Penyakit Jantung Bisa Diprediksi Dari Ukuran Pinggang

Amsterdam, Kelebihan berat badan sudah lama diketahui sebagai salah satu pemicu penyakit kardiovaskular (pembuluh darah). Namun peneliti di Belanda menemukan yang lebih rinci mengenai ukuran lingkar pinggang dan indeks massa tubuh yang bisa memprediksi penyakit jantung.

Selama 10 tahun sebuah studi tersebut menemukan bahwa separuh dari kasus serangan jantung fatal dan seperempat dari kasus tidak fatal ternyata terkait dengan masalah kelebihan berat badan dan tingginya indeks massa tubuh (BMI/body mass index) atau pinggang besar.

Penelitian ini menunjukkan adanya efek yang substansial dari kelebihan berat badan dan obesitas pada penyakit jantung berupa risiko fatal atau tidak fatal.

"Dalam waktu dekat akan bisa diketahui dampak obesitas pada beban penyakit jantung yang semakin besar," kata Ineke van Dis, peneliti dari Netherlands Heart Foundation yang memimpin penelitian seperti dilansir dari Reuters, Selasa (8/12/2009).

Dis dan rekannya di proyek pemantauan faktor risiko penyakit kronis di Dutch National Institute for Public Health and the Environment, mengukur BMI dan lingkar pinggang terhadap 20.500 laki-laki dan perempuan dalam kurun tahun 1993 dan 1997.

Ketika usia disesuaikan dengan BMI dan ukuran pinggang dengan catatan rumah sakit dan penyebab kematian selama 10 tahun, didapat bahwa lebih dari setengah (53 persen) semua kasus penyakit jantung adalah fatal. Sekitar seperempat (25-30 persen) beruapa kasus tidak fatal. Kasus fatal dan tidak fatal itu terjadi pada orang yang didefinisikan sebagai kelebihan berat badan dan obesitas.

Menurut data WHO, orang yang kelebihan berat memiliki BMI antara 25 dan 30, sedangkan orang obesitas memiliki BMI 30 atau lebih. BMI dihitung dengan membagi berat badan dalam kilogram dengan tinggi badan dalam meter.

Lingkar pinggang pria berukuran 94 dan 101,9 cm didefinisikan sebagai kelebihan berat badan, sedangkan kategori obesitas jika ukuran pinggang lebih dari 102 cm. Pada wanita ukuran pinggang 80-87,9 cm masuk kategori kelebihan berat badan dan obesitas jika lebih dari 88 cm.

Kasus obesitas terus meningkat di seluruh dunia dan sekarang diakui sebagai masalah kesehatan masyarakat global.

"Temuan ini menggarisbawahi perlunya kebijakan dan kegiatan untuk mencegah kelebihan berat badan pada masyarakat dunia," kata Dis dalam studi yang dipublikasikan dalam European Journal of Cardiovascular Prevention and Rehabilitation.

Via : detikHealth.com
Read On

Obat Kuat Verbal Mengandung Viagra

Jakarta, Banyak sekali tawaran obat herbal untuk mengatasi gangguan seksual laki-laki. Tapi sebaiknya jangan terkecoh, karena ternyata dalam obat herbal tersebut juga mengandung senyawa sildenafil sitrat atau dikenal dengan viagra.

Terkadang banyak laki-laki yang merasa malu datang ke dokter dan melakukan konsultasi mengenai permasalahan gangguan seksual seperti disfungsi ereksi ini. Sehingga tidak sedikit orang yang tergoda oleh iklan-iklan obat herbal yang mengklaim tanpa bahan kimia.

"Tidak ada satupun obat herbal untuk mengatasi disfungsi ereksi yang efektif dan benar-benar herbal, karena sepanjang saya melakukan uji klinis semuanya mengandung zat kimia viagra," ujar Prof Dr dr Wimpie Pangkahila, Sp.And, FAACS dalam acara Maximizing You: 10 years of MagniVicent Satisfaction, di Hotel Akmani, Jakarta, Selasa (8/12/2009).

Profesor yang memiliki banyak pengalaman dan pernah meneliti mengenai obat kuat herbal ini menuturkan banyak dokter dan masyarakat yang tidak tahu mengenai hal ini. Jika obat herbal tersebut benar-benar efektif mengatasi disfungsi ereksi, maka sudah dapat dipastikan obat tersebut tidak murni herbal atau sudah dicampur dengan viagra.

