatakan bahwa berjalan beberapa langkah setelah makan akan memperpanjang umur. Pada kenyataannya hal ini tidaklah benar. Berjalan akan menyebabkan system pencernaan tidak mampu menyerab nutrisi dari makanan yang telah Kita makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Don't sleep immediately - The food we intake will not be able to digest properly. Thus will lead to gastric &amp;amp; infection in our intestine.&lt;br /&gt;Jangan langsung tidur - Makanan yang Kita makan tidak dapat dicerna secara baik. Hal ini akan menyebabkan usus mengalami kembung Dan peradangan.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4783875443562043141-7040442062195217428?l=askep-kesehatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/7040442062195217428'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/7040442062195217428'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-kesehatan.blogspot.com/2009/07/7-larangan-setelah-makan.html' title='7 Larangan Setelah Makan'/><author><name>elly</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_nt1knDXPQbQ/SBXu2-Vx8SI/AAAAAAAAACc/sHjT5rmXyC8/S220/frudo.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4783875443562043141.post-4628541831398972235</id><published>2009-07-16T16:19:00.000+07:00</published><updated>2009-07-16T16:20:18.410+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ASKEP'/><title type='text'>ASKEP Stroke hemoragic</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;A.Definisi&lt;br /&gt;Gangguan peredaran darah diotak (GPDO) atau dikenal dengan CVA ( Cerebro Vaskuar Accident) adalah gangguan fungsi syaraf yang disebabkan oleh gangguan aliran darah dalam otak yang dapat timbul secara mendadak ( dalam beberapa detik) atau secara cepat ( dalam beberapa jam ) dengan gejala atau tanda yang sesuai dengan daerah yang terganggu.(Harsono,1996, hal 67)&lt;br /&gt;Stroke atau cedera cerebrovaskuler adalah kehilangan fungsi otak yang diakibatkan oleh berhentinya suplai darah ke bagian otak sering ini adalah kulminasi penyakit serebrovaskuler selama beberapa tahun. (Smeltzer C. Suzanne, 2002, hal 2131)&lt;br /&gt;Penyakit ini merupakan peringkat ketiga penyebab kematian di United State. Akibat stroke pada setiap tingkat umur tapi yang paling sering pada usia antara 75 – 85 tahun. (Long. C, Barbara;1996, hal 176).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.Etiologi&lt;br /&gt;Penyebab-penyebabnya antara lain:&lt;br /&gt;1.Trombosis ( bekuan cairan di dalam pembuluh darah otak )&lt;br /&gt;2.Embolisme cerebral ( bekuan darah atau material lain )&lt;br /&gt;3.Iskemia ( Penurunan aliran darah ke area otak)&lt;br /&gt;(Smeltzer C. Suzanne, 2002, hal 2131)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C.Faktor resiko pada stroke&lt;br /&gt;1.Hipertensi&lt;br /&gt;2.Penyakit kardiovaskuler: arteria koronaria, gagal jantung kongestif, fibrilasi atrium, penyakit jantung kongestif)&lt;br /&gt;3.Kolesterol tinggi&lt;br /&gt;4.Obesitas&lt;br /&gt;5.Peningkatan hematokrit ( resiko infark serebral)&lt;br /&gt;6.Diabetes Melitus ( berkaitan dengan aterogenesis terakselerasi)&lt;br /&gt;7.Kontrasepasi oral( khususnya dengan disertai hipertensi, merkok, dan kadar estrogen tinggi)&lt;br /&gt;8.penyalahgunaan obat ( kokain)&lt;br /&gt;9.konsumsi alkohol&lt;br /&gt;(Smeltzer C. Suzanne, 2002, hal 2131)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D.Manifestasi klinis&lt;br /&gt;Gejala - gejala CVA muncul akibat daerah tertentu tak berfungsi yang disebabkan oleh terganggunya aliran darah ke tempat tersebut. Gejala itu muncul bervariasi, bergantung bagian otak yang terganggu.Gejala-gejala itu antara lain bersifat:&lt;br /&gt;a.Sementara&lt;br /&gt;Timbul hanya sebebtar selama beberapa menit sampai beberapa jam dan hilang sendiri dengan atau tanpa pengobatan. Hal ini disebut Transient ischemic attack (TIA). Serangan bisa muncul lagi dalam wujud sama, memperberat atau malah menetap.&lt;br /&gt;b.Sementara,namun lebih dari 24 jam&lt;br /&gt;Gejala timbul lebih dari 24 jam dan ini dissebut reversible ischemic neurologic defisit (RIND)&lt;br /&gt;c.Gejala makin lama makin berat (progresif)&lt;br /&gt;Hal ini desebabkan gangguan aliran darah makin lama makin berat yang dissebut progressing stroke atau stroke inevolution&lt;br /&gt;d.Sudah menetap/permanen&lt;br /&gt;E.Pemeriksaan Penunjang&lt;br /&gt;1.CT Scan&lt;br /&gt;Memperlihatkan adanya edema , hematoma, iskemia dan adanya infark&lt;br /&gt;2. Angiografi serebral&lt;br /&gt;membantu menentukan penyebab stroke secara spesifik seperti perdarahan atau obstruksi arteri&lt;br /&gt;3.Pungsi Lumbal&lt;br /&gt;menunjukan adanya tekanan normal&lt;br /&gt;tekanan meningkat dan cairan yang mengandung darah menunjukan adanya perdarahan&lt;br /&gt;4.MRI : Menunjukan daerah yang mengalami infark, hemoragik.&lt;br /&gt;5.EEG: Memperlihatkan daerah lesi yang spesifik&lt;br /&gt;6.Ultrasonografi Dopler : Mengidentifikasi penyakit arteriovena&lt;br /&gt;7.Sinar X Tengkorak : Menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal&lt;br /&gt;(DoengesE, Marilynn,2000 hal 292)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. Penatalaksanaan&lt;br /&gt;1. Diuretika : untuk menurunkan edema serebral .&lt;br /&gt;2. Anti koagulan: Mencegah memberatnya trombosis dan embolisasi.&lt;br /&gt;(Smeltzer C. Suzanne, 2002, hal 2131)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;G.KOMPLIKASI&lt;br /&gt;Hipoksia Serebral&lt;br /&gt;Penurunan darah serebral&lt;br /&gt;Luasnya area cedera&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4783875443562043141-4628541831398972235?l=askep-kesehatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/4628541831398972235'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/4628541831398972235'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-kesehatan.blogspot.com/2009/07/askep-stroke-hemoragic.html' title='ASKEP Stroke hemoragic'/><author><name>elly</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_nt1knDXPQbQ/SBXu2-Vx8SI/AAAAAAAAACc/sHjT5rmXyC8/S220/frudo.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4783875443562043141.post-2280994887214135966</id><published>2009-07-16T16:18:00.000+07:00</published><updated>2009-07-16T16:19:21.592+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ASKEP'/><title type='text'>ASKEP MIGREN|SAKIT KEPALA SEBELAH</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Disfungsi autonomik pembuluh darah dikulit kepala mengakibatkan tumbuhnya nyeri kepala yang dikenal sebagai migren. Sebenarnya mekanisme migren belum semuanya jelas. Tetapi banyak faktor – faktor yang menungkapkan bahwa prodram dini dari migraine pasti terkait pada vaso konstriksi arteri intra kranial.&lt;br /&gt;Gejala yang khas pada tahap dini ialah timbulnya skotoma dan wajah yang pucat. Prodrom itu disusul dengan timbulnya nyeri kepala sesisi dan wajah menjadi merah. Tidak lama kemudian timbul muntah – muntah, edema selaput lendir hidung, jari – jari tangan dan kaki.&lt;br /&gt;Gejala tersebut dianggap sebagai manifestasi tahap vasodolatasi arteri ekstra kranial.&lt;br /&gt;Apa yang menyebabkan disfungsi pembuluh darah masih belum diketahui, tetapi mungkin sekali suatu gangguan bawaan, karena faktor familial dan hereditas jelas ada pada migraine. ( Prof Dr. Mahar Mardjono, Neurologi klinis )&lt;br /&gt;Diantara sekian banyak jenis nyeri kepala, migraine merupakan jenis yang paling banyak diteliti dan dibicarakan, disamping penyebab yang masih misteri, maka insidennya yang cukup banyak mendorong para ahli untuk menelitinya.&lt;br /&gt;Aretaeusi ( 80 AD ) merupakan salah seorang peneliti nyeri kepala pada zamannya dan dialah yang pertama menguraikan gejala nyeri kepala yang mempunyai profile khas. Ia memperkenalkan jenis ini dengan nama “ HETEROCRANIA “ yang berarti nyeri kepala.&lt;br /&gt;Oleh Galen 50 tahun kemudian diubah menjadi “ HEMICRANIA “ dan kemudian para ahli dari prancis mengubahnya lagi kedalam bahasa mereka sebagai “ MEGRIM “ untuk jelasnya kata – katanya menjadi “ MIGRAINE “ ( Dr. Sidiarto. K )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. ANXIETAS / CEMAS&lt;br /&gt;Pengertian&lt;br /&gt;Cemas atau anxietas merupakan suatu perasaan khawatir yang samar – samar sumbernya, seringkali tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu tersebut.&lt;br /&gt;Anxietas adalah perasaan / respon emosional terhadap penilaian, perasaan tidak pasti dan tidak berdaya ( Stuart dan Sundeen, 1988 ). Keadaan emosi dialami secara objektif dan dikomunikasikan dalam hubungan interpersonal. Anxietas adalah respon emosional terhadap penilaian dalam kehidupan sehari – hari. Anxietas menggambarkan keadaan khawatir, gelisah, takut, tidak tentram disertai berbagai kekuhan fisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FAKTOR PREDISPOSISI&lt;br /&gt;1. TEORI PSIKO ANALITIK&lt;br /&gt;Menurut Freud, Struktur kepribadian terdiri dari 3 elemen yaitu “ ID, EGO, &amp;amp; SUPER EGO “. Ego melambangkan dorongan insting dan impuls primiti, Super Ego mencerminkan hati nurani seseorang dan dikendalikan oleh norma – norma budaya seseorang. Sedangkan Ego diagambarkan sebagai mediator antara tuntutan dari ID &amp;amp; Super Ego.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. TEORI INTERPERSONAL&lt;br /&gt;Anxietas terjadi dari ketakutan akan penolakan interpersonal. Hal ini juga dihubungkan dengan trauma pada masa pertumbuhan, seperti kehilangan, perpisahan individu yang mempunyai harga diri rendah biasanya sangat mudah mengalami anxietas yang berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. TEORI PERILAKU&lt;br /&gt;Ansietas merupakan hasil frusatasi dari segala sesuatu yang mengganggu kemampuan seseorang untuk mencapai tujuan yang diinginkan.&lt;br /&gt;Teori ini meyakini bahwa manusia yang pada awal kehidupannya dihadapkan pada rasa takut yang berlebihan akan menunjukkan kemungkinan ansietas yang berat pada kehidupan pada masa dewasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Ansietas Ringan&lt;br /&gt;Ansietas ringan Berhubungan dengan ketegangan akan peristiwa kehidupan sehari –hari. Pada tingkat ini lahan persepsi melebar dan individu akan berhati – hati dan waspada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Respon Fisiologis&lt;br /&gt;- Sesekali nafas pendek&lt;br /&gt;- Nada dan tekanan darah naik&lt;br /&gt;- Gejala ringan pada lambung&lt;br /&gt;- Muka berkerut dan bibir bergetar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Respon Kognitif&lt;br /&gt;- Mampu menerima rangsang yang kompleks&lt;br /&gt;- Konsentrasi pada masalah&lt;br /&gt;- Menyelesaikan masalah secara efektif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Respon Perilaku dan Emosi&lt;br /&gt;- Tidak dapat duduk tenang&lt;br /&gt;- Tremor halus pada tangan&lt;br /&gt;- Suara kadang – kadang meninggi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Ansietas sedang&lt;br /&gt;Pada tingkat ini lahan persepsi terhadap lingkungan menurun, individu lebih memfokuskan pada hal penting saat itu dan mengesampingkan hal lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Respon fisiologik&lt;br /&gt;- Sering nafas pendek&lt;br /&gt;- Nadi dan tekanan darah naik&lt;br /&gt;- Mulut kering&lt;br /&gt;- Anorexia&lt;br /&gt;- Diare / konstipasi&lt;br /&gt;- Gelisah&lt;br /&gt;Respon kognitif&lt;br /&gt;- Lapang persepsi menyempit&lt;br /&gt;- Rangsang luar tidak mampu diterima&lt;br /&gt;- Berfokus pada apa yang menjadi perhatiannya&lt;br /&gt;Respon perilaku dan emosi&lt;br /&gt;- Gerakan tersentak – sentak / meremas tangan&lt;br /&gt;- Bicara banyak dan lebih cepat&lt;br /&gt;- Susah tidur&lt;br /&gt;- Perasaan tidak aman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Ansietas Berat&lt;br /&gt;Pada ansietas berat lahan persepsi menjadi sangat sempit kemudian tidak mampu berfikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;STRESSOR PENCETUS&lt;br /&gt;Stressor pencetus mungkin berasal dari sumber internal atau eksternal. Stressor pencetus dapat dikelompokkan dalam dua kategori :&lt;br /&gt;1. Ancaman terhadap integritas seseorang meliputi ketidak mampuan fisiologis yang akan datang atau menurunnya kapasitas untuk melakukan aktifitas hidup sehari – hari&lt;br /&gt;2. Ancaman terhadap sistem diri seseorang dapat membahayakan identitas, harga diri dan fungsi sosial yang terintegrasi seseorang.&lt;br /&gt;( Stuart dan Sundeen)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GAMBARAN KLINIS&lt;br /&gt;Sensori kecemasan sering dialami oleh hampir semua manusia. Perasaan tersebut ditandai oleh rasa ketakutan yang difus, tidak menyenangkan dan samar – samar, seringkali disertai oleh gejala otonomik, seperti nyeri kepala, berkeringat, palpitasi, kekakuan pada dada dan gangguan lambung ringan.&lt;br /&gt;Seseorang yang cemas mungkin juga merasa gelisah, seperti yang dinyatakan oleh ketidak mampuan untuk duduk dan berdiri lama.&lt;br /&gt;Kumpulan gejala tertentu yang ditemukan selama kecemasan cenderung bervariasi dari orang ke orang.&lt;br /&gt;( Kaplan dan Sadock, ed 7 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• MIGRAINE&lt;br /&gt;Migraine adalah nyeri kepala rekuren, idiopatik, yang bermanifestasi sebagai serangan – serangan yang berlangsung antara 4 – 72 jam. Ciri – ciri nyeri kepala yang khas besifat unilateral, berdenyut – denyut, dengan intensitas nyeri dari sedang hingga berat dan diperburuk oleh aktifitas fisik rutin dengan fotofobia atau fonofobia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ETHIOLOGI&lt;br /&gt;Lokasi nyeri kebanyakan sesisi, tetapi dapat pula seluruh kepala, dan yang paling sering didaerah pelipis, temporal, dapat pula di frontal dan oksipital.&lt;br /&gt;Dapat pula nyeri dimulai dari temporal atau oksipital kemudian menjalar ke daerah lain atau seluruh kepala.&lt;br /&gt;( Dr. Sidiarto. M, Nyeri Kepala menahun )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PATHOGENESIS&lt;br /&gt;Biarpun migraine sudah dikenal sejak lama, tidak banyak yang diketahui tentang pathogenesisnya.&lt;br /&gt;Kemajuan teknologi telah berubah banyak, sehingga salam abad terakhir ini banyak diketahui hal – hal yang terjadi disekitar dan selama serangan migraine.&lt;br /&gt;Ada dua pendapat yaitu pengamat kelompok teori vasogen yang beranggapan bahwa serangan migraine disebabkan oleh perubahan aliran darah dikepala, sedangkan pengamat teori neurogen beranggapan bahwa perubahan primer pada serangan migraine terjadi pada jaringan otot sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KLASIFIKASI MIGRAINE&lt;br /&gt;Klasifikasi migraine yang digunakan sekarang adalah klasifikasi yang dikeluarkan oleh “ International Headache Society “ ( HIS 1988 ), yaitu :&lt;br /&gt;1. Migraine&lt;br /&gt;a. Migraine tanpa aura ( migraine without aura )&lt;br /&gt;Sebelum disebut mgraine umum atau hemi krania simplek&lt;br /&gt;Deskripsinya adalah nyeri kepala idioplastik berulang dengan lama serangan 4 jam sampai 72 jam. Karakteristik yang khas berupa lokasi unilateral, kualitas berdenyut.&lt;br /&gt;b. Migraine dengan aura ( migraine with aura )&lt;br /&gt;Sebelum disebut dengan migraine klasik, migraine oftalmik, migraine hemiplegi, migraine afasia, migraine komplikata.&lt;br /&gt;Deskripsinya adalah kelainan idioplastik yang berulang, lokasi di cortek cerebra atau batang otak, timbul secara bertahap dalam waktu 5 – 20 menit.&lt;br /&gt;c. Migraine oftalmoplegi ( oftalmoplegie migraine )&lt;br /&gt;Adalah serangan nyeri kepala berulang disertai paresis satu atau lebih dari syaraf kranials untuk mata, tanpa adanya lwsi intra kranial.&lt;br /&gt;d. Migraine Retina.&lt;br /&gt;Adalah serangan skotoma atau buta monokuler yang berulang yang berlangsung kurang dari 1 jam dengan atau tanpa nyeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HUBUNGAN ANTARA KECEMASAN DENGAN MIGRAINE&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah lebih dari 100 tahun hubungan antara faktor psikologik dan nyeri kepala diteliti.&lt;br /&gt;Faktor emosional sering kali mencetuskan nyeri kepala terutama migraine. Tiga type dari nyeri kepala yang palingsering dihubungkan dengan fakktor psikologik adalah migraine lebih banyak dipelajari secara intensive dibandingkan daripada bentuk – bentuk lainnya.&lt;br /&gt;Biasanya penderita migraine mempunyai kepribadian yang spesifik ( perfek, ambisius, kaku ) sebagai suatu kelompok, pasien dengan migraine biasanya intelegen dan perfeksionis dan mereka adalah orang yang berkemampuan menghadapi krisis sehari – hari. Namun dalam adaptasi terhadap perubahan hidup seperti masa remaja, menstruasi, perpisahan dari keluarga dan rumah, ganti pekerjaan, perkawinan , peran sebagai orang tua, atau mendapat kedudukan tinggi, ternyata kemampuan untuk mengatasi masalah yang biasanya baik, menjadi kurang baik dan oleh sebab iu serangan nyeri kepala lalu timbul.&lt;br /&gt;MEKANISME KOPING&lt;br /&gt;Ketika mengalami cemas, individu menggunakan berbagai mekanisme koping untuk mencoba mengatasinya dan ketidakmampuan mengatasi cemas secara konstruktif merupakan penyebab utama terjadinya perilaku paologis, pola yang cenderung digunakan seseorang untuk mengatasi cemas ringan cenderung tetap dominasi ketika cemas menghebat. Cemas tingkat ringan sering ditanggulangi tanpa pemikiran yang serius.&lt;br /&gt;Tingkat cemas sedang dan berat menimbulkan dua jenis mekanisme koping :&lt;br /&gt;1. Reaksi yang beroreantasi pada tugas yaitu upaya yang disadari dan beroreantasi pada tindakan untuk memenuhi secara reakstik tuntutan situasi stress.&lt;br /&gt;- Perilaku menyerang digunakan untuk mengubah atau mengatasi hambatan pemenuhan kebutuhan&lt;br /&gt;- Perilaku menarik diri digunakan baik secara fisik maupun psikologik untuk memindahkan seseorang dari sumber stress&lt;br /&gt;- Perilaku kompromi digunakan untuk mengubah cara seseorang mengoperasikan , mengganti tujuan atau mengorbankan aspek kebutuhan personal seseorang.&lt;br /&gt;2. Mekanisme pertahanan ego membantu mengatasi cemas ringan dan sedang, jika berlangsung pada tingkat tidak sadar dan melibatkan penipuan diri dan disoreantasi realitas. Maka mekanisme ini dapat merupakan respon mal adaptif terhadap stres.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUMBER KOPING&lt;br /&gt;Individu dapat mengatasi stres dan cemas dengan menggerakkan sumber koping tersebut sebagai modal ekonomik , kemampuan penyelesaian masalah , dukungan sosial dan keyakinan budaya dapat membantu seseorang mengintegrasikan pengalaman yang menimbulkan stres dan mengadopsi strategi koping yang berhasil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENGKAJIAN&lt;br /&gt;PERILAKU&lt;br /&gt;Kecemasan dapat diekspresikan secara langsung melalui perubahan fisiologi dan tingkah laku atau secara tidak langsung melalui muculnya gejala atau mekanisme koping sebagai upaya untuk melawan kecemasan&lt;br /&gt;Dampak kecemasan pada respon fisiologis pada kecemasan ringan dan sedang adalah menyangkut kapasitas seseorang, pada kecemasan berat dan panik akan melemahkan atau meningkatkan kapasitas yang berlebihan, respon fisiologis yang berhubungan dengan kecemasan diatur oleh otak melalui sistem saraf autonomic.&lt;br /&gt;Dua jenis respon autonomik adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Respon parasimpatis yang menghemat respon tubuh&lt;br /&gt;2. Respon simpatis yang mengaktifkan respon tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MASALAH KEPERAWATAN&lt;br /&gt;1. Ansietas&lt;br /&gt;2. Koping individu tidak efektif&lt;br /&gt;3. Gangguan konsep diri&lt;br /&gt;4. Isolasi sosial&lt;br /&gt;5. Gangguan pola tidur&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4783875443562043141-2280994887214135966?l=askep-kesehatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/2280994887214135966'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/2280994887214135966'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-kesehatan.blogspot.com/2009/07/askep-migrensakit-kepala-sebelah.html' title='ASKEP MIGREN|SAKIT KEPALA SEBELAH'/><author><name>elly</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_nt1knDXPQbQ/SBXu2-Vx8SI/AAAAAAAAACc/sHjT5rmXyC8/S220/frudo.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4783875443562043141.post-845774708328021461</id><published>2009-07-16T16:16:00.000+07:00</published><updated>2009-07-16T16:17:44.852+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ASKEP'/><title type='text'>ASKEP SPACE OCCUPYING LESSION ( SOL )</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;A. Pengertian&lt;br /&gt;SOL merupakan generalisasi masalah tentang adanya lesi pada ruang intracranial khususnya yang mengenai otak. Banyak penyebab yang dapat menimbulkan lesi pada otak seperti kuntusio serebri, hematoma, infark, abses otak dan tumor intra kranial. ( Long, C 1996 ; 130 )&lt;br /&gt;Dalam Laporan Pendahuluan ( LP ) ini, penulis batasi pada Tumor Otak Adapun definisi Tumor Otak adalah proses pertumbuhan termasuk benigna dan maligna yang mengenai otak dan sumsum tulang belakang ( Bullock, 1996 ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Etiologi&lt;br /&gt;Faktor Resiko, tumor otak dapat terjadi pada setiap kelompok Ras, insiden meningkat seiring dengan pertambahan usia terutama pada dekade kelima, keenam dan ketujuh .faktor resiko akan meningkat pada orang yang terpajan zat kimia tertentu ( Okrionitil, tinta, pelarut, minyak pelumas ), namun hal tersebut belum bisa dipastikan.Pengaruh genetik berperan serta dalam tibulnya tumor, penyakit sklerosis TB dan penyakit neurofibomatosis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Tanda dan gejala&lt;br /&gt;1. Tanda dan gejala peningkatan TIK :&lt;br /&gt;a. Sakit kepala&lt;br /&gt;b. Muntah&lt;br /&gt;c. Papiledema&lt;br /&gt;2. Gejala terlokalisasi ( spesifik sesuai dengan dareh otak yang terkena ) :&lt;br /&gt;a. Tumor korteks motorik ; gerakan seperti kejang kejang yang terletak&lt;br /&gt;pada satu sisi tubuh ( kejang jacksonian )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Tumor lobus oksipital ; hemianopsia homonimus kontralateral ( hilang&lt;br /&gt;Penglihatan pada setengah lapang pandang , pada sisi yang berlawanan dengan tumor ) dan halusinasi penglihatan&lt;br /&gt;c. Tumor serebelum ; pusing, ataksia, gaya berjalan sempoyongan&lt;br /&gt;dengan kecenderungan jatuh kesisi yang lesi, otot otot tidak terkoordinasi dan nistagmus ( gerakan mata berirama dan tidak disengaja )&lt;br /&gt;d. Tumor lobus frontal ; gangguan kepribadia, perubahan status&lt;br /&gt;emosional dan tingkah laku, disintegrasi perilaku mental., pasien sering menjadi ekstrim yang tidak teratur dan kurang merawat diri&lt;br /&gt;e. Tumor sudut serebelopontin ; tinitus dan kelihatan vertigo, tuli (&lt;br /&gt;gangguan saraf kedelapan ), kesemutan dan rasa gatal pada wajah dan lidah ( saraf kelima ), kelemahan atau paralisis ( saraf kranial keketujuh ), abnormalitas fungsi motorik.&lt;br /&gt;f. Tumor intrakranial bisa menimbulkan gangguan kepribadian, konfusi,&lt;br /&gt;gangguan bicara dan gangguan gaya berjalan terutam pada lansia.&lt;br /&gt;( Brunner &amp;amp; Sudarth, 2003 ; 2170 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Pemeriksaan Diagnostik&lt;br /&gt;1. CT Scan ; memberi informasi spesifik mengenai jumlah, ukuran, kepadatan, jejas tumor dan meluasnya odema cerebral serta memberi informasi tentang sistem vaskuler&lt;br /&gt;2. MRI ; membantu dalam mendeteksi tumor didalam batang otakdan daerah hiposisis, dimana tulang menggangu dalam gambaran yang menggunakan CT Scan&lt;br /&gt;3. Biopsi Stereotaktik ; dapat mendiagnosa kedudukan tumor yang dalam dan untuk memberi dasar pengobatan serta informasi prognosis.&lt;br /&gt;4. Angiografi ; memberi gambaran pembuluh darahserebral dan letak tumor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Elektro ensefalografi ; mendeteksi gelombang otak abnormal pada daerah yang ditempati tumor dan dapat memungkinkan untuk mengevaluasi lobus temporal pada waktu kejang&lt;br /&gt;( Doenges, 2000 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Pengkajian&lt;br /&gt;1. Data dasar ; nama, umur, jenis kelamin, status perkawinan, alamat, golongan darah, penghasilan&lt;br /&gt;2. Riwayat kesehatan ; apakah klien pernah terpajan zat zat kimia tertentu, riwayat tumor pada keluarga, penyakit yang mendahului seperti sklerosis TB dan penyakit neurofibromatosis, kapan gejala mulai timbul&lt;br /&gt;3. Aktivitas / istirahat, Gejala : kelemahan / keletihan, kaku, hilang keseimbangan. Tanda : perubahan kesadaran, letargi, hemiparese, quadriplegi, ataksia, masalah dalam keseimbangan, perubaan pola istirahat, adanya faktor faktor yang mempengaruhi tidur seperti nyeri, cemas, keterbatasan dalam hobi dan dan latihan&lt;br /&gt;4. Sirkulasi, gejala : nyeri kepala pada saat beraktivitas. Kebiasaan : perubahan pada tekanan darah atau normal, perubahan frekuensi jantung.&lt;br /&gt;5. Integritas Ego, Gejal : faktor stres, perubahan tingkah laku atau kepribadian, Tanda : cemas, mudah tersinggung, delirium, agitasi, bingung, depresi dan impulsif.&lt;br /&gt;6. Eliminasi : Inkontinensia kandung kemih/ usus mengalami gangguan fungsi.&lt;br /&gt;7. makanan / cairan , Gejala : mual, muntah proyektil dan mengalami perubahan selera. Tanda : muntah ( mungkin proyektil ), gangguan menelan ( batuk, air liur keluar, disfagia )&lt;br /&gt;8. Neurosensori, Gejala : Amnesia, vertigo, synkop, tinitus, kehilangan pendengaran, tingling dan baal pad aekstremitas, gangguan pengecapan dan penghidu. Tanda : perubahan kesadaran sampai koma, perubahan status mental, perubahan pupil, deviasi pada mata ketidakmampuan mengikuti, kehilangan penginderaan, wajah tidak simetris, genggaman lemah tidak seimbang, reflek tendon dalam lemah, apraxia, hemiparese, quadriplegi, kejang, sensitiv terhadap gerakan&lt;br /&gt;9. Nyeri / Kenyamanan, Gejala : nyeri kepala dengan intensitas yang berbeda dan biasanya lama. Tanda : wajah menyeringai, respon menarik dri rangsangan nyeri yang hebat, gelisah, tidak bisa istirahat / tidur.&lt;br /&gt;10. Pernapasan, Tanda : perubahan pola napas, irama napas meningkat, dispnea, potensial obstruksi.&lt;br /&gt;11. Hormonal : Amenorhea, rambut rontok, dabetes insipidus.&lt;br /&gt;12. Sistem Motorik : scaning speech, hiperekstensi sendi, kelemahan&lt;br /&gt;13. keamanan , Gejala : pemajanan bahan kimia toksisk, karsinogen, pemajanan sinar matahari berlebihan. Tanda : demam, ruam kulit, ulserasi&lt;br /&gt;14. seksualitas, gejala: masalah pada seksual ( dampak pada hubungan, perubahan tingkat kepuasan )&lt;br /&gt;15. Interaksi sosial : ketidakadekuatan sitem pendukung, riwayat perkawinan ( kepuasan rumah tangga, dukungan ), fungsi peran.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4783875443562043141-845774708328021461?l=askep-kesehatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/845774708328021461'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/845774708328021461'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-kesehatan.blogspot.com/2009/07/askep-space-occupying-lession-sol.html' title='ASKEP SPACE OCCUPYING LESSION ( SOL )'/><author><name>elly</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_nt1knDXPQbQ/SBXu2-Vx8SI/AAAAAAAAACc/sHjT5rmXyC8/S220/frudo.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4783875443562043141.post-6536377810745795918</id><published>2009-07-15T22:35:00.000+07:00</published><updated>2009-11-15T22:36:26.820+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Daftar Isi'/><title type='text'>Daftar Isi Blog Askep-Kesehatan</title><content type='html'>&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4783875443562043141-6536377810745795918?l=askep-kesehatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/6536377810745795918'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/6536377810745795918'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-kesehatan.blogspot.com/2009/07/daftar-isi-blog-askep-kesehatan.html' title='Daftar Isi Blog Askep-Kesehatan'/><author><name>elly</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_nt1knDXPQbQ/SBXu2-Vx8SI/AAAAAAAAACc/sHjT5rmXyC8/S220/frudo.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4783875443562043141.post-5706441070639298666</id><published>2009-07-15T05:27:00.000+07:00</published><updated>2009-07-15T05:28:38.173+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gastroenteritis'/><title type='text'>Askep Gastroenteritis</title><content type='html'>Gastroenteritis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pengertian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gastroentritis ( GE ) adalah peradangan yang terjadi pada lambung dan usus yang memberikan gejala diare dengan atau tanpa disertai muntah (Sowden,et all.1996).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gastroenteritis diartikan sebagai buang air besar yang tidak normal atau bentuk tinja yang encer dengan frekwensi yang lebih banyak dari biasanya (FKUI,1965).&lt;br /&gt;Gastroenteritis adalah inflamasi pada daerah lambung dan intestinal yang disebabkan oleh bakteri yang bermacam-macam,virus dan parasit yang patogen (Whaley &amp;amp; Wong’s,1995).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gastroenteritis adalah kondisis dengan karakteristik adanya muntah dan diare yang disebabkan oleh infeksi,alergi atau keracunan zat makanan ( Marlenan Mayers,1995 ).&lt;br /&gt;Dari keempat pengertian diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa Gstroentritis adalah peradangan yang terjadi pada lambung dan usus yang memberikan gejala diare dengan frekwensi lebih banyak dari biasanya yang disebabkan oleh bakteri,virus dan parasit yang patogen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Etiologi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebab dari diare akut antara lain :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1. Faktor Infeksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         * Infeksi Virus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;               o Retavirus&lt;br /&gt;                     + Penyebab tersering diare akut pada bayi, sering didahulu atau disertai dengan muntah.&lt;br /&gt;                     + Timbul sepanjang tahun, tetapi biasanya pada musim dingin.&lt;br /&gt;                     + Dapat ditemukan demam atau muntah.&lt;br /&gt;                     + Di dapatkan penurunan HCC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;               o Enterovirus&lt;br /&gt;                     + Biasanya timbul pada musim panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;               o Adenovirus&lt;br /&gt;                     + Timbul sepanjang tahun.&lt;br /&gt;                     + Menyebabkan gejala pada saluran pencernaan/pernafasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;               o Norwalk&lt;br /&gt;                     + Epidemik&lt;br /&gt;                     + Dapat sembuh sendiri (dalam 24-48 jam).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         * Bakteri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;               o Stigella&lt;br /&gt;                     + Semusim, puncaknya pada bulan Juli-September&lt;br /&gt;                     + Insiden paling tinggi pada umur 1-5 tahun&lt;br /&gt;                     + Dapat dihubungkan dengan kejang demam.&lt;br /&gt;                     + Muntah yang tidak menonjol&lt;br /&gt;                     + Sel polos dalam feses&lt;br /&gt;                     + Sel batang dalam darah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;               o Salmonella&lt;br /&gt;                     + Semua umur tetapi lebih tinggi di bawah umur 1 tahun.&lt;br /&gt;                     + Menembus dinding usus, feses berdarah, mukoid.&lt;br /&gt;                     + Mungkin ada peningkatan temperatur&lt;br /&gt;                     + Muntah tidak menonjol&lt;br /&gt;                     + Sel polos dalam feses&lt;br /&gt;                     + Masa inkubasi 6-40 jam, lamanya 2-5 hari.&lt;br /&gt;                     + Organisme dapat ditemukan pada feses selama berbulan-bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;               o Escherichia coli&lt;br /&gt;                     + Baik yang menembus mukosa (feses berdarah) atau yang menghasilkan entenoksin.&lt;br /&gt;                     + Pasien (biasanya bayi) dapat terlihat sangat sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;               o Campylobacter&lt;br /&gt;                     + Sifatnya invasis (feses yang berdarah dan bercampur mukus) pada bayi dapat menyebabkan diare berdarah tanpa manifestasi klinik yang lain.&lt;br /&gt;                     + Kram abdomen yang hebat.&lt;br /&gt;                     + Muntah/dehidrasi jarang terjadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;               o Yersinia Enterecolitica&lt;br /&gt;                     + Feses mukosa&lt;br /&gt;                     + Sering didapatkan sel polos pada feses.&lt;br /&gt;                     + Mungkin ada nyeri abdomen yang berat&lt;br /&gt;                     + Diare selama 1-2 minggu.&lt;br /&gt;                     + Sering menyerupai apendicitis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  2. Faktor Non Infeksiosus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         * Malabsorbsi&lt;br /&gt;               o Malabsorbsi karbohidrat disakarida (intoleransi, lactosa, maltosa, dan sukrosa), non sakarida (intoleransi glukosa, fruktusa dan galaktosa). Pada bayi dan anak yang terpenting dan tersering ialah intoleransi laktosa.&lt;br /&gt;               o Malabsorbsi lemak : long chain triglyceride.&lt;br /&gt;               o Malabsorbsi protein : asam amino, B-laktoglobulin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         * Faktor makanan&lt;br /&gt;           Makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan (milk alergy, food alergy, dow’n milk protein senditive enteropathy/CMPSE).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         * Faktor Psikologis&lt;br /&gt;           Rasa takut,cemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Patofisiologi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebab gastroenteritis akut adalah masuknya virus (Rotravirus, Adenovirus enteris, Virus Norwalk), Bakteri atau toksin (Compylobacter, Salmonella, Escherihia Coli, Yersinia dan lainnya), parasit (Biardia Lambia, Cryptosporidium). Beberapa mikroorganisme patogen ini menyebabkan infeksi pada sel-sel, memproduksi enterotoksin atau Cytotoksin dimana merusak sel-sel, atau melekat pada dinding usus pada Gastroenteritis akut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penularan Gastroenteritis bias melalui fekal-oral dari satu penderita ke yang lainnya. Beberapa kasus ditemui penyebaran patogen dikarenakan makanan dan minuman yang terkontaminasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mekanisme dasar penyebab timbulnya diare adalah gangguan osmotic (makanan yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotic dalam rongga usus meningkat sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus,isi rongga usus berlebihan sehingga timbul diare ). Selain itu menimbulkan gangguan sekresi akibat toksin di dinding usus, sehingga sekresi air dan elektrolit meningkat kemudian terjadi diare. Gangguan multilitas usus yang mengakibatkan hiperperistaltik dan hipoperistaltik. Akibat dari diare itu sendiri adalah kehilangan air dan elektrolit (Dehidrasi) yang mengakibatkan gangguan asam basa (Asidosis Metabolik dan Hipokalemia), gangguan gizi (intake kurang, output berlebih), hipoglikemia dan gangguan sirkulasi darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Manifestasi KLinis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   * Nyeri perut (abdominal discomfort)&lt;br /&gt;   * Rasa perih di ulu hati&lt;br /&gt;   * Mual, kadang-kadang sampai muntah&lt;br /&gt;   * Nafsu makan berkurang&lt;br /&gt;   * Rasa lekas kenyang&lt;br /&gt;   * Perut kembung&lt;br /&gt;   * Rasa panas di dada dan perut&lt;br /&gt;   * Regurgitasi (keluar cairan dari lambung secara tiba-tiba).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Komplikasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   * Dehidrasi&lt;br /&gt;   * Renjatan hipovolemik&lt;br /&gt;   * Kejang&lt;br /&gt;   * Bakterimia&lt;br /&gt;   * Mal nutrisi&lt;br /&gt;   * Hipoglikemia&lt;br /&gt;   * Intoleransi sekunder akibat kerusakan mukosa usus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Tingkat derajat Dehidrasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1. Dehidrasi ringan&lt;br /&gt;     Kehilangan cairan 2 – 5 % dari berat badan dengan gambaran klinik turgor kulit kurang elastis, suara serak, penderita belum jatuh pada keadaan syok.&lt;br /&gt;  2. Dehidrasi Sedang&lt;br /&gt;     Kehilangan cairan 5 – 8 % dari berat badan dengan gambaran klinik turgor kulit jelek, suara serak, penderita jatuh pre syok nadi cepat dan dalam.&lt;br /&gt;  3. Dehidrasi Berat&lt;br /&gt;     Kehilangan cairan 8 - 10 % dari bedrat badan dengan gambaran klinik seperti tanda-tanda dehidrasi sedang ditambah dengan kesadaran menurun, apatis sampai koma, otot-otot kaku sampai sianosis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Pemeriksaan Penunjang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemeriksaan laboratorium yang meliputi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1. Pemeriksaan Tinja&lt;br /&gt;         * Makroskopis dan mikroskopis.