Menjamurnya obat herbal untuk mengatasi disfungsi ereksi ini tidak akan terjadi jika tidak ada konsumen yang membeli. Namun, terkadang lelaki merasa malu pergi ke dokter sehingga berusaha untuk mengobati dirinya sendiri dengan membeli obat-obatan yang dijual bebas.

"Kami pernah melakukan survei kenapa lelaki lebih banyak beli obat di pinggir jalan daripada ke dokter. Ternyata mereka merasa tidak perlu malu kalau beli obat disitu, karena mereka tidak harus kembali lagi untuk bertatap muka atau cukup melalui kaca mobil saja," ujar dr Andini Suhardi, Marketing Manager Pfizer Indonesia.

Hal ini sangat disayangkan, karena orang-orang yang sebenarnya membutuhkan bantuan untuk mengatasi masalah seksualnya justru malah salah pilih obat yang bisa saja berakibat buruk nantinya.

"Dicampurnya viagra ke dalam obat herbal tentu saja berbahaya. Pertama ini merupakan bentuk penipuan, kedua bisa saja menimbulkan bahaya atau risiko karena orang cenderung menganggap obat herbal adalah obat bebas yang tidak memiliki efek samping sehingga masyarakat cenderung akan mengonsumsinya sesuka hati tanpa anjuran yang tepat," ujar Prof Wimpie yang merupakan Guru Besar FK Universitas Udayana, Bali.

Seharusnya seorang pasien melakukan pemeriksaan dan konsultasi terlebih dahulu untuk mengetahui penyebabnya. Jika disfungsi ereksi terjadi karena penyakit tertentu, maka sakitnya harus diobati terlebih dahulu baru melakukan pengobatan untuk gangguan ereksinya. Karena viagra merupakan salah satu obat yang harus menggunakan rekomendasi atau resep dokter.

Prof Wimpie menambahkan ada dua cara dalam mengonsumsi obat viagra yang memang direkomendasikan oleh dokter, yaitu:

1. Diminum 0,5-1 jam sebelum melakukan hubungan seksual. Cara ini sudah direkomendasikan oleh para dokter.
2. Mengonsumsinya setiap hari, jadi kalau tiba-tiba mau melakukan hubungan seksual langsung bisa. Cara ini belum direkomendasikan karena masih dalam tahap penelitian.


Efek samping dari penggunaan viagra ini adalah sakit kepala, hidung tersumbat, wajah merah dan jantung berdebar. Tapi yang harus diwaspadai adalah jangan mengonsumsi viagra bersamaan dengan obat penyakit jantung yang mengandung nitrat, karena efeknya saling menguatkan sehingga bisa menyebabkan kematian. Jadi, jika seseorang tidak tahu bahwa obat herbalnya mengandung viagra hal ini akan sangat membahayakan.

Diingatkannya agar masyarakat tidak tertipu oleh berbagai iklan yang menjual obat herbal untuk mengatasi gangguan ereksi. Karena tidak ada obat herbal yang memang benar-benar alami.

Via: detikhealth.com
Read On

Kotoran Burung Untuk Cantik dan Awet Muda??

New York, Cantik dengan suntik kolagen atau botoks itu sudah biasa. Kini perempuan-perempuan di kota-kota besar dunia sedang keranjingan melakukan perawatan wajah dengan kotoran burung yang membuat kulit cantik dan awet muda.

Facial dengan kotoran burung atau dikenal dengan Geisha Facial, adalah rahasia tua kecantikan perempuan Jepang yang kini menjadi populer di dunia.

Seperti dilansir FoxNews, Kamis (10/12/2009), wanita Jepang telah lama menggunakan kotoran burung Bulbul sebagai masker pembersih untuk menghapus riasan (make up) yang sering dilakukan oleh para Geisha setiap malam. Hasilnya kulit menjadi lebih cerah dan kencang.

Kotoran burung mengandung guanin (basa organik) yang dipercaya bagus untuk regenerasi kulit agar selalu mengkilap. Kotoran burung tersebut diolah dan dibersihkan dengan sinar ultraviolet untuk membunuh bakteri dan menghilangkan baunya.