&lt;br /&gt;         * pH dan kadar gula dalam tinja dengan kertas lakmus dan tablet dinistest, bila diduga terdapat intoleransi gula.&lt;br /&gt;         * Bila diperlukan, lakukan pemeriksaan biakan dan uji resistensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  2. Pemeriksaan Darah&lt;br /&gt;         * pH darah dan cadangan dikali dan elektrolit (Natrium, Kalium, Kalsium dan Fosfor) dalam serum untuk menentukan keseimbangan asama basa.&lt;br /&gt;         * Kadar ureum dan kreatmin untuk mengetahui faal ginjal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  3. Doudenal Intubation&lt;br /&gt;     Untuk mengatahui jasad renik atau parasit secara kualitatif dan kuantitatif, terutama dilakukan pada penderita diare kronik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Penatalaksanaan Medis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1. Pemberian cairan.&lt;br /&gt;  2. Diatetik : pemberian makanan dan minuman khusus pada penderita dengan tujuan penyembuhan dan menjaga kesehatan adapun hal yang perlu diperhatikan : Memberikan bahan makanan yang mengandung kalori, protein, vitamin, mineral dan makanan yang bersih.&lt;br /&gt;  3. Obat-obatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Diare&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Pengkajian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengkajian yang sistematis meliputi pengumpulan data,analisa data dan penentuan masalah. Pengumpulan data diperoleh dengan cara intervensi, observasi, psikal assessment.&lt;br /&gt;Pengkajian data menurut Cyndi Smith Greenberg, 1992 adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1. Identitas klien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  2. Riwayat keperawatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         * Awalan serangan : Awalnya anak cengeng,gelisah,suhu tubuh meningkat,anoreksia kemudian timbul diare.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         * Keluhan utama : Faeces semakin cair,muntah,bila kehilangan banyak air dan elektrolit terjadi gejala dehidrasi,berat badan menurun. Pada bayi ubun-ubun besar cekung,tonus dan turgor kulit berkurang,selaput lendir mulut dan bibir kering,frekwensi BAB lebih dari 4 kali dengan konsistensi encer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  3. Riwayat kesehatan masa lalu.&lt;br /&gt;     Riwayat penyakit yang diderita,riwayat pemberian imunisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  4. Riwayat psikososial keluarga.&lt;br /&gt;     Dirawat akan menjadi stressor bagi anak itu sendiri maupun bagi keluarga,kecemasan meningkat jika orang tua tidak mengetahui prosedur dan pengobatan anak,setelah menyadari penyakit anaknya,mereka akan bereaksi dengan marah dan merasa bersalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  5. Kebutuhan dasar.&lt;br /&gt;         * Pola eliminasi : akan mengalami perubahan yaitu BAB lebih dari 4 kali sehari,BAK sedikit atau jarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         * Pola nutrisi : diawali dengan mual, muntah, anopreksia, menyebabkan penurunan berat badan pasien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         * Pola tidur dan istirahat akan terganggu karena adanya distensi abdomen yang akan menimbulkan rasa tidak nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         * Pola hygiene : kebiasaan mandi setiap harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         * Aktivitas : akan terganggu karena kondisi tubuh yang lamah dan adanya nyeri akibat distensi abdomen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  6. Pemerikasaan fisik.&lt;br /&gt;         * Pemeriksaan psikologis : keadaan umum tampak lemah,kesadran composmentis sampai koma,suhu tubuh tinggi,nadi cepat dan lemah,pernapasan agak cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         * Pemeriksaan sistematik :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;               o Inspeksi : mata cekung,ubun-ubun besar,selaput lendir,mulut dan bibir kering,berat badan menurun,anus kemerahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;               o Perkusi : adanya distensi abdomen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;               o Palpasi : Turgor kulit kurang elastis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;               o Auskultasi : terdengarnya bising usus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         * Pemeriksaan tinglkat tumbuh kembang.&lt;br /&gt;           Pada anak diare akan mengalami gangguan karena anak dehidrasi sehingga berat badan menurun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         * Pemeriksaan penunjang.&lt;br /&gt;           Pemeriksaan tinja,darah lengkap dan doodenum intubation yaitu untuk mengetahui penyebab secara kuantitatip dan kualitatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B Diagnosa Keperawatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1. Defisit volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan output cairan yang berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  2. Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubuingan dengan mual dan muntah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  3. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan iritasi,frekwensi BAB yang berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  4. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi abdomen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakit,prognosis dan pengobatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  6. Cemas berhubungan dengan perpisahan dengan orang tua,prosedur yang menakutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Intervensi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagnosa 1.&lt;br /&gt;Defisit volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan output cairan yang berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan :&lt;br /&gt;Devisit cairan dan elektrolit teratasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriteria hasil :&lt;br /&gt;Tanda-tanda dehidrasi tidak ada, mukosa mulut dan bibir lembab, balan cairan seimbang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intervensi&lt;br /&gt;Observasi tanda-tanda vital. Observasi tanda-tanda dehidrasi. Ukur infut dan output cairan (balanc ccairan). Berikan dan anjurkan keluarga untuk memberikan minum yang banyak kurang lebih 2000 – 2500 cc per hari. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therafi cairan, pemeriksaan lab elektrolit. Kolaborasi dengan tim gizi dalam pemberian cairan rendah sodium.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagnosa 2.&lt;br /&gt;Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubuingan dengan mual dan muntah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan :&lt;br /&gt;Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi teratasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriteria hasil :&lt;br /&gt;Intake nutrisi klien meningkat, diet habis 1 porsi yang disediakan, mual,muntah tidak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;Kaji pola nutrisi klien dan perubahan yang terjadi. Timbang berat badan klien. Kaji factor penyebab gangguan pemenuhan nutrisi. Lakukan pemerikasaan fisik abdomen (palpasi,perkusi,dan auskultasi). Berikan diet dalam kondisi hangat dan porsi kecil tapi sering. Kolaborasi dengan tim gizi dalam penentuan diet klien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagnosa 3.&lt;br /&gt;Gangguan integritas kulit berhubungan dengan iritasi,frekwensi BAB yang berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan :&lt;br /&gt;Gangguan integritas kulit teratasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriteria hasil :&lt;br /&gt;Integritas kulit kembali normal, iritasi tidak ada, tanda-tanda infeksi tidak ada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;Ganti popok anak jika basah. Bersihkan bokong perlahan sabun non alcohol. Beri zalp seperti zinc oxsida bila terjadi iritasi pada kulit. Observasi bokong dan perineum dari infeksi. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therafi antipungi sesuai indikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagnosa 4.&lt;br /&gt;Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi abdomen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan :&lt;br /&gt;Nyeri dapat teratasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriteria hasil :&lt;br /&gt;Nyeri dapat berkurang / hiilang, ekspresi wajah tenang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;Observasi tanda-tanda vital. Kaji tingkat rasa nyeri. Atur posisi yang nyaman bagi klien. Beri kompres hangat pada daerah abdoment. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therafi analgetik sesuai indikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagnosa 5.&lt;br /&gt;Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakit,prognosis dan pengobatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan :&lt;br /&gt;Pengetahuan keluarga meningkat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriteria hasil :&lt;br /&gt;Keluarga klien mengeri dengan proses penyakit klien, ekspresi wajah tenang, keluarga tidak banyak bertanya lagi tentang proses penyakit klien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;Kaji tingkat pendidikan keluarga klien. Kaji tingkat pengetahuan keluarga tentang proses penyakit klien. Jelaskan tentang proses penyakit klien dengan melalui penkes. Berikan kesempatan pada keluarga bila ada yang belum dimengertinya. Libatkan keluarga dalam pemberian tindakan pada klien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagnosa 6.&lt;br /&gt;Cemas berhubungan dengan perpisahan dengan orang tua,prosedur yang menakutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan :&lt;br /&gt;Klien akan memperlihatkan penurunan tingkat kecemasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;Kaji tingkat kecemasan klien. Kaji faktor pencetus cemas. Buat jadwal kontak dengan klien. Kaji hal yang disukai klien. Berikan mainan sesuai kesukaan klien. Libatkan keluarga dalam setiap tindakan. Anjurkan pada keluarga unrtuk selalu mendampingi klien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Evaluasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1. Volume cairan dan elektrolit kembali normal sesuai kebutuhan.&lt;br /&gt;  2. Kebutuhan nutrisi terpenuhi sesuai kebutuhantubuh.&lt;br /&gt;  3. Integritas kulit kembali noprmal.&lt;br /&gt;  4. Rasa nyaman terpenuhi.&lt;br /&gt;  5. Pengetahuan kelurga meningkat.&lt;br /&gt;  6. Cemas pada klien teratasi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4783875443562043141-5706441070639298666?l=askep-kesehatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/5706441070639298666'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/5706441070639298666'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-kesehatan.blogspot.com/2009/07/askep-gastroenteritis.html' title='Askep Gastroenteritis'/><author><name>elly</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_nt1knDXPQbQ/SBXu2-Vx8SI/AAAAAAAAACc/sHjT5rmXyC8/S220/frudo.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4783875443562043141.post-1051578473215571196</id><published>2009-07-15T05:26:00.000+07:00</published><updated>2009-07-15T05:27:38.391+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cephalgia'/><title type='text'>Cephalgia</title><content type='html'>&lt;p&gt;A.PENGERTIAN&lt;br /&gt;Chefalgia atau sakit kepala adalah salah satu keluhan fisik paling utama manusia. Sakit kepala pada kenyataannya adalah gejala bukan penyakit dan dapat menunjukkan penyakit organik ( neurologi atau penyakit lain), respon stress, vasodilatasi (migren), tegangan otot rangka (sakit kepala tegang) atau kombinasi respon tersebut (Brunner &amp;amp; Suddart).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;B.KLASIFIKASI DAN ETIOLOGI&lt;br /&gt;Klasifikasi sakit kepala yang paling baru dikeluarkan oleh Headache Classification Cimitte of the International Headache Society sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Migren (dengan atau tanpa aura)&lt;br /&gt;2. Sakit kepal tegang&lt;br /&gt;3. Sakit kepala klaster dan hemikrania paroksismal&lt;br /&gt;4. Berbagai sakit kepala yang dikatkan dengan lesi struktural.&lt;br /&gt;5. Sakit kepala dikatkan dengan trauma kepala.&lt;br /&gt;6. Sakit kepala dihubungkan dengan gangguan vaskuler (mis. Perdarahan subarakhnoid).&lt;br /&gt;7. Sakit kepala dihuungkan dengan gangguan intrakranial non vaskuler ( mis. Tumor otak)&lt;br /&gt;8. Sakit kepala dihubungkan dengan penggunaan zat kimia tau putus obat.&lt;br /&gt;9. Sakit kepala dihubungkan dengan infeksi non sefalik.&lt;br /&gt;10.Sakit kepala yang dihubungkan dengan gangguan metabolik (hipoglikemia).&lt;br /&gt;11.Sakit kepala atau nyeri wajah yang dihubungkan dengan gangguan kepala, leher atau struktur sekitar kepala ( mis. Glaukoma akut)&lt;br /&gt;12.Neuralgia kranial (nyeri menetap berasal dari saraf kranial)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;C.PATOFISIOLOGI&lt;br /&gt;Sakit kepala timbul sebagai hasil perangsangan terhadap bangunan-bangunan diwilayah kepala dan leher yang peka terhadap nyeri. Bangunan-bangunan ekstrakranial yang peka nyeri ialah otot-otot okspital, temporal dan frontal, kulit kepala, arteri-arteri subkutis dan periostium. Tulang tengkorak sendiri tidak peka nyeri. Bangunan-bangunan intrakranial yang peka nyeri terdiri dari meninges, terutama dura basalis dan meninges yang mendindingi sinus venosus serta arteri-arteri besar pada basis otak. Sebagian besar dari jaringan otak sendiri tidak peka nyeri.&lt;br /&gt;Perangsangan terhadap bangunan-bangunan itu dapat berupa:&lt;br /&gt;Infeksi selaput otak : meningitis, ensefalitis.&lt;br /&gt;Iritasi kimiawi terhadap selaput otak seperti pada perdarahan subdural atau setelah dilakukan pneumo atau zat kontras ensefalografi.&lt;br /&gt;Peregangan selaput otak akibat proses desak ruang intrakranial, penyumbatan jalan lintasan liquor, trombosis venos spinosus, edema serebri atau tekanan intrakranial yang menurun tiba-tiba atau cepat sekali.&lt;br /&gt;Vasodilatasi arteri intrakranial akibat keadaan toksik (seperti pada infeksi umum, intoksikasi alkohol, intoksikasi CO, reaksi alergik), gangguan metabolik (seperti hipoksemia, hipoglikemia dan hiperkapnia), pemakaian obat vasodilatasi, keadaan paska contusio serebri, insufisiensi serebrovasculer akut).&lt;br /&gt;Gangguan pembuluh darah ekstrakranial, misalnya vasodilatasi ( migren dan cluster headache) dan radang (arteritis temporalis)&lt;br /&gt;Gangguan terhadap otot-otot yang mempunyai hubungan dengan kepala, seperti pada spondiloartrosis deformans servikalis.&lt;br /&gt;Penjalaran nyeri (reffererd pain) dari daerah mata (glaukoma, iritis), sinus (sinusitis), baseol kranii ( ca. Nasofaring), gigi geligi (pulpitis dan molar III yang mendesak gigi) dan daerah leher (spondiloartritis deforman servikalis.&lt;br /&gt;Ketegangan otot kepala, leher bahu sebagai manifestasi psikoorganik pada keadaan depresi dan stress. Dalam hal ini sakit kepala sininim dari pusing kepala.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;D.MANIFESTASI KLINIS&lt;br /&gt;a.Migren&lt;br /&gt;Migren adalah gejala kompleks yang mempunyai karakteristik pada waktu tertentu dan serangan sakit kepala berat yang terjadi berulang-ulang. Penyebab migren tidak diketahui jelas, tetapi ini dapat disebabkan oleh gangguan vaskuler primer yang biasanya banyak terjadi pada wanita dan mempunyai kecenderungan kuat dalam keluarga.&lt;br /&gt;Tanda dan gejala adanya migren pada serebral merupakan hasil dari derajat iskhemia kortikal yang bervariasi. Serangan dimulai dengan vasokonstriksi arteri kulit kepala dam pembuluh darah retina dan serebral. Pembuluh darah intra dan ekstrakranial mengalami dilatasi, yang menyebabkan nyeri dan ketidaknyamanan.&lt;br /&gt;Migren klasik dapat dibagi menjadi tiga fase, yaitu:&lt;br /&gt;Fase aura.&lt;br /&gt;Berlangsung lebih kurang 30 menit, dan dapat memberikan kesempatan bagi pasien untuk menentukan obat yang digunakan untuk mencegah serangan yang dalam. Gejala dari periode ini adalah gangguan penglihatan ( silau ), kesemutan, perasaan gatal pada wajah dan tangan, sedikit lemah pada ekstremitas dan pusing.&lt;br /&gt;Periode aura ini berhubungan dengan vasokonstriksi tanpa nyeri yang diawali dengan perubahan fisiologi awal. Aliran darah serebral berkurang, dengan kehilangan autoregulasi laanjut dan kerusakan responsivitas CO2.&lt;br /&gt;Fase sakit kepala&lt;br /&gt;Fase sakit kepala berdenyut yang berat dan menjadikan tidak mampu yang dihungkan dengan fotofobia, mual dan muntah. Durasi keadaan ini bervariasi, beberapa jam dalam satu hari atau beberapa hari.&lt;br /&gt;Fase pemulihan&lt;br /&gt;Periode kontraksi otot leher dan kulit kepala yang dihubungkan dengan sakit otot dan ketegangan lokal. Kelelahan biasanya terjadi, dan pasien dapat tidur untuk waktu yang panjang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;b.Cluster Headache&lt;br /&gt;Cluster Headache adalah beentuk sakit kepal vaskuler lainnya yang sering terjadi pada pria. Serangan datang dalam bentuk yang menumpuk atau berkelompok, dengan nyeri yang menyiksa didaerah mata dan menyebar kedaerah wajah dan temporal. Nyeri diikuti mata berair dan sumbatan hidung. Serangan berakhir dari 15 menit sampai 2 jam yang menguat dan menurun kekuatannya.&lt;br /&gt;Tipe sakit kepala ini dikaitkan dengan dilatasi didaerah dan sekitar arteri ekstrakranualis, yang ditimbulkan oleh alkohol, nitrit, vasodilator dan histamin. Sakit kepala ini berespon terhadap klorpromazin.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;c.Tension Headache&lt;br /&gt;Stress fisik dan emosional dapat menyebabkan kontraksi pada otot-otot leher dan kulit kepala, yang menyebabkan sakit kepala karena tegang. Karakteristik dari sakit kepala ini perasaan ada tekanan pada dahi, pelipis, atau belakang leher. Hal ini sering tergambar sebagai “beban berat yang menutupi kepala”. Sakit kepala ini cenderung kronik daripada berat. Pasien membutuhkan ketenangan hati, dan biasanya keadaan ini merupakan ketakutan yang tidak terucapkan. Bantuan simtomatik mungkin diberikan untuk memanaskan pada lokasi, memijat, analgetik, antidepresan dan obat relaksan otot.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;E.PENGKAJIAN&lt;br /&gt;Data subyektif dan obyektif sangat penting untuk menentukan tentang penyebab dan sifat dari sakit kepala.&lt;br /&gt;Data Subyektif&lt;br /&gt;a.Pengertian pasien tentang sakit kepala dan kemungkinan penyebabnya.&lt;br /&gt;b.Sadar tentang adanya faktor pencetus, seperti stress.&lt;br /&gt;c.Langkah – langkah untuk mengurangi gejala seperti obat-obatan.&lt;br /&gt;d.Tempat, frekwensi, pola dan sifat sakit kepala termasuk tempat nyeri, lama dan interval diantara sakit kepala.&lt;br /&gt;e.Awal serangan sakit kepala.&lt;br /&gt;f.Ada gejala prodomal atau tidak&lt;br /&gt;g..Ada gejala yang menyertai.&lt;br /&gt;h.Riwayat sakit kepala dalam keluarga (khusus penting sekali bila migren).&lt;br /&gt;i.Situasi yang membuat sakit kepala lebih parah.&lt;br /&gt;j.Ada alergi atau tidak.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Data Obyektif&lt;br /&gt;a.    Perilaku : gejala yang memperlihatkan stress, kecemasan atau nyeri.&lt;br /&gt;b.    Perubahan kemampuan dalam melaksanakan aktifitas sehari – hari.&lt;br /&gt;c.     Terdapat pengkajian anormal dari sistem pengkajian fisik sistem saraf cranial.&lt;br /&gt;d.     Suhu badan&lt;br /&gt;e.     Drainase dari sinus.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam pengkajian sakit kepala, beberapa butir penting perlu dipertimbangkan. Diantaranya ialah:&lt;br /&gt;a.Sakit kepala yang terlokalisir biasanya berhubungan dengan sakit kepala migrain atau gangguan organik.&lt;br /&gt;b.Sakit kepala yang menyeluruh biasanya  disebabkan oleh penyebab psikologis atau terjadi peningkatan tekanan intrakranial.&lt;br /&gt;c.Sakit kepala migren dapat berpindah dari satu sisi kesisi yang lain.&lt;br /&gt;d.Sakit kepala yang disertai peningkatan tekanan intrakranial biasanya timbil pada waktu bangun tidur atau sakit kepala tersebut membengunkan pasien dari tidur.&lt;br /&gt;e.Sakit kepala tipe sinus timbul pada pagi hari dan semakin siang menjadi lebih buruk.&lt;br /&gt;f.Banyak sakit kepala yang berhubungan dengan kondisi stress.&lt;br /&gt;g.Rasa nyeri yang tumpul, menjengkelkan, menghebat dan terus ada, sering terjadi pada sakit kepala yang psikogenis.&lt;br /&gt;h.Bahan organis yang menimbulkan nyeri yang tetap dan sifatnya bertambah terus.&lt;br /&gt;i.Sakit kapala migrain bisa menyertai mentruasi.sakit kepala bisa didahului makan makanan yang mengandung monosodium glutamat, sodim nitrat, tyramine demikian juga alkohol.&lt;br /&gt;j.Tidur terlalu lama, berpuasa, menghirup bau-bauan yang toksis dalam limngkungan kerja dimana ventilasi tidak cukup dapat menjadi penyebab sakit kepala.&lt;br /&gt;k.Obat kontrasepsi oral dapat memperberat migrain.&lt;br /&gt;l.Tiap yang ditemukan sekunder dari sakit kepala perlu dikaji.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;F.DIAGNOSTIK&lt;br /&gt;1.CT Scan, menjadi mudah dijangkau sebagai cara yang mudah dan aman untuk menemukan abnormalitas pada susunan saraf pusat.&lt;br /&gt;2.MRI Scan, dengan tujuan mendeteksi kondisi patologi otak dan medula spinalis dengan menggunakan tehnik scanning dengan kekuatan magnet untuk membuat bayangan struktur tubuh.&lt;br /&gt;3.Pungsi lumbal, dengan mengambil cairan serebrospinalis untuk pemeriksaan. Hal ini tidak dilakukan bila diketahui terjadi peningkatan tekanan intrakranial dan tumor otak, karena penurunan tekanan yang mendadak akibat pengambilan CSF.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4783875443562043141-1051578473215571196?l=askep-kesehatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/1051578473215571196'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/1051578473215571196'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-kesehatan.blogspot.com/2009/07/cephalgia.html' title='Cephalgia'/><author><name>elly</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_nt1knDXPQbQ/SBXu2-Vx8SI/AAAAAAAAACc/sHjT5rmXyC8/S220/frudo.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4783875443562043141.post-8234593327184087614</id><published>2009-07-15T05:18:00.000+07:00</published><updated>2009-07-15T05:24:42.088+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='HERNIA NUKLEUS PULPOSUS'/><title type='text'>HERNIA NUKLEUS PULPOSUS</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pengertian&lt;br /&gt;Diskus Intervertebralis adalah lempengan kartilago yang membentuk sebuah bantalan diantara tubuh vertebra. Material yang keras dan fibrosa ini digabungkan dalam satu kapsul. Bantalan seperti bola dibagian tengah diskus disebut nukleus pulposus. HNP merupakan rupturnya nukleus pulposus. (Brunner &amp;amp; Suddarth, 2002)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Hernia Nukleus Pulposus bisa ke korpus vertebra diatas atau bawahnya, bisa juga langsung ke kanalis vertebralis. (Priguna Sidharta, 1990)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Patofisiologi&lt;br /&gt;Protrusi atau ruptur nukleus pulposus biasanya didahului dengan perubahan degeneratif yang terjadi pada proses penuaan. Kehilangan protein polisakarida dalam diskus menurunkan kandungan air nukleus pulposus. Perkembangan pecahan yang menyebar di anulus melemahkan pertahanan pada herniasi nukleus. Setela trauma *jatuh, kecelakaan, dan stress minor berulang seperti mengangkat) kartilago dapat cedera.&lt;br /&gt;Pada kebanyakan pasien, gejala trauma segera bersifat khas dan singkat, dan gejala ini disebabkan oleh cedera pada diskus yang tidak terlihat selama beberapa bulan maupun tahun. Kemudian pada degenerasi pada diskus, kapsulnya mendorong ke arah medula spinalis atau mungkin ruptur dan memungkinkan nukleus pulposus terdorong terhadap sakus dural atau terhadap saraf spinal saat muncul dari kolumna spinal.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Hernia nukleus pulposus ke kanalis vertebralis berarti bahwa nukleus pulposus menekan pada radiks yang bersama-sama dengan arteria radikularis berada dalam bungkusan dura. Hal ini terjadi kalau tempat herniasi di sisi lateral. Bilamana tempat herniasinya ditengah-tengah tidak ada radiks yang terkena. Lagipula,oleh karena pada tingkat L2 dan terus kebawah sudah tidak terdapat medula spinalis lagi, maka herniasi di garis tengah tidak akan menimbulkan kompresi pada kolumna anterior.&lt;br /&gt;Setelah terjadi hernia nukleus pulposus sisa duktus intervertebralis mengalami lisis sehingga dua korpora vertebra bertumpang tindih tanpa ganjalan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Manifestasi Klinis&lt;br /&gt;Nyeri dapat terjadi pada bagian spinal manapun seperti servikal, torakal (jarang) atau lumbal. Manifestasi klinis bergantung pada lokasi, kecepatan perkembangan (akut atau kronik) dan pengaruh pada struktur disekitarnya. Nyeri punggung bawah yang berat, kronik dan berulang (kambuh).&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pemeriksaan Diagnostik&lt;br /&gt;1.RO Spinal : Memperlihatkan perubahan degeneratif pada tulang belakang&lt;br /&gt;2.M R I : untuk melokalisasi protrusi diskus kecil sekalipun terutama untuk penyakit spinal lumbal.&lt;br /&gt;3.CT Scan dan Mielogram jika gejala klinis dan patologiknya tidak terlihat pada M R I&lt;br /&gt;4.Elektromiografi (EMG) : untuk melokalisasi radiks saraf spinal khusus yang terkena.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Penatalaksanaan&lt;br /&gt;1.Pembedahan&lt;br /&gt;Tujuan : Mengurangi tekanan pada radiks saraf untuk mengurangi nyeri dan mengubah defisit neurologik.&lt;br /&gt;Macam :&lt;br /&gt;a.Disektomi : Mengangkat fragmen herniasi atau yang keluar dari diskus intervertebral&lt;br /&gt;b.Laminektomi : Mengangkat lamina untuk memajankan elemen neural pada kanalis spinalis, memungkinkan ahli bedah untuk menginspeksi kanalis spinalis, mengidentifikasi dan mengangkat patologi dan menghilangkan kompresi medula dan radiks&lt;br /&gt;c.Laminotomi : Pembagian lamina vertebra.&lt;br /&gt;d.Disektomi dengan peleburan.&lt;br /&gt;2.Immobilisasi&lt;br /&gt;Immobilisasi dengan mengeluarkan kolor servikal, traksi, atau brace.&lt;br /&gt;3.Traksi&lt;br /&gt;Traksi servikal yang disertai dengan penyanggah kepala yang dikaitkan pada katrol dan beban.&lt;br /&gt;4.Meredakan Nyeri&lt;br /&gt;Kompres lembab panas, analgesik, sedatif, relaksan otot, obat anti inflamasi dan jika perlu kortikosteroid.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4783875443562043141-8234593327184087614?l=askep-kesehatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/8234593327184087614'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/8234593327184087614'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-kesehatan.blogspot.com/2009/07/hernia-nukleus-pulposus.html' title='HERNIA NUKLEUS PULPOSUS'/><author><name>elly</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_nt1knDXPQbQ/SBXu2-Vx8SI/AAAAAAAAACc/sHjT5rmXyC8/S220/frudo.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4783875443562043141.post-6366834731682396816</id><published>2009-07-15T05:17:00.000+07:00</published><updated>2009-07-15T05:18:04.848+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ASKEP KESEHATAN'/><title type='text'>ASUHAN KEPERAWATAN PADA STROKE HAEMOREGIK</title><content type='html'>A. Pengertian&lt;br /&gt;Stroke secara umum merupakan defisit neurologis yang mempunyai serangan mendadak&lt;br /&gt;dan berlangsung 24 jam sebagai akibat dari terganggunya pembuluh darah otak (hudak&lt;br /&gt;dan Gallo, 1997)&lt;br /&gt;Stroke digunakan untuk menamakan sindrome hemiparese atau hemiparalisis akibat lesi&lt;br /&gt;vascular, yang secara tiba tiba daerah otak tidak menerima darah karena arteri yang&lt;br /&gt;memperdarahi daerah tersebut tersumbat, putus atau pecah.&lt;br /&gt;B. STROKE HAEMORAGIK&lt;br /&gt;Adalah bagian dari klasifikasi stroke, dimana perdarahan intra cerebral dan mungkin&lt;br /&gt;perdarahan sub arachnoid yang disebabkan karena pecahnya pembuluh darah otak pada&lt;br /&gt;daerah tertentu. Kejadian biasanya saat melakukan aktifitas, namun dapat juga saat&lt;br /&gt;istirahat dan kesadaran pasien umunya menurun.&lt;br /&gt;C. PATOFISIOLOGI&lt;br /&gt;Sumber : http://stikep.blogspot.com&lt;br /&gt;Design by Defa Arisandi, A.Md.Kep&lt;br /&gt;D. FAKTOR RESIKO&lt;br /&gt;Hipertensi, perokok, penyakit jantung terutama artrial fibrilasi, cerebral aneurisma,&lt;br /&gt;aterosclerosis, stroke sebelumnya atau TIA, Diabetes, Polisitemia, usila&lt;br /&gt;E. GEJALA KLINIK&lt;br /&gt;· mendadak, nyeri kepala&lt;br /&gt;· Paraesthesia, paresis,Plegia sebagian badan&lt;br /&gt;· Dysphagia&lt;br /&gt;· Aphasia&lt;br /&gt;· Gangguan penglihatan&lt;br /&gt;· Perubahan kemampuan kognitif&lt;br /&gt;F. PEMERIKSAAN PENUNJANG&lt;br /&gt;· CT Scan : Haemoragi: sub dural, sub aracnoid, intra cerebral. Edema, Iskemia&lt;br /&gt;· EEG : Mengidentifikasi area lesi dan gelombang listrik&lt;br /&gt;· Angiografi : Haemoragi, obstruksi arteri, oklusi dan ruptur&lt;br /&gt;· MRI : Infark, perdarahan, kelainan arteri venous&lt;br /&gt;· Lumbal Punksi : Pada perdarahan Sub Arachnoid dan intra cerebral cairan cerebro&lt;br /&gt;spinal&lt;br /&gt;mengandung darah&lt;br /&gt;G. PENATALAKSANAAN&lt;br /&gt;1. Phase Akut:&lt;br /&gt;· Pertahankan fungsi vital: jalan nafas, pernafasan, oksigenisasi dan sirkulasi&lt;br /&gt;· Reperfusi dengan trombolityk atau vasodilation: Nimotop&lt;br /&gt;· Pencegahan peningkatan TIK&lt;br /&gt;Sumber : http://stikep.blogspot.com&lt;br /&gt;Design by Defa Arisandi, A.Md.Kep&lt;br /&gt;· Mengurangi edema cerebral dengan diuretik&lt;br /&gt;2. Post phase akut&lt;br /&gt;· Pencegahan spatik paralisis dengan antispasmodik&lt;br /&gt;· Program fisiotherapi&lt;br /&gt;· Penangan masalah psikososial&lt;br /&gt;H. PENGKAJIAN KEPERAWATAN UTAMA&lt;br /&gt;· Monitor tanda vital&lt;br /&gt;· Monitor tingkat kesadaran&lt;br /&gt;· Mengkaji fungsi eliminasi&lt;br /&gt;· Mengkaji adanya gerakan involunter&lt;br /&gt;· Mengkaji kemampuan ADLs&lt;br /&gt;· Mengkaji kemampuan gerakan-otot&lt;br /&gt;I. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL&lt;br /&gt;· Nyeri kepala b.d. gangguan vascular cerebral: perdarahan cerebral&lt;br /&gt;· Gangguan perfuisi jaringan otak b.d edema cerebral&lt;br /&gt;· Self care deficit b.d parsial paralisis&lt;br /&gt;· Gangguan mobilitas fisik b.d kelemahan fisik/motorik&lt;br /&gt;· Konstipasi b.d. gangguan sensorik motorik&lt;br /&gt;· Cemas b.d. kurangnya pengetahuan tentang penyakit dan perawatannya&lt;br /&gt;· Resiko terjadi gangguan integritas kulit b.d bed rest yang lama&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4783875443562043141-6366834731682396816?l=askep-kesehatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/6366834731682396816'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/6366834731682396816'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-kesehatan.blogspot.com/2009/07/asuhan-keperawatan-pada-stroke.html' title='ASUHAN KEPERAWATAN PADA STROKE HAEMOREGIK'/><author><name>elly</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_nt1knDXPQbQ/SBXu2-Vx8SI/AAAAAAAAACc/sHjT5rmXyC8/S220/frudo.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4783875443562043141.post-8233369822370915239</id><published>2009-03-20T23:59:00.000+07:00</published><updated>2009-03-21T00:00:43.740+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='health'/><title type='text'>Dermatophytosis</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Nursing care plans for Dermatophytosis&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Dermatophytosis (tinea) is a group of superficial fungal infections usually classified according to their anatomic location. Dermatophytosis may affect the scalp (tinea capitis), the bearded skin of the face (tinea barbae), the body (tinea corporis, occurring mainly in children), the groin (tinea cruris, or jock itch), the nails (tinea unguium, also called onychomycosis), and the feet (tinea pedis, or athlete's foot). These disorders vary from mild inflammations to acute vesicular reactions.&lt;br /&gt;Tinea infections are prevalent in the United States and are usually more common in males than in females. Although remissions and exacerbations are common, with effective treatment, the cure rate is very high. About 20% of infected people develop chronic conditions.&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Causes&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Tinea infections result from dermatophytes (fungi) of the genera Trichophyton, Microsporum, and Epidermophyton. Transmission can occur directly through contact with infected lesions or indirectly through contact with contaminated articles, such as shoes, towels, or shower stalls. Some cases come from contact with contaminated animals or soil. Warm weather, humidity, and tight clothing encourage fungus growth&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Complications&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Hair or nail loss and secondary bacterial or candidal infections, resulting in inflammation, itching, tenderness, and maceration, are common complications of tinea infections.&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Assessment Nursing care plans for Dermatophytosis&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Tinea lesions vary in appearance and duration. Inspection of the patient with tinea capitis may expose small, spreading papules on the scalp that may progress to inflamed, pus-filled lesions (kerions). Patchy hair loss with scaling may be visible. Tinea barbae appears as pustular folliculitis in the bearded area.&lt;br /&gt;In patients with tinea corporis, inspection and palpation reveal flat skin lesions at any site except the scalp, bearded skin, or feet. These lesions may be dry and scaly or moist and crusty; as they enlarge, their centers heal, producing the classic ring-shaped appearance. In patients with tinea cruris, inspection and palpation find raised, sharply defined, itchy red lesions in the groin that may extend to the buttocks, inner thighs, and external genitalia. Tinea unguium starts at the tip of one or more toenails (fingernail infection is less common). Inspection reveals gradual thickening, discoloration, and crumbling of the nail, with accumulation of subungual debris. Eventually, the nail may be completely destroyed.&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Diagnoses Nursing care plans for Dermatophytosis (tinea)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Acute pain &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Deficient knowledge (skin care regimen) &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Disturbed body image&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Impaired skin integrity&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Risk for infection&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Key outcomes Diagnoses Nursing care plans for Dermatophytosis (tinea)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;patient will report feelings of increased comfort.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;patient and his family will demonstrate the appropriate skin care regimen.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;patient will voice feelings about his changed body image.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;patient will exhibit improved or healed wounds or lesions.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;patient will avoid or minimize the risk of secondary infection.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4783875443562043141-8233369822370915239?l=askep-kesehatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/8233369822370915239'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/8233369822370915239'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-kesehatan.blogspot.com/2009/03/dermatophytosis.html' title='Dermatophytosis'/><author><name>elly</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_nt1knDXPQbQ/SBXu2-Vx8SI/AAAAAAAAACc/sHjT5rmXyC8/S220/frudo.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4783875443562043141.post-3028041474736221952</id><published>2009-03-20T23:54:00.003+07:00</published><updated>2009-03-20T23:58:44.212+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='syndrom'/><title type='text'>Sindrom Mental Disorder</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Merupakan sindrom atau pola perilaku, atau psikologik seseorang yang secara klinik cukup bermakna, dan secara khas berkaitan dengan suatu gejala penderitaan atau gangguan didalam satu atau lebih fungsi yang penting dari manusia. Sebagai tambahan, disimpulkan bahwa disfungsi itu adalah disfungsi dalam segi perilaku, psikologik atau biologik, dan gangguan itu tidak semata-mata terletak didalam hubungan antara orang dengan masyarakat (Rusdi Maslim, 1998).