Salon-salon di New York dan Kanada telah banyak yang menyediakan fasilitas facial dengan kotoran burung ini (Geisha Facial).

Beberapa wanita yang sudah melakukan facial tersebut mengaku kulit wajahnya menjadi sehalus pantat bayi dan tentu saja lebih cerah. Dengan biaya US$ 100 sampai US$ 180 perempuan-perempuan itu rela wajahnya 'dijatuhi' kotoran burung.

Di Jepang, bubuk kotoran burung ini dikenal dengan nama Uguisu yang sudah dicampur dengan sabun dan biasa digunakan untuk mencuci wajah.

Senyawa guanin di dalam kotoran burung dipercaya menghilangkan polutan di kulit wajah, membuka pori-pori dan membuat warna kulit lebih cerah.

Berani mencoba?

detikheath.com
Read On

Kecanduan Seks Saat Tidur Nyenyak

Almelo, Bella Floor, seorang perempuan berusia 32 tahun menderita penyakit aneh kecanduan seks saat sedang tidur nyenyak. Bella selalu melakukan hubungan seksual ketika sedang tidur dan tidak mampu mengingat kejadiannya saat terbangun.

Perilakunya membuat takut kekasihnya yang merasa selalu dipermalukan ketika tidur malam bersamanya. Kekasihnya, Justin (47 tahun) adalah seorang pekerja konstruksi, yang tidak dapat menerima perlakuan seks Bella, tanpa Bella sendiri tahu apa yang telah dilakukannya. Justin pun akhirnya putus hubungan dengan Bella.

Bella perempuan asal Almelo, Belanda ini menuliskan pengalamannya dalam situsnya yang menceritakan bagaimana 6 tahun lalu tak ada satu pun dokter yang mampu mendiagnosa perilakunya.

Belakangan Bella ternyata divonis mengidap seksomnia atau Sexual Behaviour in Sleep (SBS) yaitu melakukan seks dalam kondisi tertidur.

Beberapa orang yang menderita SBS bahkan sudah masuk dalam tahap kecanduan. Dan bagi pasangannya, hal itu sangat mengganggu, memalukan dan bisa memicu masalah yang serius.

Seperti dilansir FoxNews, Kamis (10/12/2009), awalnya Bella menduga dirinya tidak dapat mengontrol perilakunya, namun kejadian itu hampir tiap malam dilakukannya yang membuat kekasihnya sangat marah.

Bella telah pergi berobat ke banyak dokter dan psikolog yang umumnya mereka pun tidak bisa melakukan apa-apa karena belum pernah mendengar ada kasus seperti ini.

Dokter hanya menawarkan obat-obatan, selain melakukan hipnoterapi, konsultasi seks dan melakukan scan otak untuk menghentikan penyakit seksomnia itu.

Menurut Bella, obat-obat yang diberikan hanya membantu sementara namun dia mengaku tidak mau sepanjang hidupnya bergantung pada obat-obat tersebut.

Dalam International Classification of Sleep Disorders (ICSD-2), SBS dikategorikan sebagai penyakit tidur terbaru oleh para praktisi obat-obatan tidur dan membutuhkan diagnosa khusus.

Seseorang yang menderita SBS biasanya mengetahui kebiasaannya itu dari pasangan tidurnya. Terkadang banyak diantara mereka yang tidak percaya bahwa kebiasaan itu bisa terjadi pada dirinya.

Inilah yang biasanya menjadi pangkal konflik pada pasangan karena si penderita tidak terima dan merasa malu mengakui atau menerima kenyataan tersebut. Hingga kini belum ada obat ampuh yang bisa menyembuhkan penyakit ini.

DetikHealth.com
Read On

Cara Mengobati Penyakit Diabetes

Jakarta, Diabetes adalah salah satu penyakit yang paling ditakuti karena sekali terkena diabetes akan menanggungnya seumur hidup. Penderita diabetes harus selalu tergantung dengan obatnya. Tapi benarkah diabetes tak bisa disembuhkan?

Selama ini orang selalu menganggap penyakit diabetes tidak bisa disembuhkan. Tapi ternyata seorang penderita diabetes bisa tidak mengonsumsi obat, asalkan pola makannya benar, rajin olahraga dan memeriksakan kadar gula darahnya.

Diabetes bisa dibilang sebagai penyakit silent killer. Penyakit ini memang tidak mematikan, tapi komplikasi yang ditimbulkan dari diabetes bisa membuat seseorang menjadi meninggal. Karena komplikasi yang ditimbulkan bisa ke semua organ, seperti kaki, otak, mata, saraf dan organ lainnya.

"Satu juta orang di seluruh dunia menjalani operasi amputasi karena diabetes, 5 persen kebutaan akibat diabetes, sebagian besar pasien cuci darah akibat diabetes dan juga komplikasi lain seperti katarak atau jantung," ujar dr. Sandra Utami Widiastuti, SpPD dalam acara forum media online dengan Siloam Hospital di Plaza Senayan, Jakarta, Kamis (10/12/2009).

Diabetes itu sendiri terbagi menjadi 4 tipe yaitu:

1. Tipe 1: bisa menyerang anak kecil atau anak muda. Ini diakibatkan tubuh tidak bisa memproduksi insulin sama sekali atau jumlahnya sedikit.
2. Tipe 2: biasanya menyerang orang yang lebih dewasa. Dalam tubuhnya insulin bisa diproduksi tapi cara kerjanya tidak efektif.
3. Tipe gestasional: tekanan gula darah tinggi yang terjadi saat ibu sedang hamil, tapi akan normal kembali ketika sudah melahirkan.
4. Tipe lainnya: terjadi akibat infeksi di pankreas, ada tumor atau zat kimia yang bisa menghancurkan insulin.


Namun, yang paling umum didengar masyarakat adalah tipe 1 dan tipe 2. Untuk tipe 1 pengobatannya harus dengan menyuntikkan insulin, sedangkan untuk tipe 2 biasanya melalui obat oral yang dikombinasikan dengan pola makan sehat serta olahraga. "Sebenarnya 60 persen dari penderita diabetes tipe 2 ini bisa dicegah," ujar dokter yang berpraktek di Siloam Hospital Kebon Jeruk Jakarta ini.

Sampai saat ini diabetes memang belum bisa disembuhkan, tapi penderita diabetes bisa tidak mengonsumsi obat asalkan memiliki pola makan yang benar dan sehat, rajin melakukan olahraga seperti jogging, sepeda atau berenang serta hal yang paling penting adalah gula darahnya terkontrol dengan baik.

"Karena pola makan yang benar dan rajin olahraga sudah jadi satu paket dalam perawatan untuk diabetes," ujar dokter cantik berkacamata ini. Selain itu, harus rajin melakukan tes gula darah. Karenanya bagi penderita diabetes sebaiknya memiliki alat tes gula darah pribadi.

Dengan melakukan perawatan yang baik dan benar, maka kemungkinan terjadinya komplikasi dari penyakit diabetes ini menjadi sangat kecil. Edukasi mengenai berbagai hal yang berhubungan dengan diabetes seperti berapa kalori yang dibutuhkan dalam sehari atau bagaimana memotong kuku yang benar agar tidak menimbulkan luka, bisa membuat penderita diabetes beraktivitas seperti biasanya.

Banyak orang yang tidak menyadari apabila dirinya mengidap penyakit diabetes, tapi ada gejala penting yang bisa menjadi petunjuk awal dari penyakit diabetes yaitu, sering buang air kecil, banyak minum, banyak makan tapi berat badan justru menurun. Sedangkan gejala lainnya yang bisa diperhatikan adalah gampang infeksi atau terkena jamur, gampang capek, keputihan serta sering kesemutan.

Untuk itu sebaiknya periksakan kadar gula darah jika berusia 40 tahun ke atas, saat hamil pernah mengalami tekanan gula darah tinggi, ada anggota keluarga seperti orangtua atau saudara kandung yang terkena diabetes, mengalami obesitas, kadar kolesterol baik (HDL) rendah atau dalam pemeriksaan sebelumnya didapati kadar gula darah agak tinggi.
Read On

Mencegah Stroke dengan Mengatur Kadar Kolesterol

Jakarta, Stroke merupakan penyakit neurologi yang utama. Stroke merupakan penyebab kematian nomor tiga (setelah penyakit jantung dan kanker), namun merupakan penyebab kecacatan nomor satu. Stroke terjadi akibat gangguan pembuluh darah di otak.