&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Klasifikasi Gangguan Jiwa&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Klasifikasi psikiatri melibatkan pembedaan dari perilaku normal dari abnormal. Dalam hal ini normal dan abnormal dapat berarti sehat dan sakit, tetapi bisa juga digunakan dalam arti lain. Sejumlah gejala psikiatri berbeda tajam dari normal dan hampir selalu menunjukkan penyakit ( Ingram et al., 1993): Gangguan Jiwa dibagi menjadi dua kelainan mental utama, yaitu penyakit mental dan cacat mental. Cacat mental suatu keadaan yang mencakup difisit intelektual dan telah ada sejak lahir atau pada usia dini. Penyakit mental secara tidak langsung menyatakan yang kesehatan sebelumnya, kelainan yang berkembang atau kelainan yang bermanifestasi kemudian dalam kehidupan&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Penyakit mental secara prinsip dibagi dalam psikoneurosis dan psikosis. Kategori ini sesuai dengan awam tentang kecemasan dan kegilaan. Psikoneurosis merupakan keadaan lazim yang gejalanya dapat dipahami dan dapat diempati. Psikosis merupakan penyakit yang gejalanya kurang dapat dipahami dan tidak dapat diempati serta klien sering kehilangan kontak realita.&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Istilah fungsional dan organik menunjukkan etiologi penyakit dan digunakan untuk membagi psikosis. Psikosis fungsional berarti ada gangguan fungsi, tanpa kelainan patologi yang dapat dibuktikan&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Penyebab Gangguan Jiwa&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Gejala utama atau gejala yang menonjol pada gangguan jiwa terdapat pada unsur kejiwaan, tetapi penyebab utamanya mungkin di badan (somatogenik), di lingkungan sosial (sosiogenik) ataupun psikis (psikogenik), (Maramis, 1994). Biasanya tidak terdapat penyebab tunggal, akan tetapi beberapa penyebab sekaligus dari berbagai unsur itu yang saling mempengaruhi atau kebetulan terjadi bersamaan, lalu timbulah gangguan badan ataupun jiwa. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Macam-Macam Gangguan Jiwa&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Gangguan jiwa artinya bahwa yang menonjol ialah gejala-gejala yang psikologik dari unsur psikis (Maramis, 1994). Macam-macam gangguan jiwa (Rusdi Maslim, 1998): Gangguan mental organik dan simtomatik, skizofrenia, gangguan skizotipal dan gangguan waham, gangguan suasana perasaan, gangguan neurotik, gangguan somatoform, sindrom perilaku yang berhubungan dengan gangguan fisiologis dan faktor fisik, Gangguan kepribadian dan perilaku masa dewasa, retardasi mental, gangguan perkembangan psikologis, gangguan perilaku dan emosional dengan onset masa kanak dan remaja. &lt;/div&gt;&lt;b&gt;1).  Skizofrenia.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Skizofrenia merupakan bentuk psikosa fungsional paling berat, dan menimbulkan disorganisasi personalitas yang terbesar. Skizofrenia juga merupakan suatu bentuk psikosa yang sering dijumpai dimana-mana sejak dahulu kala. Meskipun demikian pengetahuan kita tentang sebab-musabab dan patogenisanya sangat kurang (Maramis, 1994). Dalam kasus berat, klien tidak mempunyai kontak dengan realitas, sehingga pemikiran dan perilakunya abnormal. Perjalanan penyakit ini secara bertahap akan menuju kearah kronisitas, tetapi sekali-kali bisa timbul serangan. Jarang bisa terjadi pemulihan sempurna dengan spontan dan jika tidak diobati biasanya berakhir dengan personalitas yang rusak ” cacat ” (Ingram et al.,1995).&lt;/div&gt;&lt;b&gt;2).  Depresi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Depresi merupakan satu masa terganggunya fungsi manusia yang berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk perubahan pada pola tidur dan nafsu makan, psikomotor, konsentrasi, kelelahan, rasa putus asa dan tak berdaya, serta gagasan bunuh diri (Kaplan, 1998). Depresi juga dapat diartikan sebagai salah satu bentuk gangguan kejiwaan pada alam perasaan yang ditandai dengan kemurungan, keleluasaan, ketiadaan gairah hidup, perasaan tidak berguna, putus asa dan lain sebagainya (Hawari, 1997). Depresi adalah suatu perasaan sedih dan yang berhubungan dengan penderitaan. Dapat berupa serangan yang ditujukan pada diri sendiri atau perasaan marah yang mendalam (Nugroho, 2000). Depresi adalah gangguan patologis terhadap mood mempunyai karakteristik berupa bermacam-macam perasaan, sikap dan kepercayaan bahwa seseorang hidup menyendiri, pesimis, putus asa, ketidak berdayaan, harga diri rendah, bersalah, harapan yang negatif dan takut pada bahaya yang akan datang. Depresi menyerupai kesedihan yang merupakan perasaan normal yang muncul sebagai akibat dari situasi tertentu misalnya kematian orang yang dicintai. Sebagai ganti rasa ketidaktahuan akan kehilangan seseorang akan menolak kehilangan dan menunjukkan kesedihan dengan tanda depresi (Rawlins et al., 1993). Individu yang menderita suasana perasaan (mood) yang depresi biasanya akan kehilangan minat dan kegembiraan, dan berkurangnya energi yang menuju keadaan mudah lelah dan berkurangnya aktiftas (Depkes, 1993). Depresi dianggap normal terhadap banyak stress kehidupan dan abnormal hanya jika ia tidak sebanding dengan peristiwa penyebabnya dan terus berlangsung sampai titik dimana sebagian besar orang mulai pulih (Atkinson, 2000).&lt;/div&gt;&lt;b&gt;3). Kecemasan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kecemasan sebagai pengalaman psikis yang biasa dan wajar, yang pernah dialami oleh setiap orang dalam rangka memacu individu untuk mengatasi masalah yang dihadapi sebaik-baiknya, Maslim (1991). Suatu keadaan seseorang merasa khawatir dan takut sebagai bentuk reaksi dari ancaman yang tidak spesifik (Rawlins 1993). Penyebabnya maupun sumber biasanya tidak diketahui atau tidak dikenali. Intensitas kecemasan dibedakan dari kecemasan tingkat ringan sampai tingkat berat. Menurut Sundeen (1995) mengidentifikasi rentang respon kecemasan kedalam empat tingkatan yang meliputi, kecemasn ringan, sedang, berat dan kecemasan panik.&lt;/div&gt;&lt;b&gt;4). Gangguan Kepribadian&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Klinik menunjukkan bahwa gejala-gejala gangguan kepribadian (psikopatia) dan gejala-gejala nerosa berbentuk hampir sama pada orang-orang dengan intelegensi tinggi ataupun rendah. Jadi boleh dikatakan bahwa gangguan kepribadian, nerosa dan gangguan intelegensi sebagaian besar tidak tergantung pada satu dan lain atau tidak berkorelasi. Klasifikasi gangguan kepribadian: kepribadian paranoid, kepribadian afektif atau siklotemik, kepribadian skizoid, kepribadian axplosif, kepribadian anankastik atau obsesif-konpulsif, kepridian histerik, kepribadian astenik, kepribadian antisosial, Kepribadian pasif agresif, kepribadian inadequat, Maslim (1998). &lt;/div&gt;&lt;b&gt;5). Gangguan Mental Organik&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Merupakan gangguan jiwa yang psikotik atau non-psikotik yang disebabkan oleh gangguan fungsi jaringan otak (Maramis,1994). Gangguan fungsi jaringan otak ini dapat disebabkan oleh penyakit badaniah yang terutama mengenai otak atau yang terutama diluar otak. Bila bagian otak yang terganggu itu luas , maka gangguan dasar mengenai fungsi mental sama saja, tidak tergantung pada penyakit yang menyebabkannya bila hanya bagian otak dengan fungsi tertentu saja yang terganggu, maka lokasi inilah yang menentukan gejala dan sindroma, bukan penyakit yang menyebabkannya. Pembagian menjadi psikotik dan tidak psikotik lebih menunjukkan kepada berat gangguan otak pada suatu penyakit tertentu daripada pembagian akut dan menahun. &lt;/div&gt;&lt;b&gt;6). Gangguan Psikosomatik&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Merupakan komponen psikologik yang diikuti gangguan fungsi badaniah (Maramis, 1994). Sering terjadi perkembangan neurotik yang memperlihatkan sebagian besar atau semata-mata karena gangguan fungsi alat-alat tubuh yang dikuasai oleh susunan saraf vegetatif. Gangguan psikosomatik dapat disamakan dengan apa yang dinamakan dahulu neurosa organ. Karena biasanya hanya fungsi faaliah yang terganggu, maka sering disebut juga gangguan psikofisiologik.&lt;/div&gt;&lt;b&gt;7). Retardasi Mental&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Retardasi mental merupakan keadaan perkembangan jiwa yang terhenti atau tidak lengkap, yang terutama ditandai oleh terjadinya hendaya keterampilan selama masa perkembangan, sehingga berpengaruh pada tingkat kecerdasan secara menyeluruh, misalnya kemampuan kognitif, bahasa, motorik dan sosial (Maslim,1998).&lt;/div&gt;&lt;b&gt;8). Gangguan Perilaku Masa Anak dan Remaja.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Anak dengan gangguan perilaku menunjukkan perilaku yang tidak sesuai dengan permintaan, kebiasaan atau norma-norma masyarakat (Maramis, 1994). Anak dengan gangguan perilaku dapat menimbulkan kesukaran dalam asuhan dan pendidikan. Gangguan perilaku mungkin berasal dari anak atau mungkin dari lingkungannya, akan tetapi akhirnya kedua faktor ini saling mempengaruhi. Diketahui bahwa ciri dan bentuk anggota tubuh serta sifat kepribadian yang umum dapat diturunkan dari orang tua kepada anaknya. Pada gangguan otak seperti trauma kepala, ensepalitis, neoplasma dapat mengakibatkan perubahan kepribadian. Faktor lingkungan juga dapat mempengaruhi perilaku anak, dan sering lebih menentukan oleh karena lingkungan itu dapat diubah, maka dengan demikian gangguan perilaku itu dapat dipengaruhi atau dicegah.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4783875443562043141-3028041474736221952?l=askep-kesehatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/3028041474736221952'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/3028041474736221952'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-kesehatan.blogspot.com/2009/03/apa-itu-mental-disorder.html' title='Sindrom Mental Disorder'/><author><name>elly</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_nt1knDXPQbQ/SBXu2-Vx8SI/AAAAAAAAACc/sHjT5rmXyC8/S220/frudo.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4783875443562043141.post-3792481328201269682</id><published>2009-02-26T18:28:00.003+07:00</published><updated>2009-03-07T02:40:30.605+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='health'/><title type='text'>Bell's palsy Information</title><content type='html'>Looking at yourself in front of the mirror, you noticed that half of your face is somewhat "sagging", eyelid is drooping such that you cannot fully open your eye. Probably you are eating your favorite food and all of a sudden you cannot enjoy the food because you can't taste anything. These signs might indicate that you are experiencing a condition called Bell's Palsy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Bell's palsy is a form of temporary facial paralysis resulting from damage or trauma to one of the two facial nerves. It is the most common cause of facial paralysis. Generally, Bell's palsy affects only one of the paired facial nerves and one side of the face, however, in rare cases, it can affect both sides. Symptoms of Bell's palsy usually begin suddenly and reach their peak within 48 hours. Symptoms range in severity from mild weakness to total paralysis and may include twitching, weakness, or paralysis, drooping eyelid or corner of the mouth, drooling, dry eye or mouth, impairment of taste, and excessive tearing in the eye. Bell’s palsy often causes significant facial distortion. Most scientists believe that a viral infection such as viral meningitis or the common cold sore virus -- herpes simplex-- causes the disorder when the facial nerve swells and becomes inflamed in reaction to the infection.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Is there any treatment?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;There is no cure or standard course of treatment for Bell's palsy. The most important factor in treatment is to eliminate the source of the nerve damage. Some cases are mild and do not require treatment since the symptoms usually subside on their own within 2 weeks. For others, treatment may include medications such as acyclovir -- used to fight viral infections -- combined with an anti-inflammatory drug such as the steroid prednisone -- used to reduce inflammation and swelling. Analgesics such as aspirin, acetaminophen, or ibuprofen may relieve pain, but because of possible drug interactions, patients should always talk to their doctors before taking any over-the-counter medicines.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Physical therapy to stimulate the facial nerve and help maintain muscle tone may be beneficial to some. Facial massage and exercises may help prevent permanent contractures (shrinkage or shortening of muscles) of the paralyzed muscles before recovery takes place. Moist heat applied to the affected side of the face may help reduce pain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Other therapies that may be useful for some individuals include relaxation techniques, acupuncture, electrical stimulation, biofeedback training, and vitamin therapy (including vitamin B12, B6, and zinc), which may help nerve growth.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In general, decompression surgery for Bell's palsy -- to relieve pressure on the nerve -- is controversial and is seldom recommended.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Will I recover from Bell's Palsy?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The prognosis for individuals with Bell's palsy is generally very good. The extent of nerve damage determines the extent of recovery. With or without treatment, most individuals begin to get better within 2 weeks after the initial onset of symptoms and recover completely within 3 to 6 months.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;hr style="margin-left: 0px; margin-right: 0px;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sources:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;National Institute of Neurological Disorders and Stroke(NINDS)(December, 2007). Bell's Palsy Information Page. Retrieved January 10, 2007, from NINDS, National Institutes of Health. Web site: http://www.ninds.nih.gov/disorders/bells/bells.htm&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;National Institute of Neurological Disorders and Stroke(NINDS)(April, 2003). Bell's Palsy Fact Sheet (NIH Publication No. 03-5114). Retrieved January 10, 2007, from NINDS, National Institutes of Health. Web site: http://www.ninds.nih.gov/disorders/bells/detail_bells.htm&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4783875443562043141-3792481328201269682?l=askep-kesehatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/3792481328201269682'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4783875443562043141/posts/default/3792481328201269682'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-kesehatan.blogspot.com/2009/02/bells-palsy-information.html' title='Bell&apos;s palsy Information'/><author><name>elly</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_nt1knDXPQbQ/SBXu2-Vx8SI/AAAAAAAAACc/sHjT5rmXyC8/S220/frudo.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4783875443562043141.post-8689632080091779828</id><published>2009-01-27T23:32:00.001+07:00</published><updated>2009-01-27T23:32:09.274+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FRAKTUR'/><title type='text'>FRAKTUR TIBIA FIBULA</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 200%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 200%;"&gt;BAB I&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 200%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 200%;"&gt;PENDAHULUAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;A.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;Latar Belakang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 200%;"&gt;Negara Indonesia merupakan negara berkembang yang berada dalam taraf halusinasi menuju&lt;span style="" lang="EN-ID"&gt; industrialisasi&lt;/span&gt; tentunya akan mempengaruhi peningkatan mobilisasi masyarakat /mobilitas masyarakat yang meningkat otomatisasi terjadi peningkatan penggunaan alat-alat transportasi /kendaraan bermotor khususnya bagi masyarakat yang tinggal diperkotaan. Sehingga menambah “kesemrawutan” arus lalu lintas. Arus lalu lintas yang tidak teratur dapat meningkatkan kecenderungan terjadinya kecelakaan kendaraan bermotor. Kecelakaan tersebut sering kali menyebabkan cidera tulang atau disebut fraktur.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 200%;"&gt;Menurut Smeltzer (2001 : 2357) fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 200%;"&gt;Berdasarkan data dari rekam medik RS Fatmawati di ruang Orthopedi periode Januari 2005 s/d Juli 2005 berjumlah 323 yang mengalami gangguan muskuloskletel, termasuk yang mengalami fraktur Tibia Fibula berjumlah 31 orang (5,59%).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 200%;"&gt;Penanganan segera pada klien yang dicurigai terjadinya fraktur adalah dengan mengimobilisasi bagian fraktur adalah salah satu metode mobilisasi fraktur adalah fiksasi Interna melalui operasi Orif (Smeltzer, 2001 : 2361). Penanganan tersebut dilakukan untuk mencegah terjadinya komplikasi. Komplikasi umumnya oleh akibat tiga fraktur utama yaitu penekanan lokal, traksi yang berlebihan dan infeksi (Rasjad, 1998 : 363).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 200%;"&gt;Peran perawat pada kasus fraktur meliputi sebagai pemberi asuhan keperawatan langsung kepada klien yang mengalami fraktur, sebagai pendidik memberikan pendidikan kesehatan untuk mencegah komplikasi, serta sebagai peneliti yaitu dimana perawat berupaya meneliti asuhan keperawatan kepada klien fraktur melalui metode ilmiah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 200%;"&gt;Berdasarkan penjelasan diatas, maka penulis tertarik untuk mengetahui lebih lanjut bagaimana asuhan keperawatan fraktur tertutup Tibia Fibula &lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt;/&lt;sub&gt;3&lt;/sub&gt; Distal Dextra diruang I Orthopedi Fatmawati.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;B.