Penelitian di Amerika Serikat menunjukkan bahwa ada 3 juta warga Amerika yang terkena penyakit penbuluh darah (penyakit jantung, stroke, dan pembuluh darah tepi) dan 150.000 diantaranya meninggal setiap tahunnya. Kejadian stroke berulang umum pula dijumpai, 33% pasien stroke yang selamat akan mengalami stroke ulang dalam waktu 5 tahun.

Stroke dapat terjadi karena seseorang individu yang sehat memiliki faktor risiko stroke. Faktor risiko stroke ada yang dapat dikendalikan dan ada pula yang tidak dapat dikendalikan.

Faktor risiko stroke yang tidak dapat dikendalikan adalah usia, jenis kelamin, ras, riwayat keluarga, dan riwayat stroke sebelumnya. Kelompok usia lanjut dan laki-laki lebih mudah terkena stroke, demikian pula seseorang dengan riwayat keluarga stroke.

Faktor risiko stroke yang dapat dikendalikan adalah hipertensi, diabetes, merokok, kolesterol darah yang tinggi, trigliserida darah yang tinggi, obesitas dsb.

Pemahaman akan faktor risiko stroke yang dapat dikendalikan ini penting. Pengendalian faktor risiko stroke ini akan menurunkan risiko seseorang untuk terkena stroke. Tekanan darah yang terkendali di bawah 130/80 mmHg akan menurunkan risiko seseorang untuk terkena stroke. Berhenti merokok akan menurunkan pula risiko terkena stroke.

Kolesterol yang tinggi juga merupakan faktor risiko untuk terkena stroke. Pertanyaan kritis yang muncul adalah 'Bagaimana hubungan antara kolesterol darah yang tinggi dan stroke?' dan 'Bagaimana upaya pengendalian kolesterol untuk mencegah stroke?'

Mengenal kolesterol

Kolesterol merupakan substansi lemak, yang secara normal dibentuk di dalam tubuh. Kolesterol dibentuk di hati dari lemak makanan. Kolesterol memainkan banyak peran penting dalam fungsi sel tubuh (antara lain produksi hormon).

Kolesterol darah dapat dibagi menjadi 2 bagian utama: kolesterol LDL (Low Density Lipoprotein) yang dikenal sebagai 'kolesterol jahat' dan kolesterol HDL (High Density Lipoprotein) yang dikenal sebagai 'kolesterol baik'. LDL membawa kolesterol dari hati ke sel, dan HDL berperan membawa kolesterol dari sel ke hati.

Kadar kolesterol LDL yang tinggi akan memicu penimbunan kolesterol di sel, yang menyebabkan munculnya atherosclerosis (pengerasan dinding pembuluh darah arteri) dan penimbunan plak di dinding pembuluh darah. Hal ini dihubungkan dengan penngkatan risiko penyakit akibat gangguan pembuluh darah (misalnya: penyakit jantung koroner, stroke, gangguan pembuluh darah terpi).

Kadar kolesterol darah yang tinggi dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Faktor-faktor penyebab kadar kolesterol yang tinggi adalah genetik, diet tinggi lemak, kelebihan berat badan, kurangnya aktivitas fisik, dan merokok. Merokok meningkatkan kadar kolesterol LDL dan menurunkan kadar kolesterol HDL. Kadar kolesterol LDL yang tinggi dapat pula disebabkan oleh konsumsi alkohol atau obat-obatan (misalnya: steroid atau pil kontrasepsi).

Hubungan kolesterol dan stroke

Kolesterol merupakan faktor risiko stroke yang secara konsisten dilaporkan dari berbagai hasil penelitian. Kolesterol LDL yang tinggi, kolesterol HDL yang rendah, dan rasio kolesterol LDL dan HDL yang tinggi dihubungkan dengan peningkatan risiko terkena stroke. Hal ini akan diperkuat bila ada faktor risiko stroke yang lain (misalnya: hipertensi, merokok, obesitas).

Hubungan antara kolesterol dan stroke tergambarkan pula dalam berbagai penelitian terapi kolesterol. Keberhasilan terapi penurunan kadar kolesterol darah akan menurunkan risiko stroke dan penyakit jantung sebesar 60%. Penurunan kadar koleserol darah akan menghambat proses atherosclerosis (pengerasan diniding pembuluh darah arteri).