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;TUJUAN PENULISAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;Tujuan Umum&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 200%;"&gt;Untuk mendapatkan pengalaman nyata tentang asuhan keperawatan dengan fraktur tertutup Tibia Fibula &lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt;/&lt;sub&gt;3&lt;/sub&gt; Distal Dextra post Op ORIF&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;Tujuan Khusus&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 200%;"&gt;Setelah melaksanakan asuhan keperawatan pada klien dengan fraktur tertutup Tibia Fibula &lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt;/&lt;sub&gt;3&lt;/sub&gt; Dextra post op ORIF, Penulis mampu : &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Mengidentifikasi data yang menunjang masalah keperawatan pada fraktur tertutup Tibia Fibula &lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt;/&lt;sub&gt;3&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/sub&gt;Distal&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dextra.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Menentukan diagnosa keperawatan pada klien dengan fraktur tertutup Tibia Fibula &lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt;/&lt;sub&gt;3&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/sub&gt;Distal Dextra.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Menyusun rencana keperawatan pada klien dengan fraktur tertutup Tibia Fibula &lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt;/&lt;sub&gt;3 &lt;/sub&gt;Distal Dextra.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;d.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Melaksanakan tindakan keperawatan pada klien dengan fraktur tertutup Tibia Fibula &lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt;/&lt;sub&gt;3 &lt;/sub&gt;Distal Dextra.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;e.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Melaksanakan evaluasi keperawatan pada klien dengan fraktur tertutup Tibia Fibula &lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt;/&lt;sub&gt;3 &lt;/sub&gt;Distal Dextra.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;f.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Mengidentifikasi faktor pendukung dan faktor penghambat serta penyelesaian masalah (solusi) dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada klien dengan fraktur tertutup Tibia Fibula &lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt;/&lt;sub&gt;3 &lt;/sub&gt;Distal Dextra.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;C.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;METODE PENULISAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 200%;"&gt;Metode yang digunakan penulis dalam laporan studi kasus ini adalah metode deskriptif melalui pendekatan proses keperawatan dengan cara teknik pengumpulan data seperti wawancara, pemeriksaan fisik, kolaborasi dengan tim kesehatan yang lain serta data dari&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;catatan medik klien. Setelah itu data diolah dan dianalisa untuk selanjutnya dirumuskan masalah sehingga bisa di intervensi dan di evaluasi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;D.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;SISTEMATIKA PENULISAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 200%;"&gt;Untuk memudahkan pengertian dan pemahaman terhadap isi dan maksud dari laporan kasus ini, maka penulisannya dibuat secara sistematis dibagi menjadi 5 bab, yaitu :&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;b&gt;BAB I :&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;PENDAHULUAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Meliputi Latar Belakang, Tujuan, Metode Penulisan dan Sistematika Penulisan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -54pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;b&gt;BAB II :&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;TINJAUAN TEORITIS&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Meliputi Konsep Dasar Penyakit dan Konsep Dasar Asuhan Keperawatan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -54pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;b&gt;BAB III :&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;TINJAUAN KASUS &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Meliputi Gambaran Kasus dan Diagnosa, Intervensi, Implementasi dan Evaluasi Keperawatan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -54pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;b&gt;BAB IV :&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;PEMBAHASAN &lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Yang membahas tentang kesenjangan antara Kasus, yang ditemukan dengan teori yang didapatkan meliputi Definisi, Rasional terhadap setiap Diagnosa Keperawatan yang ditemukan, Faktor Pendukung, Faktor Penghambat serta Solusi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;BAB V&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;: PENUTUP&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Yang meliputi Kesimpulan dan Saran&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;b&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;b&gt;LAMPIRAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 200%;" align="center"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:rect id="_x0000_s1026" style="'position:absolute;left:0;text-align:left;" stroked="f"&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;span style="position: relative; z-index: 1;"&gt;&lt;span style="position: absolute; left: 532px; top: -84px; width: 72px; height: 72px;"&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/gc_pnet/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" shapes="_x0000_s1026" width="72" height="72" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;BAB II&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 200%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 200%;"&gt;TINJAUAN TEORI&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 200%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 200%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 39.9pt; text-align: justify; text-indent: -17pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Pengertian&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 39pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 200%;"&gt;Fraktur adalah terputusnya hubungan atau kontinuitas tulang karena stress pada tulang yang berlebihan &lt;i&gt;(Luckmann and Sorensens, 1993 : 1915)&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 39pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 200%;"&gt;Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik kekuatan dan sudut dari tenaga tersebut, keadaan tulang itu sendiri, dan jaringan lunak disekitar tulang akan menentukan apakah fraktur yang terjadi itu lengkap atau tidak lengkap. (&lt;i&gt;Price and Wilson, 1995 : 1183&lt;/i&gt;)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 39pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 200%;"&gt;Fraktur menurut Rasjad (1998 : 338) adalah hilangnya konstinuitas tulang, tulang rawan sendi, tulang rawan epifisis, baik yang bersifat total maupun yang parsial. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 39pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 200%;"&gt;Fraktur Tibia Fibula&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;adalah terputusnya tulang tibia dan fibula.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 39pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 39.9pt; text-align: justify; text-indent: -17pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Etiologi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.05pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Penyebab fraktur diantaranya :&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 51.3pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Trauma&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 71.25pt; text-align: justify; text-indent: -19.95pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;1)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Trauma langsung : Benturan pada tulang mengakibatkan ditempat tersebut.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 71.25pt; text-align: justify; text-indent: -19.95pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;2)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Trauma tidak langsung : Titik tumpu benturan dengan terjadinya fraktur berjauhan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 51.3pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Fraktur Patologis&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 51.3pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Fraktur disebabkan karena proses penyakit seperti osteoporosis, kanker tulang dan lain-lain.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 51.3pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Degenerasi&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 51.3pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Terjadi kemunduran patologis dari jaringan itu sendiri : usia lanjut&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 51.3pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;d.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Spontan&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 51.3pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Terjadi tarikan otot yang sangat kuat seperti olah raga.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; line-height: 200%;" align="right"&gt;(&lt;i&gt;Corwin, 2001 : 298&lt;/i&gt;)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 39.9pt; text-align: justify; text-indent: -17pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;Manifestasi Klinis&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54.15pt; text-align: justify; text-indent: -17.1pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Nyeri lokal&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54.15pt; text-align: justify; text-indent: -17.1pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Pembengkakan&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54.15pt; text-align: justify; text-indent: -17.1pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Eritema&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54.15pt; text-align: justify; text-indent: -17.1pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;d.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Peningkatan suhu&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54.15pt; text-align: justify; text-indent: -17.1pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;e.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Pergerakan abnormal&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; line-height: 200%;" align="right"&gt;&lt;i&gt;Smeltzer and Bare, 2002 : 2343&lt;/i&gt;)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 22.7pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 39pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 39pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 39pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 39pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 39pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 39pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 39pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 39.9pt; text-align: justify; text-indent: -17pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;Patofisiologi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:group id="_x0000_s1027" style="'position:absolute;left:0;text-align:left;" coordorigin="1413,2199" coordsize="10260,11880"&gt;  &lt;v:rect id="_x0000_s1028" style="'position:absolute;left:5517;top:2199;width:1539;" stroked="f"&gt;   &lt;v:textbox style="'mso-next-textbox:#_x0000_s1028'"&gt;    &lt;![if !mso]&gt;    &lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;     &lt;tr&gt;      &lt;td&gt;&lt;![endif]&gt;      &lt;div&gt;      &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="'text-align:center'"&gt;Trauma&lt;/p&gt;      &lt;/div&gt;      &lt;![if !mso]&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;    &lt;/table&gt;    &lt;![endif]&gt;&lt;/v:textbox&gt;  &lt;/v:rect&gt;&lt;v:rect id="_x0000_s1029" style="'position:absolute;left:5232;top:3099;" stroked="f"&gt;   &lt;v:textbox style="'mso-next-textbox:#_x0000_s1029'"&gt;    &lt;![if !mso]&gt;    &lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;     &lt;tr&gt;      &lt;td&gt;&lt;![endif]&gt;      &lt;div&gt;      &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="'text-align:center'"&gt;Peningkatan daya      da&lt;/p&gt;      &lt;/div&gt;      &lt;![if !mso]&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;    &lt;/table&gt;    &lt;![endif]&gt;&lt;/v:textbox&gt;  &lt;/v:rect&gt;&lt;v:rect id="_x0000_s1030" style="'position:absolute;left:4776;top:3999;" stroked="f"&gt;   &lt;v:textbox style="'mso-next-textbox:#_x0000_s1030'"&gt;    &lt;![if !mso]&gt;    &lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;     &lt;tr&gt;      &lt;td&gt;&lt;![endif]&gt;      &lt;div&gt;      &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="'text-align:center'"&gt;Tulang dan      jaringan sekitar&lt;/p&gt;      &lt;/div&gt;      &lt;![if !mso]&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;    &lt;/table&gt;    &lt;![endif]&gt;&lt;/v:textbox&gt;  &lt;/v:rect&gt;&lt;v:rect id="_x0000_s1031" style="'position:absolute;left:5460;top:4899;" stroked="f"&gt;   &lt;v:textbox style="'mso-next-textbox:#_x0000_s1031'"&gt;    &lt;![if !mso]&gt;    &lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;     &lt;tr&gt;      &lt;td&gt;&lt;![endif]&gt;      &lt;div&gt;      &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="'text-align:center'"&gt;Fraktur&lt;/p&gt;      &lt;/div&gt;      &lt;![if !mso]&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;    &lt;/table&gt;    &lt;![endif]&gt;&lt;/v:textbox&gt;  &lt;/v:rect&gt;&lt;v:rect id="_x0000_s1032" style="'position:absolute;left:2211;top:5979;" stroked="f"&gt;   &lt;v:textbox style="'mso-next-textbox:#_x0000_s1032'"&gt;    &lt;![if !mso]&gt;    &lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;     &lt;tr&gt;      &lt;td&gt;&lt;![endif]&gt;      &lt;div&gt;      &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="'text-align:center'"&gt;Jaringan Lunak&lt;/p&gt;      &lt;/div&gt;      &lt;![if !mso]&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;    &lt;/table&gt;    &lt;![endif]&gt;&lt;/v:textbox&gt;  &lt;/v:rect&gt;&lt;v:rect id="_x0000_s1033" style="'position:absolute;left:4320;top:5979;" stroked="f"&gt;   &lt;v:textbox style="'mso-next-textbox:#_x0000_s1033'"&gt;    &lt;![if !mso]&gt;    &lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;     &lt;tr&gt;      &lt;td&gt;&lt;![endif]&gt;      &lt;div&gt;      &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="'text-align:center'"&gt;Pembuluh darah&lt;/p&gt;      &lt;/div&gt;      &lt;![if !mso]&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;    &lt;/table&gt;    &lt;![endif]&gt;&lt;/v:textbox&gt;  &lt;/v:rect&gt;&lt;v:rect id="_x0000_s1034" style="'position:absolute;left:6258;top:5979;" stroked="f"&gt;   &lt;v:textbox style="'mso-next-textbox:#_x0000_s1034'"&gt;    &lt;![if !mso]&gt;    &lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;     &lt;tr&gt;      &lt;td&gt;&lt;![endif]&gt;      &lt;div&gt;      &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="'text-align:center'"&gt;Serabut saraf&lt;/p&gt;      &lt;/div&gt;      &lt;![if !mso]&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;    &lt;/table&gt;    &lt;![endif]&gt;&lt;/v:textbox&gt;  &lt;/v:rect&gt;&lt;v:rect id="_x0000_s1035" style="'position:absolute;left:2325;top:6699;" stroked="f"&gt;   &lt;v:textbox style="'mso-next-textbox:#_x0000_s1035'"&gt;    &lt;![if !mso]&gt;    &lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;     &lt;tr&gt;      &lt;td&gt;&lt;![endif]&gt;      &lt;div&gt;      &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="'text-align:center'"&gt;Luka&lt;/p&gt;      &lt;/div&gt;      &lt;![if !mso]&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;    &lt;/table&gt;    &lt;![endif]&gt;&lt;/v:textbox&gt;  &lt;/v:rect&gt;&lt;v:rect id="_x0000_s1036" style="'position:absolute;left:2154;top:7419;" stroked="f"&gt;   &lt;v:textbox style="'mso-next-textbox:#_x0000_s1036'"&gt;    &lt;![if !mso]&gt;    &lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;     &lt;tr&gt;      &lt;td&gt;&lt;![endif]&gt;      &lt;div&gt;      &lt;p class="MsoNormal"&gt;Post De Entry&lt;/p&gt;      &lt;/div&gt;      &lt;![if !mso]&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;    &lt;/table&gt;    &lt;![endif]&gt;&lt;/v:textbox&gt;  &lt;/v:rect&gt;&lt;v:rect id="_x0000_s1037" style="'position:absolute;left:2724;top:8139;" stroked="f"&gt;   &lt;v:textbox style="'mso-next-textbox:#_x0000_s1037'"&gt;    &lt;![if !mso]&gt;    &lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;     &lt;tr&gt;      &lt;td&gt;&lt;![endif]&gt;      &lt;div&gt;      &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="'text-align:center'"&gt;Infeksi&lt;/p&gt;      &lt;/div&gt;      &lt;![if !mso]&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;    &lt;/table&gt;    &lt;![endif]&gt;&lt;/v:textbox&gt;  &lt;/v:rect&gt;&lt;v:rect id="_x0000_s1038" style="'position:absolute;left:8196;top:5979;" stroked="f"&gt;   &lt;v:textbox style="'mso-next-textbox:#_x0000_s1038'"&gt;    &lt;![if !mso]&gt;    &lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;     &lt;tr&gt;      &lt;td&gt;&lt;![endif]&gt;      &lt;div&gt;      &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="'text-align:center'"&gt;Periosteum&lt;/p&gt;      &lt;/div&gt;      &lt;![if !mso]&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;    &lt;/table&gt;    &lt;![endif]&gt;&lt;/v:textbox&gt;  &lt;/v:rect&gt;&lt;v:rect id="_x0000_s1039" style="'position:absolute;left:4548;top:6699;" stroked="f"&gt;   &lt;v:textbox style="'mso-next-textbox:#_x0000_s1039'"&gt;    &lt;![if !mso]&gt;    &lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;     &lt;tr&gt;      &lt;td&gt;&lt;![endif]&gt;      &lt;div&gt;      &lt;p class="MsoNormal"&gt;Pendarahan&lt;/p&gt;      &lt;/div&gt;      &lt;![if !mso]&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;    &lt;/table&gt;    &lt;![endif]&gt;&lt;/v:textbox&gt;  &lt;/v:rect&gt;&lt;v:rect id="_x0000_s1040" style="'position:absolute;left:8994;top:7419;" stroked="f"&gt;   &lt;v:textbox style="'mso-next-textbox:#_x0000_s1040'"&gt;    &lt;![if !mso]&gt;    &lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;     &lt;tr&gt;      &lt;td&gt;&lt;![endif]&gt;      &lt;div&gt;      &lt;p class="MsoNormal"&gt;Deformitas&lt;/p&gt;      &lt;/div&gt;      &lt;![if !mso]&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;    &lt;/table&gt;    &lt;![endif]&gt;&lt;/v:textbox&gt;  &lt;/v:rect&gt;&lt;v:rect