Perkembangan atherosclerosis dapat dihambat pada sebagian besar pasien yang menjalani terapi selama 2 tahun. Kadar kolesterol darah yang tidak terkendali akan meningkatkan risiko stroke. Pasien berusia 40 tahun-an yang memiliki kadar kolesterol LDL tinggi akan memiliki risiko sebesar 52% untuk mengalami serangan jantung dan stroke pada usia diatas 50 tahun (Lang, 2005).

Kadar kolesterol darah yang tinggi tidak memberikan gejla yang spesifik. Hal ini menyebabkan kadar kolesterol darah yang tinggi juga dijuluki sebagai 'the silent killer'. Pasien datang berobat ketika telah muncul komplikasi pembuluh darah. Proses atherosclerosis tetap berjalan tanpa ada keluhan pasien.

Pengendalian kadar kolesterol

Pengendalian kadar kolesterol menuju angka yang normal akan sangat bermanfaat untuk menurunkan risiko stroke dan penyakit jantung. Target penurunan kadar kolesterol adalah sebagai berikut:

1. Kadar kolesterol darah total dibawah 200 mg/dl
2. Kadar kolesterol darah LDL dibawah 130 mg/dl (pada individu tanpa riwayat penyakit jantung koroner), atau dibawah 100 mg/dl (bila pernah terkena penyakit jantung, merokok, menderita hipertensi, diabetes).
3. Kadar kolesterol HDL diatas 35 mg/dl
4. Kadar trigliserida dibawah 250 mg/dl.

Pengendalian kadar kolesterol darah sesuai target dicapai dengan perubahan pola hidup dan terapi obat. Perubahan pola hidup yang dianjurkan meliputi penurunan berat badan, banyak makan serat, konsumsi buah dan sayuran, berhenti merokok, olah raga, dan pembatasan konsumsi lemak berlebih.

Bila target penurunan kolesterol darah belum juga tercapai, pasien dapat berkonsultasi ke dokter untuk memperoleh terapi obat.Terapi obat yang direkomendasikan untuk menurunkan kadar kolesterol daah adalah statin. Obat ini memiliki banyak golongan (misalnya: Pravastatin, Simvastatin, Lovastatin, Atorvastatin, Cerevastatin, Fluvastatin), dan sebagian besar telah tersedia di Indonesia.

Keberhasilan terapi statin untuk menurunkan risiko stroke telah dibuktikan dari berbagai penelitian. Penurunan kadar kolesterol darah sesuai target (dibawah 200 mg/dl) akan menurunkan risiko stroke ebesar 27%. Bagi pasien yang sudah pernah mengalami penyakit jantung, maka penurunan kadar kolesterol darah akan menurunkan risiko stroke sebesar 32%.

Banyak diantara kita yang belum tahu kadar kolesterol darahnya. Kadar kolesterol darah yang tinggi sering tidak bergejala. Pertanyaan yang muncul adalah 'Sudahkah Anda tahu kadar kolesterol darah Anda?'. Pengendalian kadar kolesterol merupakan upaya pencegahan stroke yang efektif. Ingatlah selalu bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati.

oleh:
dr Rizaldy Pinzon, MKes, SpS
Tim Stroke RS Bethesda Yogyakarta
Read On

Penyakit yang Bisa Memicu Impotensi

Jakarta, Gangguan seksual seperti impotensi atau disfungsi ereksi merupakan salah satu penyakit yang paling ditakuti oleh kaum pria. Ini karena gangguan tersebut bisa menurunkan kualitas hidupnya. Impotensi juga bisa dipicu karena seorang pria mengidap penyakit. Apa saja penyakitnya?

Impotensi bisa menurunkan kualitas hidup seseorang karena dirinya tidak mampu untuk mencapai atau mempertahankan ereksinya saat berhubungan seksual dengan pasangan. Akibatnya pasangannya tidak akan mendapatkan kepuasan seutuhnya dalam melakukan hubungan intim dan bisa menurunkan kepercayaan dan harga diri laki-laki tersebut.

Impotensi bisa disebabkan oleh dua hal yaitu faktor fisik dan psikis. Di Indonesia penyebab paling banyak seorang laki-laki terkena impotensi adalah akibat faktor fisik, seperti karena usia, beberapa penyakit tertentu, konsumsi alkohol, merokok, pernah melakukan operasi panggul serta berat badan yang turun atau naik secara drastis.