id="_x0000_s1041" style="'position:absolute;left:6486;top:6699;" stroked="f"&gt;   &lt;v:textbox style="'mso-next-textbox:#_x0000_s1041'"&gt;    &lt;![if !mso]&gt;    &lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;     &lt;tr&gt;      &lt;td&gt;&lt;![endif]&gt;      &lt;div&gt;      &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="'text-align:center'"&gt;Sensori&lt;/p&gt;      &lt;/div&gt;      &lt;![if !mso]&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;    &lt;/table&gt;    &lt;![endif]&gt;&lt;/v:textbox&gt;  &lt;/v:rect&gt;&lt;v:rect id="_x0000_s1042" style="'position:absolute;left:8994;top:10299;" stroked="f"&gt;   &lt;v:textbox style="'mso-next-textbox:#_x0000_s1042'"&gt;    &lt;![if !mso]&gt;    &lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;     &lt;tr&gt;      &lt;td&gt;&lt;![endif]&gt;      &lt;div&gt;      &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="'text-align:center'"&gt;Mal Union&lt;/p&gt;      &lt;/div&gt;      &lt;![if !mso]&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;    &lt;/table&gt;    &lt;![endif]&gt;&lt;/v:textbox&gt;  &lt;/v:rect&gt;&lt;v:rect id="_x0000_s1043" style="'position:absolute;left:4548;top:7419;" stroked="f"&gt;   &lt;v:textbox style="'mso-next-textbox:#_x0000_s1043'"&gt;    &lt;![if !mso]&gt;    &lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;     &lt;tr&gt;      &lt;td&gt;&lt;![endif]&gt;      &lt;div&gt;      &lt;p class="MsoNormal"&gt;Hematom&lt;/p&gt;      &lt;/div&gt;      &lt;![if !mso]&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;    &lt;/table&gt;    &lt;![endif]&gt;&lt;/v:textbox&gt;  &lt;/v:rect&gt;&lt;v:rect id="_x0000_s1044" style="'position:absolute;left:4434;top:8139;" stroked="f"&gt;   &lt;v:textbox style="'mso-next-textbox:#_x0000_s1044'"&gt;    &lt;![if !mso]&gt;    &lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;     &lt;tr&gt;      &lt;td&gt;&lt;![endif]&gt;      &lt;div&gt;      &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="'text-align:center'"&gt;Vasodilatasi&lt;/p&gt;      &lt;/div&gt;      &lt;![if !mso]&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;    &lt;/table&gt;    &lt;![endif]&gt;&lt;/v:textbox&gt;  &lt;/v:rect&gt;&lt;v:rect id="_x0000_s1045" style="'position:absolute;left:8994;top:9219;" stroked="f"&gt;   &lt;v:textbox style="'mso-next-textbox:#_x0000_s1045'"&gt;    &lt;![if !mso]&gt;    &lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;     &lt;tr&gt;      &lt;td&gt;&lt;![endif]&gt;      &lt;div&gt;      &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="'text-align:center'"&gt;Delayed Union&lt;/p&gt;      &lt;/div&gt;      &lt;![if !mso]&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;    &lt;/table&gt;    &lt;![endif]&gt;&lt;/v:textbox&gt;  &lt;/v:rect&gt;&lt;v:rect id="_x0000_s1046" style="'position:absolute;left:8937;top:8139;" stroked="f"&gt;   &lt;v:textbox style="'mso-next-textbox:#_x0000_s1046'"&gt;    &lt;![if !mso]&gt;    &lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;     &lt;tr&gt;      &lt;td&gt;&lt;![endif]&gt;      &lt;div&gt;      &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="'text-align:center'"&gt;Pemendekan      tulang&lt;/p&gt;      &lt;/div&gt;      &lt;![if !mso]&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;    &lt;/table&gt;    &lt;![endif]&gt;&lt;/v:textbox&gt;  &lt;/v:rect&gt;&lt;v:rect id="_x0000_s1047" style="'position:absolute;left:9792;top:5979;" stroked="f"&gt;   &lt;v:textbox style="'mso-next-textbox:#_x0000_s1047'"&gt;    &lt;![if !mso]&gt;    &lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;     &lt;tr&gt;      &lt;td&gt;&lt;![endif]&gt;      &lt;div&gt;      &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="'text-align:center'"&gt;Korteks Tulang&lt;/p&gt;      &lt;/div&gt;      &lt;![if !mso]&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;    &lt;/table&gt;    &lt;![endif]&gt;&lt;/v:textbox&gt;  &lt;/v:rect&gt;&lt;v:rect id="_x0000_s1048" style="'position:absolute;left:6429;top:7419;" stroked="f"&gt;   &lt;v:textbox style="'mso-next-textbox:#_x0000_s1048'"&gt;    &lt;![if !mso]&gt;    &lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;     &lt;tr&gt;      &lt;td&gt;&lt;![endif]&gt;      &lt;div&gt;      &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="'text-align:center'"&gt;Nyeri&lt;/p&gt;      &lt;/div&gt;      &lt;![if !mso]&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;    &lt;/table&gt;    &lt;![endif]&gt;&lt;/v:textbox&gt;  &lt;/v:rect&gt;&lt;v:rect id="_x0000_s1049" style="'position:absolute;left:4320;top:8859;" stroked="f"&gt;   &lt;v:textbox style="'mso-next-textbox:#_x0000_s1049'"&gt;    &lt;![if !mso]&gt;    &lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;     &lt;tr&gt;      &lt;td&gt;&lt;![endif]&gt;      &lt;div&gt;      &lt;p class="MsoNormal"&gt;Eksudasi Prima&lt;/p&gt;      &lt;/div&gt;      &lt;![if !mso]&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;    &lt;/table&gt;    &lt;![endif]&gt;&lt;/v:textbox&gt;  &lt;/v:rect&gt;&lt;v:rect id="_x0000_s1050" style="'position:absolute;left:4377;top:10299;" stroked="f"&gt;   &lt;v:textbox style="'mso-next-textbox:#_x0000_s1050'"&gt;    &lt;![if !mso]&gt;    &lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;     &lt;tr&gt;      &lt;td&gt;&lt;![endif]&gt;      &lt;div&gt;      &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="'text-align:center'"&gt;Inflamasi&lt;/p&gt;      &lt;/div&gt;      &lt;![if !mso]&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;    &lt;/table&gt;    &lt;![endif]&gt;&lt;/v:textbox&gt;  &lt;/v:rect&gt;&lt;v:rect id="_x0000_s1051" style="'position:absolute;left:4434;top:9579;" stroked="f"&gt;   &lt;v:textbox style="'mso-next-textbox:#_x0000_s1051'"&gt;    &lt;![if !mso]&gt;    &lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;     &lt;tr&gt;      &lt;td&gt;&lt;![endif]&gt;      &lt;div&gt;      &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="'text-align:center'"&gt;Sumbatan &lt;/p&gt;      &lt;/div&gt;      &lt;![if !mso]&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;    &lt;/table&gt;    &lt;![endif]&gt;&lt;/v:textbox&gt;  &lt;/v:rect&gt;&lt;v:rect id="_x0000_s1052" style="'position:absolute;left:4377;top:11019;" stroked="f"&gt;   &lt;v:textbox style="'mso-next-textbox:#_x0000_s1052'"&gt;    &lt;![if !mso]&gt;    &lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;     &lt;tr&gt;      &lt;td&gt;&lt;![endif]&gt;      &lt;div&gt;      &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="'text-align:center'"&gt;Bengkak&lt;/p&gt;      &lt;/div&gt;      &lt;![if !mso]&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;    &lt;/table&gt;    &lt;![endif]&gt;&lt;/v:textbox&gt;  &lt;/v:rect&gt;&lt;v:rect id="_x0000_s1053" style="'position:absolute;left:2667;top:8859;" stroked="f"&gt;   &lt;v:textbox style="'mso-next-textbox:#_x0000_s1053'"&gt;    &lt;![if !mso]&gt;    &lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;     &lt;tr&gt;      &lt;td&gt;&lt;![endif]&gt;      &lt;div&gt;      &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="'text-align:center'"&gt;Delayed Union&lt;/p&gt;      &lt;/div&gt;      &lt;![if !mso]&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;    &lt;/table&gt;    &lt;![endif]&gt;&lt;/v:textbox&gt;  &lt;/v:rect&gt;&lt;v:rect id="_x0000_s1054" style="'position:absolute;left:1413;top:8139;" stroked="f"&gt;   &lt;v:textbox style="'mso-next-textbox:#_x0000_s1054'"&gt;    &lt;![if !mso]&gt;    &lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;     &lt;tr&gt;      &lt;td&gt;&lt;![endif]&gt;      &lt;div&gt;      &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="'text-align:center'"&gt;Non Infeksi&lt;/p&gt;      &lt;/div&gt;      &lt;![if !mso]&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;    &lt;/table&gt;    &lt;![endif]&gt;&lt;/v:textbox&gt;  &lt;/v:rect&gt;&lt;v:rect id="_x0000_s1055" style="'position:absolute;left:4377;top:11739;" stroked="f"&gt;   &lt;v:textbox style="'mso-next-textbox:#_x0000_s1055'"&gt;    &lt;![if !mso]&gt;    &lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;     &lt;tr&gt;      &lt;td&gt;&lt;![endif]&gt;      &lt;div&gt;      &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="'text-align:center'"&gt;Nyeri&lt;/p&gt;      &lt;/div&gt;      &lt;![if !mso]&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;    &lt;/table&gt;    &lt;![endif]&gt;&lt;/v:textbox&gt;  &lt;/v:rect&gt;&lt;v:rect id="_x0000_s1056" style="'position:absolute;left:6486;top:11379;" stroked="f"&gt;   &lt;v:textbox style="'mso-next-textbox:#_x0000_s1056'"&gt;    &lt;![if !mso]&gt;    &lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;     &lt;tr&gt;      &lt;td&gt;&lt;![endif]&gt;      &lt;div&gt;      &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="'text-align:center'"&gt;Conpartemen      sindrom&lt;/p&gt;      &lt;/div&gt;      &lt;![if !mso]&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;    &lt;/table&gt;    &lt;![endif]&gt;&lt;/v:textbox&gt;  &lt;/v:rect&gt;&lt;v:rect id="_x0000_s1057" style="'position:absolute;left:6657;top:12459;" stroked="f"&gt;   &lt;v:textbox style="'mso-next-textbox:#_x0000_s1057'"&gt;    &lt;![if !mso]&gt;    &lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;     &lt;tr&gt;      &lt;td&gt;&lt;![endif]&gt;      &lt;div&gt;      &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="'text-align:center'"&gt;Hipoxia&lt;/p&gt;      &lt;/div&gt;      &lt;![if !mso]&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;    &lt;/table&gt;    &lt;![endif]&gt;&lt;/v:textbox&gt;  &lt;/v:rect&gt;&lt;v:rect id="_x0000_s1058" style="'position:absolute;left:6714;top:13179;" stroked="f"&gt;   &lt;v:textbox style="'mso-next-textbox:#_x0000_s1058'"&gt;    &lt;![if !mso]&gt;    &lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;     &lt;tr&gt;      &lt;td&gt;&lt;![endif]&gt;      &lt;div&gt;      &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="'text-align:center'"&gt;Nekrosis      jaringan&lt;/p&gt;      &lt;/div&gt;      &lt;![if !mso]&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;    &lt;/table&gt;    &lt;![endif]&gt;&lt;/v:textbox&gt;  &lt;/v:rect&gt;&lt;v:rect id="_x0000_s1059" style="'position:absolute;left:8994;top:12099;" stroked="f"&gt;   &lt;v:textbox style="'mso-next-textbox:#_x0000_s1059'"&gt;    &lt;![if !mso]&gt;    &lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;     &lt;tr&gt;      &lt;td&gt;&lt;![endif]&gt;      &lt;div&gt;      &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="'text-align:center'"&gt;Gangguan      mobilisasi&lt;/p&gt;      &lt;/div&gt;      &lt;![if !mso]&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;    &lt;/table&gt;    &lt;![endif]&gt;&lt;/v:textbox&gt;  &lt;/v:rect&gt;&lt;v:rect id="_x0000_s1060" style="'position:absolute;left:9051;top:11199;" stroked="f"&gt;   &lt;v:textbox style="'mso-next-textbox:#_x0000_s1060'"&gt;    &lt;![if !mso]&gt;    &lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;     &lt;tr&gt;      &lt;td&gt;&lt;![endif]&gt;      &lt;div&gt;      &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="'text-align:center'"&gt;Non Union&lt;/p&gt;      &lt;/div&gt;      &lt;![if !mso]&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;    &lt;/table&gt;    &lt;![endif]&gt;&lt;/v:textbox&gt;  &lt;/v:rect&gt;&lt;v:line id="_x0000_s1061" style="'position:absolute'" from="6315,2559" to="6315,3099"&gt;   &lt;v:stroke endarrow="block"&gt;  &lt;/v:line&gt;&lt;v:line id="_x0000_s1062" style="'position:absolute'" from="6315,3459" to="6315,3999"&gt;   &lt;v:stroke endarrow="block"&gt;  &lt;/v:line&gt;&lt;v:line id="_x0000_s1063" style="'position:absolute'" from="6315,4359" to="6315,4899"&gt;   &lt;v:stroke endarrow="block"&gt;  &lt;/v:line&gt;&lt;v:line id="_x0000_s1064" style="'position:absolute'" from="3066,5619" to="3066,5979"&gt;   &lt;v:stroke endarrow="block"&gt;  &lt;/v:line&gt;&lt;v:line id="_x0000_s1065" style="'position:absolute'" from="7284,5619" to="7284,5979"&gt;   &lt;v:stroke endarrow="block"&gt;  &lt;/v:line&gt;&lt;v:line id="_x0000_s1066" style="'position:absolute'" from="8994,5619" to="8994,5979"&gt;   &lt;v:stroke endarrow="block"&gt;  &lt;/v:line&gt;&lt;v:line id="_x0000_s1067" style="'position:absolute'" from="5232,5619" to="5232,5979"&gt;   &lt;v:stroke endarrow="block"&gt;  &lt;/v:line&gt;&lt;v:line id="_x0000_s1068" style="'position:absolute'" from="10761,5619" to="10761,5979"&gt;   &lt;v:stroke endarrow="block"&gt;  &lt;/v:line&gt;&lt;v:line id="_x0000_s1069" style="'position:absolute'" from="3066,5619" to="10761,5619"&gt;  &lt;v:line id="_x0000_s1070" style="'position:absolute'" from="3066,6339" to="3066,6699"&gt;   &lt;v:stroke endarrow="block"&gt;  &lt;/v:line&gt;&lt;v:line id="_x0000_s1071" style="'position:absolute;flip:y'" from="6315,5259" to="6315,5619"&gt;  &lt;v:line id="_x0000_s1072" style="'position:absolute'" from="5232,6339" to="5232,6699"&gt;   &lt;v:stroke endarrow="block"&gt;  &lt;/v:line&gt;&lt;v:line id="_x0000_s1073" style="'position:absolute'" from="7284,6339" to="7284,6699"&gt;   &lt;v:stroke endarrow="block"&gt;  &lt;/v:line&gt;&lt;v:line id="_x0000_s1074" style="'position:absolute'" from="3066,7059" to="3066,7419"&gt;   &lt;v:stroke endarrow="block"&gt;  &lt;/v:line&gt;&lt;v:line id="_x0000_s1075" style="'position:absolute'" from="5232,7059" to="5232,7419"&gt;   &lt;v:stroke endarrow="block"&gt;  &lt;/v:line&gt;&lt;v:line id="_x0000_s1076" style="'position:absolute'" from="7284,7059" to="7284,7419"&gt;   &lt;v:stroke endarrow="block"&gt;  &lt;/v:line&gt;&lt;v:line id="_x0000_s1077" style="'position:absolute'" from="5232,7778" to="5232,8138"&gt;   &lt;v:stroke endarrow="block"&gt;  &lt;/v:line&gt;&lt;v:line id="_x0000_s1078" style="'position:absolute'" from="5232,8499" to="5232,8859"&gt;   &lt;v:stroke endarrow="block"&gt;  &lt;/v:line&gt;&lt;v:line id="_x0000_s1079" style="'position:absolute'" from="3522,8499" to="3522,8859"&gt;   &lt;v:stroke endarrow="block"&gt;  &lt;/v:line&gt;&lt;v:line id="_x0000_s1080" style="'position:absolute'" from="9735,7778" to="9735,8138"&gt;   &lt;v:stroke endarrow="block"&gt;  &lt;/v:line&gt;&lt;v:line id="_x0000_s1081" style="'position:absolute'" from="5232,9219" to="5232,9579"&gt;   &lt;v:stroke endarrow="block"&gt;  &lt;/v:line&gt;&lt;v:line id="_x0000_s1082" style="'position:absolute'" from="5175,10659" to="5175,11019"&gt;   &lt;v:stroke endarrow="block"&gt;  &lt;/v:line&gt;&lt;v:line id="_x0000_s1083" style="'position:absolute'" from="5175,11379" to="5175,11739"&gt;   &lt;v:stroke endarrow="block"&gt;  &lt;/v:line&gt;&lt;v:line id="_x0000_s1084" style="'position:absolute'" from="9735,11739" to="9735,12099"&gt;   &lt;v:stroke endarrow="block"&gt;  &lt;/v:line&gt;&lt;v:line id="_x0000_s1085" style="'position:absolute'" from="9735,8859" to="9735,9219"&gt;   &lt;v:stroke endarrow="block"&gt;  &lt;/v:line&gt;&lt;v:line id="_x0000_s1086" style="'position:absolute'" from="9735,9939" to="9735,10299"&gt;   &lt;v:stroke endarrow="block"&gt;  &lt;/v:line&gt;&lt;v:line id="_x0000_s1087" style="'position:absolute'" from="9735,10839" to="9735,11199"&gt;   &lt;v:stroke endarrow="block"&gt;  &lt;/v:line&gt;&lt;v:line id="_x0000_s1088" style="'position:absolute'" from="7398,12099" to="7398,12459"&gt;   &lt;v:stroke endarrow="block"&gt;  &lt;/v:line&gt;&lt;v:line id="_x0000_s1089" style="'position:absolute'" from="7398,12819" to="7398,13179"&gt;   &lt;v:stroke endarrow="block"&gt;  &lt;/v:line&gt;&lt;v:line id="_x0000_s1090" style="'position:absolute;flip:x'" from="2439,7778" to="2952,8138"&gt;   &lt;v:stroke endarrow="block"&gt;  &lt;/v:line&gt;&lt;v:line id="_x0000_s1091" style="'position:absolute'" from="2952,7778" to="3408,8138"&gt;   &lt;v:stroke endarrow="block"&gt;  &lt;/v:line&gt;&lt;v:line id="_x0000_s1092" style="'position:absolute'" from="5688,10659" to="7341,11379"&gt;   &lt;v:stroke endarrow="block"&gt;  &lt;/v:line&gt;&lt;/v:group&gt;&lt;v:line id="_x0000_s1093" style="'position:absolute;left:0;" from="336.3pt,206.85pt" to="370.5pt,242.85pt"&gt;  &lt;v:stroke endarrow="block"&gt; &lt;/v:line&gt;&lt;v:line id="_x0000_s1094" style="'position:absolute;left:0;" from="379.05pt,197.85pt" to="421.8pt,242.85pt"&gt;  &lt;v:stroke endarrow="block"&gt; &lt;/v:line&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;span style="position: relative; z-index: 2; left: -57px; top: -4px; width: 688px; height: 739px;"&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/gc_pnet/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.gif" shapes="_x0000_s1027 _x0000_s1028 _x0000_s1029 _x0000_s1030 _x0000_s1031 _x0000_s1032 _x0000_s1033 _x0000_s1034 _x0000_s1035 _x0000_s1036 _x0000_s1037 _x0000_s1038 _x0000_s1039 _x0000_s1040 _x0000_s1041 _x0000_s1042 _x0000_s1043 _x0000_s1044 _x0000_s1045 _x0000_s1046 _x0000_s1047 _x0000_s1048 _x0000_s1049 _x0000_s1050 _x0000_s1051 _x0000_s1052 _x0000_s1053 _x0000_s1054 _x0000_s1055 _x0000_s1056 _x0000_s1057 _x0000_s1058 _x0000_s1059 _x0000_s1060 _x0000_s1061 _x0000_s1062 _x0000_s1063 _x0000_s1064 _x0000_s1065 _x0000_s1066 _x0000_s1067 _x0000_s1068 _x0000_s1069 _x0000_s1070 _x0000_s1071 _x0000_s1072 _x0000_s1073 _x0000_s1074 _x0000_s1075 _x0000_s1076 _x0000_s1077 _x0000_s1078 _x0000_s1079 _x0000_s1080 _x0000_s1081 _x0000_s1082 _x0000_s1083 _x0000_s1084 _x0000_s1085 _x0000_s1086 _x0000_s1087 _x0000_s1088 _x0000_s1089 _x0000_s1090 _x0000_s1091 _x0000_s1092 _x0000_s1093 _x0000_s1094" width="688" height="739" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;br /&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: right; text-indent: 36pt;" align="right"&gt;(&lt;i&gt;Lukman and Soronsens 1993 and price, 1995&lt;/i&gt;)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 39pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 39.9pt; text-align: justify; text-indent: -17pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Klasifikasi &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;/ Jenis&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 57pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;a)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Fraktur komplet : Fraktur / patah pada seluruh garis tengah tulang dan biasanya mengalami pergeseran dari posisi normal.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 57pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;b)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Fraktur tidak komplet : Fraktur / patah yang hanya terjadi pada sebagian dari garis tengah tulang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 57pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;c)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Fraktur tertutup : Fraktur yang tidak menyebabkan robeknya kulit, jadi fragmen frakturnya tidak menembus jaringan kulit.