"Penis itu sebuah pembuluh darah bukan otot, karenanya jika aliran darah ke penis terganggu akibat penyakit tertentu maka orang tersebut kemungkinan mengalami gangguan ereksi atau impotensi," ujar Prof Dr dr Wimpie Pangkahila, Sp.And, FAACS dalam acara Maximizing You: 10 years of MagniVicent Satisfaction, di Hotel Akmani, Jakarta, Selasa (8/12/2009).

Beberapa penyakit yang bisa memicu seorang laki-laki mengalami impotensi adalah penyakit diabetes, jantung koroner, tekanan darah tinggi, kolesterol, pembuluh darah tepi serta akibat dari merokok. Karena penis adalah sebuah pembuluh darah, maka biasanya penyakit yang bisa memicu berkaitan dengan adanya gangguan pada pembuluh darah orang tersebut.

Dituturkan oleh Prof Wimpie didapatkan sekitar 60 persen penderita penyakit jantung koroner mengalami disfungsi ereksi, laki-laki yang merokok sebesar 50 persen, penderita tekanan darah tinggi sebesar 52 persen, penderita penyakit pembuluh darah tepi sebesar 80 persen, kolesterol tinggi sebesar 40 persen dan laki-laki yang depresi sebesar 90 persen.

"Jika penyebab gangguan ereksi adalah adanya penyakit tertentu yang diderita oleh laki-laki tersebut, maka penyakitnya harus diobati terlebih dahulu baru melakukan pengobatan untuk gangguan ereksinya," ujar Kepala bagian Andrologi dan Seksologi FK Universitas Udayana, Bali.

Rata-rata penyebab timbulnya penyakit ini adalah akibat perubahan gaya hidup seperti merokok. Sepertinya hampir semua orang tahu bahwa merokok bisa menyebabkan impotensi. Hal ini dikarenakan rokok melepaskan zat nikotin dan zat lainnya yang bisa menjadi penghambat pembuluh darah. Jika pembuluh darah dalam tubuh terhambat, sudah pasti aliran ke penis pun akan terganggu yang bisa menyebabkan orang mengalami impotensi.

Begitu juga dengan penyakit jantung yang biasanya diakibatkan oleh adanya pembuluh darah yang tersumbat, sedangkan kolesterol yang berlebih dalam tubuh akan membentuk timbunan-timbunan lemak di dalam pembuluh darah yang membuatnya terhambat. Karenanya pengobatan untuk impotensi dimulai dari penyembuhan terhadap penyakit pemicunya.

"Dulu pengobatan untuk gangguan ereksi berupa operasi atau melakukan suntikan di daerah penis, tapi kini dilakukan pengobatan melalui obat yang diminum dengan harapan bisa bekerja setiap saat dan tidak butuh waktu lama," ujar Prof Wimpie.

Tujuan utama dari pengobatan impotensi ini adalah untuk meningkatkan ereksi agar lebih maksimal sehingga bisa memberikan kepuasan seksual bagi laki-laki tersebut dan juga pasangannya. Tingkat kekerasan ereksi yang optimal adalah jika penis keras dan tegang secara sempurna.

Obat yang paling banyak digunakan untuk pengobatan impotensi ini dikenal dengan nama viagra yang ditemukan pada tahun 1998. Penemuan obat ini dianggap sebagai revolusi seks kedua setelah sebelumnya terjadi revolusi seks pertama pada tahun 1960. Ditahun tersebut ditemukannya alat kontrasepsi untuk perempuan.

Namun, penggunaan obat viagra ini harus berdasarkan resep dokter dan tidak termasuk obat yang bebas di jual. Meskipun kenyataanya banyak toko yang menjual obat ini tanpa diketahui dengan pasti apakah obat tersebut asli atau palsu. Viagra bisa menimbulkan bahaya jika dikonsumsi bersamaan dengan obat penyakit jantung yang mengandung nitrat, karena efek yang dihasilkan bisa saling menguatkan.

Maka jika Anda ingin terhindar dari penyakit impotensi ini, sebaiknya hindari berbagai macam penyakit yang bisa memicunya. Selain itu, lakukan pola hidup sehat dengan rajin berolahraga, mengonsumsi makanan yang benar dan jauhkan rokok serta alkohol.
Read On