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 57pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;d)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Fraktur terbuka : Fraktur yang disertai kerusakan kulit pada tempat fraktur (Fragmen frakturnya menembus kulit), dimana bakteri dari luar bisa menimbulkan infeksi pada tempat fraktur (terkontaminasi oleh benda asing)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 133.95pt; text-align: justify; text-indent: -76.95pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;1) &lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Grade I&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Luka bersih, panjang &amp;lt;&amp;gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 133.95pt; text-align: justify; text-indent: -76.95pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;2)&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;Grade II&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Luka lebih besar / luas tanpa kerusakan jaringan lunak yang ekstensif&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 133.95pt; text-align: justify; text-indent: -76.95pt; line-height: 200%;"&gt;3)&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;Grade III&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sangat terkontaminasi dan mengalami kerusakan jaringan lunak yang ekstensif, merupakan yang paling berat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 57pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;e)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Jenis khusus fraktur&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 151.05pt; text-align: justify; text-indent: -92.1pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;1)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Greenstick &lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Fraktur dimana salah satu sisi tulang patah, sedang sisi lainnya membengkok.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 151.05pt; text-align: justify; text-indent: -92.1pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;&lt;span style=""&gt;2)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Tranversal &lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Fraktur sepanjang garis tengah tulang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 151.05pt; text-align: justify; text-indent: -92.1pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;3)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Oblik &lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Fraktur membentuk sudut dengan garis tengah tulang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 151.05pt; text-align: justify; text-indent: -92.1pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;&lt;span style=""&gt;4)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Spiral&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Fraktur memuntir seputar batang tulang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 151.05pt; text-align: justify; text-indent: -92.1pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;&lt;span style=""&gt;5)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Kominutif&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Fraktur dengan tulang pecah menjadi beberapa fragmen&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 151.05pt; text-align: justify; text-indent: -92.1pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;6)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Depresi&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Fraktur dengan fragmen patahan terdorong kedalam (sering terjadi pada tulang tengkorak dan tulang wajah)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 151.05pt; text-align: justify; text-indent: -92.1pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;7)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Kompresi&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Fraktur dimana tulang mengalami kompresi (terjadi pada tulang belakang)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 151.05pt; text-align: justify; text-indent: -92.1pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;8)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Patologik&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Fraktur yang terjadi pada daerah tulang berpenyakit (kista tulang, penyakit pegel, tumor)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 151.05pt; text-align: justify; text-indent: -92.1pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;9)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Avulsi&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;: Tertariknya fragmen tulang oleh ligament atau tendon pada perlekatannya&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 151.05pt; text-align: justify; text-indent: -92.1pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;10)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Epifiseal&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Fraktur melalui epifisis&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 151.05pt; text-align: justify; text-indent: -92.1pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;11)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Impaksi&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;: Fraktur dimana fragmen tulang terdorong ke fragmen tulang lainnya.&lt;span style=""&gt;                   &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 58.95pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                    &lt;/span&gt;(&lt;i&gt;Smeltzer and Bare, 2002 : 2357 – 2358&lt;/i&gt;)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 39.9pt; text-align: justify; text-indent: -17pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;6.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;Proses Penyembuhan Tulang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 51.3pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Stadium Pembentukan Hematoma&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 51.3pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Hematoma terbentuk dari darah yang mengalir dari pembuluh darah yang rusak, hematoma dibungkus jaringan lunak sekitar (periostcum dan otot) terjadi 1 – 2 x 24 jam.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 51.3pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Stadium Proliferasi&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 51.3pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Sel-sel berproliferasi dari lapisan dalam periostcum, disekitar lokasi fraktur sel-sel ini menjadi precursor osteoblast dan aktif tumbuh kearah fragmen tulang. Proliferasi juga terjadi dijaringan sumsum tulang, terjadi setelah hari kedua kecelakaan terjadi. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 51.3pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Stadium Pembentukan Kallus&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 51.3pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Osteoblast membentuk tulang lunak / kallus memberikan regiditas pada fraktur, massa kalus terlihat pada x-ray yang menunjukkan fraktur telah menyatu. Terjadi setelah 6 – 10 hari setelah kecelakaan terjadi. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 51.3pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;d.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Stadium Konsolidasi &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 51.3pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Kallus mengeras dan terjadi proses konsolidasi, fraktur teraba telah menyatu, secara bertahap-tahap menjadi tulang matur. Terjadi pada minggu ke 3 – 10 setelah kecelakaan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 51.3pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;e.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Stadium Remodelling&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 51.3pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Lapisan bulbous mengelilingi tulang khususnya pada kondisi lokasi eks fraktur. Tulang yang berlebihan dibuang oleh osteoklas. Terjadi pada 6 -8 bulan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 22.9pt; text-align: right; line-height: 200%;" align="right"&gt;(&lt;i&gt;Rasjad, 1998 : 399 – 401&lt;/i&gt;)&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 39.9pt; text-align: justify; text-indent: -17pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;7.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Pemeriksaan Penunjang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54.15pt; text-align: justify; text-indent: -17.1pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Pemeriksaan rontgen : menentukan lokasi / luasnya fraktur trauma&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54.15pt; text-align: justify; text-indent: -17.1pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Scan tulang, tomogram, scan CT / MRI : memperlihatkan fraktur, juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54.15pt; text-align: justify; text-indent: -17.1pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Arteriogram : dilakukan bila kerusakan vaskuler dicurigai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54.15pt; text-align: justify; text-indent: -17.1pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;d.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Hitung daerah lengkap : HT mungkin meningkat (hemokonsentrasi) atau menurun (pendarahan sel darah putih adalah respon stress normal setelah trauma).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54.15pt; text-align: justify; text-indent: -17.1pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;e.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Kreatinin : Trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk klien ginjal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; line-height: 200%;" align="right"&gt;(&lt;i&gt;Doenges, 2000 : 762&lt;/i&gt;) &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 39.9pt; text-align: justify; text-indent: -17pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;8.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;Penatalaksanaan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.05pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Ada empat konsep dasar dalam menangani fraktur, yaitu :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54.15pt; text-align: justify; text-indent: -17.1pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Rekognisi &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54.15pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Rekognisi dilakukan dalam hal diagnosis dan penilaian fraktur. Prinsipnya adalah mengetahui riwayat kecelakaan, derajat keparahannya, jenis kekuatan yang berperan dan deskripsi tentang peristiwa yang terjadi oleh penderita sendiri.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54.15pt; text-align: justify; text-indent: -17.1pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Reduksi&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54.15pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Reduksi adalah usaha / tindakan manipulasi fragmen-fragmen seperti letak asalnya. Tindakan ini dapat dilaksanakan secara efektif di dalam ruang gawat darurat atau ruang bidai gips. Untuk mengurangi nyeri selama tindakan, penderita dapat diberi narkotika IV, sedative atau blok saraf lokal.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54.15pt; text-align: justify; text-indent: -17.1pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Retensi&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54.15pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Setelah fraktur direduksi, fragmen tulang harus dimobilisasi atau dipertahankan dalam posisi dan kesejajaran yang benar sampai terjadi penyatuan. Immobilisasi dapat dilakukan dengan fiksasi eksterna atau interna. Metode fiksasi eksterna meliputi gips, bidai, traksi dan teknik fiksator eksterna.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54.15pt; text-align: justify; text-indent: -17.1pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;d.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Rehabilitasi&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54.15pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Merupakan proses mengembalikan ke fungsi dan struktur semula dengan cara melakukan ROM aktif dan pasif seoptimal mungkin sesuai dengan kemampuan klien. Latihan isometric dan setting otot. Diusahakan untuk meminimalkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;atrofi disuse dan meningkatkan peredaran darah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 39.9pt; text-align: justify; text-indent: -17pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;9.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;Komplikasi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.05pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Komplikasi fraktur dapat dibagi menjadi :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54.15pt; text-align: justify; text-indent: -17.1pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Komplikasi Dini&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 79.8pt; text-align: justify; text-indent: -25.65pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;1)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Nekrosis kulit&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 79.8pt; text-align: justify; text-indent: -25.65pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;2)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Osteomielitis&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 79.8pt; text-align: justify; text-indent: -25.65pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;3)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Kompartement sindrom&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 79.8pt; text-align: justify; text-indent: -25.65pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;4)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Emboli lemak&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 79.8pt; text-align: justify; text-indent: -25.65pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;5)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Tetanus&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54.15pt; text-align: justify; text-indent: -17.1pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Komplikasi Lanjut&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 79.8pt; text-align: justify; text-indent: -25.65pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;1)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Kelakuan sendi&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 79.8pt; text-align: justify; text-indent: -25.65pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;2)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Penyembuhan fraktur yang abnormal : delayed union, mal union dan non union.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 79.8pt; text-align: justify; text-indent: -25.65pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;3)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Osteomielitis kronis&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 79.8pt; text-align: justify; text-indent: -25.65pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;4)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Osteoporosis pasca trauma&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 79.8pt; text-align: justify; text-indent: -25.65pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;5)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Ruptur tendon&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; line-height: 200%;" align="right"&gt;(&lt;i&gt;Sjamsu Hidayat, 1997 : 1155&lt;/i&gt;)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 200%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 200%;"&gt;&lt;b&gt;B.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Konsep Dasar Asuhan Keperawatan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 34.2pt; text-align: justify; text-indent: -17pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;Pengkajian&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 57pt; text-align: justify; text-indent: -22.8pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Anamnesa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 76.95pt; text-align: justify; text-indent: -19.95pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;1)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Data Biografi&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 76.95pt; text-align: justify; text-indent: -19.95pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;2)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Riwayat kesehatan masa lalu&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 76.95pt; text-align: justify; text-indent: -19.95pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;3)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Riwayat kesehatan keluarga&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 57pt; text-align: justify; text-indent: -22.8pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Pemeriksaan Fisik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 76.95pt; text-align: justify; text-indent: -19.95pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;1)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Aktivitas / istirahat&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 76.95pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Keterbatasan / kehilangan fungsi yang efektif (perkembangan sekunder dari jaringan yang bengkak / nyeri)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 76.95pt; text-align: justify; text-indent: -19.95pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;2)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Sirkulasi&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 96.9pt; text-align: justify; text-indent: -19.95pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;a)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Hipertensi (kadang terlihat sebagai respon terhadap nyeri / ansietas) atau hipotensi (kehilangan darah)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 96.9pt; text-align: justify; text-indent: -19.95pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;b)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt
